08 Juli, 2009

Mitologi Yunani: Narcissus Si Brondong Ganteng

Saya tidak bisa membayangkan, kira2 kayak apa tampangnya anak dewa yang namanya Narcissus. Dalam mitologi Yunani dikisahkan, dia begitu ganteng, cakep, keren,cool, … ah pokoknya semuanya deh. Sampai cewek2 pada naksir berat.

Seperti pada umumnya cewek2, kalau ngeliat cowok yang superganteng, mereka cuma bisa sebatas kagum, terus heboh sendirian. Ada juga sih, sebagian kecil yang akhirnya nekat untuk nyoba ngecengin. Harapannya si cowok bakal ngelirik, terus nyamperin.

Tapi khusus kasusnya Si Nar ini, cewek2 nekat itu akhirnya tahu diri. Soalnya yang dikecengin cuma (tak) acuh beibeh. Mau cakep kayak apa, mau montok kayak apa, tetep aja Si Nar pandangannya lempeng. Enggak tergoda.

Tapi rupanya tidak begitu dengan Echo. Saya juga susah membayangkan kayak apa tampang Echo ini, sampai dia begitu pede dan niat banget kepingin ngegebet Si Nar. Malah dia sampai nekat ngikutin ke mana aja Nar pergi. Kelakuannya bener2 kayak cewek kegatelan. Ibu saya di Cinere sana bakalan “marah” banget nih sama cewek kayak beginian.

Menurut salah satu versi, bisa jadi Echo yang sebenernya cantik ini, enggak dilirik sama Nar, gara-gara dia punya cacat. Dia sebenernya enggak bisa ngomong. Bisanya cuma mengulang apa yang dikatakan orang. Aneh gak sih?

Mungkin begini kali ya:
Misalnya, suatu hari Echo mau jajan somay. Terus dia panggil abang somay yang kebetulan lewat di depan gang.

Dengan senyum2, si abang dateng. Markir sepedanya yang butut, buka dandang, terus nanya, “Campur Neng? Pake pare gak?”

Eeeh, tiba-tiba tampang Echo malah jadi kayak kebelet pup gitu. Terus dengan agak terbata-bata dia berbisik ke abangnya, “Pake pare gak, pake pare gak. Gak, gak, gak...”

Abangnya bingung. “Lah iya, ini somaynya, Neng. Mau campur semua, apa cuma somaynya doang?”

Echo jadi resah. Dia sadar kecacatan dia, dan berusaha keras ngomong sejelas-jelasnya. Tapi tetap saja yang keluar dari mulutnya, “Apa somaynya doang, apa somaynya doang. Doang, doang, doang...”

Setiap kali abangnya ngomong, Echo selalu ngikutin kalimat2 akhirnya. Diulang2.

Berkali-kali begitu, terang aja lama2 abangnya kesel. Capek deh. Cakep sih cakep, tapi kalau gokil begini, ya ilfil deh gue, begitu batin si abang. Dan endingnya, si abang somay akhirnya kabur sambil agak2 merinding gitu.

Kasihan. Mungkin si abang juga enggak tahu kalau dia tukang jualan yang ke dua ribu tiga ratus sekian yang kabur dari Echo...

Balik ke Si Nar, ….rupanya kali ini Echo bener2 mau nekat ngejar. Suatu hari dia melihat Nar lagi jalan, Echo langsung nempel. Pokoknya mulai hari ini, ke mana aja Nar pergi, dia terus nempel. Begitu janjinya. Modalnya berani malu aja deh, batin Echo.

Dasar cuek, Nar tidak peduli dikuntit Echo. Sampai suatu kali dia lagi kemping (camping, maksudnya) sama temen2 sekolah, Nar terpisah sama rombongan dan tersesat. Karena bingung dan kecapekan, dia akhirnya cuma duduk aja di pinggir danau.

“Wooy, ada siapa di sini!” Nar mencoba teriak2 cari bantuan.

Tiba2 terdengar jawaban: “Ada siapa di sini, ada siapa di sini…”

Ealah, taunya si Echo muncul dari balik pohon. Sambil senyum2 gak jelas, gitu. Rupanya sedari tadi itu cewek terus ngikutin Nar. Terang aja dia juga ikutan tersesat.

Tapi bedanya, kali itu rupanya Echo sudah 100% nekat. Dia pikir, udah capek ngikutin cowok ganteng ini terus, tapi dianya cuek2 aja. Sekarang kesempatannya gue nembak. Carpe diem! Yang artinya kesempatan (mungkin) enggak datang dua kali. Mumpung sepi. Pinggir danau lagi.

Tiba-tiba aja Echo “menyerang” Nar dan memeluknya. Pelukannya kenceng banget. Terang saja Nar yang tidak siap dan memang lagi enggak hasrat buat peluk-pelukan, jadi rada jijay bajay. Ih, ngapain sih nih cewek?!!! Nar meronta-ronta mencoba melepaskan pelukan Echo.

Karena Nar begitu merinding, gerakannya sangat spontan dan kuat. Akibatnya Echo terpelanting dan jatuh ke tanah. Gedubrak!

Sadar kalau dirinya jatuh, Echo malu bukan main. Mukanya merah. Soalnya baru kali itu dia ngerasain ditolak cowok. Selama ini dia seringnya nolak cowok. Alasannya adaaa aja: kurang cakeplah, kurang tajirlah, kurang jago basketlah, kurang ajarlah, dsb. Dan penolakan kali ini dirasakannya benar2 merupakan peristiwa yang hina dina.

Gue enggak bisa ngebayangin hidup setelah penolakan ini, batin Echo yang udah gak merasa betah dengan status "high quality jomblo" itu. He-he-he, hukum karma kali ya.

Saking malunya Echo lari dan terus lari. Dia masuk ke sebuah gua. Di dalam dia nangis terus dan tidak mau keluar2. Kabarnya dia mati merana di sana. [makanya kalau ada suara yang bergema di gua, disebut suara echo]

Rupanya kejadian penolakan oleh Nar itu dilihat sama Maiden, seorang peri penunggu danau. Maiden marah banget sama kelakuan Nar yang kasar. “Nyateee aja, Men. Jangan kasar sama cewek!” Sebagai hukuman, dia menyihir air kolam menjadi sejernih kaca.

Nar kaget setengah mati melihat air danau begitu bening. Ia lalu melongok dan melihat wajah seorang cowok ganteng di sana (tampang dia sendiri!). Tiba-tiba saja dia merasa jatuh cinta. Idiiih, jijay. Ketahuan deh sebenernya kayak apa seleranya si Nar. Lu lekong apa pewong siiy! Jadi rupanya selama ini dia sukanya sama sesama jenis. Parahnya, Nar sukanya sama diri sendiri! Hiiiy!

“Aku cinta padamu. Aku kagum pada parasmu,” begitu kata Nar berulang-ulang sambil melihat tampangnya.

Nar enggak bias lepas dari cermin air itu. Dia terus memandang dan mengagumi wajahnya. Sampai saking penasarannya, dia akhirnya terpeleset dan jatuh ke danau. Karena tidak bisa berenang, akhirnya dia mati. Mayatnya dibawa arus sungai. Oleh para peri, mayatnya kemudian dirubah menjadi bunga narcissus.

Nah, dari kisahnya narcissus ini muncul istilah narsisisme dalam psikologi. Alias orang yang suka mengagumi diri sendiri dalam kadar berlebihan. Anak2 gaul sekarang juga suka menyingkatnya jadi narsis. Narsis luh!

Sekian.
Demikian semoga membawa manfaat dan diambil hikmahnya. Wassalam.

Catatan:
Saya tulis untuk Note Facebook saya



Lagi dong, Boss...

16 Mei, 2009

Panji Sang Penakluk, Titisan Dewi Ular

Di tangannya segala jenis ular ganas dan berbisa menjadi tidak berdaya. Tapi ular-ular itu ditangkap bukan untuk disakiti, melainkan dijadikan sahabat dan tinggal bersama di dalam rumah. Kalau digigit, itu mah biasa. Dari mana pula bocah 15 tahun ini mendapatkan ilmunya?

Ular sepanjang 1,5 m itu mendesis keras. Kepala dan sepertiga badannya kemudian diangkat naik dengan mulut yang terbuka. Tubuhnya meliuk-liuk liar, menandakan siap menyerang siapa pun yang berani mengusiknya. Awas!

Siapa pun orangnya, dijamin bakal langsung bergidik melihat ular jenis sanca (Phyton molurus) yang sedang marah seperti itu. Walau tidak berbisa, lilitan dan patukannya yang cepat, bisa berakibat fatal.

Rumus itu rupanya tak berlaku bagi Muhamad Panji. Dengan gerakan tubuh yang lincah namun tetap waspada, ia mencoba menjinakkan si sanca.

"Kalau menghadapi ular marah, usahakan menarik perhatiannya biar dia lelah," bisik Panji tentang strategi yang dia gunakan untuk menangkap ular. "Kalau sudah lelah, diketok-ketok kepalanya juga akan diam aja."

Benar saja. Lima menit bercanda bersama Panji, sanca mulai kelihatan loyo. Dengan gerakan tangkas, Panji lalu meraih kepala disusul ekornya. Dan ular besar itu cuma bisa pasrah saat dimasukkan ke dalam karung putih, bekas wadah tepung terigu yang telah disiapkan.

"Sanca yang ini memang masih galak," tutur Panji memperkenalkan ular peliharaannya yang baru ditangkap dua bulan sebelumnya, tak jauh dari rumahnya di daerah Tanjung Garut, Purwakarta, Jawa Barat.

Paling-paling mual
Orang yang tidak mengenal Panji bisa-bisa akan menganggap murid kelas 3 SMPN 2 Cempaka, Purwakarta, ini sedang mengobral nyawa. Padahal, menangkap ular sebenarnya sudah dilakukannya sejak usia dua tahun. Sejak balita, ia memelihara binatang melata itu seperti orang lain memelihara kucing, anjing, atau burung perkutut.

Dari orangtuanya, Panji sering mendengar kisah tentang kesukaan dirinya bermain bersama ular-ular liar yang dia sebut "sahabat-sahabatnya" itu. Salah satu kisahnya, ketika usianya baru dua tahun, ia sudah kedapatan menangkap dan bermain-main dengan seekor ular pucuk (Dryophis prasinus), atau kadang disebut juga ular daun. Saat itu keluarga Panji bertempat tinggal di Kuala Kapuas, Kalimantan Timur, yang berhutan lebat.

Walau sebenarnya ular pucuk masuk kategori tidak berbahaya, tapi orangtuanya kaget bukan main. Yana, ayahnya, langsung merebut dan membuang hewan melata itu. Tapi Panji yang masih balita itu malah menangis habis-habisan. "Baru diam setelah dicarikan ular lagi," tutur Panji yang sempat berpindah ke Aceh bersama keluarga, sebelum menetap di Purwakarta, Jawa Barat.

Sejak itulah Panji selalu bermain dengan sahabat-sahabatnya yang selalu ditemui di sekitar lingkungan rumahnya. Ular-ular itu dipelihara di rumah, diajak bermain, dan diberi makan. Kalau bosan tinggal dilepas lagi di tempat asalnya.

Pernah digigit? "Sering banget," jawabnya. Ia mengaku pernah digigit semua jenis ular ganas yang ada di Jawa dan Sumatera, kecuali ular laut. Tapi berkat kemampuan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, ia tidak pernah merasakan efek yang hebat. "Paling mual. Kalau pusing, minum obat sakit kepala."

Kedekatan dengan binatang buas dan mematikan itu membuat Panji cukup disegani di lingkungan rumahnya. Sebenarnya, ia tidak bermaksud menjadi jagoan ular. Cuma, banyak orang yang langsung ciut nyalinya melihat Panji dengan enaknya menenteng-nenteng ular berbisa.

Ular-ular sahabatnya itu sesekali dia bawa ke sekolah. Tak pelak hewan melata itu pun jadi mainan dan tontonan teman-temannya. Kalau sudah begitu, suasana pun heboh dan membuat kelas jadi terganggu. Panji mengaku, ia justru senang karena itu berarti ia tidak perlu belajar. Wah, dasar anak-anak!

Suatu kali, gurunya pernah mengadakan razia tas mendadak. Panji yang kebetulan sedang membawa seekor sahabatnya benar-benar dalam situasi sulit. Ia akhirnya cuma bisa pasrah. "Buka aja tasnya, Bu," Panji mempersilakan gurunya. Keruan saja si Ibu guru itu pun lari sambil meloncat-loncat karena menemukan seekor kobra di dalam tas sekolah Panji!

Kabar tentang kemampuan Panji itu menyebar di lingkungan sekitar rumahnya. Suatu kali ada seorang tukang ojek yang menantang, "Panji, mana ularnya? Gue nggak takut. 'Ntar gue bacok!"
Tantangan itu mungkin cuma sekadar canda, tapi Panji meladeninya lalu bergegas menjemput sahabatnya di rumah. Kontan kerumunan tukang ojek yang mangkal langsung bubar ketika Panji melemparkan kobra sepanjang 1,5 m di tengah-tengah mereka. Akibatnya, beberapa sepeda motor sampai roboh.

Mitos ular jadi-jadian
Bukan cuma sekadar bermain. Lama-kelamaan Panji juga tertarik mendalami seluk beluk ular dan reptil lainnya. Ia pernah beberapa kali bertanya kepada para peneliti ular yang akhirnya menyarankannya untuk membaca buku-buku tentang ular. Walau beberapa bacaan berbahasa Inggris, ia tetap serius mempelajari nama-nama Latin ular, kehidupan, predator, serta mangsanya.

Segenap ilmu tentang ular ternyata berguna ketika Panji kemudian diminta stasiun televisi Lativi untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk". Acara itu menggambarkan tentang sosok Panji yang bertualang ke beberapa daerah untuk mencari reptil di alam. Sesekali sang pembawa acara menerangkan sedikit latar belakang hewan-hewan itu.

Panji menolak jika ada anggapan kalau ular-ular dalam acaranya itu sengaja disiapkan lebih dulu untuk memberi kesan selalu beruntung bertemu ular. Menurut Panji, ular sebenarnya terdapat di mana-mana, apalagi di alam bebas. "Cuma, begitu merasakan kedatangan manusia, mereka kabur." Nah, dengan instingnya Panji mencari tempat-tempat persembunyian ular-ular itu.

Dengan insting itu pula, ia menangkap ular-ular liar untuk dijadikan peliharaan. Awalnya, tentu saja ular akan bersikap galak, bahkan menyerang. Ular kobra malah akan mengejar orang yang menyakitinya, sampai ke atas pohon sekalipun, dan baru melepaskan si penyerang setelah mematuk.

Untuk bisa menangkap ular, Panji selalu memperhatikan karakternya. Karena itu cara yang digunakan untuk menangkap berbeda-beda, tergantung jenis ular dan juga situasinya. Salah satu cara Panji menangkap ular seperti yang dia contohkan di awal tulisan ini. Biasanya, dalam beberapa menit saja, ular akan bisa ditaklukkan.

Saat menangkap, Panji menggunakan teknik ilmiah dan bisa dipelajari setiap orang. Beda dengan teknik pawang ular yang mungkin menggunakan mantera-mantera tertentu sehingga ular jadi lemas. Tapi, demi keselamatan, ia mengombinasikan teknik itu dengan "bakat alam"-nya sendiri. Sampai sekarang Panji tidak pernah berguru kepada siapa pun, dan belum menularkan kemampuannya kepada siapa pun.

Ular hasil tangkapannya akan dia pelihara seperti lazimnya binatang peliharaan lain. Dimandikan pakai sampo, makanannya anak ayam negeri atau tikus putih. Ular berukuran panjang 2 m biasanya menghabiskan dua ekor ayam setiap minggu. Kalau sudah bosan, ular dilepas lagi di sekitar lingkungan rumahnya, kawasan pedesaan yang masih alami.

Karena seringnya berhubungan dengan ular, Panji juga sering mendengar perihal mitos di seputar dunianya. Beberapa mitos kemungkinan hanya sekadar dongeng, tapi ada juga yang sempat dialaminya sendiri. Misalnya, beberapa kali Panji menangkap ular jadi-jadian alias dari alam gaib. Biasanya, ular gaib seperti itu akan hilang sendiri dalam beberapa hari walau sudah dimasukkan ke dalam peti yang tertutup rapat.

Sering kali ular jadi-jadian itu minta dilepaskan lewat mimpi. Sosoknya bisa berwujud perempuan cantik, orangtua berambut putih, atau manusia bertanduk. Bicaranya, atau marah-marahnya, menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, atau Sunda, yang intinya minta dilepaskan. Biasanya makhluk gaib seperti itu menyamar dalam bentuk ular kobra atau welang. "Bedanya, kalau jadi kobra, matanya agak putih, tidak hitam kayak biasanya."

Walau ular sudah dipelihara dan dikenal baik, Panji tetap berhati-hati. Sewaktu kelas 4 SD, ia pernah bermain-main dengan king kobra berumur dua tahun dan panjangnya 2,5 m (panjang maksimalnya 7 m).

Karena sedikit sombong di hadapan teman-temanya, ia tidak sadar si kobra merayap di belakang dan tiba-tiba mematuknya di bagian betis. "Lumayan, betis robek," kata Panji sambil memperlihatkan bekas gigitan yang menyisakan warna biru kehitaman akibat racun bisanya.

Karena sudah terbiasa, Panji tidak panik saat digigit ular. Kalau gigitannya di telapak tangan, ia akan segera memperlebar lukanya pakai silet, lalu mengikat lengannya pakai tali. Lalu darah dikeluarkan dengan cara dipijit-pijit. Darah yang terkena racun biasanya berwarna kebiruan. Bedanya, kalau orang lain bisa langsung semaput sehabis digigit karena panik, Panji bisa mengerjakan semua itu dengan tenang.

Panji menganggap gigitan itu reaksi biasa dari ular yang terusik. Tidak harus disakiti atau malah dibunuh. Cukup diusir saja. Panji mengaku tidak suka terhadap orang yang sering mengonsumsi ular, entah darahnya, empedu, atau dagingnya.

Pernah ia menegur seorang penjual ular sanca yang termasuk hewan dilindungi. Tapi pedagang itu rupanya tidak senang dan berkilah hanya sekadar cari makan. "Jawabannya begitu sih, saya jadi malas ngomongnya."

Coba menangkap buaya
Kesukaannya kepada reptil satu ini membuat Panji penasaran juga pada buaya. Kelas 6 SD, ia pernah mencoba menangkap buaya di sebuah penangkaran milik temannya di Sukamandi, Jawa Barat.

"Nekat ya, itu kan buaya muara," kata temannya berusaha mencegah. Buaya muara (Crocodylus porosus) memang salah satu buaya terganas di dunia.

Panji tak peduli. Ia terjun ke kolam yang berisi tiga ekor buaya muara. "Kalau untung ya menang, kalau enggak, paling kaki buntung," begitu prinsip kenekatannya kala itu.

Kolam itu kebetulan berair keruh. Tubuh buaya itu diperiksanya dengan kaki. Setelah dapat dirasakannya, Panji mulai menangkap. Buaya meronta sambil berputar, tapi Panji sigap melemparkannya ke darat. Mulut buaya itu menganga pertanda siap menyerang. Dengan bantuan tali dan tongkat, Panji mencoba mengincar mulutnya yang kemudian berhasil diikat. Lalu menyusul, semua kaki diikat. Beres sudah.

Teknik menangkap buaya itu kemudian disempurnakan setelah menonton tayangan Steve Irwin di televisi. Steve adalah pembawa acara petualangan asal Australia yang akhirnya meninggal terkena sabetan ikan pari pada tahun 2006. Panji begitu mengidolakannya.

"Orang melihat (acara) Steve, yang asyik-asyiknya aja. Kalau saya belajar tentang teori menangkapnya," aku Panji yang kemudian mempraktikkan saat menangkap buaya liar sewaktu syuting di Jambi.

Panji yang terlihat lebih cerdas dari anak seusianya ini bercita-cita suatu saat akan membuat suatu lembaga penelitian tentang ular. Antara lain ia ingin membuat buku tentang ratusan spesies ular di Indonesia, bagian dari sekitar 2.700 spesies ular di dunia.
Mungkin ular-ular akan mendesis senang jika mendengar cita-cita Panji.

Dewi Ular Membayar Janji
Ny. Lina, ibunda Panji, berkisah: kemampuan yang didapat anaknya sesungguhnya berawal dari mimpi yang dialaminya saat Panji masih berusia dua bulan dalam kandungan. Dalam mimpi itu Ny. Lina bertemu Dewi Ular, bersosok ular besar berkepala perempuan cantik. "Anakmu nanti bakal bawa rezeki, tapi jangan kaget ya," kata Lina menirukan pesan Dewi Ular pada 1992 itu.

Awalnya, Ny. Lina hanya bisa termenung memikirkan arti pesan itu. Sampai akhirnya ia mengerti setelah menyaksikan sendiri keganjilan demi keganjilan perilaku putranya semasa kecil. Sejak disapih sampai sekitar kelas 6 SD, Panji tidak doyan nasi. Makannya sehari-hari cuma telur ayam kampung mentah dan daun-daunan.

Kalau diberi telur, berapa pun jumlahnya, Panji akan melahap sampai habis. Kadang daun sayuran mentah yang ada di kebun ikut dilahap. Panji juga sangat senang daging ayam atau sapi, tapi yang sudah dimasak. Anehnya, sebanyak apa pun daging dimakan, "Perutnya tetap kempis," tutur Ny. Lina. Panji juga terbiasa makan langsung dari piring, tanpa memakai tangan atau sendok.

Ny. Lina dan Yana (ayah Panji) yang menikah pada 1991 mengaku sempat merasa sedih melihat keadaan anak semata wayangnya itu. Apalagi banyak kerabat dan tetangganya yang membicarakan keganjilan Panji. Para tetangga juga takut kalau harus bertamu ke rumah mereka.

Sejak dikontrak Lativi untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk", rupanya "janji" Dewi Ular perlahan-lahan mulai terlihat. Kehidupan ekonomi keluarga kecil bahagia ini semakin terangkat. Panji membeli motor dan merenovasi rumah orangtuanya dari hasil keringatnya sendiri.

Kini Panji bakal mempunyai adik, karena ibunya sedang hamil dua bulan. Belum ada firasat mimpi apa-apa dari dewi atau dewa mana pun. "Udah, biar Panji aja yang kayak gitu," kata perempuan keturunan Betawi ini tanpa bermaksud menyesal memiliki anak si penakluk ular.

Dimuat di: Majalah KISAH

Lagi dong, Boss...

Nostalgia: Telepon Genggam

Sebuah catatan tentang masa2 awal ponsel memasyarakat

Saya ingat…

Ketika telepon seluler atau ponsel (pakai istilah ini saja ya) pertama-tama kalinya muncul dan masih hangat-hangatnya, sekitar tahun 97-99, benda ini sempat dinamai telepon genggam.

Terus terang, awalnya saya bingung, kenapa dinamai begitu. Sampai kemudian saya perhatikan, bahwa orang2 memang sering menggenggam ponsel kepunyaannya. Dimain-mainkan. Dilihat layarnya (mungkin takut ada panggilan yang tak didengar). Diusap-usap. Diganti-ganti nada deringnya. Dipencet-pencet tombolnya. Lalu dilihat layarnya lagi. Terus digenggam lagi.

Tidak cukup begitu. Kalau sedang berjalan, ponsel juga terus digenggam. Sambil ngobrol dengan teman, ponsel selalu ada di tangan. Bahkan kalau kebetulan perlu menunjuk ke suatu arah, ia akan menggunakan tangan yang berponsel. Jari telunjuk digantikan oleh antena ponsel yang waktu itu umumnya masih nongol.

"Wah, udah ada henpon ya pak. Berapa nomernya?"
"He-he. Kosong delapan satu, …"
"Bentar, bentar, bentar, … saya miskol aja ya."

Ketika menghadiri seminar, pertemuan, meeting atau sekedar makan bersama, biasanya ponsel ditaruh di meja. Meja yang sudah penuh dengan berbagai macam barang atau makanan, masih ditambah lagi dengan ponsel yang berjajar-jajar. Di sini sering terjadi ponsel basah terkena kopi, kuah soto, keselip, atau malah hilang digondol maling.

"Bukan soal henponnya Pak. Tapi nomernya itu loh yang penting," biasanya orang yang kemalingan berucap begitu ke teman-temannya atau ke kepala sekuriti setempat. Padahal ponselnya juga panting kaleee.

Kalau kebetulan suatu saat ada dering masuk ke salah satu ponsel, bisa dua tiga orang yang melirik ponselnya. Maklum nada dering waktu itu masih terbatas, monophonic pula. Jadi banyak yang mirip settingannya.

Kalau ada satu orang yang terlanjur refleks mengambil ponselnya - tapi ternyata itu bukan panggilan ponselnya – trik menghapus malu adalah dengan memencet beberapa tombol. Lalu pelan2 (pelaaan2 sekali) dikembalikan lagi ke meja dan memasang tampang "tak berdosa".

Saat itu sinyal masih terbatas. Istilahnya, naik-turun. Sering terdengar percakapan saling bertukar informasi: "Lu dapet berapa batang?"

Celakanya, tanpa perlu paham lebih jauh soal teknis persinyalan, soal "batang" ini sering jadi ukuran kualitas ponsel atau providernya. "Indosat kan? Sama dong. Tapi kalau pakainya Motorolla emang suka jelek sinyalnya." Atau "Kalau Indosat jelek di sini. Bagusnya Telkomsel, apalagi kalau di Nokia."

Karena alasan sinyal ini juga, orang jadi maklum atau minta dimaklumi kalau dia menjawab telepon dengan suara keras: "HALOOOWW!" Di warung bakso yang padat pengunjung, panas, pengap, dan banyak orang yang megap2 kepedesan, dia juga akan cuek saja berhalo-halo.

Kalau ternyata masih merasa kurang jelas, penjawab akan berdiri terus mondar-mandir di ruangan atau malah keluar ruangan untuk mencari area sinyal yang bagus. Tapi seringkali, walau sinyalnya sudah bagus, dia tetap akan mondar-mandir. Mungkin sudah kebiasaannya.

Begitulah yang saya ingat...


Ditulis untuk Notes Facebook saya

Lagi dong, Boss...

12 Mei, 2009

Narsisisme Yang Bukan Sekadar "Narsis"

Mencintai diri sendiri adalah tindakan yang wajar. Namun kalau porsinya berlebihan, bisa-bisa menjelma menjadi narsisisme. Hati-hati! Perasaan semacam ini bisa menjadi gangguan manakala seseorang menganggap dirinya adalah segalanya, sementara orang lain bukanlah apa-apa. Dalam kadar yang wajar, narsisisme perlu bahkan dibutuhkan untuk mengembangkan diri.

Tidak jelas bagaimana awalnya, tiba-tiba saja kata "narsis" sering terdengar di mana-mana di sekitar kita. Pengertiannya, orang yang begitu suka memamerkan dirinya sendiri, terutama lewat foto. Gambar dirinya sengaja dipasang di benda-benda seperti di sampul buku, agenda, baju, dibingkai di dinding, sampai layar komputer untuk wallpaper.

Orang yang begitu senang mejeng dikatakan narsis. Pasalnya ia begitu percaya diri memasang foto dan menunjukkannya kepada orang lain, sambil dibumbui segala macam cerita tentang dirinya. Jika kebetulan ada suatu perubahan dalam penampilannya, seperti misalnya potongan rambut baru, kacamata baru, atau memakai lensa kontak seperti mata kucing, maka dia akan memotret dan segera memajangnya.

Kelakuan narsis ini semakin menjadi-jadi, apabila kebetulan banyak orang yang menaruh perhatian. Entah karena ia cantik atau gagah. Maka makin bersemangatlah ia memperbarui foto-foto terbarunya. Dengan tindakannya ia mengharapkan pertanyaan, pujian, atau sekadar komentar. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia ingin menikmati segala kekaguman itu.

Ada pula jenis kelakuan orang yang disebut narsis itu untuk tidak malu-malu menambah label pada dirinya. Seperti "manis", "cantik", "imut", "charming", dsb. Biasanya kata ini dipakai sebagai identitas di dalam komunikasinya dengan orang lain. Jadi kalau namanya misalnya Tukul, ia akan menyebut dirinya Tukul Ganteng atau Tukul Imut. He-he-he, ... ini sekadar contoh saja lo!

Merasa nyaman dengan diri
Hati-hati, jangan keliru! Narsis seperti yang sering diucapkan orang selama ini tidak sama persis dengan narsisisme (narcissism) dalam pengertian ilmu psikologi. Intinya memang sama, yakni perasaan mencintai diri sendiri, tapi narsisisme lebih mengarah kepada kecenderungan cinta diri yang kadarnya berlebihan. Dari perasaan itu kemudian muncul masalah dengan orang lain.

Narsisisme juga bukan eksklusif milik orang-orang tertentu yang sering kita cibir dan sebut sebagai Si Tukang Pamer. "Karena kita semua punya kecenderungan narsis lo," kata Roslina Verauli, psikolog keluarga dari Jakarta. Menurut Vera, begitu psikolog muda ini disapa, narsisisme itu bahkan perlu untuk membentuk konsep diri yang positif. Proses pembentukan konsep diri ada pada masa anak-anak sampai remaja, dan mulai matang saat dewasa.

Meminjam pengertian dari Carl Rogers (1902-1987) psikolog Amerika Serikat, konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap mengenai pengalaman yang berhubungan dengan "Aku", untuk membedakan "Aku" dari yang bukan "Aku". Nah, saat pembentukan konsep diri itu, kita butuh narsisisme untuk mengakui siapa diri kita dengan segala kapasitasnya. Misalnya, kita perlu untuk tahu bahwa kita berbakat di bidang seni, olahraga, atau dapat memimpin dengan baik. Dari kesadaran itu, kita tahu siapa sebenarnya diri kita.

Sejak usia anak-anak seseorang dituntut untuk berprestasi. Dari sanalah segala kelebihan dan kemampuannya ditonjolkan, yang sebenarnya bisa diarahkan menuju pencapaian (achievement) pada usia dewasa. Pada usia remaja, konsep diri ini mulai berjalan sesuai proses. "Ia menyadari segala kemampuannya hingga membuat konsep diri positif. Dari sanalah ia nyaman dengan dirinya dan tahu mengembangkan diri ke arah mana," kata Vera.

Sebaliknya konsep diri bisa menjadi negatif, bila misalnya orangtua menanamkan segala yang dimiliki si anak adalah segala-galanya. Anak lalu akan mengira bahwa orang menilai dirinya dari apa yang dimilikinya itu, seperti wajah, kemampuan, atau bahkan materi. Apalagi kalau sejak dini ia biasa diperlakukan berlebihan, misalnya selalu dipuji bahwa dirinya yang paling cantik atau paling pintar.

Karena kondisi itulah akhirnya ia tidak bisa mengembangkan konsep diri yang positif. Ia gagal melihat kemampuan yang objektif dari dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Lalu muncul narsisisme seiring matangnya konsep diri seseorang, yakni ketika ia memasuki masa dewasa muda, atau sekitar usia 20 tahunan.

Aku yang paling penting
Narsisisme bisa menjadi gangguan ketika seseorang sudah merasa "paling" dibandingkan dengan orang lain. Sehingga ia merasa begitu penting, dan tidak ingin dikalahkan oleh orang lain.
Misalnya ia merasa begitu penting sehingga jika turun dari mobil harus dibukakan pintunya, disambut, dicium tangannya, dan dipersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Atau dia merasa begitu pintar, kharismatis, terpandang, sehingga tidak ada orang yang melebihi dia, dan hanya dialah yang berhak menjadi nomor satu.

Orang-orang dengan gangguan narsisisme merasa semua berpusat kepada dirinya. Ia tidak merasa harus dianggap aneh, ketika semua orang harus maklum atas tindakannya yang salah. Atau tidak merasa harus meminta maaf meski sudah banyak orang yang menunggunya berjam-jam lantaran dia terlambat datang. "Buat apa minta maaf, 'kan aku yang paling penting?" begitu ia berkilah.

Bukan hanya orang-orang yang kita pandang aneh di sekeliling kita saja yang mengalami gangguan narsisisme. Para entertainer (yang biasa disebut "artis"), politisi, pemimpin organisasi, bahkan tokoh agama sekalipun bisa mengalami. Aktivitas sehari-hari mereka tidak terganggu. Mereka tetap bekerja, berkarya, atau berprestasi seperti biasa.

Khusus entertainer, menurut Vera, justru narsisisme dapat menunjang prestasi. Karena orang dengan pekerjaan seperti itu butuh perhatian ekstra dari masyarakat untuk menunjang kariernya di dunia hiburan. Terhadap klien yang memiliki potensi narsisisme, Vera malah selalu menyarankan untuk memasuki dunia hiburan saja.

Begitu pula kliennya yang sudah telanjur jadi artis, Vera tidak pernah menyarankan untuk mematikan kecenderungan narsisisme. "Dengan narsisismenya, mereka malah akhirnya mendapat peran-peran yang bagus di film atau sinetron," kata Vera, bersunguh-sungguh. Jadi kecenderungan narsisisme tidak selalu salah.

Para pemimpin juga membutuhkan narsisisme untuk mendorong diri mereka berprestasi. Mereka sering harus tampil dan diperhatikan orang. Karena kalau mereka ingin besar, harus melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk membuat dirinya terkenal. Meski ada pula kenyataan bahwa ada tokoh-tokoh yang lebih mengutamakan karyanya dan tidak ingin populer untuk menjadi pemimpin sejati.

Begitu pula dengan orang biasa, seperti kita. Bila menyadari ada potensi narsisisme, perasaan itu bisa diarahkan untuk memacu prestasi. Misalnya untuk membuat kita mampu tampil di muka umum secara lebih baik. Bisa juga dipakai agar kita bisa mengerti hal-hal yang harus dipacu dalam keunggulan kita.

Sebagai psikolog, Vera mengakui dirinya memiliki narsisisme, walau sedikit. Potensi itu digalinya untuk bisa tampil di muka umum secara baik, seperti saaat harus tampil di seminar dan mengajar di depan mahasiswanya. Menurutnya, dengan arah yang positif, kondisi itu malah membuatnya semakin percaya diri.

Tidak bisa berempati
Gangguan narsisisme muncul karena terjadi malfungsi secara individu. Yaitu ketika seseorang gagal mengembangkan diri karena melihat prestasinya sudah begitu canggih. Dia merasa paling pintar, cantik, cerdas, pokoknya segala yang serba oke. Namun akibatnya dia juga memiliki harapan yang tinggi untuk selalu diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.

Pembawaan seperti itu akan terlihat manakala tindakannya terlihat menonjol di tengah orang lain. Ia selalu berusaha menonjolkan diri saat berada di depan publik semata untuk tujuan pamer. Misalnya dia seorang yang kaya, maka dia akan memiliki bodyguard di sekelilingnya. Padahal tujuan sebenarnya bukan untuk menjaganya (karena memang tidak ada ancaman yang nyata) melainkan untuk sekadar menegaskan bahwa dia orang penting.

Parahnya, pengidap gangguan narsisisme tidak pernah menyadari perilakunya yang terkadang merugikan orang lain. Dia tidak merasa keliru, sampai ada orang atau masyarakat yang berbenturan dengan dirinya. Bisa jadi saat orang mengoreksi sekalipun, ia tetap tidak akan merasa bersalah. "Dia tidak bisa berempati karena gagal melihat dari sudut pandang orang lain. Karena dia tidak merasa harus berubah," jelas Vera, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 1995 ini.

Gangguan narsisisme juga bisa membuat orang tidak bisa mengakui keunggulan orang lain. Walau mungkin faktanya ada orang lain yang unggul dalam sebuah kompetisi yang fair. Tapi ia akan tetap menolak hasil itu dan mencari bermacam alasan sebagai pembenaran untuk dirinya. Perasaan semacam ini tentunya akan sangat merugikan jika ternyata diidap oleh mereka yang menjadi panutan masyarakat, seperti misalnya tokoh-tokoh politik nasional.

Istilah pinjaman
Perihal kata "narsis" yang kini banyak dipakai dalam masyarakat, menurut Vera, hanya sebatas istilah yang dipinjam saja. Kecenderungan untuk sekadar pamer dan berani tampil di muka umum belum tentu narsisisme, sampai dia menunjukkan tingkah laku seperti yang sudah tergambarkan sebelumnya. Ketika istilah narsis ini jatuh di tangan anak muda dan dipergunakan dalam bahasa gaul sehari-hari, maka jadi populer.

Kebetulan, adanya berbagai kemajuan teknologi dapat menyokong kecenderungan masyarakat dapat memuaskan diri sendiri atau untuk tampil berlebihan di depan umum. Seperti adanya fotografi digital yang memungkinkan untuk memotret dirinya sampai puas. Atau saat dia harus tampil di poster-poster produk barang dagangan, spanduk warung makan, sampai pada saat tampil mengkampanyekan diri dalam rangka pemilihan umum legislatif.

Begitu pula dengan munculnya situs jejaring sosial seperti Friendster, Multiply atau Facebook. Kesempatan mejeng lewat cerita, foto, atau video dimanfaatkan betul oleh kaum muda. Kelakuan seperti ini menurut Vera terlalu dini kalau dikatakan terkena gangguan narisisme. "Kecuali kalau dengan foto-foto itu dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang paling cantik dan tidak ada orang lain yang seperti dia," katanya.

Jadi, silakan nikmati kenarsisan dengan memajang foto di internet, seperti Facebook. Asalkan tak ada perasaan yang menyimpang, kita mungkin bakal bisa lebih populer. Narsis ah!


Nasib Tragis Narcissus
Dalam mitologi Yunani, tersebutlah kisah tentang Narcissus, anak dari Dewa Sungai Cephissus dan Peri Liriope. Sebagai anak dewa dan peri, tak heran kalau hasil "cetakannya" ganteng banget. Gadis-gadis banyak yang tergila-gila padanya.

Salah satu cewek yang naksir berat adalah Echo. Gadis yang sebenarnya cantik ini bahkan rela menguntit kemanapun Narcissus pergi. Ketika akhirnya Echo nekat "menembak" Narcissus, ternyata yang didapatnya hanyalah penolakan. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dengan perasaan sedih, Echo akhirnya pergi ke gunung dan menghilang. Sekilas info, dari sinilah muncul istilah suara echo.

Melihat nasib Echo, Dewi Nemesis ikut sedih. Ia lalu menghukum Narcissus agar jatuh cinta pada dirinya sendiri. Narcissus kena batunya waktu melintas di sungai Styx dan melihat bayangan wajah dirinya di sungai. Ia jatuh cinta dan terus memandangi wajahnya sendiri. Ketika nekat hendak mencium bayangannya sendiri, Narcissus jatuh ke sungai dan mati. Dewa-dewa yang menemukan mayatnya menjadikannya bunga Narcissus. Dari sinilah kata Narsisisme berasal.


Dimuat di: Majalah INTISARI April 2009

Catatan Penulis:
Saat menggarap tulisan ini, tiba2 saya sadar, bahwa salah satu tokoh politik nasional kita juga mengidap narsisisme. Celakanya, dia juga ngotot mencalonkan diri di Pilpres 2009.

Lagi dong, Boss...