<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917</id><updated>2012-02-19T05:12:24.572+07:00</updated><category term='sketsa'/><category term='psikologi'/><category term='olahraga'/><category term='profil'/><category term='teknologi'/><category term='catatan'/><category term='perkara kriminal'/><category term='geologi'/><category term='kesehatan'/><category term='budaya'/><category term='artikel'/><category term='sosial'/><title type='text'>Pengetik Ulung</title><subtitle type='html'>ulung-ulungan, ngetik-ngetikan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5632436088031678378</id><published>2011-06-09T19:00:00.003+07:00</published><updated>2011-06-09T19:14:07.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Belum Berubah</title><content type='html'>Ouw, sudah lama juga saya tidak menengok rumah digital ini. Tidak banyak berubah. Ada beberapa komentar masuk, yg cuma saya lirik sebentar di e-mail saya, kini bisa saya baca teks aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baik2 saja. Usia jelang 40-an, anak masih satu, masih menulis (untuk cari makan), dan masih-masih yang lainnya. Tak banyak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada sedikit perubahan, mungkin saya sudah tidak memiliki banyak waktu lagi untuk sekedar berjalan2 tak karuan di dunia maya ini. Waktu bagai nasi goreng di hari Minggu yang selalu terasa kurang. Waktu bagai Toyota Alphard yang masih terasa mewah bagi orang kebanyakan. Waktu bagai gaji bulanan yang jumlahnya berbanding terbalik dengan angka penanggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru rutinitas ini seolah memanggil2 saya untuk menyusun bentuk2 kreativitas baru. Entah apa. Mudah2an untuk memperbarui semangat dalam meng-up date blog yang tampak merana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat begituan*. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*begituan ini istilah saya utk mengerjakan sesuatu. apa saja. sesuai kebutuhan  Anda  saat ini &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5632436088031678378?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5632436088031678378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5632436088031678378' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5632436088031678378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5632436088031678378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2011/06/belum-berubah.html' title='Belum Berubah'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-6066468911474036341</id><published>2010-03-02T10:46:00.004+07:00</published><updated>2010-07-22T22:36:42.037+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Senjakala Nada*</title><content type='html'>Saya mendengar kabar, gara2 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;, blog2 yang dulu begitu populer dan meraja, kini perlahan mulai meredup dan mengarah ke "kematiannya".  Apa benar begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya saya tidak bisa mengecek kebenaran kabar itu dengan bantuan teknologi. Maklum, saya gaptek dan tidak punya banyak waktu. Mengecek denyut nadi blog2 itu lewat situs semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alexa&lt;/span&gt; (?) saya malas. Jadi saya hanya bisa membuktikannya lewat dugaan2 dan logika sederhana saja. Kalau dulu orang senang menghabiskan waktu berjam2 untuk membaca postingan2 yang menarik dari blog, kini pilihannya adalah mengecek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;update&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga tidak merasa pantas menyombongkan diri dengan menyatakan bahwa paling tidak blog saya ini masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini kan cuma sekadar penampung tulisan2 yang pernah saya buat dan termuat di media cetak. Lebih tepatnya di media tempat saya mencari uang untuk memberi makan anak-istri.  Jadi ini semua memang harus dikerjakan untuk mencari penghidupan sehari-hari. Apa susahnya meng-copas dari arsip di kantor ke blog – yang itu pun kadang cuma sebulan sekali dua kali. Dibanding misalnya mengarang topik2 menarik untuk kemudian banjir oleh komentar, seperti yang dilakukan oleh blogger2 tenar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belakangan, dengan modal niat sekadar berbagi itu, saya jadi merasa "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nothing to lose&lt;/span&gt;" (jika belum pantas disebut "ikhlas"). Tidak ada beban harus begini begitu. Tidak ada target yang harus dicapai. Dan yang lebih penting: tidak harus merasa kehilangan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang (patut) saya syukuri belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;*Judul ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan isi tulisan. Saya senang saja menulisnya begitu. maaf jika tulisan ini tidak bermanfaat untuk Anda.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-6066468911474036341?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/6066468911474036341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=6066468911474036341' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6066468911474036341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6066468911474036341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2010/03/senjakala-nada.html' title='Senjakala Nada*'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-612719908946028571</id><published>2010-02-20T15:34:00.004+07:00</published><updated>2010-02-20T15:53:40.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkara kriminal'/><title type='text'>Senjatanya Dua Martil (Kisah Sejati Rio Martil)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Jumat, 12 Januari 2001, suasana di Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, tampak seperti hari-hari biasa. Belum ada keramaian terlihat di daerah wisata berhawa sejuk itu. Pada akhir pekan, biasanya wisatawan lokal dari Banyumas dan kawasan lain di Jawa Tengah, banyak melewatkan waktunya untuk tetirah atau sekadar menikmati pemandangan kaki Gunung Slamet itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula suasana di Hotel Rosenda, salah satu hotel di tengah kawasan wisata, siang itu juga tak ada yang terlihat mencolok. Belum banyak tamu memenuhi salah satu hotel terbaik yang terletak 20 km dari kota Purwokerto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kamar 135 Hotel Rosenda, dua orang sedang berbincang santai. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rio&lt;/span&gt;, pengusaha asal Jakarta, berbicara panjang lebar tentang minatnya menanamkan modal di bisnis perumahan di Baturaden. Menurut Rio, prospeknya cerah. Di hadapannya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jeje Suraji&lt;/span&gt;, mendengar saja sambil sesekali mengamati gambar contoh-contoh rumah yang berserak di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeje sebenarnya tidak terlalu berminat. Kedatangannya semata untuk menyopiri mobilnya yang disewa Rio untuk berkeliling. Selain menjadi pengacara, lelaki 40 tahun itu juga menjalankan bisnis persewaan mobil. Hari itu ia bahkan sempat menemani Rio berkeliling untuk menunjukkan lokasi-lokasi di sekitar Baturaden yang kira-kira potensial didirikan kawasan perumahan. Di kamar itulah pembicaraan lalu dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan sebenarnya juga tidak terlalu serius, karena suara dari televisi yang menyala juga cukup keras. Jeje meladeni pembicaraan itu semata untuk menyenangkan hati kliennya saja. Matanya sesekali melirik ke arah televisi sambil menyimak Rio yang berjalan mondar-mandir di kamar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepala langsung remuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, bug! Jeje merasakan sebuah pukulan benda keras menghantam kepalanya. Begitu keras, hingga darah mengucur dan membuat ia tak sadarkan diri lagi. Pukulan yang dilakukan berkali-kali oleh Rio itu menggunakan dua martil, satu di tangan kiri, satunya di kanan.&lt;br /&gt;Dalam beberapa pukulan saja, kepala Jeje sudah remuk. Darah dan isi kepala berhamburan. Percikannya mengenai kursi, meja, kasur, bahkan sampai ke dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh ayah tiga anak yang sudah berusia belasan tahun itu akhirnya tergolek bersimbah darah di kursi. Melihat itu, Rio langsung membuang martil di lantai. Ia meraih selimut dan sprei kasur untuk mengelap tangannya yang belepotan darah, lalu kain yang merah basah itu digunakan untuk menutupi tubuh korbannya. Merasa kurang bersih, Rio menuju kamar mandi dan cuci tangan di wastafel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok, tok, tok! "Pak Jeje! Pak Jeje!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar pelayan hotel memanggil-manggil sambil mengetuk pintu kamar. Suara yang sempat membuat Rio terkejut. "Sebentar, saya masih ngobrol-ngobrol," katanya menjawab sambil terus membersihkan tangannya. Mendengarnya, pelayan segera meninggalkan kamar dan berjalan ke arah depan hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa situasi sudah aman, Rio bergegas. Ia mengemasi barang-barangnya yang sebenarnya tidak terlalu banyak, lalu mencari kunci mobil di saku celana Jeje. Sebelum keluar kamar, sempat diliriknya arloji milik korban, dilepas dan ditaruhnya dalam saku celanya.&lt;br /&gt;Di luar kamar, Rio mencoba bersikap tenang dan langsung melangkah menuju ke depan hotel. Tapi rupanya beberapa langkah menjelang lobi, seorang pelayan yang mengenalinya langsung menyapa, "Mana Pak Jeje, Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh dia di kolam renang," jawab Rio sekenanya. Seolah tanpa mau berpanjang lebar ia terus melangkah ke depan hotel, arah parkir mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu mengagetkan pelayan. Masalahnya, hotel tempatnya bekerja tidak ada kolam renang. Apalagi Rio terlihat agak terburu-buru menuju mobil Toyota Kijang seri LGX bernomor polisi R 7078 EA. Pelayan itu juga merasa janggal, karena tidak biasanya mobil milik Jeje dilepas begitu saja kepada penyewanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, Pak, tunggu Pak!" Pelayan itu berteriak agak keras, untuk menghentikan Rio sambil berusaha menarik perhatian sekitarnya. Ia langsung menyusul Rio ke parkiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dikira maling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu rupanya membuat Rio panik. Ia berusaha memasuki mobil. Tapi para petugas keamanan hotel yang sudah curiga ada ketidakberesan sudah lebih sigap dan memburunya. Rio terpancing melawan mereka dengan kekerasan. Ia mengamuk membabi-buta, menyerang petugas satpam. Timbul kegaduhan di ruang parkir, yang segera menarik banyak orang di sekitar hotel untuk menengok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ada seseorang yang berkelahi dengan satpam, lebih banyak orang yang akhirnya berdatangan dan membantu. Dalam waktu singkat, Rio berhasil diringkus. Semula orang-orang mengira yang dibekuk adalah maling, sehingga Rio langsung dikeroyok tanpa ampun. Wajahnya babak belur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio akhirnya diamankan dengan cara diikat di pos keamanan. Tapi ia tetap berusaha kabur dengan meronta-ronta. Seluruh petugas bersiaga sekaligus emosi, karena tidak setiap hari mereka menghadapi kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pegawai hotel segera tersadar, mereka tidak melihat Jeje, yang memang mereka kenal baik karena biasa menyewakan mobil kepada tamu-tamu hotel. "Pak Jeje mana? Cari Pak Jeje." Beberapa orang bergegas berlari menuju kamar 135. Pintu dibuka dengan kunci cadangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dibuka, pemandangan di dalam sungguh mengenaskan. Tubuh Jeje ditemukan terduduk di kursi hotel dalam keadaan tidak bernyawa lagi, ditutupi seprai dan selimut. Kepala bagian belakang terlihat hancur. Darah berceceran di lantai dan dinding. Para pegawai hotel merasa tegang melihat kenyataan itu terjadi di tempat mereka bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Polisi yang dikontak, segera datang dan memeriksa TKP. Melihat kejahatannya serius, dengan korban tewas bersimbah darah, mereka segera mengontak kantor di Polsek Baturaden untuk menurunkan tim yang lebih lengkap. Hari itu Baturaden yang sehari-harinya adem ayem, mendadak gempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pergaulan preman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semula para petugas kepolisian di Polsek Baturaden tidak pernah menyangka jika tersangka pelaku pembunuhan di wilayah mereka adalah Rio alias Toni, buronan yang dicari setidaknya oleh tiga Kepolisian Daerah: Polda Jawa Barat, Polda Jawa Timur, dan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Segera setelah mereka mendapat kepastian tentang status Rio, proses hukum selanjutnya dilakukan di Polres Banyumas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang bisa diketahui dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rio Alex Bullo&lt;/span&gt;, kelahiran Sleman 2 Mei 1978. Lelaki bertubuh kecil ini dikenal pendiam dan tertutup. Sehari-hari ia dikenal tak banyak bicara, meski juga tidak terkesan menyeramkan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau lahir di Sleman, Yogyakarta, Rio bukan keturunan Jawa. Alex, nama tengahnya diambil dari nama ayahnya yang berdarah Maluku. Sedangkan Bullo, diambil dari marga ibunya yang berasal dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan tempat tinggalnya, di kawasan Senen, Jakarta Pusat, juga tak banyak yang mengenal pribadi Rio. Asal-usulnya juga tidak jelas. Kepada keluarga istrinya, ia hanya bercerita kalau dirinya sudah merantau sejak usia 8 tahun. Dititipkan ke kakak sulungnya di Jakarta, pernah pula ikut kakaknya yang lain di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 12, Rio terusir dari rumah, akibat konflik dengan orangtuanya. Kabarnya, Rio tidak mau mengikuti agama orangtuanya sehingga ayahnya marah dan tidak mengakuinya sebagai anak. Ia lalu hidup bersama ibu angkat, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibu Ina&lt;/span&gt;, yang berjualan sayur di Pasar Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Pasar Senen di Jakarta, dikenal sebagai daerah rawan. Di sini terdapat stasiun kereta api, terminal bus, pusat perbelanjaan, pasar loak, dan pemukiman padat di tepi rel. Tumbuh besar di kawasan semacam itu membuat tingkah laku Rio tidak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya Rio tetap bersekolah, malah pernah berkuliah di sebuah akademi bahasa asing. Tapi ia akhirnya bekerja sebagai pedagang, sopir taksi, berlanjut ke sebuah percetakan. Tempat bekerjanya yang terakhir itu rupanya merupakan tempat pembuatan surat-surat kendaraan palsu, seperti STNK dan BPKB. Suatu kali polisi menggerebek tempat itu yang membuatnya menganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pekerjaannya di percetakan, Rio berkenalan dengan jaringan pemalsu surat kendaraan, lalu beberapa waktu kemudian meningkat menjadi komplotan pencuri mobil. Akhirnya ia terjun sebagai pencuri dan berhasil menggasak sejumlah mobil di berbagai tempat di Jakarta, seperti di sekitar Bandara Soekarno Hatta, daerah Daan Mogot dekat Studio Indosiar, juga di kawasan Senayan. Rio dikenal sebagai pencuri ulung. Dalam sehari pernah dua mobil "dipetiknya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio sempat tersandung masalah ketika bos penadah mobil curiannya melaporkan dirinya ke polisi lantaran melarikan mobil setorannya. Akibatnya ia tinggal setahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Sekeluarnya dari LP, pekerjaan lamanya sebagai pencuri terpaksa dilanjutkan karena ia terlanjur menerima uang muka dari aksi pencuriannya terdahulu. Selain itu, bisnis surat palsu kendaraan tetap berjalan, hingga membuatnya harus berurusan dengan polisi sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya kehidupan para kriminal, Rio juga akrab dengan dunia malam dan narkoba. Uang hasil kejahatannya juga banyak yang habis untuk sekadar berfoya-foya. Tapi gaya hidup itu mulai berubah perlahan-lahan saat ia memutuskan untuk berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selalu berpindah kota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku Rio berbeda di mata keluarga dari istrinya. Rio bertemu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuti Alawiyah&lt;/span&gt; tahun 1994 yang langsung dinikahinya. Kepada keluarga, ia hanya bercerita sudah dibuang orangtuanya yang kini juga tidak diketahui keberadaannya. Di mata mertuanya, Rio juga terlihat sangat sopan. Antara lain selalu mencium tangan saat hendak pergi ke luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio juga begitu sayang terhadap ketiga anaknya, dua perempuan dan satu lelaki. Tuti mengaku, suaminya tidak pernah bercerita tentang pekerjaan yang sebenarnya. Hanya bilang kalau berdagang. Meski tidak hidup mewah, Rio selalu berusaha mencukupi kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di luar rumah, sikap Rio berbeda. Dalam catatan polisi, sebelum Jeje, setidaknya ia pernah tiga kali melakukan pembunuhan. Polisi juga telah menetapkannya sebagai buronan. Tapi keberadaannya selalu tidak diketahui karena selalu berpindah-pindah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio selalu bergerak untuk menghindar dari kecurigaan polisi setempat. Namun modus kejahatannya selalu sama, yaitu awalnya berlagak seperti tamu hotel yang bermaksud menyewa kendaraan, tapi kemudian mobil dibawa kabur. Belakangan naluri kekejamannya muncul. Aksi kejahatan yang dibarengi dengan kekerasan berlangsung dalam rentang waktu September - November 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung Rio beraksi setelah terlebih dulu menginap di Hotel Naripan, lalu menggasak sedan Timor setelah terlebih dulu memukul sopirnya hingga tewas. Aksi berikutnya di Semarang, menginap di Hotel Adem Ayem, lalu menyikat mobil Panther berwarna abu-abu dan membunuh sopirnya. Kemudian di Surabaya ia menginap di Hotel Mirama dan membawa kabur sedan Mercy berwarna putih, lagi-lagi sopirnya ditemukan tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga Rio beraksi di Yogyakarta, dengan menginap di Hotel Ibis. Tapi aksi pembunuhannya gagal gara-gara saat hendak memukul, gagang martilnya terlepas. Sopirnya hanya terluka lalu kabur sambil kesakitan. Konon peristiwa itulah yang membuat Rio selalu membawa dua martil, satu buat cadangan sekaligus alat keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksi kejamnya, Rio selalu memukul kepala korban, tepatnya di bagian belakang sebagai sasaran paling mematikan. Umumnya korban tewas akibat trauma benda keras. Belakangan media massa menjulukinya sebagai "Rio Martil" atau "Martil Maut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman Rio dipadu juga dengan rumor tentang kesaktian yang didapat dari neneknya. Konon ia bisa melepas borgol. Soal benar-tidaknya, masyarakat yang menangkapnya di Baturaden bersaksi, "Badannya memang kecil, tapi tenaganya kuat sekali." Tapi rumor yang telanjur bergulir di ruang tahanan ini cukup membuat nyali narapidana lain menjadi ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pranoto SH&lt;/span&gt;, pengacara Rio, tidak melihat sifat kejam pada kliennya. Ia hanya melihat Rio tidak banyak bicara. Tapi temperamennya tinggi. Ia sendiri mengaku jarang berhubungan dengan kliennya itu, terutama setelah Rio dipindahkan ke Pulau Nusakambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali Pranoto bermaksud menemui Rio di Nusakambangan. Perjalanan cukup berat, harus mengurus perizinan, naik kapal, dan menempuh perjalanan ke LP. Tapi Rio malah tidak mau dijenguk. Kata petugas, Rio marah-marah karena petugas dianggap mengganggu tidur siangnya. Dari situ saya menyimpulkan, dia tidak boleh tersinggung," tutur pengacara yang juga pengajar di Universitas Jenderal Soedirman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanya karena tersinggung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persidangan atas terdakwa Rio Alex Bullo yang digelar di Pengadilan Negeri Banyumas berjalan lancar. Rio yang didampingi pengacara dari Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Jenderal Soedirman, tampak tenang dan pasrah menjalani setiap tahap persidangan. Tidak ada keluarganya yang hadir, mengingat jarak Jakarta - Purwokerto yang 445 km itu termasuk jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa mendakwa Rio telah menganiaya hingga menyebabkan kematian Jeje Suraji. Tindakan itu juga dikategorikan sebagai pembunuhan berencana, karena Rio terbukti telah lebih dulu menyiapkan senjata dua buah martil. Kejahatannya ditambah lagi dengan usahanya merampas harta korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di persidangan juga terungkap, Rio setidaknya sudah membunuh tiga orang di berbagai kota. Semua dilakukan dengan motif perampasan kendaraan milik korban. Kekejaman saat membunuh korban-korbannya, juga menjadi catatan tersendiri dalam persidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar bukti-bukti itu, 14 Mei 2001, Rio divonis mati. Mendengar keputusan hakim, ia mengaku pasrah. "Saya bersyukur karena tidak mati saat sedang melakukan kejahatan. Tetapi mati dalam hukuman, mati dalam bertobat," katanya kepada para wartawan sesaat setelah vonis dijatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, upaya banding tetap dilakukan para pengacara. Sementara Rio terus menjalani hukumannya di LP Kedungpane, Semarang, sebelum akhirnya dipindahkan ke LP Permisan di Pulau Nusakambangan. LP yang terletak di sebuah pulau di selatan Cilacap ini terkenal sebagai tempat para narapidana yang menjani hukuman berat atau hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di LP Permisan, Rio bertingkah laku baik. Tak ada peristiwa menonjol, meski di kalangan napi namanya sudah terkenal sebagai pembunuh kejam. Selain para pembunuh, perampokan dengan kekerasan, serta koruptor, di LP itu ditempatkan juga terpidana mati Kasus Bom Bali I, yakni &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amrozi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mukhlas&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdul Aziz&lt;/span&gt; alias Imam Samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelakuan Rio semakin bertambah baik, terutama setelah mendapat teman satu sel, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iwan Zulkarnain&lt;/span&gt;. Kabarnya Rio mudah akrab dengan Iwan lantaran merasa sama-sama berasal dari Sulawesi, walau latar belakang kejahatan mereka jauh berbeda. Bekas pegawai PT. Pos Indonesia itu adalah terpidana kasus korupsi bilyet giro setoran pajak PT. Semen Tonasa senilai Rp 42 miliar yang divonis 16 tahun di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan pula yang menuntun Rio belajar membaca Alquran. Hidup di penjara memang membuat Rio banyak beribadah. Kitab suci Alquran dimilikinya beberapa buah, selain ada pula buku-buku keagamaan lain. Kabarnya, ia tidak pernah lupa menjalankan salat wajib, termasuk salat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. LP gempar setelah pada 2 Mei 2005, Iwan ditemukan tewas di kamar mandi sel. Kondisinya sungguh mengenaskan. Tulang tengkorak retak dan kulit kepala sobek sepanjang 5 cm, lebar 0,5 cm. Di dinding dekat tempatnya jatuh bersimbah darah, ada noda-noda percikan darah. Tampak Iwan mati dibunuh seseorang dengan cara dibenturkan ke dinding. Tudingan langsung mengarah kepada Rio, karena saat itu sel hanya dihuni tiga orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Rio berkelit. Polisi sampai harus merencanakan tes mendalam terhadap noda-noda darah di sarung milik Rio. Tapi dengan sejumlah pendekatan, akhirnya ia mengaku telah membunuh Iwan lantaran kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam kejadian, sekitar pukul 21.30, Rio memanggil Iwan untuk mengajarinya mengaji. Tapi acara itu harus terganggu karena hujan membuat atap bocor dan airnya menggenangi lantai. Iwan lalu mengepel lantai, sementara Rio hanya duduk-duduk saja di dipan. Saat itulah Iwan sempat mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan Rio. Kata Iwan, Rio boleh saja ditakuti di luar, tapi di dalam LP tidak punya jalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tersinggung, Rio langsung menyerang. Iwan dibekap dengan sarung, mulutnya disumpal kain. Kepalanya dibenturkan ke dinding berkali-kali. Suasana sel sempat gaduh, tapi petugas saat itu mengaku tidak mendengarnya lantaran hujan turun sangat deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kegaduhan di sel semakin menjadi, petugas langsung berkoordinasi dan segera menyerbu masuk ke dalam sel nomor 6. Di sana Iwan sudah ditemukan tergeletak bersimbah darah. Di beberapa bagian kepala ada luka memar, kelopak mata dan dahi kiri bengkak, serta tiga giginya patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah malam itu, Rio dipindah ke sel khusus untuk diisolasi dan untuk memperlancar pemeriksaan. Iwan adalah korban Rio yang kelima. Dan tragisnya, Rio melakukan pembunuhan itu tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-27!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi sorotan media massa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pembunuhan di LP Permisan segera menjadi berita panas di media massa. Masyarakat kembali teringat akan Rio "Si Martil Maut" yang beraksi kembali, tapi kini dengan tangan kosong. Sistem pengamanan LP yang dinilai lemah, kelengahan petugas, sampai penanganan negara terhadap para narapidana di lembaga pemasyarakatan jadi sorotan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di media juga sempat terjadi polemik tentang kelanjutan proses hukum terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang terpidana mati. Maklum, untuk memprosesnya bukan hal mudah, karena TKP di sebuah LP yang punya banyak keterbatasan. Menanggapinya, polisi berkomitmen untuk tetap melakukan penyidikan terhadap Rio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kelanjutan proses hukum terhadap kasus Rio sebelumnya masih terus bergulir. Namun hasilnya, mulai dari tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA), Grasi, sampai Peninjauan Kembali (PK) tidak menguntungkan Rio. Ia tetap harus menghadapi regu tembak. 1 April 2008, surat penolakan PK dari MA diterima Kejaksaan Negeri Purwokerto. Artinya Rio harus segera dieksekusi dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi dunia hukum di Indonesia sendiri, pertengahan 2008 itu, kebetulan tidak berpihak bagi Rio. Ketika itu ada beberapa terpidana mati yang eksekusinya sudah jatuh tempo. Sorotan media begitu gencar, karena tahun itu saja Kejaksaan punya agenda menembak mati 8 orang terpidana. Jumlah yang tinggi, di tengah negara-negara di dunia yang umumnya telah menghapus hukuman mati demi alasan HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio tak berkomentar tentang eksekusi yang akan dilaksanakan di Purwokerto, sesuai lokasi terjadinya tindak kejahatan. Situasi haru justru terjadi lantaran pihak keluarga, yakni istri dan tiga anaknya yang belum lagi berusia sepuluh tahun, sulit untuk sekadar menengok Rio. Berkali-kali permohonan untuk bertemu di Nusakambangan tidak mendapat izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah Rio dipindahkan ke LP di Purwokerto, kurang dari sepekan menjelang eksekusi, keluarga kecil itu bisa berkumpul. Kesempatan itu pun terjadi untuk memenuhi satu dari tiga permintaan terakhir Rio. Kehadiran Tuti dan ketiga anaknya juga tak lepas dari usaha sebuah stasiun televisi yang juga berkepentingan soal pemberitaan terpidana mati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan selama sekitar empat setengah jam, pukul 17.00 - 21.30, pada 4 Agustus 2008, berlangsung mengharukan. Untuk terakhir kali, Rio bercengkerama dengan anak-anaknya yang sudah terasa semakin tumbuh besar sejak terakhir kali ia memeluk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sejak kasus hukum Rio bergulir, ia enggan melibatkan keluarganya. Kepada pengacaranya, ia selalu berpesan untuk tidak membawa-bawa mereka. Malah ia sebenarnya minta agar eksekusinya dirahasiakan saja dari keluarga. "Biar ini semua saya tanggung sendiri," ujar pria yang baru sepuluh tahun menikah itu. Seusai pertemuan terakhir dengan suaminya, Tuti yang terlihat tak henti menangis tidak memberi komentar apa pun kepada puluhan wartawan yang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga permintaan terakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wartawan mungkin adalah pihak yang paling resah menanti pelaksanaan eksekusi mati Rio. Seperti biasa, Kejaksaan tidak pernah mengumumkan secara pasti tentang waktu dan tempat pelaksanaannya. Berita-berita media massa rupanya ikut memancing masyarakat Purwokerto mendatangi LP dan berharap dapat melihat terpidana. Masyarakat juga menduga-duga tempat pelaksaan eksekusi dan menunggu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di dalam LP, menjelang hari-hari terakhirnya, Rio memilih untuk menyendiri. Sifat tertutupnya mulai muncul. Ia tak mau ditemui oleh siapapun. Termasuk Pranoto, pengacaranya, yang bahkan mengaku tak tahu tentang kepastian waktu eksekusi karena tidak kunjung menerima surat dari Kejaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranoto berkisah, ada tiga permintaan terakhir Rio. Pertama, bertemu keluarganya. Kedua, ia meminta maaf kepada seluruh keluarga korban. Ketiga, ia ingin memberikan Alquran kepada keluarganya, termasuk satu buah diberikan juga kepada pengacaranya. Rio juga sempat berpesan agar baju-bajunya diberikan saja kepada napi yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian akhirnya menjemput "Si Martil Maut", 8 Agustus 2008, pukul 00.30. Rio dieksekusi oleh 12 orang anggota regu tembak di Desa Cipedok, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Karena sejak semula istri Rio sudah menyatakan tidak sanggup memakamkan jenazah suaminya lantaran ketiadaan uang, Kejaksaan yang akhirnya mengurus. Keluarga dari pihak Rio sendiri sudah tidak diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah eksekusi, sejumlah media massa sempat memberitakan penolakan sejumlah warga di Kelurahan Berkoh, Purwokerto, jika Rio dimakamkan di wilayah mereka. Tapi akhirnya Kejaksaan berhasil mendapatkan tempat di TPU Sipoh, Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas, di blok makam orang-orang tak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Penulis:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya terhitung jarang menulis untuk rubrik Perkara Kriminal (dulu Cerita Kriminal, yg merupakan rubrik favorit pembaca INTISARI).  Tapi saya begitu tergelitik utk menulis tentang Rio, karena menurut saya kisahnya begitu menarik dan membumi. Bahan saya kumpulkan dari kliping koran, tayangan televisi,  dan internet. Sempat saya menghubungi pengacara Rio, Pranoto, utk bercerita tentang situasi di TKP di Baturaden. Menurut Pranoto, situasinya lebih kejam dari yg saya gambarkan di cerita di atas. Martil ditemukan tertancap di kepala! Tapi atas berbagai pertimbangan, fakta ini tdk saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat begitu terharu saat menuliskan paragraf tentang pertemuan terakhir Rio dengan istri dan ketiga anaknya yg masih kecil2 (saya juga merahasiakan nama dan usia mereka).  Suasana itu begitu hidup sekali, sehingga sempat saya terbata-bata saat mengetik kata-katanya. Semoga Tuhan memberkati keluarga itu. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-612719908946028571?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/612719908946028571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=612719908946028571' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/612719908946028571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/612719908946028571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2010/02/senjatanya-dua-martil-kisah-sejati-rio.html' title='Senjatanya Dua Martil (Kisah Sejati Rio Martil)'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7574506601000982388</id><published>2010-02-05T18:35:00.002+07:00</published><updated>2010-02-20T11:57:15.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Teori Konspirasi, Hidup Di Antara Dugaan dan Kenyataan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika masyarakat tidak puas dengan kenyataan yang mereka saksikan, mereka cenderung membuat penjelasan-penjelasan sendiri sesuai pemikiran masing-masing. Lahirlah teori konspirasi, yang meyakini suatu peristiwa ganjil pasti dilatar belakangi persekongkolan kuat di belakangnya. Tapi harus berhati-hati, karena tidak selalu apa yang kita pikirkan itu benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu jam, setelah Presiden Amerika Serikat ke-35, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;John F. Kennedy&lt;/span&gt;, mati terbunuh, 22 November 1963, polisi berhasil menangkap pelakunya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lee Harvey Oswald&lt;/span&gt;, demikian nama pria 24 tahun yang dituduh menembakkan senjata laras panjang dari lantai enam sebuah gedung di Dallas, Texas. Dua peluru menembus leher dan kepala belakang Kennedy yang kala itu sedang berada di sebuah mobil atap terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah dia pelakunya? Tak ada jawaban pasti, lantaran Oswald juga mati terbunuh dua hari kemudian. Ketika akan dipindahkan dari kantor polisi ke penjara, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jack Ruby&lt;/span&gt;, seorang pemilik klab malam yang mengaku marah atas kematian Kennedy, menembak Oswald. Pembunuhan terjadi di hadapan puluhan polisi dan disaksikan jutaan pemirsa karena disiarkan langsung oleh televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan kisah dari peristiwa pembunuhan Presiden AS paling menghebohkan itu kemudian mirip film-film spionase. Pemerintah AS sempat dianggap tidak serius menanganinya. Apalagi tersiar kabar burung tentang saksi-saksi yang meninggal atau hilang. Termasuk "Babushka Lady", julukan sesosok wanita misterius berjas panjang warna coklat dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scarf&lt;/span&gt; di kepala (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;babushka&lt;/span&gt; – dalam bahasa Rusia berarti nenek-nenek yang biasa memakai&lt;span style="font-style: italic;"&gt; scarf&lt;/span&gt;) yang terlihat terus memotret di lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini mulai muncul dugaan bahwa pasti ada "sesuatu" di balik pembunuhan Kennedy. Ada yang berteori, peristiwa ini adalah buah persekongkolan di pemerintahan AS sendiri. Kemudian Uni Soviet, lalu Mafia Italia, malah belakangan Kuba sempat disebut-sebut mendalanginya. Tapi ada juga yang percaya, ehem jangan tertawa, Kennedy tidak mati. Melainkan dibawa oleh makhluk luar angkasa. Jadi, ada apa sesungguhnya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berawal dari dugaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika segala misteri di balik pembunuhan Kennedy kemudian memunculkan penjelasan-penjelasan, lebih tepatnya dugaan-dugaan, tentang segala kemungkinan di balik semua itu. Penjelasan yang dalam istilah populer sekarang disebut teori konspirasi itu, sekilas terkesan ilmiah. Masuk akal karena masyarakat melihat keping-keping kebenaran di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs internet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wikipedia&lt;/span&gt;, menjelaskan bahwa teori konspirasi adalah upaya-upaya untuk menjelaskan bahwa penyebab utama dari satu atau rangkaian peristiwa sebenarnya sudah direncanakan diam-diam oleh orang-orang, kelompok atau organisasi yang sangat berpengaruh. Biasanya terkait peristiwa-peristiwa politik, sosial, atau sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri kita juga bertabur peristiwa besar atau kecil yang kemudian melahirkan teori-teori itu. Seperti misalnya peristiwa G30S (1965), Malari (1975), Tanjung Priok (1984), serta beraneka konflik seperti di Ambon, Poso, atau kerusuhan Mei 1998. Meski ada penjelasan dari pemerintah atau para pelakunya sudah masuk penjara, tapi di masyarakat tetap beredar versi tidak resmi. Kisah ini malah lebih seru karena komplit dengan bermacam bumbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iqrak Sulhin&lt;/span&gt;, pengajar di Departemen kriminologi FISIP Universitas Indonesia, mengakui teori konspirasi sangat menarik disimak karena bisa menjelaskan apa saja. Secara metodologis, teori ini juga bisa menghubungkan banyak faktor. Ketika dihubung-hubungkan, faktor-faktor itu terasa begitu logis dan seakan-akan layak dipercaya. Orang Jawa punya istilah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uthak athik gathuk&lt;/span&gt;, artinya setelah diutak-atik ternyata pas. "Karena itu masyarakat menyukainya," katanya tentang teori yang sifatnya tidak akademis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan teori konspirasi tidaklah mudah, kalau memang tidak bisa dikatakan tidak mungkin. Sebab rujukannya hanyalah rumor-rumor yang beredar di masyarakat juga. Perkiraan-perkiraan ini tidak jelas dasarnya. Lebih parah lagi jika sumbernya berupa ramalan-ramalan dari mulut seseorang yang melakoni kehidupan klenik alias paranormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumit jadi sederhana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teori konspirasi menjadi pembicaraan serius tatkala AS kecolongan oleh serangan teroris, 11 September 2001, yang merobohkan dua gedung kembar WTC di New York. Peristiwanya cuma beberapa menit, tapi dampak masih terasa sampai hari ini, setelah Presiden &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;George W. Bush &lt;/span&gt;menggali kapak perang dan memburu kalangan yang disebutnya "teroris". Perang yang berlangsung di hampir seluruh belahan bumi itu (termasuk Indonesia) malah menyulut munculnya teori konspirasi bahwa Bush mencari pembenaran dari peristiwa 9/11 untuk menjalankan agendanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini menjadi pembahasan serius setelah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mathias Brockers&lt;/span&gt;, seorang jurnalis dan editor dari Jerman menulis buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Conspiracies, Conspiracy Theories and the Secrets of 9/11&lt;/span&gt; (2001). Meski tidak hadir dari kalangan akademisi, pemikiran Brockers sempat menjadi perdebatan sengit kala itu. Sebagai seorang wartawan, ia memang memiliki idealisme bahwa jika tidak ada bukti yang definitif, maka kebenaran harus diuji berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipicu pemikiran Brockers, masyarakat AS mendengar suatu informasi liar.Konon, saat terjadinya serangan teroris, banyak pekerja yang terlambat datang ke kantor atau malah tidak masuk kerja. Beberapa agenda pertemuan penting di WTC juga ditunda. Ternyata hal itu telah menyelamatkan mereka dari serangan. Apalagi dibumbui bahwa mereka berhubungan langsung dengan kepentingan Yahudi di AS. Jadinya, warga keturunan Yahudi dicurigai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu seperti apa yang dikatakan Brockers, bahwa teori konspirasi cenderung membuat masalah yang rumit menjadi lebih sederhana. Karena itu teori konspirasi ideal sekali untuk dipakai sebagai propaganda atau agitasi. Apalagi ada kecenderungan untuk melempar masalah yang rumit dan menyengsarakan merupakan ciri perilaku manusia. Jadi wajar jika ada orang yang percaya bulat-bulat rumor yang beredar, terutama yang di luar jangkauan pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gugur dan muncul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teori konspirasi muncul begitu ada sedikit indikasi. Ketika mulai muncul kecurigaan atau ada sedikit saja suatu petunjuk, maka mulailah orang berteori. "Jangan-jangan karena ini... Jangan-jangan karena itu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sifat teori ini tidaklah abadi. Ketika suatu saat ditemukan bukti yang definitif, maka konspirasi akan berakhir. Masalahnya, mendapatkan bukti semacam ini bukan perkara gampang. Paling tidak butuh waktu panjang, bisa puluhan atau ratusan tahun. Itu pun bukan jaminan bahwa persoalannya akan menjadi terang benderang. Malah mungkin akan melahirkan teori konspirasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa Orde Baru, masyarakat umumnya percaya, peristiwa G-30S 1965 terjadi karena Partai Komunis Indonesia (PKI) hendak merebut kekuasaan sebelum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bung Karno&lt;/span&gt; menjadi berhalangan tetap karena sakit. Setelah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soeharto&lt;/span&gt; tidak berkuasa, lebih dari 32 tahun kemudian, masyarakat mulai mendapat alternatif pemikiran bahwa PKI mungkin bukan satu-satunya pemain kala itu. Andai penjelasan resmi pemerintah adalah sebuah konspirasi, maka ia telah gugur, dan lahir teori konspirasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu tidak mudah melaku verivikasi terhadap bukti-bukti adanya konspirasi. Kecuali mereka yang berada di lingkaran dalam pada saat peristiwa itu terjadi. Dalam peristiwa G-30S itu misalnya, mereka adalah para pelaku sejarah, yakni pihak politisi dan militer. Itu pun kalau mereka mau berbicara terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menariknya dalam skala mikro, ilmu kriminologi menyatakan bahwa seorang pelaku kejahatan akan selalu berlaku rasional. Iqrak Sulhin menjelaskan, mulai dari penjahat white collar sampai tingkat "maling ayam", pelaku kejahatan pasti akan berpikir agar kejahatan yang dilakukannya berlangsung lancar sesuai harapan. Ia juga akan berusaha menghindari dari penegak hukum dan membuat alibi agar tidak mudah terlacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku kejahatan membuat alibi agar dirinya berada sejauh mungkin dari peristiwa kejahatan. Misalnya, ia tidak akan melakukan pembunuhan sendiri, tapi menyewa orang bayaran. "Biasanya jarak antara pemesan dengan eksekutor ini sangat jauh," kata Iqrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mampu mendesain secara rapi dan menyusun alibi yang kuat umumnya terkait dengan kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan, seperti dikatakan Iqrak, tidak melulu soal jabatan atau kekuasaan politik, tapi juga soal uang. Bisa saja ia memiliki relasi ke penegak hukum atau kejahatan terorganisir. Dengan kekuasaannya, pelaku akan membuat dirinya aman. Bukan semata-mata karena intelektualitas. Dia bisa saja tidak pintar, tapi kekuasaannya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Negara sebenarnya memiliki "penjelasan" resmi terhadap suatu permasalahan. Sistem peradilan misalnya, adalah suatu cara untuk menyelesaikan masalah hukum. Di sanalah berbagai fakta dan temuan diungkap kepada publik, berdasarkan hasil penyidikan aparat penegak hukum. Jika pengadilan memutuskan seorang terdakwa terbukti bersalah atau sebaliknya, maka demikianlah sikap negara terhadap kasus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pengadilan tidak selalu dapat memuaskan rasa keadilan masyarakat. Dalam kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir, misalnya, masyarakat meyakini ada suatu kekuatan besar yang berkonspirasi di balik peristiwa itu. Kenyataannya, pengadilan hanya dapat menghukum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pollycarpus Budihari Priyanto&lt;/span&gt;, pelaku yang divonis 20 tahun penjara. Terdakwa lain dalam kasus ini, mantan pejabat di Badan Intelijen Negara, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muchdi PR&lt;/span&gt;, dibebaskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Munir yang dianggap tidak tuntas membuat teori konspirasi tentang kasus ini terus hidup di masyarakat. Pengadilan dianggap tidak sejalan dengan dugaan-dugaan yang ada di benak mereka. Menurut Iqrak, ini bisa saja mengusik rasa keadilan di masyarakat. Rumor yang berkembang di masyarakat akan memunculkan beraneka teori konspirasi. Suara masyarakat dalam hal ini diwakili media massa, kalangan LSM, perguruan tinggi, dan elemen-elemen sosial lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi inilah wujud dari adagium &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vox populi vox dei&lt;/span&gt; atau suara rakyat adalah suara Tuhan. " Jika ada suara-suara ketidakpuasan, merupakan suatu indikasi. „Negara harusnya merespons. Jika ada bukti baru maka harus membuka kasus itu kembali di pengadilan," kata iqrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penghakiman instan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya teori-teori konspirasi bukanlah skenario terburuk. Wujud ketidakpuasan masyarakat bisa saja muncul dalam bentuk lain, yakni pembangkangan sipil (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;civil disobedience&lt;/span&gt;). Dalam bidang hukum, mereka bisa menjadi tidak percaya lagi terhadap perangkat yang ada, mulai dari polisi, kejaksaan, sampai pengadilan. Situasi ini pernah muncul di Indonesia, antara 1999-2003.&lt;br /&gt;Iqrak Sulhin pernah mengadakan studi khusus tentang itu. "Mungkin kita ingat, antara tahun 1999-2003, reaksi masyarakat terhadap pelaku kejahatan begitu anarkis dan masif. Mereka langsung dihakimi di jalanan, dikeroyok, dibakar dan sebagainya. Tanpa menunggu polisi untuk menanganinya," katanya dengan nada prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi pembangkangan itu menurut Iqrak terjadi karena masyarakat skeptis terhadap perangkat hukum yang ada. Jika pelaku kejahatan diserahkan ke polisi, masyarakat menilai malah akan memberi keuntungan kepada polisi. Karena perkara kejahatan bisa diselesaikan di bawah tangan. Akibatnya masyarakat kemudian langsung memberi hukuman "instan". Padahal hukum jalanan ini sangat menakutkan, karena sangat mungkin terjadi kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini situasi itu sudah mereda. Namun ketidakpuasan masyarakat masih bisa ditemukan dalam letupan-letupan kecil. Seperti pemunculan grup "Tolak Mafia Peradilan",  "Gerakan 1.000.000 Facebookers Untuk Tempatkan Polri Di Bawah Depdagri", atau "Selidiki Kasus Bail Out Bank Century" yang terdapat di&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Facebook&lt;/span&gt;, bisa menjadi indikasi adanya ketidakpuasan itu. Pihak penguasa, seperti kata Iqrak, jangan mengabaikan kenyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Boleh Percaya Boleh Tidak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam skala besar maupun kecil, dunia melahirkan jutaan teori konspirasi yang hidup dan berkembang di masyarakatnya. Kita seakan diberi pilihan, ingin percaya atau tidak. Boleh berpikir kritis asal tidak membuat bodoh diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teori yang pernah hangat menjadi pembicaraan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendaratan manusia di bulan&lt;br /&gt;Sebagian kalangan meyakini pendaratan di bulan tidak benar-benar dilakukan oleh NASA. Pendaratan ini cuma sekadar film yang dibuat untuk menunjukan keunggulan AS atau Uni Soviet kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tsunami 2004&lt;br /&gt;Bencana gempa bumi dan tsunami, 26 Desember 2004, dipercayai sebagai akibat percobaan nuklir India. Akibatnya sebagian wilayah Asia Selatan dan Tenggara tersapu tsunami yang menewaskan ribuan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kematian Lady Di&lt;br /&gt;Kematian istri Pangeran Charles ini dipercaya sebagai persekongkolan pihak dinas rahasia Inggris yang malu karena tokoh monarki mereka berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Virus pembunuh&lt;br /&gt;Virus-virus yang berjangkit di dunia saat ini, seperti HIV, SARS, flu burung, dsb'; diyakini sebagai buah dari percobaan senjata biologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Serangan 11 September 2001&lt;br /&gt;Peristiwa serangan teroris 9/11 dipercaya sebagian orang merupakan rekayasa dari Pemerintah AS sendiri untuk melegitimasi rencananya melakukan suatu operasi militer di wilayah Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Boleh Berharap Tapi Realistis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masyarakat berhak punya suatu pendapat, tapi bukan berarti mereka tidak bisa „salah“. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono&lt;/span&gt;, psikolog, menilai suatu saat masyarakat bisa saja tidak dapat berpikir jernih. Mereka cenderung mempercayai kebenaran yang diyakininya sendiri. Padahal kalau ditelaah lebih jauh, sesungguhnya pemikiran mereka tidak selalu benar. Minimal ada sisi-sisi yang ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip pemikiran intelektual asal Inggris, Francis Bacon (1564-1626), Sarlito mengatakan bahwa masyarakat bisa saja menghadapi suatu rintangan dalam berpikir sehingga sasaran yang dituju akan tersendat. Malah bisa-bisa mereka tersesat! Salah satu penyebabnya adalah adanya idola dalam pemikiran berupa idola teatri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;idols of theatre&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori menyebutkan, idola teatri merupakan pengaruh dan faktor keterikatan manusia pada partai, dogma, filsafat, agama, ideologi, dan sekeranjang isme-isme lain yang membuat kita menciptakan dunia sendiri. Sikap itu akan terasa wajar jika banyak penganutnya. Tapi ketika kita mencoba untuk keluar, maka kita akan dicap sesat. Padahal belum tentu kita sesat. Mungkin saja saat berada di sistem itu justru kita tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus pembunuhan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nazarudin Zulkarnaen&lt;/span&gt; misalnya, begitu contoh dari Sarlito, masyarakat cenderung melihat terdakwa, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antasari Ashar&lt;/span&gt; adalah pihak yang teraniaya. „Karena kebetulan kasusnya bersamaan dengan perseteruan antara KPK dan Polisi,“ duga Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu. Jadi seakan-akan mantan Ketua KPK itu adalah korban dari konflik antarlembaga negara itu. Padahal kasusnya sederhana, yakni Antasari didakwa melakukan rencana pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemikirannya, masyarakat sebenarnya memiliki harapan-harapan tertentu yang antara lain terwujudkan dalam teori konspirasi. Tapi mereka juga harus sadar bahwa antara harapan dan kenyataannya juga harus seimbang. Karena bisa saja ketika melihat realitasnya, masyarakat akan kecewa dan berpotensi menimbulkan deprivasi relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu psikologi, deprivasi relatif dikatakan lebih dahsyat dari frustrasi. Frustrasi bisa terjadi pada siapapun, sewaktu-waktu karena ada faktor objektif yang menghalangi tujuannya. Sedangkan pada deprivasi sudah ditanamkan suatu gagasan yang melambungkan harapan ke tempat yang relatif lebih tinggi. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, terjadilah deprivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini masyarakat kita sudah terjadi situasi itu," kata Sarlito. Misalnya harapan terhadap demokrasi, yang berlebihan. Padahal kenyataanya sulit dicapai yang diharapkan. Bukan tidak mungkin suatu saat akan meledak menjadi aksi massa, revolusi, dan tindakan perlawanan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Artikel ini ditulis ketika pemberitaan media massa tengah diramaikan 2 kasus: Bank Century dan Antasari Azhar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7574506601000982388?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7574506601000982388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7574506601000982388' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7574506601000982388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7574506601000982388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2010/02/teori-konspirasi-hidup-di-antara-dugaan.html' title='Teori Konspirasi, Hidup Di Antara Dugaan dan Kenyataan'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-2042648629960871241</id><published>2010-02-05T18:26:00.004+07:00</published><updated>2010-02-05T18:33:09.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Antisipasi Gempa Selamatkan Banyak Jiwa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gempa selalu datang secara tak diduga-duga. Tiba-tiba saja ruangan terasa bergoyang, benda-benda bergetar, dan suasana mendadak senyap. "Gempa, gempa!" beberapa orang memekik hampir bersamaan. Tak lama kemudian semua orang panik berhamburan ke luar ruangan. Jika mengalaminya, apa hal terbaik yang bisa kita lakukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin kepada sejumlah gempa yang terjadi di tanah air beberapa tahun belakangan ini, kita memang patut mengetahui tindakan yang dapat kita lakukan pada saat gempa. Karena masalahnya, tidak ada pihak mana pun yang pernah bisa memprediksi datangnya gempa. Baik yang sifatnya kecil - hanya membuat kita terbengong-bengong sejenak- sampai gempa besar dengan guncangan hebat seperti yang dirasakan saudara-saudara kita di daerah rawan gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa menjadi permasalahan, karena biasanya pada saat terjadinya, ada sebagian orang yang tengah berada di dalam bangunan, baik kantor, tempat umum, maupun di rumah. Beruntung jika bangunan tempat berteduh itu cukup untuk menahan guncangan. Seandainya tidak, maka runtuhnya bangunan justru akan menjadi pembunuh yang sangat mematikan. Jadi bukan semata gempa yang bisa mengancam nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat yang hidup di daerah rawan gempa, seperti beberapa daerah di Jepang, tindakan penyelamatan diri sudah diperkenalkan dan dilatih sejak usia dini. Antisipasi berupa sistem peringatan dini, latihan rutin, kewaspadaan terus-menerus, sampai persiapan perlengkapan menghadapi bencana, terbukti mampu menurunkan jumlah korban bencana gempa secara siginifikan dalam 50 tahun terakhir. Rasanya sudah saatnya kita mencontoh mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tetap tenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian sejumlah orang yang pernah mengalami gempa mengatakan: pada saat terjadinya gempa, tiba-tiba saja tanah, lantai, atau ruangan terasa bergetar. Getaran yang awalnya terasa perlahan, bisa tiba-tiba terasa begitu hebat. Bangunan seperti diguncang ke kiri dan kanan. Jika getaran terasa begitu besar, bahkan manusia untuk bisa berdiri atau berlari saja bisa sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa terjadi, satu hal yang harus diperhatikan: tetap tenang! Ya, memang mudah mengatakannya. Tapi percayalah, tindakan ini bisa menyelamatkan jiwa kita. "Pada saat getaran, sebaiknya tetap tenang. Tetap di tempat. Gempa terjadi paling lama satu menit. Dalam waktu sesingkat itu bisa sejauh mana kita berlari? Lebih baik menunggu," jelas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Noer Isrodin&lt;/span&gt;, ahli keselamatan dari Badan SAR Nasional (Basarnas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat getaran gempa terjadi, kita bisa berlindung di balik benda yang cukup kuat. Misalnya di bawah meja yang kokoh. Gunanya untuk melindungi diri kita dari benda-benda yang berjatuhan seperti atap, lemari, kaca jendela, atau benda-benda yang bergantungan di dinding. Lindungi kepala dengan bantal, selimut selimut tebal yang telah dilipat, buku tebal, atau benda-benda yang sekiranya dapat menghindarkan luka pada kepala akibat terkena benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan penyelamatan diri bisa juga dengan berlindung di dekat tiang beton atau di bawah kusen pintu. Andai bangunan tiba-tiba ambruk, biasanya areal seperti ini menciptakan sedikit ruang untuk berlindung. Ini juga berarti, tindakan dengan berlari di koridor, lorong bangunan, tangga kebakaran, atau berada di tengah ruangan, dapat berbahaya. Karena pada ruang-ruang tadi, tidak ada perkuatan struktur bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya dapat melakukan tindakan lain, cobalah untuk mematikan sumber api, seperti kompor, memutus aliran lisrik, gas, atau mematikan sakelar. Sebab gempa bisa juga diikuti bahaya kebakaran akibat api atau korsleting listrik. Cobalah juga untuk membuka pintu. Gunanya untuk mempersiapkan jalan keluar jika gempa sudah reda. Biasanya jika bangunan ambruk, pintu akan sulit dibuka karena bengkok tertimpa material di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cari informasi yang benar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika gempa sudah terasa reda, kita bisa mulai melangkah keluar ruangan. Carilah jalan yang cukup aman dari reruntuhan bangunan. Pakai alas kaki, karena biasanya terdapat pecahan kaca, kayu, atau paku. Masyarakat di Jepang mengantisipasi keadaan ini dengan menyediakan sepatu di bawah dipan untuk melindungi kaki. Waspadai juga material yang ringkih, karena sewaktu-waktu bisa saja jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di luar ruangan, segera menjauh dari bangunan atau menuju lapangan terbuka. Jangan berdiri di teras atau koridor bangunan, walau sepintas terlihat aman. Karena sewaktu-waktu bangunan dapat roboh tanpa diperkirakan sebelumnya. Sekiranya berada di dekat bukit, jurang atau sungai, jauhi areal tersebut karena sewaktu-waktu dapat terjadi longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Noer Isrodin, tak kalah penting adalah mencari informasi yang benar. Siaran radio biasanya akan menginformasikan tentang kondisi gempa dan bahaya yang mungkin dapat mengancam. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai yang dapat terancam bahaya tsunami. Sambil melakukan tindakan evakuasi ke tempat yang lebih aman, pastikan tentang ancaman dari sumber-sumber yang resmi, seperti berita atau pengumuman petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui informasi terasa penting agar tidak terjadi kepanikan. Masyarakat yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pada saat yang bersamaan bisa turun ke jalanan. Dalam situasi seperti itu bahaya lain mengancam yakni kecelakaan lalu lintas. Apalagi jika semua orang mengeluarkan kendaraan bermotor. Di Jepang sendiri, kendaraan yang dianjurkan untuk evakuasi adalah sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti itu, jalan terbaik tentu berjalan kaki. Kenakan pakaian yang nyaman dan tidak perlu repot dengan urusan barang-barang yang di rumah. Keselamatan diri tetap nomor satu. Sekiranya sudah mempersiapkan bekal sebelum bencana, tempatkan dalam sebuah tas ransel beberapa perlengkapan bertahan hidup seperti air minum, makanan kering, obat-obatan, pakaian cadangan, senter, radio, serta uang tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lapor ke Basarnas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gempa yang dahsyat pasti akan membuat berbagai kerugian bagi masyarakat di kawasan yang terkena bencana. Terutama yang paling memprihatinkan adalah munculnya korban manusia. Korban umumnya akibat terkena reruntuhan bangunan, tanah longsor, atau bisa karena tersapu tsunami. Pada situasi darurat seperti ini, masyarakat yang selamat diharapkan dapat membantu petugas penyelamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat membantu para korban yang membutuhkan bantuan, anggota masyarakat sebaiknya mengetahui prosedur penanganan pertolongan pertama. Pengetahuan seperti ini harus dilatih oleh pihak-pihak seperti pemadam kebakaran atau instansi lain yang berkompeten. Bercermin dari banyaknya korban pada peristiwa bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini, prosedur semacam ini agaknya sudah mendesak untuk disosialisaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang belum memiliki bekal yang cukup untuk penanganan korban dalam hal tindakan pertolongan kesehatan, masyarakat bisa berpartisipasi dengan membantu petugas penyelamat untuk mencari korban. Pada bencana di Indonesia, tindakan penyelamatan korban di bawah koordinasi dari Basarnas. Artinya jika masyarakat atau ada kelompok-kelompok ingin berpartisipasi, maka hendaknya melapor terlebih dulu kepada pos Basarnas yang dipastikan selalu ada di daerah bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noer mengatakan, jika masyarakat melakukan tindakan sendiri-sendiri, maka dapat saja tindakan penyelamatan tidak terkoordinasi. Akibatnya tidak ada prioritas. Bisa saja terjadi penumpukan bantuan di daerah tertentu, tapi di sisi lain daerah yang lebih membutuhkan bantuan, malah tidak tersentuh. "Hal ini sering sekali terjadi," jelas Kasi Program dan Kurikulum Basarnas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tindakan Begitu Terjadinya Gempa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Tetap tenang, tunggu sampai gempa mereda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Cari tempat kokoh seperti kolong meja, di bawah kusen pintu, atau dekat tiang beton.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Lindungi tubuh, terutama kepala, menggunakan buku tebal atau bantal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Jika sempat, bukalah pintu untuk persiapan jalan keluar. Matikan sumber api seperti kompor, saluran gas, atau sakelar listrik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Hindari berlari di lorong atau koridor, karena tempat semacam itu cenderung tidak stabil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Begitu gempa mereda, cari jalan keluar yang cukup aman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Jauhi bangunan dan carilah tempat terbuka yang aman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan langsung angkat korban!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menolong korban yang tertimpa reruntuhan bangunan tidaklah sembarangan. Jika kita menemukan korban yang tertindih, sebaiknya segera melapor kepada petugas penyelamat yang berpengalaman. Karena niat baik menolong korban, malah dapat mencelakai korban, jika kita tidak mengerti prosedur penyelamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setiawan Gerda Yustisia&lt;/span&gt;, Kasi Pelaksanaan Diklat Basarnas, korban hidup yang tertindih bangunan, bagian tubuh yang tertindih akan mengeluarkan semacam racun yang berasal dari darah. Penanganan pertama adalah dengan menetralisir racun dalam tubuh menggunakan cairan infus. Setelah beberapa saat, sesuai arahan dari paramedis, maka korban baru bisa diangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika racun pada tubuh korban tidak dinetralisir, maka risikonya racun dapat menyebar ke seluruh tubuh. "Kalau sudah begini, dalam setengah jam saja korban justru bisa meninggal," jelas Setiawan. Karena itu, serahkanlah pada ahlinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, November 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-2042648629960871241?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/2042648629960871241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=2042648629960871241' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2042648629960871241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2042648629960871241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2010/02/antisipasi-gempa-selamatkan-banyak-jiwa.html' title='Antisipasi Gempa Selamatkan Banyak Jiwa'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-6559028626658449662</id><published>2009-11-11T14:31:00.005+07:00</published><updated>2009-11-11T14:43:14.046+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengapa Saya Bernama Gempar Soekarno Putra</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Soekarno" dalam nama panjangnya jelas merujuk kepada nama Presiden I Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Lebih dari 50 tahun lalu, saat masih berkuasa, Sang Proklamator jatuh hati dan menikahi ibunda Gempar, Jetje Langelo, di Manado. Namun asal-usul dan "darah biru" yang diwarisinya malah membuat jalan hidup Gempar penuh liku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 1998, ketika iklim politik Indonesia memanas dan pemerintahan Soeharto memasuki senja, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jetje Langelo &lt;/span&gt;(dibaca: Yece) melihat sesosok wajah yang amat dikenalnya di antara para demonstran yang menduduki Gedung DPR/MPR. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Charles Christofel&lt;/span&gt;, salah satu putranya, terlihat di antara ratusan massa mahasiswa berjaket kuning yang tengah meminta Soeharto turun takhta. Ketika itu Charles adalah mahasiswa Fakultas Hukum Program Ekstensi Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu membut Jetje gundah. Putranya itu dipanggil pulang ke Manado. Tapi karena berbagai kesibukan pekerjaan, Charles baru muncul Desember 1999, sekalian merayakan Natal. Charles tidak pernah menyangka, apa yang kemudian terjadi di rumah ternyata mengubah jalan hidupnya. Di dinding rumah Jetje telah terpasang foto-foto ibunya semasa muda yang tampak berdiri akrab dengan seorang pria yang dikenalknya sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ir. Soekarno&lt;/span&gt;.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Svpq53MV8mI/AAAAAAAAAFc/6dP2EOThK54/s1600-h/Resize+of+Resize+of+gempar+5+%28ibas%29+15-10-09.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Svpq53MV8mI/AAAAAAAAAFc/6dP2EOThK54/s320/Resize+of+Resize+of+gempar+5+%28ibas%29+15-10-09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402748245285139042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Kamu adalah anak Soekarno." Begitu kata-kata Jetje yang terasa bagai petir di telinga Charles. Ibundanya yang dipanggil mami, juga menerangkan bahwa ini sengaja dirahasiakan, lebih dari 40 tahun, tak lain karena amanat Soekarno sendiri yang menginginkan anaknya diamankan, jika sewaktu-waktu kekuasaannya jatuh. Apalagi pada awal-awal pemerintahan Orde Baru, kata Jetje, ada operasi militer yang hendak menumpas sisa-sisa rezim Orde Lama. Ia takut terjadi sesuatu pada dirinya dan Gempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekadar ucapan, Jetje juga mengeluarkan sejumlah dokumen yang selama ini disembunyikan. Antara lain berupa foto, surat-surat, tongkat komando, keris, serta amanat yang ditulis oleh tangan Soekarno sendiri. Dalam amanat tertulis permintaan agar anak yang lahir pada 13 Januari 1958 itu, kelak pada saatnya ia sudah dewasa berpolitik, dinamai: Muhammad &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatahillah Gempar Soekarno Putra&lt;/span&gt;. "Kutitipkan bangsa dan negara kepadanya!"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi kondektur bemo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini memang tidak serta merta mengubah hidup Charles yang kemudian menyandang nama baru: Gempar Soekarno Putra. Ia tetap seorang pengusaha yang juga berprofesi sebagai konsultan hukum di Jakarta. Namun ada niatannya untuk lebih mengenal ayah biologis yang tidak pernah diingatnya itu. Langkah awalnya mengunjungi makam Soekarno di Blitar. Lalu dengan penuh kesadaran, di sebuah masjid di kawasan pemakaman raja-raja Jawa, di Imogiri, ia memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan identitas dan legalitas baru, Gempar melanjutkan hidupnya yang saat itu sudah tergolong mapan. Pekerjaan dan karir cerah, materi cukup, serta sudah berkeluarga dengan seorang istri (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jeane Augusta Lengkong&lt;/span&gt;) dan seorang putra (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yohanes Yoso Nicodemus&lt;/span&gt;). Segala pencapaian ini terus disyukurinya mengingat jalan hidupnya yang penuh onak dan duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia SD, Gempar sudah dititipkan di rumah kakak dari suami pertama Jetje. Meski ikut famili, ternyata ia tidak diperlakukan sebagai anak biasa dan harus bekerja keras hingga mirip seperti pembantu. Perlakuan keluarga itu, menurut Gempar, juga sangat menyakitkan. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia harus berjualan es. Pada usia belasan, ia juga pernah menjadi kondektur bemo. Tapi sekolahnya tidak pernah berhenti, hingga tamat dari SMA  Negeri 1 pada 1977 dengan prestasi lima besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah tamat sekolah, Gempar merantau ke Jakarta dan tinggal dengan keluarga pihak ibunya. Namun ia maklum, jika perlakuan keluarga-keluarga itu juga tidak ramah kepadanya. Ia sering diperlakukan kasar sehingga harus terusir dan berpindah-pindah rumah. Bahkan pernah ikut di rumah seorang pedagang buah di daerah Gandaria, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Gempar baru benar-benar mapan setelah bekerja sebagai tukang ketik di kantor notaris &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Frederik Alexander Tumbuan&lt;/span&gt;, masih di sekitar daerah Gandaria. Tahun 1985 ia malah bisa berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal dari pekerjaan dan kuliahnya, pekerjaan yang digelutinya kemudian lebih banyak terkait dengan hukum atau di perusahaan biasa disebut bagian legal. Ia juga menjadi konsultan hukum di beberapa perusahaan elektronik seperti Hitachi, Toshiba, ITT, Grundig, serta beberapa bank. Dari pekerjaan itu perlahan-lahan kehidupannya mulai mapan, setelah memiliki beberapa bidang tanah dan kendaraan di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Siap, Bung Karno!"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Gempar mengenal Soekarno tak lebih sebagai mantan Presiden RI. Ia ingat, sewaktu SMP, pernah nekat membuka sebuah kopor besi yang sengaja disembunyikan ibunya di atas plafon rumah. Tapi selanjutnya isi kopor yang kelak dipakai untuk membuka jati dirinya itu, tidak terlalu dihiraukannya. "Malah ada tongkat komando yang pernah saya pakai untuk menggali-gali tanah," tutur Gempar tentang kenakalannya di masa kecil terhadap benda-benda peninggalan Soekarno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang sang ayah didapat dari Jetje sebelum akhirnya meninggal pada November 2004. Dalam ingatan Jetje, Soekarno mulai mengenalnya ketika berkunjung ke Manado tahun 1953. Sejak itu keduanya menjalin hubungan melalui surat atau telegram, serta sesekali bertemu jika kebetulan Presiden berkunjung ke Manado. Tapi orangtua Jetje tidak merestui niat Soekarno untuk menikahi putri mereka. Maka begitu lulus dari sekolah SGA Roma Katolik Manado, Jetje dinikahkan dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Leo Nico Christofel&lt;/span&gt;, anggota TNI berpangkat Letnan Satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah dikarunia dua anak, akhir 1955, Jetje dan Leo bercerai. Hubungan dengan Soekarno berlanjut kembali hingga akhirnya keduanya menikah secara Islam tahun 1957 di Manado. Perkawinan itu sempat dipestakan juga di Jakarta, namun Jetje yang dipanggil "Ice" oleh Soekarno, kemudian kembali lagi ke Manado. Baru setelah menjelang kelahiran Gempar, Jetje berniat menyusul suaminya, tapi batal karena ada pemberontakan Permesta. Soekarno baru dapat menggendong anaknya untuk pertama (dan terakhir kali) tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gempar, ada beberapa pejabat dekat Soekarno yang mengetahui soal pernikahan ini. Seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mayor Sugandi&lt;/span&gt; (ajudan Presiden), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Henk Ngantung&lt;/span&gt; (Gubernur Jakarta),&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Ibnu Sutowo &lt;/span&gt;(kemudian menjadi Dirut Pertamina), atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ali Sadikin&lt;/span&gt;. Dalam ingatannya, ia pernah beberapa kali menemani ibunya menemui beberapa pejabat itu di Jakarta. Belakangan setelah jati dirinya di buka, Gempar juga sempat bertemu Ali Sadikin. "Pak Ali masih ingat dan menanyakan kabar ibu saya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soekarno masih berkuasa, Jetje sempat menikmati kehidupan yang layak dengan diberi rumah di Jln. Tikala, sebuah kawasan elit khusus pejabat di Manado. Gempar di usia balita juga mendapat kiriman mainan yang bagus dan mahal dari Jakarta. "Waktu sekolah saya juga sering dibilang teman, 'Siap Bung Karno', karena katanya mirip Bung Karno kalau memakai peci," kata Gempar yang awalnya menganggap itu sebagai sekadar olok-olok, tapi belakangan diterimanya sebagai semacam petunjuk bahwa dirinya anak Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diminta tes DNA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan "satu lagi anak Soekarno" ini terkuak ke publik setelah majalah &lt;i&gt;Kartini&lt;/i&gt; memuat serial kehidupan Gempar, pada terbitan awal tahun 2000. Tulisan bersambung berbentuk &lt;i&gt;features&lt;/i&gt; itu memuat kisah kehidupan Gempar di masa lalu, terutama menekankan masa-masa penderitaannya. Sepintas terbaca seperti dongeng. Namun kepada &lt;i&gt;Intisari&lt;/i&gt;, Gempar tegas menyatakan kisah itu sejati. Tidak ada yang dibuat-buat atau ditambah-tambahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru pihak keluarga, terutama putranya yang saat itu masih usia anak-anak, sempat keberatan pada kisah-kisah pilu yang diekspos. Karena itu Gempar merasa perlu memberi pengertian bahwa kisah masa lalu tidak perlu ditutup-tutupi. Justru kalau direkayasa, harusnya merasa malu. Baru kemudian putranya bisa mengerti dan justru merasa bangga pada kegigihan ayahnya menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramainya publikasi media rupanya mengusik keluarga besar Soekarno. Berdasarkan cerita Gempar, tahun 2003, ia dihubungi pengacara dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Guruh Soekarno Putra&lt;/span&gt; untuk menjajaki kemungkinan tes DNA. Ia tidak menolak, tapi mengajukan syarat: tes bukan atas permintaan dirinya, dilakukan secara terbuka, dan sampel darah yang diambil harus dikawal oleh tim kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu tidak ada kabarnya sampai sekarang. Gempar menduga, lantaran dalam uji DNA, tim dokter harus mengambil sampel darah pembanding. Artinya sampel darah anak-anak Soekarno lain harus juga ikut diambil. Tentu bisa dibayangkan sulitnya mengumpulkan orang-orang yang sebagian besar merupakan tokoh-tokoh politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau pun itu suatu kali harus terjadi, Gempar akan bersikukuh dengan syarat yang diajukannya. "Biar jelas kalau bukan saya yang mencari popularitas. Kalau pun hasilnya benar, ya alhamdulillah. Kalau tidak, berarti ibu saya pembohong," tuturnya tanpa merasa sedikit pun memiliki beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Gempar bersyukur terhadap satu warisan yakni kemiripan fisik, terutama wajah. Apalagi kalau ia memakai peci, yang kini jadi seragam wajibnya saat hadir di acara-acara resmi. Dalam acara kampanye menjelang Pemilu, ia malah sengaja memakai baju mirip baju kebesaran Soekarno, komplit dengan kacamata hitam model jadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah mirip, ditambah publikasi media, menjadikan Gempar seperti selebritis. Efek positifnya, banyak orang merasa segan. Misalnya ketika Gempar berhubungan dengan birokrasi, orang akan menolak pemberian amplop sekadar sebagai tanda terima kasih. "Katanya mereka merasa tidak enak menerima uang dari anak Proklamator," tutur Gempar menirukan orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio piningit?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam kopor besi yang disimpan Jetje, sebenarnya Soekarno juga mewarisi Gempar tongkat komando dan dua bilah keris. Namun atas saran seorang kiai, sebilah keris dibuangnya ke sungai. Sebuah tindakan yang ternyata kini disesalinya, karena menurutnya menyimpan keris bukan berarti menyembahnya. Sedangkan tongkat komando sudah diberikan kepada kelompok spiritual. "Saya jadi proaktif, suaranya juga jadi keras, kalau memegang tongkat itu," katanya terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat sang ayahlah yang akhirnya membuat Gempar kemudian turut aktif berpolitik. Semua diawalinya dari langkah kecil yakni di Partai Nasional Indonesia Bersatu, lalu Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia, kemudian Partai Nasional Indonesia Massa Marhaen, dan kini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Barisan Nasional (Barnas). Dalam Pemilu 2009 lalu, Barnas hanya menempati urutan 16 besar. Gempar yang calon legislator di urutan 1 daerah pemilihan Jawa Timur VIII juga gagal jadi anggota DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah disebut-sebut sebagai satrio piningit, suatu mitos calon pemimpin masa depan dalam ramalan Jayabaya, tapi Gempar mengaku setidaknya saat ini belum berambisi menjadi presiden. Ketika Pemilu 2004, sikapnya sempat disalahartikan para wartawan, hingga ditulis di media siap menjadi calon presiden. Fotonya juga dijejerkan dengan anak-anak Soekarno lain yang mencalonkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu saya ditanya wartawan, saya jawab, 'Insya Allah'," katanya menjelaskan peristiwa itu. Padahal berniat saja belum. Walau cuma kesalahpaman, tapi menurutnya berita itu sempat kubu salah satu kakaknya yang mencalonkan diri, menjadi meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang mitos satrio piningit, Gempar mencoba menyikapinya secara lebih bijaksana. Satrio piningit menurutnya adalah bentuk kepemimpinan yang mampu mendatangkan pembaruan dan kemakmuran kepada rakyat. Bisa saja mulai dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hayam Wuruk&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amangkurat I&lt;/span&gt;, Soekarno, termasuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soeharto&lt;/span&gt;. "Kalau saya disebut begitu, 'amin' sajalah. Kan tidak rugi disebut satrio piningit." Kata Gempar santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Soekarno Minta Disuapi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam ingatan Jetje Langelo, seperti diceritakan Gempar Soekarno Putra, Soekarno merupakan pribadi yang menarik, kharismatis, dan berwibawa. Pembawaan itu yang membuat Jetje takluk pada kemauan Sang Proklamator untuk mengawininya, meski sebenarnya Soekarno telah memiliki Ibu Negara, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatmawati&lt;/span&gt;. Jetje yang berdarah Minahasa, penganut Kristen taat pula, akhirnya mau menikah dengan cara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik sosok salah satu pemimpin yang amat disegani di dunia itu, Soekarno ternyata amat romantis dan manja. Jika berkunjung ke Manado dan menemui istrinya, ia selalu minta untuk dilayani sepenuhnya. Di kamar yang selalu berbau wangi bunga melati, tidak seorang pun boleh masuk. Saat mandi, hanya Jetje yang boleh menyiapkan bak mandi, menggosok dan mengelap dengan handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula saat acara makan. Saat berdua saja dengan istrinya, Soekarno selalu minta agar istrinya mencoba dulu makanan dan minuman yang akan dimakannya. Bahkan pernah suatu kali, karena Soekarno sibuk membaca, Jetje diminta untuk menyuapinya. Persis seperti anak kecil yang manja, begitu menurut penuturan Gempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, November 2009&lt;br /&gt;Foto: Sabar Basuki/INTISARI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-6559028626658449662?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/6559028626658449662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=6559028626658449662' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6559028626658449662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6559028626658449662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/11/mengapa-saya-bernama-gempar-soekarno_7766.html' title='Mengapa Saya Bernama Gempar Soekarno Putra'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Svpq53MV8mI/AAAAAAAAAFc/6dP2EOThK54/s72-c/Resize+of+Resize+of+gempar+5+%28ibas%29+15-10-09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5619365675019357944</id><published>2009-09-15T18:57:00.005+07:00</published><updated>2009-09-15T19:10:37.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Mama dan Seekor Ikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sq-CAsKjRZI/AAAAAAAAAFE/BEFXu_zVKcs/s1600-h/asmat+-+ibu+penjual+ikan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 193px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sq-CAsKjRZI/AAAAAAAAAFE/BEFXu_zVKcs/s320/asmat+-+ibu+penjual+ikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381663028098057618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seorang Ibu warga Suku Asmat di Papua dengan dagangannya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto ini saya ambil di Agats (Oktober 2008), kota setingkat kota kecamatan di Kabupaten Asmat. Mama - begitu wanita dewasa di sana dipanggil - ini sedang menjajakan dagangannya yang cuma seekor ikan. Harganya Rp 20 ribu. Mahal? Awalnya saya mengira begitu, tapi pandangan itu berubah karena mereka memang hanya mengenal dua harga: 10 ribu dan 20 ribu. Daerah Agats yang sangat terpencil di tengah rawa Papua Selatan, membuat harga barang apa pun terasa mahal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5619365675019357944?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5619365675019357944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5619365675019357944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5619365675019357944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5619365675019357944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/mama-dan-seekor-ikan.html' title='Mama dan Seekor Ikan'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sq-CAsKjRZI/AAAAAAAAAFE/BEFXu_zVKcs/s72-c/asmat+-+ibu+penjual+ikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-8808290424145261712</id><published>2009-09-04T11:49:00.007+07:00</published><updated>2009-09-08T19:42:58.492+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Rayuan Menggoda Diskon Harga</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berapa pun besarnya, potongan harga umumnya mampu membuat calon pembeli tertarik. Membeli adalah keputusan emosional. Karena itulah penjual harus pandai-pandai bermain siasat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lelucon berbentuk teka-teki: apa bedanya Bulan dengan Matahari? Jawaban resminya tentu Anda sudah tahu. Tapi jawaban ngawur dari teka-teki ini adalah: kalau Bulan bisa ngomong, kalau di Matahari (nama toko) ada diskon! He-he-he, memang lelucon basi. Kalau dalam istilah anak muda, garing!&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SqZQS-6jItI/AAAAAAAAAE8/c1dl4iTKtl4/s1600-h/cewek+diskon+harga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 183px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SqZQS-6jItI/AAAAAAAAAE8/c1dl4iTKtl4/s400/cewek+diskon+harga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379075091997074130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lelucon itu paling tidak menunjukkan bahwa toko eceran (ritel) nyaris identik dengan program potongan harga atau diskon. Pada "musim diskon", toko-toko itu memajang tulisan besar-besar berupa persentasi potongan harga sebesar 20%, 30%, 50%, atau 70%. Pengelola toko berharap, orang yang lewat akan menengok. Syukur-syukur kalau akhirnya mereka tertarik dan akhirnya membeli barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah strategi ini selalu berhasil? Sayangnya, kebanyakan iya. Tengok saja pusat-pusat perbelanjaan saat mereka menggelar acara diskon besar-besaran. Pembeli ramai berdatangan dan berebut membeli barang yang diberi harga khusus. Penjualan diberitakan meningkat. Begitu paling tidak keterangan resmi dari bagian humas toko itu kepada para wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita paling heboh di Jakarta adalah ketika produsen alas kaki plastik "Crocs" menggelar diskon besar-besaran sampai 70%, Mei 2009, di pusat perbelanjaan Senayan City. Calon pembeli mengular sampai berpuluh meter. Berjam-jam mereka rela antre hanya untuk sekadar bisa masuk ke dalam ruang penjualan. Ketika selesai bertransaksi, umumnya pembeli menenteng belanjaan sampai beberapa tas sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya fenomena itu ternyata bukan semata masalah harga. Ceritanya tak jauh berbeda ketika sebuah toko permata, di mal yang sama, menggelar diskon untuk produk yang harganya tidak bisa dibilang murah. Jutaan rupiah! Pembeli tetap mengular. Mereka juga masih rela menunggu berjam-jam, sampai kaki terasa kesemutan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membeli karena emosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat bahwa diskon, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sale&lt;/span&gt;, potongan harga, apa pun namanya, konon paling diminati kaum wanita. Dugaan itu masuk akal. Penelitian menyebutkan, kaum perempuan memang lebih banyak dan lebih tahan menghabiskan waktunya di pusat perbelanjaan dibanding lelaki, meski mereka tidak selalu membeli sesuatu. Penelitian mutakhir malah menyatakan, belanja bisa membuat perempuan lebih sehat, karena selama menjalaninya emosi mereka cenderung positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal diskon sebenarnya bisa menarik bagi siapa saja, lelaki dan perempuan. Diskon merangsang siapa pun dia, untuk menimbang-nimbang apakah barang ini bisa dibeli atau tidak (bukan dibutuhkan atau tidak). Di saat-saat seperti itu, pesan para ahli perencanaan keuangan agar kita tidak membeli sesuatu berdasarkan keinginan tapi kebutuhan, seolah bagai angin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan seseorang dalam membeli suatu barang sesungguhnya emosional, seperti ditulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Brian Tracy&lt;/span&gt;, pakar pemasaran Amerika Serikat (AS) dalam bukunya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Psychology of Selling&lt;/span&gt;" (diterbitkan Bhuana Ilmu Populer 2007). Karena itu kepada para penjual, Tracy berpesan: jangan pernah berpikir tentang cara-cara menjual secara rasional, melainkan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Tracy, pada dasarnya emosi manusia (dalam hal ini calon pembeli) amat beragam. Dalam memutuskan atau bertindak, emosi terkuatlah yang akan menentukan. Jadi ada semacam pertarungan emosi dalam diri manusia. Para penjual harus sadar hal itu, sehingga mereka harus bisa meningkatkan emosi "positif" pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pembeli mulai berpikir tentang manfaat ketika ia pertama kali tertarik kepada suatu barang. Tapi di sisi lain, ia punya ketakutan untuk berbuat kesalahan jika membelinya. Entah perasaan takut kemahalan, tidak berguna, tidak awet, dsb. Nah, di saat itulah penjual harus pandai-pandai menghilangkan rasa takut dari pembeli. Misalnya, penjual bisa bertindak dengan cara memberi potongan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi psikologis pembeli, tulisan besar "diskon 50%" saja sudah dapat merangsangnya untuk menghampiri sebuah barang. Apabila sudah tertarik, maka ia mulai memperhatikan corak dan bentuknya. Menghitung besarnya diskon dari harga aslinya. Dan tanpa perlu berpikir panjang lagi, langsung bergegas menuju kasir. Kalau tidak bawa uang kontan, ya gesek kartu kredit saja. Beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi umpan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika jurus awal penjual masih belum cukup merayu pembeli, maka bisa disiapkan jurus kedua untuk mencolek emosi yaitu dengan memberi batas waktu. Penjual harus meyakinkan bahwa jangka waktu pembelian sangat terbatas. Harga naik besok pagi! Itu misalnya.&lt;br /&gt;Tracy berteori, pembeli yang tadinya ragu-ragu pasti akan membeli jika dihadapkan dengan kemungkinan bahwa ia tidak akan dapat membeli dengan harga serendah itu. Atau malah akan kehilangan kesempatan itu sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi tadi, bisa tergambarkan, dalam sekejap saja kondisi lapar mata pembeli yang semula niatnya cuma mau cari angin saja, begitu mudah terpuaskan. "Belinya pas lagi diskon kok, jadi murah," katanya kepada para kolega, ketika ditanya masalah harga. Menurut Tracy, di sini pembeli mulai mencoba merasionalkan tindakan yang sebenarnya dilandasi emosinya.&lt;br /&gt;Kesan "harga murah" jelas tidak tercipta begitu saja. Kesan itu adalah tujuan dari strategi promosi berupa diskon. Strategi lain, menurut teori pemasaran, bisa berupa iklan, brosur atau pemasaran langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi semacam ini bisa kita lihat dijalankan saban akhir pekan oleh sejumlah hipermarket. Jumat pagi, para pengelola hipermarket sudah memasang iklan besar-besaran di surat kabar dan memajang produk-produk yang mendapat pemotongan harga. Mulai dari sembako, barang keperluan rumah tangga sehari-hari, sampai barang-barang elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya, tidak usah menunggu Sabtu, apalagi Minggu. Jumat siang itu saja, barang-barang yang diberi diskon sudah menghilang dari rak karena diserbu pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kafi Kurnia&lt;/span&gt;, praktisi pemasaran, menyatakan sejauh ini strategi ini terbukti cukup ampuh memancing konsumen untuk datang ke hipermarket di akhir pekan. Padahal harapan pengelola toko lebih dari itu, yakni bukan hanya barang diskon yang diserbu pembeli, tetapi barang-barang lain yang harganya normal. Kesimpulannya, barang yang didiskon juga bisa menjadi umpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggelar acara diskon, pengelola toko tentu tidak bermain solo. Pihak produsen atau pemegang merek ikut dilibatkan, karena pada dasarnya hampir semua produk di hipermarket atau pusat perbelanjaan dijual dengan sistem titip jual atau istilahnya konsinyasi. Strategi promosi antara toko dan produsen harus sejalan. Walau kabarnya ada juga hipermarket tertentu yang berani memotong margin keuntungannya, bahkan merugi untuk barang tertentu, hanya untuk menggelar acara diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cuma untuk barang lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya program diskon terkait dengan musim penjualan dan stok barang. Misalnya produk ritail pakaian yang umumnya didiskon dua kali setahun, yaitu pertengahan tahun dan akhir tahun. Di luar itu kadang digelar dengan tema tertentu seperti Idul Fitri, tahun ajaran baru, Imlek, atau Valentine. "Bentuknya tidak selalu dengan potongan harga. Bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lucky dip&lt;/span&gt; (hadiah kejutan) atau hadiah voucher pada jumlah pembelian tertentu," kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Joseph Landri&lt;/span&gt;, Group Head of Investor Relations PT Mitra Adiperkasa Tbk, perusahaan pemegang 85 merek internasional di Indonesia. Beberapa merek di antaranya: Marks &amp;amp; Spencer, Zara, Next, Massimo Dutti, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan harga, jelas Joseph, didasari banyak pertimbangan. Seperti margin keuntungan dari barang, ketersediaan stok di pasaran, usia barang, adanya produk baru, atau tema promosi pada saat tertentu. Produsen juga harus berhitung cermat tentang besaran angka potongan harga yang diberikan, apakah 20%, 30%, atau mungkin 50%. Tergantung kepada situasi bisnis pada saat itu serta mempertimbangkan kondisi produk yang akan diberi potongan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah produk yang promosinya sudah berjalan tapi ingin dipacu lagi penjualannya, bisa diberi potongan harga atau bonus tertentu. Sementara produk yang sudah memasuki akhir masa penjualan, sudah ketinggalan mode, serta ukuran dan modelnya sudah tidak lengkap, bisa dijual dengan diskon yang besar. Apalagi kalau sudah akan masuk produk penggantinya, stok harus segera dihabiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pembeli harap maklum. Diskon umumnya hanya diberikan untuk barang-barang lama, yang mungkin sudah ketinggalan mode. Untuk produk-produk baru, sering diistilahkan "new arrival", jangan bermimpi untuk mendapatkan harga miring. "Hal ini penting untuk menjaga positioning brand, sebagaimana yang telah ditentukan pemilik merek," jelas Joseph.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah produk bisa saja tidak akan dikenai diskon, jika ternyata respons konsumen (dibaca: penjualan) dianggap bagus. Karena produsen tidak harus mengejar target penjualan tertentu. Dari jangka waktu penjualan, mereka yakin akan mampu menghabiskan stok dan mendapatkan margin penjualan tertentu. Dalam pengertian Kafi Kurnia, strategi pemotongan harga sangat fleksibel dan terkait dengan strategi penjualan yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada industri yang lebih besar, seperti misalnya automotif, menurut Kafi diskon hanyalah menjadi satu alat disamping berbagai strategi dan aspek bisnis lainnya. Jika ada produk mobil tertentu yang tidak laku, pihak marketing akan segera mengarahkan penjualannya untuk pasar dan wilayah tertentu. Soal harganya turun atau tetap, bisa sangat fleksibel. Yang terpenting, target penjualan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Loyal pada harga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak selamanya pemotongan harga terdengar merdu di telinga konsumen. September 2007, perusahaan komputer Apple pernah menurunkan harga jual produk ponsel iPhone sebanyak AS $ 200, menjadi AS $ 400. Dengan pemotongan mereka berharap mencapai target penjualan 2,5 juta unit iPhone pada tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akibatnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Steve Jobs&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chief Executive Officer &lt;/span&gt;Apple kebanjiran e-mail protes dari para pembeli iPhone yang terlanjur membeli sebelum harga turun. Jobs kemudian memberi kompensasi kepada mereka yang membeli dua minggu sebelum harga turun, untuk berbelanja produk Apple sebesar AS $ 200. Kabarnya setelah pemotongan harga, penjualan ponsel saingan Blackberry itu naik luar biasa dari 9.000 unit per hari menjadi 27.000 unit per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, strategi Apple tidak berdampak negatif terhadap citra perusahaan. Karena &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Michael Goodman&lt;/span&gt;, ahli pemasaran AS, dalam bukunya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reduction Price can Backfire&lt;/span&gt;" mewanti-wanti agar berhati-hati karena potongan harga bisa berdampak kepada loyalitas konsumen. Jika ada dua produk yang saling bersaing, adalah wajar jika konsumen memilih produk yang memberi potongan harga. Akhirnya konsumen bisa lebih loyal kepada harga daripada terhadap merek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala situasi itu terjadi, produk itu nantinya sangat rentan terhadap perubahan harga karena persaingan. Produsen lalu terdorong untuk mengurangi harga (dan keuntungan!) untuk menjaga posisi mereka di pasar. "Faktor loyalitas sangat penting dan tidak untuk dikompromikan dengan harga atau promosi harga yang berlebihan," jelas Goodman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapat loyalitas konsumen sekaligus meningkatkan penjualan. Misalnya pemberian bonus yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh konsumen, pemberian voucher, atau servis gratis selama jangka waktu tertentu. Dalam jangka panjang, pemotongan harga malah bisa mengundang risiko.&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya, bukan cuma pembeli yang harus teliti. Penjual juga harus berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lebih Tertarik Manfaat Langsung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Survei Nielsen ShopperTrends 2009 oleh lembaga survei AGB Nielsen, menyimpulkan bahwa konsumen di Indonesia lebih tertarik dengan promosi yang memberikan keuntungan secara langsung, seperti diskon. Namun bukan berarti konsumen abai terhadap kualitas produk. Kenaikan penjualan produk berkualitas tetap lebih baik dari produk biasa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskon                                                                    (77), Beli sejumlah barang                                           dengan bonus 1 gratis (49), Diskon dengan menunjukkan bukti pembelian (22), Voucher (21), Hadiah langsung (21), Mendapat poin (15), Pembelian dengan pembelian (8), Hadiah undian (5), Uang kembali/cashback (4), Cicilan bunga 0% (3)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: AGB Nielsen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pilih Angka Nominal atau Persen?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diskon atau potongan harga bisa ditawarkan dalam bentuk nominal harga (Rp...) atau dalam persentase (...%). Masalahnya, manakah yang lebih menarik di mata konsumen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Devon DelVecchio&lt;/span&gt;, profesor pemasaran dari Miami University, pada 2007, konsumen lebih mudah mengingat angka dalam persentase dibanding dalam nominal. Selain itu, jika potongan harga tergolong tinggi, akan lebih efektif jika disampaikan menggunakan persentasi. Pengaruhnya ada pada ekspektasi harga di benak konsumen. Mereka membayangkan sejumlah angka yang pasti jauh lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika potongan harga rendah, sebaiknya digunakan dalam bentuk angka nominal. Cara ini membuat konsumen bisa lebih cepat mengkalkulasi harga dan bisa cepat dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, September 2009&lt;br /&gt;Foto: Ibas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-8808290424145261712?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/8808290424145261712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=8808290424145261712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8808290424145261712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8808290424145261712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/rayuan-menggoda-diskon-harga.html' title='Rayuan Menggoda Diskon Harga'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SqZQS-6jItI/AAAAAAAAAE8/c1dl4iTKtl4/s72-c/cewek+diskon+harga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-350207323067286048</id><published>2009-09-04T11:35:00.005+07:00</published><updated>2010-02-22T18:17:02.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kemeriahan Pesta Budaya di Jantung Asmat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oktober menjadi bulan yang dinanti warga Suku Asmat, khususnya para pengukir tradisional. Pada minggu kedua bulan itu, berlangsung Pesta Budaya Asmat, sebuah acara budaya tahunan yang dipusatkan di Distrik Agats. Ratusan pengukir dari pelosok kampung di Papua Selatan datang membawa karya-karya terbaik mereka untuk dipamerkan, dinilai, lalu pada puncaknya dilelang. Intisari melihat langsung kemeriahan pesta yang tahun ini telah memasuki usia perak itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, lima juta rupiah!" Teriakan petugas lelang membahana di alun-alun kota Agats. Di depan mikrofon, ia seperti tak kenal lelah menawarkan sebuah patung ukiran yang dibawa sendiri oleh pengukirnya di hadapan pengunjung. "Ayo, naik lagi sepuluh juta. Oh, ada yang dua belas juta! Tepuk tangan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemeriahan itu sekilas tidak jauh beda dengan suasana lelang benda-benda seni yang sekarang sedang menjamur di kota-kota besar. Hebatnya, acara ini berlangsung jauh di pedalaman, tepatnya di Agats. Ukiran-ukiran tradisional dilelang kepada turis, pejabat setempat, juga warga sekitar. Lokasi boleh terpencil, tapi jangan terkejut kalau harganya berjut-jut seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agats? Silakan membayangkan, untuk menuju ibukota distrik (setingkat Kecamatan) di tengah belantara rawa-rawa Papua Selatan itu, ditempuh dari Timika selama 40 menit dengan pesawat jenis Twin Otter (18 penumpang). Kalau mau bisa juga dari Merauke selama 1,5 jam. Mendarat di lapangan terbang Ewer. Perjalanan masih dilanjutkan ber-speedboat, 10 menit saja, untuk merapat ke kota yang berdiri di atas lahan gambut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara lelang ukiran memang jadi semacam puncak acara pesta tahunan ini. Karena di sinilah ukiran-ukiran Asmat sebagai buah tradisi turun temurun selama ratusan tahun bisa dihargai sepantasnya. Selama tiga hari acara lelang saja, terjual 203 ukiran yang totalnya Rp 1,5 miliar. Harga tertinggi mencapai Rp 32 juta untuk ukiran juara pertama yang dibeli Bupati Merauke, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Johanes Gluba Gebse&lt;/span&gt;. Angka penjualan ini termasuk tinggi dibandingkan dengan pesta budaya tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika selama pesta, wajah para pengukir dari tujuh distrik di Kabupaten Asmat itu selalu berseri-seri. Bolehlah sejenak mereka melupakan kenyataan hidup pada hari-hari biasa, saat pedagang perantara masuk ke kampung dan menjemput ukiran-ukiran serupa dengan harga seratus atau dua ratus ribu rupiah saja. Demi tuntutan perut, para pengukir seringkali harus menyerah pada komersialisasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status sosial tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengukir atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wowipits&lt;/span&gt; dalam bahasa setempat, sebenarnya bukanlah profesi utama. Sehari-harinya mereka tetap bekerja memenuhi kebutuhan hidup, seperti mencari sagu, berburu, menangkap ikan, atau berkebun. Ketika waktu sudah agak senggang, biasanya sore hari, disempatkanlah waktu untuk mengukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak semua orang Asmat ahli mengukir. Diyakini ada garis keturunan tertentu yang mampu melakukannya. Dalam satu keluarga sekalipun hanya satu atau dua anak saja yang akhirnya mewarisi kemampuan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang ada anak berbakat, kaderisasinya diadakan di rumah laki-laki (disebut rumah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jew&lt;/span&gt;) semacam balai adat tempat anak lelaki akil balig ditempa menjadi dewasa. Maka kemampuan khusus ini pun dipandang istimewa di masyarakat. Status sosial pengukir juga tinggi, lantaran ukiran berhubungan dengan ritual agama asli setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alphonse A. Sowada, OSC&lt;/span&gt;, rohaniwan Katolik dan antropolog, dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asmat Images&lt;/span&gt; (1985) mencatat adanya hubungan timbal balik antara manusia Asmat dengan roh-roh dalam kehidupan sehari-hari. Dongeng dan mitos Asmat juga banyak berkisah tentang benda mati, manusia, binatang, serta roh, yang saling berinteraksi dan memberi kekuatan. Mitologi ini memang tidak pernah membawa alam gaib secara nyata, tapi kehadirannya selalu tampak dalam benda-benda kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Asmat juga sangat terkait dengan roh para leluhurnya. Harmoni itu dijaga dan selalu diseimbangkan melalui praktik kekuatan magis, upacara pemujaan, dan pesta yang menggunakan benda-benda mati. Biasanya benda-benda berukir dibuat masyarakat yang tinggal di tepian sungai. Seusai upacara, patung akan ditinggal di rawa-rawa, sebagai persembahan bagi arwah-arwah yang menjadi pohon-pohon sumber makanan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekadar piranti ritual, patung-patung juga merupakan cerminan keinginan pembalasan dendam dari nenek moyang yang mati dalam perang. Pantang jika generasi penerus tidak melanjutkan amanat kemarahan itu. Karena itulah di masa silam perang suku dan kanibalisme yang tingkat kekejiannya sulit kita bayangkan, jadi peristiwa berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemerintah Indonesia masuk ke Asmat, tradisi upacara dan pembuatan patung sempat dilarang untuk memutus mata rantai perang dan tindak kekerasan lain. Larangan baru dicabut setelah Misi Gereja Katolik dan International Labour Organization (ILO) memprakarsai penjualan patung-patung Asmat sebagai barang seni, di Agats serta Rotterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi juga melanjutkan upaya itu dengan mendirikan museum yang mengoleksi benda-benda seni dari berbagai penjuru Asmat. Kurator pertama dari museum yang kini bernama Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat ini adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yuvens Biakai&lt;/span&gt;, putra asli yang kini menjabat Bupati Asmat. Museumlah yang lalu memprakarasi acara pesta budaya dan jadi agenda tetap tahunan bidang pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Misi menyelamatkan tradisi Asmat bukan tanpa kritik. Ada yang berpendapat, patung dan bermacam tradisi masa silam penuh daya magis yang bertentangan dengan ajaran agama. Lha, ini kok malah dilestarikan para pastor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapinya,&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Pastor Virgil Petermeier, OSC&lt;/span&gt;, rohaniwan dari Keuskupan Agats menjelaskan, dukungan Gereja Katolik didasari pemikiran bahwa Tuhan bersama manusia menciptakan suatu budaya. "Betul ada yang menyimpang. Tapi ada pula budaya yang bagus untuk menunjang hal-hal bagus pula. Pantaslah kalau kesenian yang baik, ritus-ritus yang baik harus dapat penghargaan," tutur pastor yang berkarya di Asmat sejak 1974 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ancaman kebutuhan ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Empat hari berlangsungnya pesta budaya (9/10 - 12/10) bagaikan magnet yang begitu kuat menyedot perhatian seluruh warga Asmat. Suasana Agats begitu meriah karena lebih dari 200 orang pengukir dan 100 penari yang berpartisipasi. Mereka berpesta seni dengan mengukir, menari, bernyanyi, dan melaksanakan ritual-ritual adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah meriahnya rombongan turis yang datang menggunakan penerbangan reguler, beberapa penerbangan tambahan, serta kapal wisata yang sengaja datang menyesuaikan jadwal di kalender wisata. Di antara tamu, terdapat Duta Besar Vatikan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mgr. Leopoldo Girelli,&lt;/span&gt; yang sengaja datang menyambut 25 tahun penyelenggaraan pesta budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkumpulnya ratusan pengukir pada saat bersamaan, sempat membuat pengunjung pesta budaya kesulitan mengenali ciri khas masing-masing ukiran. Baru ketika digelar demonstrasi mengukir massal, kemampuan masing-masing pengukir bisa dilihat. Menariknya bagi pengunjung, ukiran-ukiran pada sebongkah kayu putih sepanjang 50 cm itu dikerjakan seketika, dalam waktu sekitar empat jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkumpulnya ratusan ukiran juga membuat pengunjung bisa membedakan kekhasan motif dari setiap daerah yang sebenarnya terbagi berdasarkan asal etnisnya, yaitu: Joerat, Bismam, Bacembub, Safan, Kenok, Simai, Jupmakcain, Unir Sirau, dan Aramatak. Setiap etnis memiliki spesialisasinya masing-masing dalam menggarap bentuk-bentuk ukiran patung, patung cerita, patung bis (patung roh), panel, alat musik tifa, atau dayung perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ingar-bingarnya pesta budaya, siapa mengira jika ukiran-ukiran tradisional yang terasa begitu murni itu sesungguhnya terus terancam. Bukan cuma kapak, beliung batu, serta kerang yang mulai jarang digunakan dalam mengukir. Atau tulang kasuari yang telah tergantikan pahat baja. Ancaman terjadi karena interaksi pengukir dengan dunia luar yang lalu berpengaruh pada hasil karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erik Sarkol&lt;/span&gt;, Kurator Museum Asmat dan juri dalam pesta budaya, mengakui kuatnya pengaruh ukiran-ukiran Jawa dan Bali pada beberapa jenis ukiran Asmat belakangan ini. Misalnya adanya bentuk-bentuk tiga dimensi pada ukiran panel. Hasilnya memang menjadi lebih variatif, tapi menurut Erik, itu bukan murni kreasi orang Asmat. Contoh-contoh perubahan evolutif itu bahkan bisa dilihat pada koleksi di Museum Asmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman lain yang tak kalah dahsyat, apalagi kalau bukan persoalan ekonomi. Wowipits yang dulu berkarya untuk ritual, lalu melestarikan seni, kini tampaknya mulai sadar akan potensi ekonominya. Malah ada pula yang mulai mengerti arti "selera pasar". "Dulu, kalau setiap ada bentuk tertentu yang menjadi juara di pesta budaya, tahun depannya akan banyak yang meniru bentuk tersebut," kata Pastor Virgil menyayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak boleh meniru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di mata para pengukir, pesta budaya berarti sebuah kesempatan untuk beradu kreasi. Karena pesta ini sesungguhnya juga sebuah ajang lomba ukiran tradisional dari seluruh penjuru Asmat. Tiga bulan sebelum acara, juri sudah mulai menyeleksi karya-karya ukiran langsung di kampung mereka untuk kemudian berlomba di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan karya dari tujuh distrik itu terbagi dalam kategori-kategori seperti Kategori Patung Kecil, Patung Sedang, Patung Besar, Kategori Cerita Rakyat, Kategori Tradisional, dan Kategori Panel. Pemenang akan mendapat hadiah uang, selain ukirannya akan dilelang. Di sinilah para pengukir bisa banjir uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pesta berlangsung, beberapa pengukir mengaku merasa senang karena dapat saling melihat karya sesama pengukir dan menjadi pelajaran bagi kemajuan diri sendiri. "Kita bukan meniru. Ada aturannya tidak boleh meniru punya orang lain," kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paskalis Osakat&lt;/span&gt;, pengukir dari Kampung Ats, menyinggung etika di kalangan pengukir tradisional Asmat. Masalahnya, apakah etika itu ditaati semua orang, dia cuma angkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda pada kenyataan sehari-hari, Paskalis mengakui memang ada ukiran-ukiran yang dibuatnya untuk "komersial". Ukiran dijual kepada pedagang yang langsung masuk ke kampung mereka. Soal harga memang sulit untuk diukur mahal-murahnya. Misalnya ukiran panel ukuran 50 - 100 cm dengan lama pengerjaan 2 bulan, dihargai sekitar Rp 200 ribu saja. Di kota, harga itu bisa menjadi tiga sampai lima kali lipatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskalis berkisah, banyak pengukir yang tidak punya pilihan karena didesak kebutuhan hidup. Terutama barang-barang yang tidak dihasilkan oleh alam, seperti pakaian, kebutuhan anak sekolah, dan kebutuhan rumah tangga lain. Harga-harga di kampungnya yang harus ditempuh delapan jam dari Agats dengan kapal kayu bermesin 15 PK (setara 30 l bensin) sudah berlipat-lipat dibandingkan dengan di kota. Sepotong baju kaus sederhana di Jakarta yang hanya Rp 20 - 30 ribu bisa menjadi hampir Rp 100 ribu. Bensin, jikalau ada, bisa Rp 10 - 15 ribu per liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan kaget, ketika menjelang ditutupnya pesta budaya, kemeriahan pun berpindah ke pasar Agats. Para pedagang barang-barang kelontong kebanjiran pembeli, tak lain para paitua wowipits yang sedang berkantung tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian berkardus-kardus belanjaan berpindah tempat ke kapal-kapal kayu yang umumnya sudah sarat muatan. Di antara barang kebutuhan pokok, terselip juga&lt;br /&gt;barang-barang modern seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tape recorder&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;speaker&lt;/span&gt; aktif, televisi 29 inci, yang semuanya tentu lengkap dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;generator set&lt;/span&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bukannya pesta budaya pestanya para pengukir 'kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Penulis:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Asmat merupakan salah satu liputan saya yang paling berkesan. Mungkin, karena saya merasa berada sangat jauh dari rumah, di suatu daerah yang sama sekali lain dibanding kawasan mana pun di Indonesia (yg pernah saya datangi). Tapi terlebih lagikarena  saya berada di antara saudara2 saya yang sangat sangat sangat tidak beruntung, di tengah alam mereka yang kaya raya.  Siapa yang salah dalam hal ini?  Begitu saya merenung sampai hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-350207323067286048?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/350207323067286048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=350207323067286048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/350207323067286048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/350207323067286048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/kemeriahan-pesta-budaya-di-jantung.html' title='Kemeriahan Pesta Budaya di Jantung Asmat'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3221912691518878168</id><published>2009-09-03T10:15:00.009+07:00</published><updated>2009-09-03T10:41:09.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Menangkap Tukang Sulap</title><content type='html'>Anda boleh percaya, kepala saya langsung pening sehabis membaca berita ini:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp83vANr2wI/AAAAAAAAAEk/vkxcyV--GqM/s1600-h/Resize+of+deddy.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp83vANr2wI/AAAAAAAAAEk/vkxcyV--GqM/s200/Resize+of+deddy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377077760754440962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/09/02/e211102/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Polri: Deddy Corbuzier Bohong&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam perasaan bingung, lucu, kesal, tidak habis mengerti, yang semua menumpuk jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik saya copas saja berita itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Kredibilitas mentalis Deddy Corbuzier dipertanyakan. Ia dianggap telah melakukan pembohongan kepada publik dalam aksinya dalam acara HUT ke-20 RCTI, Senin lalu (24/8), yang menampilkan ia ditembak dan kemudian menangkap peluru dengan mulut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepala Bidang Intelejen dan Keamanan Polri, Irjen Saleh Saaf, mengungkapkan, sulap yang dilakukan Deddy penuh kebohongan. "Deddy itu ngarang-ngarang," katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STOP! Kutipan selesai. Soalnya alinea2 berikutnya akan terasa lebih konyol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu di mana letak rasionalitas polisi. Di mana-mana – sampai ke ujung planet mana pun – yang namanya sulap memang tipuan, ilusi, bohong-bohongan. Titik. Kebetulan saya pernah menulis soal itu dan di-copas di &lt;a href="http://diamondmagics.blogspot.com/2008/05/ini-cuma-sulap-bukan-sihir.html"&gt;sini&lt;/a&gt;. Jadi rasanya tidak perlu dibahas panjang lebar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenernya ada juga kesalahan si wartawan. Ini sebagai bukti bentuk "jurnalisme katanya", di mana setiap ada pejabat yang ngomong, wartawan bakal secara robotik mengutip mentah2 -  tanpa merasa perlu dikritisi - lalu dijadikan berita. Ternyata terjadi kesalahan berikutnya, redaktur tidak jeli untuk menelaah. Jadilah &lt;strike&gt;kecelakaan&lt;/strike&gt; kesalahan beruntun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, apa komentar Deddy soal pemanggilannya kemarin. Yang saya tahu dia orangnya rada jahil. Hihihi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3221912691518878168?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3221912691518878168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3221912691518878168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3221912691518878168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3221912691518878168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/menangkap-tukang-sulap.html' title='Menangkap Tukang Sulap'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp83vANr2wI/AAAAAAAAAEk/vkxcyV--GqM/s72-c/Resize+of+deddy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7820381229536818234</id><published>2009-09-02T12:40:00.013+07:00</published><updated>2009-09-02T13:36:33.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Lebih Baik Ya Daripada Tidak</title><content type='html'>Agak kaget saya, ketika membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline &lt;/span&gt;sebuah perusahaan taksi, yang terpasang di konter perusahaan itu, di area kedatangan Bandara Achmad Yani, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp4Fv6x8INI/AAAAAAAAAEE/gkZztptg7iA/s1600-h/Resize+of+Picture+709.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 230px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp4Fv6x8INI/AAAAAAAAAEE/gkZztptg7iA/s320/Resize+of+Picture+709.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376741325917659346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Lebih praktis naik taksi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tiba-tiba saya ingat, pernah akrab dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline&lt;/span&gt; serupa dimasa lalu: "Lebih Baik Naik Vespa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa kata2 yang sering saya lihat di iklan2 display skuter asal Italia itu begitu tertancap di otak saya. Bisa jadi karena memang ia lain dari yang lain (pada masanya), memunculkan rasa penasaran, atau mungkin juga mampu menampilkan keunggulan tanpa harus merendahkan yang lain. (ah, sejak kapan saya berteori di blog?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa jadi karena bapak saya dulu punya(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nya&lt;/span&gt;) vespa, jadi merasa ada semacam kedekatan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih baik … ", menurut saya adalah sebuah kalimat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggantung&lt;/span&gt;. Karena ia menuntut suatu perbandingan. Lebih baik dari apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya, khusus Vespa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline&lt;/span&gt; hasil kerja biro iklan InterVista ini, kok ya terasa pas. Indonesia banget gitu. Memang lebih baik naik Vespa, dibanding misalnya naik taksi (karena mesti bayar mahal), naik bus (karena harus desak-desakan – dan bau ketek), naik bajaj (karena rasanya kayak menderita alzheimer), atau jalan kaki (capek lah ya). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minus malum&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke perusahaan taksi tadi, cuma beberapa menit saja, akhirnya saya menemukan jawaban keterkejutan saya di sisi konter yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp4G9dZipEI/AAAAAAAAAEM/3S4G8LYSpz0/s1600-h/Resize+of+Picture+711.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp4G9dZipEI/AAAAAAAAAEM/3S4G8LYSpz0/s320/Resize+of+Picture+711.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376742658060493890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Tak perlu dijemput"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yak, betool. Memang lebih baik naik taksi, daripada harus repot2 telepon famili untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;njemput&lt;/span&gt;. Sudah merepotkan, keluar ongkos bensin, dan bayar parkir pula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7820381229536818234?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7820381229536818234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7820381229536818234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7820381229536818234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7820381229536818234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/lebih-baik-ya-daripada-tidak.html' title='Lebih Baik Ya Daripada Tidak'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sp4Fv6x8INI/AAAAAAAAAEE/gkZztptg7iA/s72-c/Resize+of+Picture+709.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-2664765321807748994</id><published>2009-09-02T11:25:00.004+07:00</published><updated>2009-09-02T11:35:30.652+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Bekam, Usir Penyakit Dikira Sihir</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terapi bekam yang tumbuh dan populer di Tanah Arab kini mulai terlihat marak di negeri kita. Dikhasiatkan mengusir segala jenis penyakit jasmaniah maupun rohaniah. Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum kita menjalani terapi bekam?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik-titik darah berwarna merah kehitaman mulai muncul di leher tepat di belakang cuping aktor &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Henky Tornando&lt;/span&gt;. Perlahan-lahan cairan yang terlihat agak berbuih itu semakin banyak keluar, hingga hampir memenuhi mangkuk bekam. Meski berdarah-darah begitu, ekspresi Henky yang tiduran tertelungkup terlihat rileks saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai 10 menit kemudian mangkuk-mangkuk dilepas. Darah yang tertinggal di kulit diseka menggunakan kapas. "Rasanya, tubuh jadi ringan. Pusing dan pegal tidak pernah kumat," kata Henky yang mulai mengenal bekam sejak dua tahun lalu. Pembawa acara televisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ferdi Hasan&lt;/span&gt; yang pernah sekali merasakan terapi ini memberi kesaksian serupa. "Khasiatnya instan, badan langsung terasa enteng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henky maupun Ferdi telah meyakini manfaat bekam, sebuah terapi untuk mengeluarkan "darah kotor" dari tubuh guna mengusir berbagai keluhan penyakit atau sekadar menjaga kesehatan tubuh. Terapi tradisional ala Timur Tengah ini sudah populer sejak berabad-abad lalu, bahkan dianjurkan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nabi Muhammad&lt;/span&gt; kepada para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas, bekam terdengar menyeramkan, karena berbau-bau "darah". Padahal kenyataannya tidaklah seseram itu. Bekam mengambil darah di dermis (kulit jangat) dan bukan pada pembuluh darah. "Jumlahnya sedikit sekali, seperempat liter saja tidak ada," jelas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ustad La Ode Aly Abi Ilahy&lt;/span&gt;, terapis bekam dari Rumah Sehat Herba Care di kawasan Tegal Parang, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan darah dilakukan menggunakan alat berbentuk mangkuk (cupping set) yang ditempelkan pada kulit. Bagian tubuh yang merupakan titik bekam terlebih dulu "dilukai" memakai jarum lancet atau bisa juga pisau cukur (silet). Dengan pompa pengisap, udara di mangkuk kemudian disedot perlahan-lahan. Akibat perbedaan tekanan udara, kulit akan terangkat dan darah merembes keluar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga titik utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski dimulai sejak zaman Mesir Kuno, bahkan kemudian berkembang di banyak negara (termasuk Cina), bekam yang kini dipraktikkan di Indonesia begitu kental dengan nilai-nilai Islam. Terapi yang dalam bahasa Arab disebut hijamah ini telah disesuaikan dengan sunah Nabi Muhammad. Tak heran, para terapis umumnya berasal dari pondok-pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa Islami terlihat dari pemilihan titik bekam, yang sepintas mirip titik-titik akupuntur. Aslinya, bekam mengenal lebih dari 350 titik di seluruh tubuh. Namun, dalam praktik Aly mengutamakan 12 titik, seperti anjuran Nabi Muhammad, yang terletak di seputar kepala, leher, pinggang, dada, dan kaki. Dari situ terdapat tiga titik utama yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ummu mughits&lt;/span&gt; dan dua titik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qumahduah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ummu mughits &lt;/span&gt;yang berada di atas kepala merupakan titik utama bekam, yang sekaligus merupakan pertemuan ratusan titik dari seluruh tubuh. Lewat titik ini saja bisa disembuhkan bermacam penyakit pada bagian atas tubuh, seperti vertigo, polip, gangguan saraf telinga, penyakit kulit, depresi, sampai gangguan ilmu hitam atau sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qumahduah&lt;/span&gt; terletak di leher bagian belakang, tepatnya antara rambut dan cuping telinga, baik kanan maupun kiri. Titik qumahduah dan ummu mughits itu titik utama yang selalu digarap dalam sebuah terapi, ditambah sejumlah titik-titik lain sesuai keluhan pasien.&lt;br /&gt;"Sejauh ini saya banyak mengobati utamanya lewat tiga titik itu saja dan ratusan pasien merasakan kesembuhan," terang terapis yang berpraktik sejak 10 tahun lalu. Prinsipnya, tak ada bagian tubuh yang tidak bisa dibekam. Bahkan termasuk di bagian kemaluan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak terasa sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Proses terapi dimulai dengan membersihkan kulit pasien pada bagian yang hendak dibekam dengan cairan antiseptik seperti alkohol. Jika kebetulan terdapat rambut atau bulu, maka akan dibersihkan dulu dengan cara dikerok. "Jika dibekamnya di atas kepala, ya terpaksa pitak dulu," jelas Aly sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kulit bersih, mangkuk bekam ditaruh dan dipompa untuk mengosongkan udara di dalamnya. Pemompaan dilakukan sesuai daya tahan pasien. Di sini pasien akan merasa sedikit pegal dan kulit pun berwarna merah kehitaman. Setelah kira-kira 10 menit, mangkuk dilepas dan kulit akan terasa menebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di atas kulit yang menebal dilakukan penusukan menggunakan jarum atau bisa juga disayat dengan pisau cukur. Tusukan berkali-kali ini tidak keras. Ketika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Intisari &lt;/span&gt;mencoba, memang sama sekali tidak terasa sakit. "Jika terasa sakit atau malah keluar darah, berarti itu bukan darah yang dimaksud," kata Aly yang mengaku tidak pernah memakai alat lain, semisal pisau bedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mangkuk kembali ditempelkan dan dipompa. Tindakan inilah yang membuat darah keluar seperti merembes. Perlahan-lahan darah semakin banyak, bahkan menggenang di dalam mangkuk. Dalam bekam, inilah yang dimaksud "darah kotor".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep bekam, darah kotor adalah darah yang tidak berfungsi lagi, sehingga tidak diperlukan tubuh dan harus dibuang. Secara spiritual, "kotor" juga berarti darah itu telah tercemar roh jahat, akibat tindak-tanduk si empunya tubuh yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Kotor juga bisa disebabkan sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengisapan darah berlangsung tak lebih dari 10 menit. Jika terlalu lama dibekam, pasien bisa merasa sakit karena kulit akan mengelupas. Kecepatan keluar darah setiap orang berbeda. Aly meyakini, orang bertempramen keras, darahnya akan lebih cepat keluar. Namun, ada juga yang keluarnya lambat dengan jumlah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali terapi bekam dijalankan, biasanya dilakukan dua sampai tiga kali pengisapan darah, tergantung pada jenis keluhan serta volume darah yang keluar. Jika darah hanya keluar seperempat mangkuk setiap kali bekam, pengulangannya lebih sering dibandingkan dengan pasien yang darahnya keluar lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat proses bekam berlangsung, pasien biasanya akan sedikit merasa kebas pada bagian yang dibekam. Untuk mencegahnya, terapis akan mengajak untuk menggerak-gerakkan bagian tubuh yang kebas agar darah lancar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aly berkisah, setelah berobat, pasien biasanya akan mengaku langsung merasakan manfaatnya. "Jadinya dikira sihir," kata terapis yang belajar membekam dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ustad Jumali&lt;/span&gt; sewaktu berkelana ke Malaysia awal dekade 1990-an. "Padahal ini semata-mata berkah dari Allah."&lt;br /&gt;Seusai dibekam, seseorang dianjurkan meminum minuman hangat, misalnya jintan hitam atau madu. Tidak mau tanggung, orang Arab malah meminum kuah daging kambing. Maka pantangannya adalah meminum es selama beberapa hari. Sebelum dibekam, pasien juga disarankan untuk berpuasa beberapa jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangan yang paling utama adalah berhubungan seksual sehari sebelum dan sesudah dibekam. "Kelihatannya tidak masuk akal, tapi jangan coba-coba dilanggar," kata terapis kelahiran Buton yang sehari-hari dipanggil ustad ini. Bekam juga tidak dilakukan pada hari Rabu dan Sabtu, sesuai sunah Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi tanduk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demi menjaga kebersihan, Aly selalu menggunakan jarum dan pisau cukur sekali pakai. Sebelum dan sesudah dilakukan bekam, tubuh pasien maupun peralatan akan dibersihkan menggunakan alkohol. Seorang terapis bekam yang baik juga selalu memakai sarung tangan karet saat menangani pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pengobatan bekam mencatat kemajuan besar karena menggunakan mangkuk cupping set yang modern dari plastik. Pada masa silam, pernah digunakan tanduk binatang sehingga dinamai terapi tanduk. Pernah pula dipakai botol bekas kopi instan dan sebagai penghampa udaranya adalah api. "Sakitnya minta ampun," kenang Aly yang kali pertama dibekam pada 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mangkuk plastik, pasien merasa lebih bersih. Pemompaan dengan hand pump juga dapat mengontrol daya tahan pasien. Alat-alat buatan Taiwan ini mudah ditemui di toko-toko obat dan alat kesehatan. Jika pasien hendak membeli sendiri untuk terapi, Aly mempersilakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari rasa risih pasien, bekam sebenarnya tidak melulu harus mengeluarkan darah. Ada jenis bekam kering (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hijamah rothbah&lt;/span&gt;), di mana kulit hanya disedot dengan mangkuk tanpa dilukai jarum dan keluar darah. Tindakan ini dikenal oleh banyak kalangan sebagai dikop. Fungsi bekam kering memperlancar aliran darah beku atau mengalirkan darah ke bagian tubuh yang kekurangan. Sepintas mirip kerokan. Biasanya, bekam kering dipakai sebagai kombinasi bekam basah. Misalnya, pada pengobatan impotensi, dilakukan bekam basah pada lima titik di pinggang dan bekam kering pada perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dua dokter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penggunaan teknik bekam ini juga dapat mengindikasikan tingkat keahlian terapis bekam. Aly mengakui, bekam cukup mudah dipelajari hanya dengan dua atau tiga kali belajar. Bekas murid-muridnya kini sudah tersebar dan nyaris tak terhitung lagi, termasuk dua dokter di Sulawesi yang menjadikannya sebagai alternatif pengobatan. "Tapi jika bekam diterapkan secara tidak benar, kasihan pasien," katanya dengan nada bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri bekam yang benar juga bisa dilihat dari tusukan jarum. Tusukan ini cukup lembut, sehingga tidak langsung keluar darah. Ketika mangkuk dicabut, juga tidak ada darah yang keluar lagi. Luka bekam juga tidak terasa perih di saat pasien mandi selesai berbekam. Luka tidak cukup dalam sehingga pasien diabetes pun dapat dibekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pasien umumnya tidak perlu bolak-balik untuk dibekam. Permintaan justru datang dari pasien sendiri yang kepingin tubuhnya terus disegarkan. Kecuali kasus seperti penyakit jantung dan stroke, menurut Aly, butuh beberapa kali bekam. "Makanya aneh jika ada pasien yang mengaku berkali-kali dibekam, tapi tidak ada hasil yang baik," kata terapis yang mengaku rutin berbekam setiap empat bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Aly, kini banyak terapi bekam yang ditawarkan dengan berbagai metode. Maklum, pengobatan ini berkembang di beberapa belahan dunia, termasuk beberapa di antara mereka adalah bekas murid-muridnya. Sejauh ini mereka saling berhubungan untuk bertukar pengalaman demi memajukan bekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi semua itu adalah cara saja. Semata-mata kesembuhan memang hanya berasal dari Allah," kata Aly. Bagi yang meyakini, bekam memang salah satu cara yang bisa dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, Januari 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-2664765321807748994?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/2664765321807748994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=2664765321807748994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2664765321807748994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2664765321807748994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/bekam-usir-penyakit-dikira-sihir.html' title='Bekam, Usir Penyakit Dikira Sihir'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5550539813572954099</id><published>2009-09-01T15:13:00.003+07:00</published><updated>2009-09-01T15:29:04.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berebut Kasih Sayang Dengan Narkoba</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekali lagi, tangan-tangan setan berwujud narkoba terbukti bisa mencengkeram siapa saja. Tak terkecuali keluarga mantan atlet sepakbola nasional era tahun 1970 - 1980-an, Ronny Pattinasarany. Dua putra tercintanya, Benny dan Yerry, selama tujuh tahun menjadi budak barang haram itu. Hanya dengan kepasrahan kepada Tuhan dan kasih sayang keluarga, keduanya bisa diselamatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak mengalami, tidak mudah membayangkan perasaan seorang ayah atau orangtua begitu mengetahui putra yang amat mereka cintai jatuh ke lembah jahanam narkoba. Perasaan marah, sedih, bingung berkecamuk jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula perasaan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ronny Pattinasarany&lt;/span&gt; pada awalnya. Sebagai orang yang sedari kecil bergelut di bidang olahraga, istilah "narkoba" terasa sangat jauh dari lingkungannya. Sampai ketika ia mengalami sendiri, barulah Ronny mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Henry Jacques Pattinasarany&lt;/span&gt; atau Yerry, putra kedua Ronny, yang suatu hari mengaku telah menjadi pecandu narkoba jenis putau. Di usia yang sangat belia, menjelang 15 tahun, Yerry sudah merasakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakau&lt;/span&gt;, tubuhnya kesakitan minta dicekokin lagi heroin kelas rendahan itu. Itu bisa jadi pertanda kalau ia sudah memakainya lebih dari setahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan main terkejutnya dan sedih berat, tapi Ronny tidak ingin terlarut. Beberapa temannya menyarankan, pertolongan medis harus segera diupayakan. Yerry lalu dibawa ke sejumlah nama-nama beken di bidang rehabilitasi kecanduan narkoba di Jakarta, seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dr. Al Bachri Husin&lt;/span&gt; ataupun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. Dadang Hawari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Yerry tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakau&lt;/span&gt; lagi. "Sampai di situ, saya kira semua sudah selesai. Ternyata, penyembuhannya tidak susah seperti yang dikatakan orang," kenang Ronny usai melewati babak awal drama kehidupannya. Tak ada bayangan sama sekali, masih ada jalan berliku yang mesti dilalui.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehilangan figur ayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ronny mengakui, sebagai ayah, dirinya memang tidak bisa selalu hadir di tengah keluarga. Alasannya klise, kesibukan kerja, meski Ronny mengaku kesibukannya itu bukan melulu bermotif mencari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai gantung sepatu setelah menjadi pemain nasional selama 15 tahun, Ronny masih dikenal dalam dunia persepakbolaan. Putra Ambon kelahiran Makassar 9 Februari 1949 ini masih diminta melatih sejumlah kesebelasan. Antara lain, pernah menangani Klub Kramayudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Makassar Utama, Persiba Balikpapan, dan Petrokimia Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkelana memantapkan karier kepelatihannya, membuat Ronny lebih sering berada jauh dari rumah. Diakuinya, selain dapat selalu dekat dengan dunia sepakbola yang dicintainya, secara finansial hidupnya pun berkecukupan. "Tapi mungkin di situ anak-anak kehilangan figur saya," ayah empat orang putra itu mengintrospeksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tentang kambuhnya Yerry yang didengar semasa Ronny melatih di Gresik baru benar-benar mengusik batinnya. "Anakku tak mungkin sembuh tanpa kehadiranku," batinnya berbisik. Ronny mulai bimbang ketika harus memutuskan satu di antara dua pilihan: terus melanjutkan karier sebagai pelatih atau memikirkan masa depan Yerry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan kepulangannya ke Jakarta, walau tanpa bayangan pekerjaan yang jelas, ternyata benar-benar membuka mata akan kondisi Yerry. Ronny seperti tidak mengenali lagi putranya yang dulu dikenal ceria, lincah, dan hobi bermain tenis itu. Yerry sudah tergantung total pada narkoba. Untuk mencukupi kebutuhan putau, Yerry sudah sering meminta paksa ke orangtuanya. Atau yang lebih sering terjadi, dengan cara mencuri barang-barang untuk dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putau memang jenis narkoba yang sangat adiktif. Tingkat kebutuhan pecandunya semakin hari dipastikan akan terus menanjak. Harga relatif tidak terlalu mahal, karena dijual eceran dalam satuan kecil "paket hemat". Tapi karena dosisnya terus naik dan rentang waktu pemakaiannya semakin singkat, untuk kelas pecandu berat seperti Yerry, dibutuhkan minimal Rp 50.000,-setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah harta benda di rumah keluarga Ronny mulai lenyap satu demi satu. Kebanyakan dicuri Yerry untuk digadaikan atau dijual murah. Jika tidak ada sasaran, ia mencuri di mana saja, termasuk di lingkungan keluarga besarnya. "Yang ada di pikiran waktu itu, semua harus bisa jadi uang untuk beli putau. Tidak peduli bakal malu atau dimusuhi semua orang," tutur Yerry yang berpindah-pindah SMA sampai enam kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang ditanggung Ronny semakin bertambah tatkala &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robenno Pattrick Pattinasarany&lt;/span&gt; atau Benny, putra pertamanya, terseret pula ke lembah yang sama. Perilaku Benny justru lebih parah ketimbang adiknya, karena lebih sering memakai narkoba di luar rumah. Kabur berhari-hari menginap di rumah bandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beda sama Yerry, selain pakai, saya bergaul juga sama pemakai dan bandar. Di sana kumpul semua, ada bandar, pemakai, perampok, pembunuh bayaran, pokoknya semuanya," tutur Benny. Kalau uangnya habis, Benny pulang mencari barang yang bisa dijual. Malah ia pernah membuat garage sale, mengobral seluruh perabotan rumah saat orangtuanya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertumpuknya segala beban keluarga, membuat Ronny mulai merenungi jejak-jejak perjalanan hidupnya. Ia mulai menyadari, kehidupan rohaninya berantakan dan ingin memperbaikinya. "Mungkin ini hukuman Tuhan kepada saya lewat anak-anak," Ronny menduga. Maka untuk penyembuhan kedua putranya, ia akhirnya berpasrah total hanya kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepasrahan Ronny juga memunculkan tekad untuk terus mendampingi kedua putranya dalam keadaan apa pun. Kapan saja Benny dan Yerry pulang ke rumah, Ronny dan istrinya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stella Maria&lt;/span&gt;, menerima mereka dengan penuh kasih sayang. Mendengarkan keduanya curhat atau bersama-sama berdoa. "Kalau anak saya sampai meninggal karena narkoba, biarlah dia meninggal dalam kasih sayang, bukan dalam kebencian orangtuanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi konsekuensi kepasrahan itu begitu berat. Ronny sendirilah yang harus memenuhi kebutuhan narkoba anak-anaknya setiap hari. Karena tidak bekerja, uang harus didapat lewat segala cara. Bisa dari pemberian teman-teman atau hasil ngutang. Nyaris setiap hari ia berkeliling mencari uang berapa pun jumlahnya cuma untuk membeli putau. Kebutuhan makan sehari-hari bahkan dikesampingkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat air matanya sering menetes tak tertahan, saat harus menyaksikan anak-anaknya sakau. Sakitnya, digambarkan Benny, seperti rasa nyeri tusukan ribuan jarum dari dalam tubuh. Berteriak-teriak dan membanting-banting badan karena tidak tahan. Bergerak sedikit saja langsung muntah. Ronny yakin, "Tak ada orangtua yang tega melihat anaknya menderita seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak-anaknya sudah sakau, Ronny yang tidak selalu punya uang biasanya bakal langsung kebat-kebit cari utangan. Atau kalau tidak memungkinkan, misalnya saat jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, ia cuma bisa memeluk anak-anaknya sambil terus berdoa menunggu fajar pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran Ronny sering diuji saat harus mengantar Yerry ke bandar narkoba, bahkan menyaksikan sendiri anaknya memakai putau. Atau ketika menjemput Beny yang sudah berhari-hari menginap di rumah bandar dalam keadaan badan sudah tidak karuan. Di saat-saat seperti itu Ronny merasa seperti sedang berebut kasih sayang dengan para bandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yerry dan Benny bukan tidak menyadari perhatian yang dicurahkan keluarganya. Perlakuan itulah yang membuat mereka terus bertekad untuk sembuh. Cuma jalannya tidak gampang. Sepulang dari panti rehabilitasi narkoba, paling hanya tiga atau empat hari mereka bisa bertahan sembuh. Setelah merasa terkucil dan berkumpul kembali dengan sesama pemakai, mereka kambuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Putau sebenarnya cuma bisa dinikmati kira-kira enam bulan pertama. Setelah itu, saya cuma pakai untuk memenuhi kebutuhan biar enggak sakit," kata Benny yang tujuh tahun memakai segala jenis narkoba. Untuk bisa sembuh, pecandu harus bisa menahan sakau yang sakitnya bukan main. Tapi melewati masa yang cuma sekitar empat atau lima hari itu terasa berat dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketidakmampuan untuk sembuh, Benny dan Yerry sempat meyakini hanya dua kemungkinan bagi diri mereka: masuk penjara atau mati karena OD (overdosis). Ajaibnya, dua hal itu tidak terjadi, walau setiap detik sebenarnya maut selalu mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak mau mendampingi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari dua tahun dalam kondisi tidak menentu, titik terang di keluarga Ronny dan Stella akhirnya perlahan mulai terlihat. Suatu sore saat akan berangkat ke rumah bandar narkoba bersama ayahnya, Yerry ditelepon seorang pendeta kenalan keluarga. "Apakah kamu yakin akan sembuh?" tanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendeta Harry &lt;/span&gt;sehabis mengajaknya berdoa lewat telepon. Yerry mengiyakan walau dengan nada ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengan Pendeta Harry pada 1999 itu ternyata mengubah jalan hidup Yerry. Ia berangsur sembuh. Malah beberapa hari kemudian Benny termotivasi untuk mengikuti jejak adiknya untuk keluar dari jerat narkoba. Awalnya, kesembuhan itu dibantu dengan obat-obatan medis, tapi mereka mengaku dapat bertahan hanya karena kekuatan iman mereka kepada Sang Maha Penyembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat paling berat sehabis sembuh adalah relaps atau sugesti. Munculnya kalau kita kembali ke lingkungan yang dulu-dulu, ada perasaan untuk memakai narkoba lagi," jelas Yerry. Magnet lingkungan memang begitu kuat, sampai membuat Benny sempat kambuh lagi setahun setelah sembuh. Malah lebih parah lagi dosisnya. Tapi kesembuhan Yerry selalu menjadi inspirasi bagi Benny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Ronny selalu menyediakan waktu untuk membagi pengalamannya dengan sesama orangtua pecandu di berbagai kesempatan. Tanpa bermaksud menggurui, ia selalu menekankan peran orangtua dalam kesembuhan. Karena sesungguhnya, ada andil besar orangtua yang membuat anak-anaknya terjerumus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebanyakan orangtua tidak mau menerima kenyataan anaknya menjadi pecandu narkoba. Dengan uang mereka mengirim anaknya ke panti rehabilitasi, tapi tidak mau peduli. Tidak mau mendampingi. Mereka tidak mau terusik kesenangannya, privasinya. Kalau perlu, anaknya dibuang," tutur Ronny prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sembuh, Benny dan Yerry (kini berusia 28 dan 27 tahun) aktif dalam aktivitas keagamaan sekaligus rehabilitasi pecandu narkoba. Pengalaman keluarga Ronny Pattinasarany juga dituangkan gamblang dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan, Kedua Anakku Sembuh Dari Ketergantungan Narkoba&lt;/span&gt; terbitan PT Primamedia Pustaka, Kelompok Gramedia Majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini salah satu cita-cita keluarga ini yaitu membuat sebuah tempat persinggahan, agar pecandu yang baru sembuh dapat bersosialisasi dulu sebelum kembali ke masyarakat. Terutama bagi mereka yang kurang mampu. Tapi entah kapan rencana itu bakal terwujud.&lt;br /&gt;Yang jelas, setidaknya Ronny kini sudah dapat bernapas lega. Anak-anaknya yang hilang sudah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Apa yang dikisahkan Pak Ronny secara langsung dalam wawancara, jauh lebih dahsyat dari apa yang bisa saya tuliskan. Maafkan atas keterbatasan saya itu. Dari kisah ini baru saya bisa memahami apa arti cinta orangtua kepada anak yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5550539813572954099?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5550539813572954099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5550539813572954099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5550539813572954099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5550539813572954099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/09/berebut-kasih-sayang-dengan-narkoba.html' title='Berebut Kasih Sayang Dengan Narkoba'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-6365506453079047335</id><published>2009-08-27T10:21:00.006+07:00</published><updated>2009-08-27T10:39:08.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Gara-Gara Berdompet Tebal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SpX-XFRbU3I/AAAAAAAAADs/J5oRQ3BoZwA/s1600-h/Resize+of+Resize+of+Resize+of+02+%28ibas%29+21-08-09.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SpX-XFRbU3I/AAAAAAAAADs/J5oRQ3BoZwA/s200/Resize+of+Resize+of+Resize+of+02+%28ibas%29+21-08-09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374481402842272626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa bilang berdompet tebal tidak bikin susah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dompet tebal yang dimasukkan ke dalam saku celana belakang - biasanya oleh para lelaki di saku kanan - bisa menyebabkan nyeri di sekujur kaki. Arti dompet tebal di sini benar-benar dompet berukuran tebal lo! Bisa karena memang banyak uangnya, atau justru kebanyakan bon utang yang disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gangguan ini bisa kita sebut saja "pegal gara-gara dompet" (&lt;i&gt;wallet sciatica&lt;/i&gt;). Karena memang umumnya disebabkan kebiasaan menaruh dompet berukuran tebal di saku celana belakang, entah saku kanan atau saku kiri. Si pemilik tidak sadar ketika duduk dompetnya menekan bokong. Kalau ini berlangsung terus, lama kelamaan bisa muncul gangguan pada area kaki belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasannya, dompet atau benda yang tebal akan menekan saraf sciatic atau berpengaruh pada otot piriformis hingga berakibat gangguan pada saraf-otot. Akibatnya akan terasa nyeri, pegal, atau kesemutan pada daerah bokong. Rasa tidak nyaman itu juga bisa menjalar pada sepanjang saraf sciatic, dari bokong sampai ke tumit. Jangan sepelekan jika sudah terkena gangguan ini, karena bisa mengganggu kualitas hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencegah gangguan ini cuma satu: jangan menaruh dompet di saku belakang. Nyeri bisa dicegah. Selain itu lebih aman dari risiko kecopetan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, September 2009&lt;br /&gt;Foto: Ibas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-6365506453079047335?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/6365506453079047335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=6365506453079047335' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6365506453079047335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6365506453079047335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/08/gara-gara-berdompet-tebal.html' title='Gara-Gara Berdompet Tebal'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SpX-XFRbU3I/AAAAAAAAADs/J5oRQ3BoZwA/s72-c/Resize+of+Resize+of+Resize+of+02+%28ibas%29+21-08-09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-8658495639482145378</id><published>2009-08-20T18:25:00.005+07:00</published><updated>2009-08-25T00:57:24.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Semata Karena Sotoy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/So00GeRheoI/AAAAAAAAADk/MRLn2kvTPBA/s1600-h/masjid.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 120px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/So00GeRheoI/AAAAAAAAADk/MRLn2kvTPBA/s200/masjid.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372007216333290114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika Anda tidak termasuk dalam golongan pengikut agama "minoritas" di negara ini, mungkin sesekali Anda pernah geli ketika mendengar kami (non-muslim) secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotoy&lt;/span&gt; (alias sok tau) memakai istilah2 dalam agama Anda, pada percakapan kami sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah2 itu memang sekadar kami comot saja dari pembicaraan di antara kita sehari-hari. Yang bodohnya, kami tidak berusaha menelusuri arti sebenarnya. Padahal tanpa pengetahuan yang cukup atau cuma ikut-ikutan mengucap belaka, penggunaan istilah2 tersebut kadang tidak tepat. Atau malah menjadi rancu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya ambil kata yang populer: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Insya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk artinya, mari kita merujuk kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Insya_Allah"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt; yang menulis: Insya'Allah adalah ucapan seseorang yang menyertai pernyataan akan berbuat sesuatu pada masa yang akan datang. Dengan mengucapkan perkataan ini seorang muslim telah berjanji untuk melakukan perbuatan tersebut kecuali tidak memungkinkan pada saat akan dilakukan. Lihat QS 18:24.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi "enggak berani janji, tapi akan diusahakan sebaik mungkin atas seizin yang Di Atas" jelas bukan milik orang Islam saja. Tapi sungguh mulia, umat muslim mempunyai istilah yang bisa mengakomodasinya. Akhirnya kami pun merasa cocok dan ikut memakainya. Padahal jika direnungkan benar, istilah itu bukan hanya tidak tepat jika diucapkan oleh non-muslim, tapi alangkah tercela jika kami kemudian merasa "aman" berlindung di balik kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, istilah yang tidak kalah populer: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Almarhum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk artinya, saya mencoba merujuk kepada arsip milis &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/36502"&gt;Assunnah&lt;/a&gt;. Kalau boleh saya rangkum: almarhum merujuk kepada sebutan untuk seseorang yang meninggal dan dirahmati Allah. Biasanya ini diucapkan sebagai doa dan harapan agar Allah mengampuni dosanya dan merahmatinya. Dengan catatan, ini diucapkan bergantung kepada niat si pengucapnya. Dalam pemahaman itu, jelas kami tidak berhak menggunakan almarhum untuk orang2 yang sudah meninggal dan mereka bukan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, istilah yang digunakan setahun sekali: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minal 'Aidin wal-Faizin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk artinya, saya merujuk kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minal_%27Aidin_wal-Faizin"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt; yang menuliskan: ucapan ini adalah sebuah doa yang bila diterjemahkan menjadi "Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun situasinya, dilandasi niat baik, kami sering mengucapkan kata itu saat menyalami Anda pada hari Idul Fitri. Maksudnya agar bisa turut melebur dalam kegembiraan, tapi malah salah kaprah, karena mengira Minal 'Aidin wal-Faizin artinya "mohon maaf lahir batin". Bisa jadi selain sifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotoy&lt;/span&gt; tadi, itu disebabkan kami terpengaruh rima "in" pada akhir masing-masing kata 'faizin' dan 'batin'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengucapan itu jelas tidak tepat. Bagaimana bisa mengucapkannya jika kami tidak melakukan puasa Ramadhan?  Jika umat muslim telah berpuasa dan meminta maaf atas kesalahannya, tentu kami akan memaafkan. Kalau pun akhirnya kami juga ikut menumpang meminta maaf pada momen itu, saya kok yakin, dengan hati yang telah terlahir kembali, saudara-saudara kami umat muslim akan memberi maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berpuasa Ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-8658495639482145378?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/8658495639482145378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=8658495639482145378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8658495639482145378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8658495639482145378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/08/gara-gara-sotoy.html' title='Semata Karena Sotoy'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/So00GeRheoI/AAAAAAAAADk/MRLn2kvTPBA/s72-c/masjid.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5691621760539782687</id><published>2009-08-05T13:19:00.004+07:00</published><updated>2009-08-05T17:09:46.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berburu Satwa Bersenjatakan Kamera</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memotret orang? Ah, itu sih biasa. Memotret hewan atau tumbuhan, baru terasa sulit. Apalagi memotret langsung di habitatnya, di alam bebas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Riza Marlon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, juru foto alam bebas (&lt;/span&gt;nature photographer)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; punya banyak pengalaman tentang pekerjaan yang hanya digeluti segelintir orang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sulitnya memotret orangutan atau cendrawasih? Tinggal siapkan kamera, ambil posisi yang pas, bidik, lalu tekan tombol pembuka rana. Jepret! Dengan sedikit saja pengetahuan tentang fotografi, pasti akan didapat foto berkualitas lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebentar! Itu tadi kalau kita memotret di kebun binatang atau taman safari. Memotret di alam bebas, bisa lain ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hutan belantara sana, kemampuan teknik fotografi cuma jadi satu riak dari gelombang pengetahuan tentang perilaku hewan, kondisi alam, jaringan informasi, manajemen waktu dan peralatan, sampai kesiapan fisik yang prima. Memotret satwa atau tumbuhan tertentu, tak ubahnya seperti berburu, namun tanpa membunuh sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan hasil potret binatang "rumahan" tadi, hasilnya tentu berbeda. Memang, orang awam biasanya agak susah melihat perbedaannya. Namun bagi mata yang telah terbiasa, ekspresi mimik hewan "jinak" lain dengan saudara-saudaranya di alam bebas. "Terasa lebih alami," jelas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Caca&lt;/span&gt;, panggilan akrab Riza Marlon. "Bagi kita (sebagai pencinta alam) juga ada rasa eksotisme sendiri kalau bisa melihat sosoknya secara langsung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mengejar ekspresi alami itulah, Caca menekuni dunianya setapak demi setapak, dimulai awal tahun 1990-an. Apalagi lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta ini menyadari kurangnya dokumentasi tentang flora dan fauna di Indonesia, bahkan yang masuk kategori dilindungi sekali pun. Jika ada, buku-buku jenis itu diterbitkan penerbit asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan semasa di kampus, pria berambut panjang ini sering terlibat dalam proyek penelitian bersama rekan-rekan satu fakultas dan membuat dokumentasi fotonya. Perjalanan hidup Caca yang sempat menjadi pemandu wisata alam juga semakin memantapkan minatnya. Dengan modal peralatan pinjaman dari sana-sini, ia memulai dengan membuat stok foto tentang alam. Hasilnya dikirim ke media massa atau dibuat barang-barang cetakan seperti kalender dan kartu pos. "Waktu itu (foto-fotonya) malah enggak pernah lolos di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Intisari&lt;/span&gt; yang cover-nya pemandangan alam," katanya tergelak, mengenang masa 15 tahun silam.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cenderawasih bernyanyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kelembaban hutan, diiringi nyanyian sekawanan burung dan sinar Matahari yang menerobos pepohonan, di sanalah Caca banyak menghabiskan hari-harinya. Pagi hari, di saat hewan belum lagi menggeliat dari tidur, tak jarang ia sudah harus masuk ke dalam bilik pengintaian. Ini bilik kamuflase yang terbuat dari dedaunan yang dijalin rapat untuk mencegah bau tubuhnya tercium mamalia atau geraknya tertangkap mata hewan predator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kesabaran benar-benar ditempa, hanya sekadar untuk menunggu datangnya sang model yang diburu. Berjam-jam waktu terlewatkan atau bahkan bisa seharian tanpa hasil, bukanlah mustahil. Tak heran jika Caca berpendapat, aset terbesar seorang fotografer alam bebas adalah informasi yang akurat dari masyarakat soal keberadaan hewan-hewan tertentu. Informasi bisa didapat dari penduduk, pencinta alam, atau LSM lingkungan setempat. Dengan merekalah Caca membina jaringan di seluruh daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan sekadar informasi. Tak kalah penting adalah lokasi yang memungkinkan untuk pengambilan gambar, terutama menyangkut pencahayaan. "Inilah kesulitan memotret di hutan tropis yang rapat. Di taman safari seperti di Afrika atau pegunungan Amerika mungkin malah lebih gampang," terang pria penggemar ular ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang untuk mencapai lokasi semacam itu dituntut pengorbanan besar. Seperti yang dilakukannya tahun lalu, saat memburu cenderawasih bulu enam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Parotia sexpennis&lt;/span&gt;) di Cagar Alam Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua. Caca harus berjalan kaki 16 jam menaiki pegunungan, plus dua jam menuju habitat burung asli Papua itu. Bisa terbayangkan tenaga yang dibutuhkan. Apalagi total peralatan yang dibawa tak kurang dari 30 kg!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senangnya, hasil yang didapat boleh dibilang sepadan. Fenomena yang terlihat benar-benar menakjubkan. Pagi hari sebelum pukul 06.00, cenderawasih jantan sudah tampak menyiapkan tempatnya beratraksi. Ia mulai membersihkan dedaunan yang mengalangi sinar Matahari. Kemudian bak bintang panggung, ia bernyanyi dan menari untuk memamerkan keindahan tubuhnya. Dua sampai enam betina yang naksir segera menghampiri. Sang jantan pun leluasa memilih yang tercantik sebagai calon istri. Menyaksikan semua itu, rasa lelah seharian seperti lunas terbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masing-masing hewan punya keunikan, akan lebih baik bila juru foto alam bebas mengetahui perilaku satwa yang hendak difoto sebelum perburuan dilakukan. Pengetahuan semacam inilah yang membantu Caca saat memburu elang jawa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Spizaetus bartelsi&lt;/span&gt;) di Sukamantri, Sukabumi, Jawa Barat. Meski jumlah elang masih relatif banyak, ia hanya punya kesempatan memotret saat induk elang memberi makan anaknya. Sebuah kemungkinan yang bisa jadi hanya sekali dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, saat itu Caca menemukan keluarga elang dengan dua anak yang masih kecil-kecil, sehingga induknya akan lebih sering datang. Namun, sebagai hewan predator, elang sangat waspada terhadap sekelilingnya. Gerakan kecil dari ujung lensa kamera selebar beberapa sentimeter saja dapat dilihatnya. Kesempatan yang tipis itu harus dimanfaatkan dengan cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain, Caca membutuhkan ketekunan luar biasa saat memburu primata. Di habitat aslinya, hewan itu dikenal sangat sensitif terhadap keberadaan manusia dan selalu berpindah tempat. Saat memotret monyet sulawesi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Macaca maura&lt;/span&gt;) di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara, misalnya, ia memburunya bersama sebuah tim peneliti. Dengan koordinasi lewat radio komunikasi, segera bisa didapat lokasi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memburu orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, Caca juga menggunakan cara serupa. Namun, ia harus waspada karena orangutan akan melawan dengan melempar batang dan ranting kayu jika merasa terusik oleh kehadiran manusia. "Sulit sekali, karena kita juga tidak bisa terlalu jauh dari jalur jalan setapak di hutan. Masuk terlalu dalam berarti ada risiko kena hewan berbisa," jelas ayah dua anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas karya Caca antara lain juga dapat dilihat pada foto julang sulawesi ekor putih (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penelopides exarhatus&lt;/span&gt;) berlokasi di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Foto yang diambil dengan teknik mengikuti objek bergerak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;panning&lt;/span&gt;) diambil dari sebuah menara pengamatan pada ketinggian 30 m. Pada ketinggian seperti itu seorang juru foto harus tetap tenang meski angin selalu menggoyang menara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesempatan langka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pengalaman Caca - yang biasa memakai Nikon DS 100 sebagai senjata andalan untuk berburu ini - faktor kesempatan memang menjadi sangat mahal dalam dunia fotografi alam bebas. Ia selalu belajar untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan pertama saat bertemu buruannya, tapi juga harus mampu menahan emosi untuk tidak membuang-buang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt;. Sebuah perhitungan yang hanya bisa diasah lewat "jam terbang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin pencahayaan saat itu sangat buruk, tapi sebuah momen mungkin tidak akan pernah terulang. Di sini manajemen waktu benar-benar harus diatur sebaik-baiknya," jelas juru foto yang merasa cukup membawa 100 rol film setiap kali perjalanan selama satu bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika Caca kemudian berpendapat, nilai fotografi alam bebas ditentukan pula tingkat kesulitannya, yang bahkan mengalahkan faktor teknis fotografi itu sendiri. Foto seekor badak jawa (Rhinocerus sondaicus) berkubang lumpur, misalnya, mungkin tidak terlihat "cantik" di mata awam. Tapi untuk dapat bertemu langsung dengan badak jawa di habitat aslinya, sungguh merupakan kesempatan langka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kegigihannya, foto-foto satwa berkredit foto Riza Marlon kini bertebaran di beberapa media informasi terbitan lembaga-lembaga internasional seperti World Wildlife Fund (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), atau UNESCO. Beberapa kali ia juga diminta menjadi pemandu untuk pembuatan film dokumenter televisi asing. Sebuah lahan bisnis yang diakuinya cukup menjanjikan, jika tidak tersedak krisis ekonomi yang melanda negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Jakarta ini mengakui, hal tersulit adalah memasarkan karya-karyanya. Sejauh ini ia mengandalkan permintaan dari lembaga-lembaga yang berkepentingan terhadap kelestarian alam. Sementara ruang untuk foto-foto alam di media-media cetak di Indonesia semakin terbatas. Padahal, ia belum menggunakan jasa agen untuk pemasaran. "Cuma karena masalah kepercayaan saja," alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini keinginan terbesarnya adalah menerbitkan sebuah buku tentang satwa Indonesia. Berulang kali ia sering mengajak sejumlah ilmuwan untuk mewujudkannya, meski realisasinya masih jauh dari harapan. Padahal, untuk idealismenya ini Caca mengaku siap mengesampingkan masalah finansial seperti harga fotonya. "Buku itu sifatnya jangka panjang dan mempunyai nilai ilmiah," kata Caca yang memiliki arsip sekitar 12.000 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di dunia fotografi, Caca merindukan munculnya juru foto yang mau menekuni bidang ini. Karena sampai saat ini, ia belum mendengar satu saja nama yang mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;"Partner penting bagi saya untuk terus meningkatkan karya. Karena sebenarnya ini sebuah proses panjang dan berjenjang. Ibaratnya seperti sekolah dari SD sampai kuliah," katanya.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan panjang itulah Caca beruntung menjadi salah satu saksi masih indahnya alam Indonesia. Entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Raja Udang di Atas Banteng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena gaptek (gagap teknologi) jika Caca tidak mau beralih sepenuhnya pada teknologi kamera digital. Alasannya, film analog masih tetap unggul untuk keperluan pencetakan, terutama jika dilakukan perbesaran. Alasan lain, ia tidak mau kerepotan membawa-bawa baterai charger karena di daerah belum tentu ada listrik. "Bawa kamera digital (paling) buat cadangan atau buat laporan sementara ke klien," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak memakai film positif (slide), Caca mengaku berhati-hati saat mengolah foto karya-karyanya secara digital di komputer. Sebatas mengoreksi pencahayaan dan sejenisnya, oke-oke saja. Namun, kalau sudah memanipulasi foto, akan sangat mungkin tergelincir lebih jauh, yang akan merugikan reputasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caca berkisah, ia sempat terperangah saat menjadi juri di suatu lomba foto satwa. Lomba-lomba di era digital seperti sekarang ini memang memberi keleluasaan pada foto untuk diolah. Namun di mata Caca, hasilnya malah banyak melahirkan kejanggalan, bahkan penipuan. Salah satunya ia menangkap foto seekor burung raja udang yang bertengger di tanduk seekor banteng!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sekilas tidak tampak, karena penggarapannya sangat halus, ia yakin foto yang menarik itu merupakan hasil rekayasa komputer. Tidak mungkin burung raja udang yang hidupnya di tengah hutan bermain-main dengan banteng di sebuah taman safari. "Kejadian kayak begini bisa membuat orang tidak percaya kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nature photography&lt;/span&gt;," katanya prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, April 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5691621760539782687?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5691621760539782687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5691621760539782687' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5691621760539782687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5691621760539782687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/08/berburu-satwa-bersenjatakan-kamera.html' title='Berburu Satwa Bersenjatakan Kamera'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-9163151445748252119</id><published>2009-07-30T17:39:00.006+07:00</published><updated>2009-08-05T13:17:26.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Orang-Orang Pilihan (Noordin)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SnF6oJXD4iI/AAAAAAAAADc/juqx-c_P8BM/s1600-h/nurdin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 170px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SnF6oJXD4iI/AAAAAAAAADc/juqx-c_P8BM/s200/nurdin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364203461300970018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sehabis Marriot ancur gara2 bom mobil, 6 tahun lalu, saya beruntung bisa ketemu dan wawancara dengan tim penjinak bom Polri, yang kita kenal dengan nama "Gegana". Di markasnya di Kelapa Dua sana. Biasalah, dalam rangka penugasan untuk pembuatan artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim penjinak bom yang dipimpin perwira berpangkat mayor ini orangnya asyik2, kalau gak bisa dibilang rada2 gokil. Sayang banget, mereka gak mau dikutip namanya (kecuali komandan tentunya) apalagi dipotret. Eh, bentar, ini tim penjinak bom beneran ya! Bukan sekedar tim penjinak bom "ria jenaka" yang datang kalau ada laporan ancaman bom doang. Dua tim itu rupanya beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bercanda komandan mereka akan selalu bilang: "Jadi anggota tim penjinak bom adalah sebuah kesalahan. Jadi jangan buat kesalahan kedua!" Artinya ketika mereka menjinakkan bom, jangan sampai ada kesalahan, misalnya salah "potong kabel", meremehkan, kurang teliti, dsb. Soalnya kalau sudah... buuum! Nyawa gak ada yang jual, Man!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, mereka yang hasil dari seleksi psikologis yang ketat ini ternyata punya kekaguman sendiri sama para pelaku pengeboman. Soalnya para teroris itu harus melakukan tiga pekerjaan: bikin bom, membawa, dan meledakkan. Bandingin sama polisi yang cuma menjinakkan saja. Kalau di film, kerjaan kayak gini keliatannya nyantai aja (bahkan keliatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cool&lt;/span&gt;). Tapi di dunia nyata, butuh mental yang super duper baja. Kalau seandainya saya yang bawa bom, mungkin di tengah jalan, saya bawaannya udah kebelet pup duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ngobrol2 sama sang komandan, saya baru sadar, apa yang kita bayangin soal bom, sebenernya beda sama yang ada di kejadian nyata. Soal kabel contohnya. Enggak ada tuh kabel yang merah, kuning, atau biru kayak di film. Semua kabelnya item. Terus enggak semua bom tunduk sama aturan. Kapan aja dia bisa meledak. Lagi dirakit juga bisa meledak. Atau malah sebaliknya, dia bisa enggak meledak. Bayangin aja kalau gak meledak. Udah misi gagal, eeh malah nanti cuma bonyok digebukin satpam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara penjinak bom dan pembuat bom, sebenernya ada semacam "kontak batin". Karena pelaku pembuat bom bisa diketahui dari hasil karyanya. Setiap bom meninggalkan ciri dari pembuatnya. "Jadi kita bisa tau itu bom buatan siapa dari kelompok mana," begitu kata sang komandan yang menurut saya ketawanya agak aneh ini. Soalnya waktu itu enggak semua bom buatan "pabrik mercon dan bom tjap noordin emang top", tapi ada juga bom buatan kelompok2 lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan dengan adanya tren bom bunuh diri, tentu kerjaan para teroris itu nambah. Mereka gak cuma harus merekrut orang yang bermental baja, tapi juga siap mati. Kalau yang bermental baja, mungkin banyak orang yang masuk kriteria. Tapi kalau siap mati, kandidatnya bakal makin sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandidat bakal makin berkurang lagi, karena katanya, ada tiga "syarat" buat pelaku bom bunuh diri yang biasanya diincer Noordin alias masuk ke seleranya dia untuk dibina, yaitu: miskin, taat beribadah, pendiam. Bayangin aja, gimana susahnya nyari orang dengan kriteria plus plus plus kayak gitu. Pantaslah kalau mereka itu kita katakan orang-orang pilihan. Minimal, pilihannya Noordin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda termasuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-9163151445748252119?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/9163151445748252119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=9163151445748252119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/9163151445748252119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/9163151445748252119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/07/orang-orang-pilihan-noordin.html' title='Orang-Orang Pilihan (Noordin)'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SnF6oJXD4iI/AAAAAAAAADc/juqx-c_P8BM/s72-c/nurdin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7394414657843990341</id><published>2009-07-08T23:05:00.003+07:00</published><updated>2009-07-08T23:14:16.581+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Mitologi Yunani: Narcissus Si Brondong Ganteng</title><content type='html'>Saya tidak bisa membayangkan, kira2 kayak apa tampangnya anak dewa yang namanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Narcissus&lt;/span&gt;. Dalam mitologi Yunani dikisahkan, dia begitu ganteng, cakep, keren,cool, … ah pokoknya semuanya deh. Sampai cewek2 pada naksir berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada umumnya cewek2, kalau ngeliat cowok yang superganteng, mereka cuma bisa sebatas kagum, terus heboh sendirian. Ada juga sih, sebagian kecil yang akhirnya nekat untuk nyoba ngecengin. Harapannya si cowok bakal ngelirik, terus nyamperin.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SlTFw0JB_bI/AAAAAAAAADM/Cpm045aHpV4/s1600-h/narcissus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 159px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SlTFw0JB_bI/AAAAAAAAADM/Cpm045aHpV4/s200/narcissus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356123299271278002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi khusus kasusnya Si Nar ini, cewek2 nekat itu akhirnya tahu diri. Soalnya yang dikecengin cuma (tak) acuh beibeh. Mau cakep kayak apa, mau montok kayak apa, tetep aja Si Nar pandangannya lempeng. Enggak tergoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya tidak begitu dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Echo&lt;/span&gt;. Saya juga susah membayangkan kayak apa tampang Echo ini, sampai dia begitu pede dan niat banget kepingin ngegebet Si Nar. Malah dia sampai nekat ngikutin ke mana aja Nar pergi. Kelakuannya bener2 kayak cewek kegatelan. Ibu saya di Cinere sana bakalan “marah” banget nih sama cewek kayak beginian.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah satu versi, bisa jadi Echo yang sebenernya cantik ini, enggak dilirik sama Nar, gara-gara dia punya cacat. Dia sebenernya enggak bisa ngomong. Bisanya cuma mengulang apa yang dikatakan orang. Aneh gak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin begini kali ya:&lt;br /&gt;Misalnya, suatu hari Echo mau jajan somay. Terus dia panggil abang somay yang kebetulan lewat di depan gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum2, si abang dateng. Markir sepedanya yang butut, buka dandang, terus nanya, “Campur Neng? Pake pare gak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eeeh, tiba-tiba tampang Echo malah jadi kayak kebelet pup gitu. Terus dengan agak terbata-bata dia berbisik ke abangnya, “Pake pare gak, pake pare gak. Gak, gak, gak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abangnya bingung. “Lah iya, ini somaynya, Neng. Mau campur semua, apa cuma somaynya doang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Echo jadi resah. Dia sadar kecacatan dia, dan berusaha keras ngomong sejelas-jelasnya. Tapi tetap saja yang keluar dari mulutnya, “Apa somaynya doang, apa somaynya doang. Doang, doang, doang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali abangnya ngomong, Echo selalu ngikutin kalimat2 akhirnya. Diulang2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali begitu, terang aja lama2 abangnya kesel. Capek deh. Cakep sih cakep, tapi kalau gokil begini, ya ilfil deh gue, begitu batin si abang. Dan endingnya, si abang somay akhirnya kabur sambil agak2 merinding gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan. Mungkin si abang juga enggak tahu kalau dia tukang jualan yang ke dua ribu tiga ratus sekian yang kabur dari Echo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke Si Nar, ….rupanya kali ini Echo bener2 mau nekat ngejar. Suatu hari dia melihat Nar lagi jalan, Echo langsung nempel. Pokoknya mulai hari ini, ke mana aja Nar pergi, dia terus nempel. Begitu janjinya. Modalnya berani malu aja deh, batin Echo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar cuek, Nar tidak peduli dikuntit Echo. Sampai suatu kali dia lagi kemping (camping, maksudnya) sama temen2 sekolah, Nar terpisah sama rombongan dan tersesat. Karena bingung dan kecapekan, dia akhirnya cuma duduk aja di pinggir danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wooy, ada siapa di sini!” Nar mencoba teriak2 cari bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba2 terdengar jawaban: “Ada siapa di sini, ada siapa di sini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ealah, taunya si Echo muncul dari balik pohon. Sambil senyum2 gak jelas, gitu. Rupanya sedari tadi itu cewek terus ngikutin Nar. Terang aja dia juga ikutan tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bedanya, kali itu rupanya Echo sudah 100% nekat. Dia pikir, udah capek ngikutin cowok ganteng ini terus, tapi dianya cuek2 aja. Sekarang kesempatannya gue nembak. Carpe diem! Yang artinya kesempatan (mungkin) enggak datang dua kali. Mumpung sepi. Pinggir danau lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aja Echo “menyerang” Nar dan memeluknya. Pelukannya kenceng banget. Terang saja Nar yang tidak siap dan memang lagi enggak hasrat buat peluk-pelukan, jadi rada jijay bajay. Ih, ngapain sih nih cewek?!!! Nar meronta-ronta mencoba melepaskan pelukan Echo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Nar begitu merinding, gerakannya sangat spontan dan kuat. Akibatnya Echo terpelanting dan jatuh ke tanah. Gedubrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar kalau dirinya jatuh, Echo malu bukan main. Mukanya merah. Soalnya baru kali itu dia ngerasain ditolak cowok. Selama ini dia seringnya nolak cowok. Alasannya adaaa aja: kurang cakeplah, kurang tajirlah, kurang jago basketlah, kurang ajarlah, dsb. Dan penolakan kali ini dirasakannya benar2 merupakan peristiwa yang hina dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue enggak bisa ngebayangin hidup setelah penolakan ini, batin Echo yang udah gak merasa betah dengan status "high quality jomblo" itu. He-he-he, hukum karma kali ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking malunya Echo lari dan terus lari. Dia masuk ke sebuah gua. Di dalam dia nangis terus dan tidak mau keluar2. Kabarnya dia mati merana di sana. [makanya kalau ada suara yang bergema di gua, disebut suara echo]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kejadian penolakan oleh Nar itu dilihat sama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maiden&lt;/span&gt;, seorang peri penunggu danau. Maiden marah banget sama kelakuan Nar yang kasar. “Nyateee aja, Men. Jangan kasar sama cewek!” Sebagai hukuman, dia menyihir air kolam menjadi sejernih kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nar kaget setengah mati melihat air danau begitu bening. Ia lalu melongok dan melihat wajah seorang cowok ganteng di sana (tampang dia sendiri!). Tiba-tiba saja dia merasa jatuh cinta. Idiiih, jijay. Ketahuan deh sebenernya kayak apa seleranya si Nar. Lu lekong apa pewong siiy! Jadi rupanya selama ini dia sukanya sama sesama jenis. Parahnya, Nar sukanya sama diri sendiri! Hiiiy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku cinta padamu. Aku kagum pada parasmu,” begitu kata Nar berulang-ulang sambil melihat tampangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nar enggak bias lepas dari cermin air itu. Dia terus memandang dan mengagumi wajahnya. Sampai saking penasarannya, dia akhirnya terpeleset dan jatuh ke danau. Karena tidak bisa berenang, akhirnya dia mati. Mayatnya dibawa arus sungai. Oleh para peri, mayatnya kemudian dirubah menjadi bunga narcissus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari kisahnya narcissus ini muncul istilah narsisisme dalam psikologi. Alias orang yang suka mengagumi diri sendiri dalam kadar berlebihan. Anak2 gaul sekarang juga suka menyingkatnya jadi narsis. Narsis luh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;Demikian semoga membawa manfaat dan diambil hikmahnya. Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Saya tulis untuk Note Facebook saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7394414657843990341?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7394414657843990341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7394414657843990341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7394414657843990341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7394414657843990341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/07/mitologi-yunani-narcissus-si-brondong.html' title='Mitologi Yunani: Narcissus Si Brondong Ganteng'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/SlTFw0JB_bI/AAAAAAAAADM/Cpm045aHpV4/s72-c/narcissus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3092695218139907286</id><published>2009-05-16T21:46:00.008+07:00</published><updated>2009-09-01T11:19:22.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Panji Sang Penakluk, Titisan Dewi Ular</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di tangannya segala jenis ular ganas dan berbisa menjadi tidak berdaya. Tapi ular-ular itu ditangkap bukan untuk disakiti, melainkan dijadikan sahabat dan tinggal bersama di dalam rumah. Kalau digigit, itu mah biasa. Dari mana pula bocah 15 tahun ini mendapatkan ilmunya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular sepanjang 1,5 m itu mendesis keras. Kepala dan sepertiga badannya kemudian diangkat naik dengan mulut yang terbuka. Tubuhnya meliuk-liuk liar, menandakan siap menyerang siapa pun yang berani mengusiknya. Awas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun orangnya, dijamin bakal langsung bergidik melihat ular jenis sanca (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Phyton molurus&lt;/span&gt;) yang sedang marah seperti itu. Walau tidak berbisa, lilitan dan patukannya yang cepat, bisa berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus itu rupanya tak berlaku bagi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhamad Panji&lt;/span&gt;. Dengan gerakan tubuh yang lincah namun tetap waspada, ia mencoba menjinakkan si sanca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau menghadapi ular marah, usahakan menarik perhatiannya biar dia lelah," bisik Panji tentang strategi yang dia gunakan untuk menangkap ular. "Kalau sudah lelah, diketok-ketok kepalanya juga akan diam aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Lima menit bercanda bersama Panji, sanca mulai kelihatan loyo. Dengan gerakan tangkas, Panji lalu meraih kepala disusul ekornya. Dan ular besar itu cuma bisa pasrah saat dimasukkan ke dalam karung putih, bekas wadah tepung terigu yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sanca yang ini memang masih galak," tutur Panji memperkenalkan ular peliharaannya yang baru ditangkap dua bulan sebelumnya, tak jauh dari rumahnya di daerah Tanjung Garut, Purwakarta, Jawa Barat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paling-paling mual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mengenal Panji bisa-bisa akan menganggap murid kelas 3 SMPN 2 Cempaka, Purwakarta, ini sedang mengobral nyawa. Padahal, menangkap ular sebenarnya sudah dilakukannya sejak usia dua tahun. Sejak balita, ia memelihara binatang melata itu seperti orang lain memelihara kucing, anjing, atau burung perkutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari orangtuanya, Panji sering mendengar kisah tentang kesukaan dirinya bermain bersama ular-ular liar yang dia sebut "sahabat-sahabatnya" itu. Salah satu kisahnya, ketika usianya baru dua tahun, ia sudah kedapatan menangkap dan bermain-main dengan seekor ular pucuk (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dryophis prasinus&lt;/span&gt;), atau kadang disebut juga ular daun. Saat itu keluarga Panji bertempat tinggal di Kuala Kapuas, Kalimantan Timur, yang berhutan lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sebenarnya ular pucuk masuk kategori tidak berbahaya, tapi orangtuanya kaget bukan main. Yana, ayahnya, langsung merebut dan membuang hewan melata itu. Tapi Panji yang masih balita itu malah menangis habis-habisan. "Baru diam setelah dicarikan ular lagi," tutur Panji yang sempat berpindah ke Aceh bersama keluarga, sebelum menetap di Purwakarta, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Panji selalu bermain dengan sahabat-sahabatnya yang selalu ditemui di sekitar lingkungan rumahnya. Ular-ular itu dipelihara di rumah, diajak bermain, dan diberi makan. Kalau bosan tinggal dilepas lagi di tempat asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah digigit? "Sering banget," jawabnya. Ia mengaku pernah digigit semua jenis ular ganas yang ada di Jawa dan Sumatera, kecuali ular laut. Tapi berkat kemampuan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, ia tidak pernah merasakan efek yang hebat. "Paling mual. Kalau pusing, minum obat sakit kepala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan dengan binatang buas dan mematikan itu membuat Panji cukup disegani di lingkungan rumahnya. Sebenarnya, ia tidak bermaksud menjadi jagoan ular. Cuma, banyak orang yang langsung ciut nyalinya melihat Panji dengan enaknya menenteng-nenteng ular berbisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular-ular sahabatnya itu sesekali dia bawa ke sekolah. Tak pelak hewan melata itu pun jadi mainan dan tontonan teman-temannya. Kalau sudah begitu, suasana pun heboh dan membuat kelas jadi terganggu. Panji mengaku, ia justru senang karena itu berarti ia tidak perlu belajar. Wah, dasar anak-anak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, gurunya pernah mengadakan razia tas mendadak. Panji yang kebetulan sedang membawa seekor sahabatnya benar-benar dalam situasi sulit. Ia akhirnya cuma bisa pasrah. "Buka aja tasnya, Bu," Panji mempersilakan gurunya. Keruan saja si Ibu guru itu pun lari sambil meloncat-loncat karena menemukan seekor kobra di dalam tas sekolah Panji!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tentang kemampuan Panji itu menyebar di lingkungan sekitar rumahnya. Suatu kali ada seorang tukang ojek yang menantang, "Panji, mana ularnya? Gue nggak takut. 'Ntar gue bacok!"&lt;br /&gt;Tantangan itu mungkin cuma sekadar canda, tapi Panji meladeninya lalu bergegas menjemput sahabatnya di rumah. Kontan kerumunan tukang ojek yang mangkal langsung bubar ketika Panji melemparkan kobra sepanjang 1,5 m di tengah-tengah mereka. Akibatnya, beberapa sepeda motor sampai roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mitos ular jadi-jadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma sekadar bermain. Lama-kelamaan Panji juga tertarik mendalami seluk beluk ular dan reptil lainnya. Ia pernah beberapa kali bertanya kepada para peneliti ular yang akhirnya menyarankannya untuk membaca buku-buku tentang ular. Walau beberapa bacaan berbahasa Inggris, ia tetap serius mempelajari nama-nama Latin ular, kehidupan, predator, serta mangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap ilmu tentang ular ternyata berguna ketika Panji kemudian diminta stasiun televisi Lativi untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk". Acara itu menggambarkan tentang sosok Panji yang bertualang ke beberapa daerah untuk mencari reptil di alam. Sesekali sang pembawa acara menerangkan sedikit latar belakang hewan-hewan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panji menolak jika ada anggapan kalau ular-ular dalam acaranya itu sengaja disiapkan lebih dulu untuk memberi kesan selalu beruntung bertemu ular. Menurut Panji, ular sebenarnya terdapat di mana-mana, apalagi di alam bebas. "Cuma, begitu merasakan kedatangan manusia, mereka kabur." Nah, dengan instingnya Panji mencari tempat-tempat persembunyian ular-ular itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan insting itu pula, ia menangkap ular-ular liar untuk dijadikan peliharaan. Awalnya, tentu saja ular akan bersikap galak, bahkan menyerang. Ular kobra malah akan mengejar orang yang menyakitinya, sampai ke atas pohon sekalipun, dan baru melepaskan si penyerang setelah mematuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa menangkap ular, Panji selalu memperhatikan karakternya. Karena itu cara yang digunakan untuk menangkap berbeda-beda, tergantung jenis ular dan juga situasinya. Salah satu cara Panji menangkap ular seperti yang dia contohkan di awal tulisan ini. Biasanya, dalam beberapa menit saja, ular akan bisa ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menangkap, Panji menggunakan teknik ilmiah dan bisa dipelajari setiap orang. Beda dengan teknik pawang ular yang mungkin menggunakan mantera-mantera tertentu sehingga ular jadi lemas. Tapi, demi keselamatan, ia mengombinasikan teknik itu dengan "bakat alam"-nya sendiri. Sampai sekarang Panji tidak pernah berguru kepada siapa pun, dan belum menularkan kemampuannya kepada siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular hasil tangkapannya akan dia pelihara seperti lazimnya binatang peliharaan lain. Dimandikan pakai sampo, makanannya anak ayam negeri atau tikus putih. Ular berukuran panjang 2 m biasanya menghabiskan dua ekor ayam setiap minggu. Kalau sudah bosan, ular dilepas lagi di sekitar lingkungan rumahnya, kawasan pedesaan yang masih alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seringnya berhubungan dengan ular, Panji juga sering mendengar perihal mitos di seputar dunianya. Beberapa mitos kemungkinan hanya sekadar dongeng, tapi ada juga yang sempat dialaminya sendiri. Misalnya, beberapa kali Panji menangkap ular jadi-jadian alias dari alam gaib. Biasanya, ular gaib seperti itu akan hilang sendiri dalam beberapa hari walau sudah dimasukkan ke dalam peti yang tertutup rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali ular jadi-jadian itu minta dilepaskan lewat mimpi. Sosoknya bisa berwujud perempuan cantik, orangtua berambut putih, atau manusia bertanduk. Bicaranya, atau marah-marahnya, menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, atau Sunda, yang intinya minta dilepaskan. Biasanya makhluk gaib seperti itu menyamar dalam bentuk ular kobra atau welang. "Bedanya, kalau jadi kobra, matanya agak putih, tidak hitam kayak biasanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ular sudah dipelihara dan dikenal baik, Panji tetap berhati-hati. Sewaktu kelas 4 SD, ia pernah bermain-main dengan king kobra berumur dua tahun dan panjangnya 2,5 m (panjang maksimalnya 7 m).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sedikit sombong di hadapan teman-temanya, ia tidak sadar si kobra merayap di belakang dan tiba-tiba mematuknya di bagian betis. "Lumayan, betis robek," kata Panji sambil memperlihatkan bekas gigitan yang menyisakan warna biru kehitaman akibat racun bisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah terbiasa, Panji tidak panik saat digigit ular. Kalau gigitannya di telapak tangan, ia akan segera memperlebar lukanya pakai silet, lalu mengikat lengannya pakai tali. Lalu darah dikeluarkan dengan cara dipijit-pijit. Darah yang terkena racun biasanya berwarna kebiruan. Bedanya, kalau orang lain bisa langsung semaput sehabis digigit karena panik, Panji bisa mengerjakan semua itu dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panji menganggap gigitan itu reaksi biasa dari ular yang terusik. Tidak harus disakiti atau malah dibunuh. Cukup diusir saja. Panji mengaku tidak suka terhadap orang yang sering mengonsumsi ular, entah darahnya, empedu, atau dagingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia menegur seorang penjual ular sanca yang termasuk hewan dilindungi. Tapi pedagang itu rupanya tidak senang dan berkilah hanya sekadar cari makan. "Jawabannya begitu sih, saya jadi malas ngomongnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coba menangkap buaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesukaannya kepada reptil satu ini membuat Panji penasaran juga pada buaya. Kelas 6 SD, ia pernah mencoba menangkap buaya di sebuah penangkaran milik temannya di Sukamandi, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nekat ya, itu kan buaya muara," kata temannya berusaha mencegah. Buaya muara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Crocodylus porosus&lt;/span&gt;) memang salah satu buaya terganas di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panji tak peduli. Ia terjun ke kolam yang berisi tiga ekor buaya muara. "Kalau untung ya menang, kalau enggak, paling kaki buntung," begitu prinsip kenekatannya kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam itu kebetulan berair keruh. Tubuh buaya itu diperiksanya dengan kaki. Setelah dapat dirasakannya, Panji mulai menangkap. Buaya meronta sambil berputar, tapi Panji sigap melemparkannya ke darat. Mulut buaya itu menganga pertanda siap menyerang. Dengan bantuan tali dan tongkat, Panji mencoba mengincar mulutnya yang kemudian berhasil diikat. Lalu menyusul, semua kaki diikat. Beres sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik menangkap buaya itu kemudian disempurnakan setelah menonton tayangan Steve Irwin di televisi. Steve adalah pembawa acara petualangan asal Australia yang akhirnya meninggal terkena sabetan ikan pari pada tahun 2006. Panji begitu mengidolakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang melihat (acara) Steve, yang asyik-asyiknya aja. Kalau saya belajar tentang teori menangkapnya," aku Panji yang kemudian mempraktikkan saat menangkap buaya liar sewaktu syuting di Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panji yang terlihat lebih cerdas dari anak seusianya ini bercita-cita suatu saat akan membuat suatu lembaga penelitian tentang ular. Antara lain ia ingin membuat buku tentang ratusan spesies ular di Indonesia, bagian dari sekitar 2.700 spesies ular di dunia.&lt;br /&gt;Mungkin ular-ular akan mendesis senang jika mendengar cita-cita Panji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewi Ular Membayar Janji&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ny. Lina&lt;/span&gt;, ibunda Panji, berkisah: kemampuan yang didapat anaknya sesungguhnya berawal dari mimpi yang dialaminya saat Panji masih berusia dua bulan dalam kandungan. Dalam mimpi itu Ny. Lina bertemu Dewi Ular, bersosok ular besar berkepala perempuan cantik. "Anakmu nanti bakal bawa rezeki, tapi jangan kaget ya," kata Lina menirukan pesan Dewi Ular pada 1992 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Ny. Lina hanya bisa termenung memikirkan arti pesan itu. Sampai akhirnya ia mengerti setelah menyaksikan sendiri keganjilan demi keganjilan perilaku putranya semasa kecil. Sejak disapih sampai sekitar kelas 6 SD, Panji tidak doyan nasi. Makannya sehari-hari cuma telur ayam kampung mentah dan daun-daunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diberi telur, berapa pun jumlahnya, Panji akan melahap sampai habis. Kadang daun sayuran mentah yang ada di kebun ikut dilahap. Panji juga sangat senang daging ayam atau sapi, tapi yang sudah dimasak. Anehnya, sebanyak apa pun daging dimakan, "Perutnya tetap kempis," tutur Ny. Lina. Panji juga terbiasa makan langsung dari piring, tanpa memakai tangan atau sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Lina dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yana&lt;/span&gt; (ayah Panji) yang menikah pada 1991 mengaku sempat merasa sedih melihat keadaan anak semata wayangnya itu. Apalagi banyak kerabat dan tetangganya yang membicarakan keganjilan Panji. Para tetangga juga takut kalau harus bertamu ke rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dikontrak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lativi&lt;/span&gt; untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk", rupanya "janji" Dewi Ular perlahan-lahan mulai terlihat. Kehidupan ekonomi keluarga kecil bahagia ini semakin terangkat. Panji membeli motor dan merenovasi rumah orangtuanya dari hasil keringatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Panji bakal mempunyai adik, karena ibunya sedang hamil dua bulan. Belum ada firasat mimpi apa-apa dari dewi atau dewa mana pun. "Udah, biar Panji aja yang kayak gitu," kata perempuan keturunan Betawi ini tanpa bermaksud menyesal memiliki anak si penakluk ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah KISAH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3092695218139907286?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3092695218139907286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3092695218139907286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3092695218139907286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3092695218139907286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/panji-sang-penakluk-titisan-dewi-ular.html' title='Panji Sang Penakluk, Titisan Dewi Ular'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7466851484711088157</id><published>2009-05-16T21:30:00.003+07:00</published><updated>2009-05-16T21:37:05.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Nostalgia: Telepon Genggam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah catatan tentang masa2 awal ponsel memasyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika telepon seluler atau ponsel (pakai istilah ini saja ya) pertama-tama kalinya muncul dan masih hangat-hangatnya, sekitar tahun 97-99, benda ini sempat dinamai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;telepon genggam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sg7PNqhbIdI/AAAAAAAAAC8/k-qnlxQsvLk/s1600-h/motorola-8200.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sg7PNqhbIdI/AAAAAAAAAC8/k-qnlxQsvLk/s400/motorola-8200.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336430442140344786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, awalnya saya bingung, kenapa dinamai begitu. Sampai kemudian saya perhatikan, bahwa orang2 memang sering menggenggam ponsel kepunyaannya. Dimain-mainkan. Dilihat layarnya (mungkin takut ada panggilan yang tak didengar). Diusap-usap. Diganti-ganti nada deringnya. Dipencet-pencet tombolnya. Lalu dilihat layarnya lagi. Terus digenggam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup begitu. Kalau sedang berjalan, ponsel juga terus digenggam. Sambil ngobrol dengan teman, ponsel selalu ada di tangan. Bahkan kalau kebetulan perlu menunjuk ke suatu arah, ia akan menggunakan tangan yang berponsel. Jari telunjuk digantikan oleh antena ponsel yang waktu itu umumnya masih nongol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, udah ada henpon ya pak. Berapa nomernya?"&lt;br /&gt;"He-he. Kosong delapan satu, …"&lt;br /&gt;"Bentar, bentar, bentar, … saya miskol aja ya."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menghadiri seminar, pertemuan, meeting atau sekedar makan bersama, biasanya ponsel ditaruh di meja. Meja yang sudah penuh dengan berbagai macam barang atau makanan, masih ditambah lagi dengan ponsel yang berjajar-jajar. Di sini sering terjadi ponsel basah terkena kopi, kuah soto, keselip, atau malah hilang digondol maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan soal henponnya Pak. Tapi nomernya itu loh yang penting," biasanya orang yang kemalingan berucap begitu ke teman-temannya atau ke kepala sekuriti setempat. Padahal ponselnya juga panting kaleee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kebetulan suatu saat ada dering masuk ke salah satu ponsel, bisa dua tiga orang yang melirik ponselnya. Maklum nada dering waktu itu masih terbatas, monophonic pula. Jadi banyak yang mirip settingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada satu orang yang terlanjur refleks mengambil ponselnya - tapi ternyata itu bukan panggilan ponselnya – trik menghapus malu adalah dengan memencet beberapa tombol. Lalu pelan2 (pelaaan2 sekali) dikembalikan lagi ke meja dan memasang tampang "tak berdosa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu sinyal masih terbatas. Istilahnya, naik-turun. Sering terdengar percakapan saling bertukar informasi: "Lu dapet berapa batang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, tanpa perlu paham lebih jauh soal teknis persinyalan, soal "batang" ini sering jadi ukuran kualitas ponsel atau providernya. "Indosat kan? Sama dong. Tapi kalau pakainya Motorolla emang suka jelek sinyalnya." Atau "Kalau Indosat jelek di sini. Bagusnya Telkomsel, apalagi kalau di Nokia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena alasan sinyal ini juga, orang jadi maklum atau minta dimaklumi kalau dia menjawab telepon dengan suara keras: "HALOOOWW!" Di warung bakso yang padat pengunjung, panas, pengap, dan banyak orang yang megap2 kepedesan, dia juga akan cuek saja berhalo-halo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata masih merasa kurang jelas, penjawab akan berdiri terus mondar-mandir di ruangan atau malah keluar ruangan untuk mencari area sinyal yang bagus. Tapi seringkali, walau sinyalnya sudah bagus, dia tetap akan mondar-mandir. Mungkin sudah kebiasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang saya ingat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ditulis untuk Notes Facebook saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7466851484711088157?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7466851484711088157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7466851484711088157' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7466851484711088157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7466851484711088157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/nostalgia-telepon-genggam.html' title='Nostalgia: Telepon Genggam'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ePirC7jAIoo/Sg7PNqhbIdI/AAAAAAAAAC8/k-qnlxQsvLk/s72-c/motorola-8200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-2252254330781427802</id><published>2009-05-12T13:20:00.003+07:00</published><updated>2009-05-12T13:28:37.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Narsisisme Yang Bukan Sekadar "Narsis"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mencintai diri sendiri adalah tindakan yang wajar. Namun kalau porsinya berlebihan, bisa-bisa menjelma menjadi narsisisme. Hati-hati! Perasaan semacam ini bisa menjadi gangguan manakala seseorang menganggap dirinya adalah segalanya, sementara orang lain bukanlah apa-apa. Dalam kadar yang wajar, narsisisme perlu bahkan dibutuhkan untuk mengembangkan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jelas bagaimana awalnya, tiba-tiba saja kata "narsis" sering terdengar di mana-mana di sekitar kita. Pengertiannya, orang yang begitu suka memamerkan dirinya sendiri, terutama lewat foto. Gambar dirinya sengaja dipasang di benda-benda seperti di sampul buku, agenda, baju, dibingkai di dinding, sampai layar komputer untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wallpaper&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang begitu senang mejeng dikatakan narsis. Pasalnya ia begitu percaya diri memasang foto dan menunjukkannya kepada orang lain, sambil dibumbui segala macam cerita tentang dirinya. Jika kebetulan ada suatu perubahan dalam penampilannya, seperti misalnya potongan rambut baru, kacamata baru, atau memakai lensa kontak seperti mata kucing, maka dia akan memotret dan segera memajangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelakuan narsis ini semakin menjadi-jadi, apabila kebetulan banyak orang yang menaruh perhatian. Entah karena ia cantik atau gagah. Maka makin bersemangatlah ia memperbarui foto-foto terbarunya. Dengan tindakannya ia mengharapkan pertanyaan, pujian, atau sekadar komentar. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia ingin menikmati segala kekaguman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula jenis kelakuan orang yang disebut narsis itu untuk tidak malu-malu menambah label pada dirinya. Seperti "manis", "cantik", "imut", "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charming&lt;/span&gt;", dsb. Biasanya kata ini dipakai sebagai identitas di dalam komunikasinya dengan orang lain. Jadi kalau namanya misalnya Tukul, ia akan menyebut dirinya Tukul Ganteng atau Tukul Imut. He-he-he, ... ini sekadar contoh saja lo!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merasa nyaman dengan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati, jangan keliru! Narsis seperti yang sering diucapkan orang selama ini tidak sama persis dengan narsisisme (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;narcissism&lt;/span&gt;) dalam pengertian ilmu psikologi. Intinya memang sama, yakni perasaan mencintai diri sendiri, tapi narsisisme lebih mengarah kepada kecenderungan cinta diri yang kadarnya berlebihan. Dari perasaan itu kemudian muncul masalah dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisisme juga bukan eksklusif milik orang-orang tertentu yang sering kita cibir dan sebut sebagai Si Tukang Pamer. "Karena kita semua punya kecenderungan narsis lo," kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Roslina Verauli&lt;/span&gt;, psikolog keluarga dari Jakarta. Menurut Vera, begitu psikolog muda ini disapa, narsisisme itu bahkan perlu untuk membentuk konsep diri yang positif. Proses pembentukan konsep diri ada pada masa anak-anak sampai remaja, dan mulai matang saat dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam pengertian dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Carl Rogers&lt;/span&gt; (1902-1987) psikolog Amerika Serikat, konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap mengenai pengalaman yang berhubungan dengan "Aku", untuk membedakan "Aku" dari yang bukan "Aku". Nah, saat pembentukan konsep diri itu, kita butuh narsisisme untuk mengakui siapa diri kita dengan segala kapasitasnya. Misalnya, kita perlu untuk tahu bahwa kita berbakat di bidang seni, olahraga, atau dapat memimpin dengan baik. Dari kesadaran itu, kita tahu siapa sebenarnya diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia anak-anak seseorang dituntut untuk berprestasi. Dari sanalah segala kelebihan dan kemampuannya ditonjolkan, yang sebenarnya bisa diarahkan menuju pencapaian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;achievement&lt;/span&gt;) pada usia dewasa. Pada usia remaja, konsep diri ini mulai berjalan sesuai proses. "Ia menyadari segala kemampuannya hingga membuat konsep diri positif. Dari sanalah ia nyaman dengan dirinya dan tahu mengembangkan diri ke arah mana," kata Vera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya konsep diri bisa menjadi negatif, bila misalnya orangtua menanamkan segala yang dimiliki si anak adalah segala-galanya. Anak lalu akan mengira bahwa orang menilai dirinya dari apa yang dimilikinya itu, seperti wajah, kemampuan, atau bahkan materi. Apalagi kalau sejak dini ia biasa diperlakukan berlebihan, misalnya selalu dipuji bahwa dirinya yang paling cantik atau paling pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kondisi itulah akhirnya ia tidak bisa mengembangkan konsep diri yang positif. Ia gagal melihat kemampuan yang objektif dari dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Lalu muncul narsisisme seiring matangnya konsep diri seseorang, yakni ketika ia memasuki masa dewasa muda, atau sekitar usia 20 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku yang paling penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Narsisisme bisa menjadi gangguan ketika seseorang sudah merasa "paling" dibandingkan dengan orang lain. Sehingga ia merasa begitu penting, dan tidak ingin dikalahkan oleh orang lain.&lt;br /&gt;Misalnya ia merasa begitu penting sehingga jika turun dari mobil harus dibukakan pintunya, disambut, dicium tangannya, dan dipersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Atau dia merasa begitu pintar, kharismatis, terpandang, sehingga tidak ada orang yang melebihi dia, dan hanya dialah yang berhak menjadi nomor satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang dengan gangguan narsisisme merasa semua berpusat kepada dirinya. Ia tidak merasa harus dianggap aneh, ketika semua orang harus maklum atas tindakannya yang salah. Atau tidak merasa harus meminta maaf meski sudah banyak orang yang menunggunya berjam-jam lantaran dia terlambat datang. "Buat apa minta maaf, 'kan aku yang paling penting?" begitu ia berkilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya orang-orang yang kita pandang aneh di sekeliling kita saja yang mengalami gangguan narsisisme. Para entertainer (yang biasa disebut "artis"), politisi, pemimpin organisasi, bahkan tokoh agama sekalipun bisa mengalami. Aktivitas sehari-hari mereka tidak terganggu. Mereka tetap bekerja, berkarya, atau berprestasi seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus entertainer, menurut Vera, justru narsisisme dapat menunjang prestasi. Karena orang dengan pekerjaan seperti itu butuh perhatian ekstra dari masyarakat untuk menunjang kariernya di dunia hiburan. Terhadap klien yang memiliki potensi narsisisme, Vera malah selalu menyarankan untuk memasuki dunia hiburan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kliennya yang sudah telanjur jadi artis, Vera tidak pernah menyarankan untuk mematikan kecenderungan narsisisme. "Dengan narsisismenya, mereka malah akhirnya mendapat peran-peran yang bagus di film atau sinetron," kata Vera, bersunguh-sungguh. Jadi kecenderungan narsisisme tidak selalu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin juga membutuhkan narsisisme untuk mendorong diri mereka berprestasi. Mereka sering harus tampil dan diperhatikan orang. Karena kalau mereka ingin besar, harus melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk membuat dirinya terkenal. Meski ada pula kenyataan bahwa ada tokoh-tokoh yang lebih mengutamakan karyanya dan tidak ingin populer untuk menjadi pemimpin sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan orang biasa, seperti kita. Bila menyadari ada potensi narsisisme, perasaan itu bisa diarahkan untuk memacu prestasi. Misalnya untuk membuat kita mampu tampil di muka umum secara lebih baik. Bisa juga dipakai agar kita bisa mengerti hal-hal yang harus dipacu dalam keunggulan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai psikolog, Vera mengakui dirinya memiliki narsisisme, walau sedikit. Potensi itu digalinya untuk bisa tampil di muka umum secara baik, seperti saaat harus tampil di seminar dan mengajar di depan mahasiswanya. Menurutnya, dengan arah yang positif, kondisi itu malah membuatnya semakin percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak bisa berempati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan narsisisme muncul karena terjadi malfungsi secara individu. Yaitu ketika seseorang gagal mengembangkan diri karena melihat prestasinya sudah begitu canggih. Dia merasa paling pintar, cantik, cerdas, pokoknya segala yang serba oke. Namun akibatnya dia juga memiliki harapan yang tinggi untuk selalu diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembawaan seperti itu akan terlihat manakala tindakannya terlihat menonjol di tengah orang lain. Ia selalu berusaha menonjolkan diri saat berada di depan publik semata untuk tujuan pamer. Misalnya dia seorang yang kaya, maka dia akan memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bodyguard&lt;/span&gt; di sekelilingnya. Padahal tujuan sebenarnya bukan untuk menjaganya (karena memang tidak ada ancaman yang nyata) melainkan untuk sekadar menegaskan bahwa dia orang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, pengidap gangguan narsisisme tidak pernah menyadari perilakunya yang terkadang merugikan orang lain. Dia tidak merasa keliru, sampai ada orang atau masyarakat yang berbenturan dengan dirinya. Bisa jadi saat orang mengoreksi sekalipun, ia tetap tidak akan merasa bersalah. "Dia tidak bisa berempati karena gagal melihat dari sudut pandang orang lain. Karena dia tidak merasa harus berubah," jelas Vera, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 1995 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan narsisisme juga bisa membuat orang tidak bisa mengakui keunggulan orang lain. Walau mungkin faktanya ada orang lain yang unggul dalam sebuah kompetisi yang fair. Tapi ia akan tetap menolak hasil itu dan mencari bermacam alasan sebagai pembenaran untuk dirinya. Perasaan semacam ini tentunya akan sangat merugikan jika ternyata diidap oleh mereka yang menjadi panutan masyarakat, seperti misalnya tokoh-tokoh politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istilah pinjaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perihal kata "narsis" yang kini banyak dipakai dalam masyarakat, menurut Vera, hanya sebatas istilah yang dipinjam saja. Kecenderungan untuk sekadar pamer dan berani tampil di muka umum belum tentu narsisisme, sampai dia menunjukkan tingkah laku seperti yang sudah tergambarkan sebelumnya. Ketika istilah narsis ini jatuh di tangan anak muda dan dipergunakan dalam bahasa gaul sehari-hari, maka jadi populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, adanya berbagai kemajuan teknologi dapat menyokong kecenderungan masyarakat dapat memuaskan diri sendiri atau untuk tampil berlebihan di depan umum. Seperti adanya fotografi digital yang memungkinkan untuk memotret dirinya sampai puas. Atau saat dia harus tampil di poster-poster produk barang dagangan, spanduk warung makan, sampai pada saat tampil mengkampanyekan diri dalam rangka pemilihan umum legislatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan munculnya situs jejaring sosial seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Friendster&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Multiply &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;. Kesempatan mejeng lewat cerita, foto, atau video dimanfaatkan betul oleh kaum muda. Kelakuan seperti ini menurut Vera terlalu dini kalau dikatakan terkena gangguan narisisme. "Kecuali kalau dengan foto-foto itu dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang paling cantik dan tidak ada orang lain yang seperti dia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, silakan nikmati kenarsisan dengan memajang foto di internet, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;. Asalkan tak ada perasaan yang menyimpang, kita mungkin bakal bisa lebih populer. Narsis ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasib Tragis Narcissus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam mitologi Yunani, tersebutlah kisah tentang Narcissus, anak dari Dewa Sungai Cephissus dan Peri Liriope. Sebagai anak dewa dan peri, tak heran kalau hasil "cetakannya" ganteng banget. Gadis-gadis banyak yang tergila-gila padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cewek yang naksir berat adalah Echo. Gadis yang sebenarnya cantik ini bahkan rela menguntit kemanapun Narcissus pergi. Ketika akhirnya Echo nekat "menembak" Narcissus, ternyata yang didapatnya hanyalah penolakan. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dengan perasaan sedih, Echo akhirnya pergi ke gunung dan menghilang. Sekilas info, dari sinilah muncul istilah suara echo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat nasib Echo, Dewi Nemesis ikut sedih. Ia lalu menghukum Narcissus agar jatuh cinta pada dirinya sendiri. Narcissus kena batunya waktu melintas di sungai Styx dan melihat bayangan wajah dirinya di sungai. Ia jatuh cinta dan terus memandangi wajahnya sendiri. Ketika nekat hendak mencium bayangannya sendiri, Narcissus jatuh ke sungai dan mati. Dewa-dewa yang menemukan mayatnya menjadikannya bunga Narcissus. Dari sinilah kata Narsisisme berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Saat menggarap tulisan ini, tiba2 saya sadar, bahwa salah satu tokoh politik nasional kita juga mengidap narsisisme. Celakanya, dia juga ngotot mencalonkan diri di Pilpres 2009. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-2252254330781427802?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/2252254330781427802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=2252254330781427802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2252254330781427802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2252254330781427802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/narsisisme-yang-bukan-sekadar-narsis.html' title='Narsisisme Yang Bukan Sekadar &quot;Narsis&quot;'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3316141979160253879</id><published>2009-05-12T13:06:00.003+07:00</published><updated>2009-05-12T13:18:37.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Cuping Ditindik Lidah Dibelah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kaum muda makin menggilai body piercing alias tindik. Tujuannya, memperindah penampilan atau mendongkrak citra diri. Namun, kalau sampai lidah dibelah, apa pula maunya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wuih, lihat tuh, ada toko emas berjalan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu suara-suara "iri" yang acap terdengar tatkala melihat seorang wanita mengenakan aksesori berbahan emas secara berlebihan menurut ukuran normal. Di telinganya tergantung anting berbentuk cincin berdiameter 3 cm. Di leher melingkar kalung rantai dengan liontin sebesar ibu jari pria dewasa berhiaskan berlian. Di jari manisnya melingkar jajaran cincin kawin dan cincin bermata berlian sebagai pasangan kalungnya. Tak cukup itu. Di pergelangan tangan kiri dan kanannya juga bergelantungan gelang sampai menimbulkan bunyi gemerincing ketika tangan digerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berhias macam itu belakangan tak cuma didominasi kaum hawa. Pria pun belakangan banyak yang beraksesori mirip wanita, meskipun bahannya tak melulu emas, pun tidak seekstrem gambaran di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang lebih menarik, berhias dengan melibatkan proses menindik, belakangan berkembang menjadi sebuah tren dan karya seni. Bagian yang ditindik pun tidak cuma kuping, tapi juga bagian tubuh lain. Dari cuping hidung, bagian bawah bibir, lidah, sampai (maaf) organ genital pun ditindik untuk dipasangi aksesori. Dari situlah muncul istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body piercing&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kita kemudian mengindonesiakan istilah itu menjadi tindik. Setidaknya, menurut kamus, arti katanya memang demikian. Meski perkembangan seni hias tubuh ini membuat makna katanya meluas dari sekadar tindik untuk memasang anting-anting di cuping telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, para pencinta seni ini punya prinsip, semua bagian tubuh sesungguhnya bisa ditindik. Syaratnya, asal kelihatan pantas dan bisa ditusuk jarum tindik. Tindik yang wajar dan mulai bisa diterima masyarakat biasanya dilakukan di telinga dan sekeliling wajah. Mulai ujung alis, hidung, bibir, dagu, hingga lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan remaja perempuan, mulai jamak terlihat setiap cuping telinga memiliki lebih dari satu tindik. Bisa dua, tiga, bahkan empat. Populer juga tindik di pusar. Kabarnya, itu membuat perut tampak seksi, seperti penyanyi idola mereka, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Britney Spears &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Shakira&lt;/span&gt;. Sementara itu, ada sekelompok kecil yang justru memasang di tempat-tempat yang lebih tersembunyi.&lt;br /&gt;Kedengarannya genit, padahal sejarahnya sama sekali tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 4.000 tahun lalu kaum pria Mesir telah bertindik ria untuk alasan kejantanan. Para ksatria Romawi menindik puting payudaranya sebagai perlambang semangat dalam melindungi kaisar. Sedangkan pendeta suku Indian Aztec dan Maya memasang perhiasan di lidah agar bisa berkomunikasi dengan dewa-dewa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan perjalanan tindik di dalam negeri? Jejak tindik tradisional hingga kini masih bisa ditemukan. Kaum pria suku tertentu di Papua memasang hiasan tanduk hewan di hidung sebagai lambang keperkasaan. Atau, para perempuan suku Dayak yang sengaja memperbesar lubang tindik di cuping telinganya hingga kiwir-kiwir, agar dibilang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makin penasaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beda zaman, beda pula alasan. Bagi kaum muda zaman cyber seperti sekarang, selain dianggap bisa mendongkrak penampilan, tindik telah menjadi sarana ekspresi diri. Sebuah simbol kebebasan dari segala formalitas yang ada. Setidaknya, demikian pengakuan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rio&lt;/span&gt; (26), satu dari ratusan atau mungkin ribuan anak muda Jakarta yang memiliki lebih dari satu tindikan.&lt;br /&gt;"Memang sih, ada yang ditindik buat gaya-gayaan. Atau biar dibilang&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;funky&lt;/span&gt; (keren - Red.). Tapi gue ditindik kayak begini, karena ... inilah gue," kata Rio serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerja sebuah kafe di Jakarta itu sudah mengenal tindik sejak lepas dari bangku sekolah. Kebetulan tempat kerjanya sekarang tak melarangnya berpenampilan full aksesori.&lt;br /&gt;Rio mengakui, ada sebagian warga masyarakat yang memandang minor terhadap pencinta tindik, atau seni hias tubuh lain seperti tato. Seolah-olah seseorang dengan hiasan tubuh seperti itu, berasal dari kalangan asosial. Bahkan tak jarang dicap pelaku kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak harus bertato atau beranting. Kalau (memang) sifatnya jahat, ya jahat aja," tandas Rio yang mengaku pernah mendapat perlakuan tak menyenangkan, hanya karena penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sederet perhiasan di wajah, ditambah aksesoris lain di sekujur badan, penampilan pencinta tindik memang kerap menarik perhatian. Masalahnya, mereka selalu merasa tak cukup puas dengan hanya satu tindikan. Setelah merasakan satu tusukan, ada kecenderungan ingin mencobanya pada bagian tubuh lain. Kondisinya mirip orang kecanduan, tetapi bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan itu, menurut Rio, bukan karena reaksi kimiawi tubuh. Tapi lebih karena rasa penasaran. Hal itu berlaku juga bagi tato. "Kira-kira kalau ditindik di lain tempat, rasa sakitnya kayak apa, ya?" jelas Rio yang selain menindik sendiri tubuhnya juga melayani jasa tindik untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lidah disasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, beberapa kalangan menilai, keinginan demi keinginan itu telah memasuki stadium "kebablasan". Pencinta tindik terus mengeksplorasi pencariannya hingga seni itu memasuki bentuk-bentuk baru. Dari sekadar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body piercing&lt;/span&gt;, kalangan tertentu membawanya ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body modification&lt;/span&gt;. Memodifikasi anggota tubuh untuk menunjang penampilan, serta bisa jadi memuaskan rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tindik" gaya baru itu benar-benar bikin orang merinding, meskip sesungguhnya masih banyak aliran yang lebih sadis dan menyeramkan. Dari sekadar mengikir gigi hingga berbentuk runcing, memodifikasi alat kelamin, hingga puncaknya memotong anggota tubuh seperti jari tangan dan jari kaki. Nah, yang kini ramai dibicarakan di Amerika Serikat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sono&lt;/span&gt; yaitu belah lidah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;split tongue&lt;/span&gt;) dan implantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini bukan sulap, tapi betul-betul memotong ujung lidah hingga ke bagian tengah, pada garis celah lidah. Hasilnya, lidah jadi tampak seperti lidah binatang reptil. Pemotongan bisa dilakukan dokter atau kalau memang nekat, bisa sendiri. Manfaatnya? Hanya demi penampilan!&lt;br /&gt;Uniknya, menurut mereka yang telah merasakan, kedua ujung lidah dapat digerakkan sendiri-sendiri. Weleh-weleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan pakai pistol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian tubuh mana pun tindik dilakukan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Imam Susanto&lt;/span&gt;, spesialis bedah plastik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dapat memakluminya, dengan syarat tidak menggangu fungsinya. Sejauh ini ia mengamati tindik yang dilakukan kaum remaja kita masih dapat ditoleransi. "Kecuali kalau yang ditindik bagian bibir, lidah, dan genital," tandasnya.&lt;br /&gt;Imam mengingatkan, mulut termasuk bagian tubuh yang kotor. Risiko infeksi akan sangat besar bila tindik dilakukan di bibir maupun lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tindik telinga, harus diperhatikan keberadaan tulang rawan. Bila sampai terjadi infeksi, dapat meninggalkan jejak yang buruk di masa depan. Apalagi jika seseorang mempunyai bakat keloid ("daging tumbuh").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum wanita, pilihan tindik juga harus ekstra hati-hati. Infeksi pada tindik puting misalnya, dapat menjalar hingga ke dalam-dalam. Tindik pada kemaluan, terutama pada bibir kecil vagina, meski diakui dapat menambah kenikmatan erotis saat berhubungan suami-istri, sebaiknya tidak dilakukan bila tidak merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saat berhubungan terjadi gesekan, apa malah tidak mengganggu? Atau malah kesakitan? Ini yang tidak masuk dalam logika saya," kata Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang berniat menindik, tambah Imam, harus benar-benar memperhatikan kebersihan alat tindik. Dianjurkan memakai jarum baru dan sekali pakai. Jangan menggunakan pistol tindik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ear piercing gun&lt;/span&gt;) seperti banyak dipakai penjual perhiasan. Alat semacam itu sulit atau bahkan jarang dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tolak tindik kelamin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soal kebersihan alat tindik tidak hanya dikhawatirkan para dokter. Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robin Hutagaol &lt;/span&gt;(29), penindik di Jakarta, banyak rekan seprofesinya yang mengabaikan prosedur sterilisasi alat tindik yang benar. Celakanya, banyak pula konsumen yang tidak mengerti dan menindik hanya karena pertimbangan ongkos murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau soal jarum, saat ini memang sudah dipakai yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;disposible&lt;/span&gt;. Tapi peralatan lain, seperti penjepit, harus juga disterilkan. Ini yang tidak banyak dilakukan piercer," jelas Robin yang pernah mengikuti pelatihan menindik di San Francisco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di studio tindik miliknya, Ish-Kabible di kawasan Kemang Jakarta Selatan, sterilisasi dilakukan sesuai standar internasional. Sehabis dipakai, setiap peralatan dibersihkan dengan desinfektan, lalu ke tabung ultrasonik, dikemas dalam medipack, dilanjutkan kembali dengan mesin autoclave. Semua peralatan dan bahan diimpor dari Inggris dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menerapkan standar lain menyangkut prosedur tindik. Ketentuan umum, pemakai jasanya tidak boleh dalam keadaan mabuk, hamil, atau di bawah umur. Seseorang akan ditindik jika telah menandatangani surat perjanjian, yang intinya kesadaran bahwa dirinya akan ditindik dengan segala konsekuensinya. Untuk usia di bawah 18 tahun, surat perjanjian harus diketahui orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada tanda tangan, berarti tidak bisa ditindik," tegas Robin yang tidak melayani tindik alat kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sembuh dalam setahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sarjana ekonomi itu mengungkapkan, persoalan terbesar adalah masalah menjaga kebersihan setelah ditindik. Terutama pada kaum pria yang cenderung malas merawat diri. Maka setelah menindik, Robin selalu memberi petunjuk tertulis tentang cara perawatan dan obat-obatan yang dapat digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penyembuhan, dr. Imam Susanto menyarankan agar luka tidak terkena air selama tiga hari. Setelah itu diberi salep antibiotik kadar rendah, seperti yang untuk mata. Pemberian antiseptik cair tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan iritasi dan mengganggu pertumbuhan lapisan luar kulit (epitel) yang akan membungkus luka. Sedangkan tindik pada mulut bisa digunakan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di situs-situs web tentang tindik menyebutkan, lama penyembuhan luka tindik sangat bervariasi, berkisar antara empat minggu hingga satu tahun. Paling cepat sembuh adalah tindik cuping telinga, yaitu 6 - 8 minggu. Sedangkan terlama pada tulang rawan telinga dan pusar, 4 - 12 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup makan waktu? Apa boleh buat. Ingin tampil keren kadang butuh pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BILA LIDAH DIBELAH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meski di Indonesia gaungnya belum begitu terdengar, belah lidah setidaknya sudah ngetren lima tahun belakangan. Diperkirakan, hingga kini sudah lebih dari 2.000 orang di dunia melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Mei lalu, mode paling "kejam" ini mendadak mengemuka. Itu lantaran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;David Miller&lt;/span&gt;, anggota legislatif negara bagian Illionis, AS, merancang sebuah peraturan pelarangannya. "Tindakan semacam itu hanya boleh dilakukan dokter dan harus demi alasan medis," kata Miller dari Partai Demokrat yang juga seorang dokter gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan rencananya itu mendapat tentangan kaum lidah bercabang. Mereka berpendapat, belah lidah tak beda dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body modification&lt;/span&gt; yang resmi, seperti implantasi payudara atau body building. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak cara-cara membelah lidah memang cukup membuat wajah meringis. Ada yang sekadar menggunakan benang keras. Jangan dibayangkan rasa sakit yang diakibatkannya. Atau, yang lebih "waras", memakai pisau bedah dengan bantuan dokter. Setelah mendapat anestesi, lidah diiris biasa. Prosesnya cepat, tak sampai setengah jam. Untuk mengurangi perdarahan dan mempercepat penyembuhan digunakan kauter listrik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;electro cauter&lt;/span&gt;) yang membakar ujung luka. Biasanya, dokter akan menjahit luka irisan. Menyatukan sisi atas-bawah luka, hingga hasil potongan terlihat lebih halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kauter menjadi alternatif ketiga untuk mengiris lidah tanpa pisau bedah. Cara pemotongannya mirip seperti khitan dengan laser. Namun, di AS metode ini jarang dipakai, karena dirasakan serba tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara terakhir, menggunakan laser. Penanganannya mirip pada kasus-kasus penyakit mulut seperti kanker atau biopsi lidah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, Juli 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Tulisan ini diposting setelah beberapa hari lalu saya membaca sebuah berita, Robin Hutagaol, salah seorang narasumber saya di tulisan ini meninggal dunia, Januari 2009, karena kecelakaan lalu lintas. Semoga arwah Robin tenang di alam sana. Thanx bro!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3316141979160253879?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3316141979160253879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3316141979160253879' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3316141979160253879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3316141979160253879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/cuping-ditindik-lidah-dibelah.html' title='Cuping Ditindik Lidah Dibelah'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-8620676126570857093</id><published>2009-05-08T22:58:00.003+07:00</published><updated>2009-05-08T23:12:48.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Temanku Punya Kawan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah catatan tentang pertemanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya ketemu seorang teman, yang kira-kira 10an tahun tidak terdengar kabarnya dan tidak pernah kontak. Kangen juga. Dan penasaran, karena ketika terakhir kami ketemu, dia sedang ada sedikit masalah sama dirinya. Kira2 gimana ya keadaannya sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hey.” Saya menyapa duluan.&lt;br /&gt;”Eh, sibuk apa lu sekarang?”&lt;br /&gt;”Biasa aja. Kerja. Kenapa emang”&lt;br /&gt;”Gue ada bisnis bagus nih, … bla bla bla”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah berlebihan kalau saya kemudian menjadi bete berat? Bukan cuma karena dia membuka percakapan dengan langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tunjepoin&lt;/span&gt;, yaitu menawarkan bisnis.... MLM !!!??? Tapi juga karena ”penghargaan” dia terhadap pertemuan kami saat itu, ternyata berbeda derajatnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman, ada sahabat. Kata orang, itu adalah dua jenjang perkawanan yang berbeda. Dan semua orang mungkin juga tahu tentang hal itu. Tapi kok saya sangsi, orang tidak akan pernah betul2 memahami makna persahabatan jika tidak pernah mengecap sebuah pertemanan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman dan pertemanan tidaklah abadi. Setidaknya, saya percaya ada unsur kepentingan semasa yang melandasi hubungan baik antara 2 orang. Setelah terpisah oleh keadaan, yang tetap mempersatukan mereka mungkin hanyalah memori di otak dan kemampuan daya ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;, saya ketemu beberapa orang yang dulu pernah kenal dan menjadi teman. Umumnya teman di sekolah. Ada yang antusias, ada yang sekedar senang, ada yang biasa2 saja, tapi ada juga beberapa yang langsung meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ignore request&lt;/span&gt; saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He-he-he, tidak apa2 kok.Saya tidak harus merasa kesal, tersinggung, atau merasa apa begitu. Bagaimana saya harus kesal, jika dalam ”testimonial” (hehe, bahasa jaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;friendster&lt;/span&gt; nih), mereka sendiri mengaku tidak ingat banyak tentang masa lalu. Bukankah kita juga tidak harus dirasakan berarti bagi semua orang? (hihihi, ini pasti cuma menghibur diri :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluh karena begitu banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;friends&lt;/span&gt; di akun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt; dia yang katanya cuma sekadar ”menuh-menuhin&lt;span style="font-style: italic;"&gt; friends list&lt;/span&gt; ajah”. Kekesalan itu bahkan sempat disinggung di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Notes&lt;/span&gt; dia. Salah sendiri, kata saya. Ngapain juga dulu main ok-ok aja waktu diajak temenan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tapi sebentar! ”Apa kamu ingat misalnya sama yang... ini,” kata saya sambil menunjuk seorang teman di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;friends list&lt;/span&gt; dia.&lt;br /&gt;Dia tampak berpikir keras beberapa saat sebelum menjawab dengan ragu, ”Enggak. Emangnya dia siapa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma tertegun. Bagaimana dia bisa lupa pada seseorang yang pernah dengan begitu tulus membantu di saat dia sedang kesusahan dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook &lt;/span&gt;juga (hehe, ajaib bener sih nih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;web&lt;/span&gt;) saya ketemu seorang teman lama yang sedang ”menyendiri”. Hey, saya menyapa. Kenapa sendirian? Sudah banyak tuh teman2 lama yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngeriung&lt;/span&gt;. Beberapa malah sudah ketemuan. Kamu ikutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;, kok kamu enggak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;add &lt;/span&gt;mereka? ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Atau... memang sengaja menghindar?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam saja.&lt;br /&gt;Tapi akhirnya dia mencoba pada lingkaran pertemanan yang terdekat lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pernah saya dengar beberapa isu miring tentang dia, di masa lalu. Ah, tapi sudahlah. Mungkin semua orang sudah melupakannya. Atau orang tidak peduli, seperti juga yang saya coba lakukan. Toh kita hidup di masa kini. Bukankah pengalaman selama ini mengajarkan: waktulah yang senantiasa akan me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reset &lt;/span&gt;seluruh pertemanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya ternyata benar. Beberapa waktu lalu, ketika saya intip akun dia, beberapa teman lama sudah menyambutnya hangat: selamat datang teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;catatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;saya tulis untuk Notes Facebook saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-8620676126570857093?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/8620676126570857093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=8620676126570857093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8620676126570857093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/8620676126570857093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/temanku-punya-kawan.html' title='Temanku Punya Kawan'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-6792563407028049214</id><published>2009-05-07T20:18:00.007+07:00</published><updated>2009-05-08T22:34:58.952+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olahraga'/><title type='text'>Capoeira, Dari Brazilia Ke Nusantara</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Capoeira. Inilah beladiri kaum budak Afro-Brazilia yang mulai dilirik kaum muda di kota-kota besar. Termasuk Indonesia. Gerakannya begitu ekspresif dan kaya kreasi. Apa manfaatnya bagi kesehatan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Only the Strong &lt;/span&gt;bukan film laga yang tergolong laku di bioskop-bioskop negeri kita. Di Amerika penjualan film produksi Twentieth Century Fox ini juga tidak bagus-bagus amat. Situs Internet Movie Database mencatat, saat diedarkan pada 1993, hanya mampu meraup AS $ 3,2 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya tidak rumit. Tentang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Louis Stevens&lt;/span&gt; (diperankan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mark Dacascos&lt;/span&gt;), prajurit baret hijau, yang mudik ke Miami Florida. Di kampungnya, ia mendapati banyak remaja tanggung terancam bahaya narkoba. Louis bertekat membebaskan dengan mengajari mereka beladiri capoeira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Louis tidak sia-sia. Dua puluh remaja paling badung mau mengikuti jejaknya. Namun risikonya, ia harus berhadapan dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silverio Alivarez&lt;/span&gt;, bandar narkoba yang juga jawara capoeira. Ending-nya, kliselah, sang jagoan - alias Louis - yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak dinyana, aksi aktor Mark Dacascos membuat beberapa remaja Yogyakarta kepincut. Mereka mencoba mencari tahu soal beladiri eksotik asal Brazil itu. Malah pada acara kumpul-kumpul sore, beberapa orang nekat melakukan gerakan-gerakan capoeira. "Awalnya ngawur, Mas. Cuma lompat sini, lompat sana," aku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yudhi Handoyo&lt;/span&gt; (23), Ketua Capoeira Jogja Club (CJC), tanpa malu-malu mengisahkan polahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, bahkan sampai sekarang, Yudhi dan sesama&lt;span style="font-style: italic;"&gt; capoerista&lt;/span&gt; (sebutan untuk pemain capoeira) kesulitan mendapatkan pelatih. Namun, tak ada kata patah semangat. Mereka malah berlatih hampir setiap hari di lingkungan Kampus UGM. Bahan-bahan latihan didapat dari Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh gerakan dipelajari dari video yang banyak terdapat di situs-situs tentang capoeira, sambil saling mengoreksi di antara mereka. Beruntung, sekali waktu, ada warga negara asing yang bersimpati dan bersedia membimbing. Saat ini mereka tengah dibimbing &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rod Penn&lt;/span&gt;, warga Inggris yang bekerja di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, menjelang empat tahun berdiri, peminat capoeira di Kota Gudeg itu sudah lebih dari 60 orang. Bahkan kini angkatan pelopor sudah "naik pangkat". Sekali seminggu, mereka diminta membimbing di Jakarta dan Bandung. Peminat di dua kota ini, hampir sebanding dengan Yogya.&lt;br /&gt;"Keinginan terbesar kami, ingin didatangi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt; dan menjadi (cabang) legal capoeira di Indonesia," jelas Yudhi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mestre&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;master&lt;/span&gt; adalah tingkat tertinggi dalam capoeira. "Oh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt; datanglah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;we need you&lt;/span&gt;," begitu tulisan bernada memelas yang tercantum di situs web CJC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senam lantai dan akrobat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang kebanyakan, nama capoeira masih terasa asing. Meski bisa jadi pernah melihatnya, suatu saat entah di mana. Seni beladiri ini mendunia dengan bergerilya melalui film-film Hollywood atau permainan video Playstation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirinya segera terlihat dari gerakan kuda-kuda yang khas, disebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ginga&lt;/span&gt; (dibaca: jinga). Kedua kaki maju bergantian dengan tangan mengayun sebatas dada. Sekilas, gerakannya mirip pogo, tarian penggemar musik ska, yang beken di kalangan anak muda dua-tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memperagakan "jurus-jurus" atau bertarung, gerakan kaki capoerista tampak lebih dominan. Sering posisi kepala lebih rendah, hingga tubuh bertumpu pada tangan. Banyak pula gerakan yang merupakan variasi dari lompatan atau salto, hingga terlihat seperti perpaduan antara senam lantai dan akrobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertarungan, gerakan akrobatik digunakan sebagai dasar serangan. Sedang pukulannya bisa dilakukan dengan kepala, tangan, siku, lutut, atau kaki. Pada pertarungan bawah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ground fighting&lt;/span&gt;), capoeira dapat memberi tekanan berarti, meski tidak terlalu dapat memberi kuncian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti beladiri lain, capoeira tidak terlalu banyak melakukan gerakan tangan. Tidak pula mengenal senjata dalam pertarungan. Jika ada tongkat atau parang yang digunakan, itu bagian dari tari maculele. Tarian tradisional Brazil yang kadang dimainkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;capoerista&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan jadi tampak seperti adu akrobatik, capoeira pun jadi layak ditonton sebagai hiburan. Maklum, gerakan dasarnya memang tarian. Pemain begitu bebas berekspresi dan melakukan variasi gerakan. Terasa wajar pula jika kemudian ada yang meragukan keampuhannya dalam pertarungan gaya bebas, bila dibandingkan dengan beladiri dari Asia seperti karate atau taekwondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak semua orang setuju dengan pendapat itu. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paul Andrew Zellinger Steven&lt;/span&gt; (19), instruktur capoeira di Jakarta Selatan justru merasa menemukan kebebasan. "Kita bisa memadukan gerakan apa pun seindah mungkin. Tidak akan cepat bosan, lebih dinamis," kata penyuka berbagai olahraga beladiri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana dinamis semakin terasa saat peragaan pertarungan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;roda&lt;/span&gt; (hoda), arena berbentuk lingkaran. Selagi bertarung, sesama capoerista di sekeliling arena akan bernyanyi sambil bertepuk tangan diiringi berimbau, alat musik berbentuk busur berdawai tunggal. Nada-nada khasnya terasa mistis di tengah bunyi alat perkusi lain seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;atabaque&lt;/span&gt; (konga), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pandero&lt;/span&gt; (tamborin), dan&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;agog&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;o&lt;/span&gt; (mirip pipa berbentuk "u" vertikal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran musik, terutama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;berimbau&lt;/span&gt;, dalam hoda begitu sentral karena ia menentukan tempo nyanyian, yang juga menentukan pula sifat pertarungan, apakah keras atau bersahabat. Filosofinya, alat dari kayu bariba itu adalah "sentral" capoeira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar komplet, capoerista juga wajib melahap filosofi capoeira, yang banyak disarikan dari pola gerakan. Ajaran ini juga banyak diserap dari capoeira asli, atau disebut capoeira angola, yang masih hidup berdampingan dengan capoeira regional atau modern. Gerakan, musik, nyanyian, dan filosofi merupakan materi yang harus dikuasai untuk menentukan kenaikan "tingkat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minimal 20 tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kuatnya rasa persaudaraan di kalangan komunitas Afro-Brazilia turut mempengaruhi capoeira. Wujudnya adalah keterikatan antarsesama dalam satu perguruan atau disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grupo&lt;/span&gt;. Sebuah upaya para pendahulu yang agaknya dilakukan untuk mempertahankan budaya ini sebagai identitas asli bangsa Brazil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang dengan tingkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt; yang berhak membentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grupo&lt;/span&gt;. Tidak ada data pasti tentang jumlahnya, karena capoeira terus berkembang dalam pelbagai interpretasi masing-masing kelompok. Namun, Amerika Serikat menjadi domisili &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grupo&lt;/span&gt; terbanyak di luar Brazil. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Grupo&lt;/span&gt; terdekat dengan negeri kita berada di Australia yang merupakan cabang dari Grupo Bahia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Grupo&lt;/span&gt; menjadi induk ajaran dan sumber dari beraneka peraturan. Termasuk melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;batizado&lt;/span&gt;, ritual kenaikan dari tingkat pemula (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;beginner&lt;/span&gt;) ke tingkat selanjutnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Grupo&lt;/span&gt; pula yang melakukan ujian untuk kenaikan tingkat setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keunikannya, seseorang akan memperoleh "nama baptis" saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;batizado&lt;/span&gt;. Tradisi ini berasal dari kebiasaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;capoeirista&lt;/span&gt; menyamarkan identitas untuk mengecoh petugas keamanan di masa silam. Pemberian nama itu hak "prerogratif" sang mestre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sumbernya bisa dari apa saja. Tingkah laku, kebiasaan, atau ciri fisik yang bersangkutan," terang Andrew yang mengaku mempunyai nama Ratinho (baca: hacinyu), artinya bayi tikus. Menurut dia, seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt; yang memberi nama itu melihat berdasarkan tingkah laku dan rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan beladiri lain, capoeira tak mengenal sistem "sabuk". Tingkatan yang diterapkan hanya untuk memudahkan pengajaran. Misalnya pada Grupo Bahia, salah satu grupo terbesar dengan ribuan anggota di dunia, menerapkan sistem 16 tingkat mulai dari pemula hingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt;. Setiap tingkat dibedakan dengan tali di pinggang yang mengambil unsur warna bendera Brazil: hijau dan kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiripan dari semua grupo adalah dalam soal waktu belajar. Semakin tinggi tingkatnya, semakin lama proses belajarnya. Tingkat pemula memang cukup belajar enam bulan. Begitu ke tingkat berikutnya, masa belajarnya bertambah setengah hingga dua tahun. Untuk sampai tingkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mestre&lt;/span&gt; perlu minimal 20 tahun. "Capoeira ini sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;way of life&lt;/span&gt;. Bisa dikatakan, belajar capoeira tidak ada selesainya," jelas Yudhi berfilosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sampai luwes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti olahraga dengan aktivitas fisik lain, capoeira juga menawarkan kebugaran bagi peminatnya. Apalagi pada tahap awal latihan, banyak dilakukan gerakan aerobik, yaitu saat melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ginga&lt;/span&gt;. "Tarian" dasar ini wajib dikuasai sampai benar-benar luwes, selama kurang lebih enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal, CJC sudah memperkenalkan beberapa gerakan dasar, agar latihan terasa bervariasi. Seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bencao&lt;/span&gt; (tendangan ke bawah), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;armada&lt;/span&gt; (tendangan berputar rendah), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;quexiada&lt;/span&gt; (tendangan berputar tinggi), serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;esquiva&lt;/span&gt; (gerakan menghindar).&lt;br /&gt;Andrew bertutur, seorang pemula juga belajar gerakan dasar seperti berdiri dengan tangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;handstand&lt;/span&gt;), berputar ke samping (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cartwheel&lt;/span&gt;), kemudian posisi kayang dan salto. "Ini posisi dasar, agar bisa melakukan gerakan selanjutnya. Kalau dasarnya sudah tidak benar, selanjutnya susah," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko cidera tentu ada. Terutama pada otot-otot tangan, sekitar pinggang dan kaki. Biasa terjadi karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;capoerista&lt;/span&gt; kurang pemanasan atau nekat melakukan gerakan tertentu yang belum dikuasai benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan tangan juga menentukan. "Kekuatan tangan perempuan berbeda dengan laki-laki saat menahan beban. Akibatnya, (perempuan) bisa lebih lama waktu mempelajari suatu gerakan," kata Yudhi. Latihan bertahap dan berulang, katanya, perlu dilakukan agar orang tahu cara melakukan yang tepat bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, berdasar pengamatan para instruktur, beladiri ini efektif untuk memangkas kelebihan lemak tubuh. Kemungkinan penyebabnya, gerakan-gerakan dalam capoeira banyak mengandung unsur goyang samba, yang selama ini banyak dicomot untuk senam pelangsingan tubuh. "Penurunannya hampir sepuluh kilo dalam waktu dua bulan," kata Andrew berpromosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi pengamatan itu tidak salah. Namun, penurunan bobot badan juga harus memperhatikan dampak bagi kondisi tubuh pada umumnya. Anda tertarik mencoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NOMOR DUA SETELAH SEPAKBOLA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti budaya tradisional lain, sejarah perkembangan capoeira banyak dibiaskan pelbagai versi cerita. Yang pasti, akarnya adalah tarian tradisional Afrika yang dibawa ke Brazil, seiring arus kedatangan kaum budak pada abad ke-17. Para budak dipekerjakan di perkebunan tebu dan tembakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perbudakan, kolonial Portugis mendatangkan tak kurang empat juta budak yang diturunkan di tiga kota pelabuhan utama: Bahia, Recife, dan Rio de Janeiro. Mereka kebanyakan berasal dari suku berbeda, dan budaya suku Bantu (Angola, Kongo, Mosambik) diyakini sebagai dasar capoeira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian ini kian berkembang menjadi beladiri di tangan para budak yang melarikan diri. Terutama setelah Portugis mendapat serangan dari Belanda hingga pengawasan perkebunan melonggar. Salah satu tempat pelarian terkenal adalah Quilombo de Palmares. Sebuah desa dengan naungan pohon palem yang menjadi pusat perlawanan budak paling sengit masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, abolisi perbudakan di Brazil pada 1888 malah membuat kaum budak tidak mendapat tempat. Capoerista di kota-kota besar menjadi geng menakutkan dan terlibat tindak kriminal. Kemampuan mereka juga dimanfaatkan dalam konflik-konflik politik, terutama pada masa peralihan monarki ke republik pada akhir abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kelam capoeira perlahan terhapus saat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manuel dos Reis Machado&lt;/span&gt; atau dikenal dengan nama Mestre Bimba diizinkan mendirikan sekolah capoeira pada 1932. Pemerintah pun mengakui kiprahnya lima tahun kemudian. Mestre Bimba dikenal mengajarkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the regional fight from Bahia&lt;/span&gt;", yang dikenal capoeira regional atau modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bentuk asli capoeira yang dikenal dengan capoeira angola tetap lestari berkat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mestre Pastinha&lt;/span&gt; (Vincente Ferreira Pastinha). Pastinha mendirikan sekolah capoeira tradisional pada 1941. Dari sini banyak tergali filosofi capoeira. Namun, nasibnya tidak begitu beruntung karena adanya faktor politik. Pastinha terbuang dan meninggal secara menyedihkan di sebuah bilik kecil di usia 92 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha para mestre abad ke-20 tidak sia-sia. Seni beladiri ini ditetapkan sebagai olahraga nasional Brazil sejak 1974. Kepopulerannya disebut-sebut nomor dua setelah sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI Agustus 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan:&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;termasuk tulisan awal saya untuk Majalah INTISARI. sungguh sayang, enam tahun setelah saya tulis artikel ini, saya mendengar keluhan dari para pelopor capoeira di Indonesia, bahwa para aktivis olahraga ini sekarang lebih mementingkan unsur komersialnya saja. benar atau tidak, saya hanya bisa menyayangkan saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-6792563407028049214?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/6792563407028049214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=6792563407028049214' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6792563407028049214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/6792563407028049214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/05/capoeira-dari-brazilia-ke-nusantara.html' title='Capoeira, Dari Brazilia Ke Nusantara'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-4569760898855877629</id><published>2009-02-19T13:23:00.003+07:00</published><updated>2009-05-08T22:35:52.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sigit Pramono: Perenungan dari Balik Jendela Rana</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namanya lebih dikenal sebagai bankir andal, spesialis membenahi bank-bank bermasalah. Pernah menduduki sederet jabatan bergengsi: Presdir Bank Internasional Indonesia, Dirut Bank BNI, dan kini Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) serta Komisaris Independen Bank BCA. Di sela-sela kesibukannya, Sigit Pramono rupanya memilih untuk menyendiri dan merekam indahnya fenomena alam dengan kameranya. "Kita ini sangat kecil dan relatif," begitu perenungannya setelah bertahun-tahun menggeluti fotografi lanskap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau diskusi soal foto, saya bisa tahan berjam-jam lo!" seloroh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sigit Pramono&lt;/span&gt; saat menyambut kedatangan kami di rumahnya, kawasan Lebak Lestari, Jakarta Selatan. Sore itu penampilannya tampak begitu santai, jauh dari kesan formal seorang bankir. Mungkin kami termasuk beruntung karena ternyata cukup mudah untuk bertemu. Maklum, meski sudah tidak menduduki jabatan eksekutif puncak, masih banyak kesibukan yang menyita waktunya. Tapi kalau untuk urusan foto, "Sesibuk apa pun saya akan sempatkan waktu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki rumahnya yang tampak asri, pandangan mata kita akan langsung tersita pada sejumlah foto berbingkai melebar yang terpasang di beberapa bagian dinding. Foto-foto itu menggambarkan pemandangan alam dari sejumlah tempat di Indonesia yang mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Namun karena berformat panorama, dicetak dalam ukuran besar pula, kemegahan setiap gambar begitu terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari foto-foto itulah kita akan segera maklum tentang kecintaan yang amat dalam si empunya rumah terhadap fotografi, terutama fotografi lanskap. Sebuah cabang seni fotografi yang entah mengapa sangat jarang ditekuni di Indonesia. Sigit sendiri menduga, orang enggan karena dibutuhkan upaya lebih untuk bepergian ke berbagai tempat. "Sedangkan fashion photography bisa dilakukan di mana saja, bergengsi, gemerlap, imbalannya juga lebih besar," jelasnya tanpa bermaksud iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di tengah gemerlap fotografi era digital, foto-foto lanskap hadir dengan kekayaan batinnya sendiri. Panorama alam pegunungan, pantai, sungai, gurun, padang rumput, atau alam pedesaan, hadir dalam pesona dan kemegahan tersendiri. Melalui foto-foto semacam ini, kita seperti menjadi salah satu penyaksi keagungan ciptaan-Nya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terlihat lebih megah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan terhadap pemandangan alam tak lain berasal dari kehidupan masa kecil Sigit sebagai "anak desa". Lahir di Batang, Jawa Tengah, 14 November 1958, anak seorang pegawai jawatan pos ini kemudian menghabiskan masa kecilnya di Temanggung, Jawa Tengah. Dua kota berpanorama alam yang berbeda: pantai dan gunung, rupanya terekam kuat dalam memori kanak-kanaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak remaja, aktivitasnya juga banyak mengakrabi alam, seperti lintas alam atau naik gunung. Namun bukan hanya sekadar bercengkerama dengan hamparan luas karya Sang Pencipta, Sigit juga selalu menyempatkan diri untuk merekam segenap keindahan yang disaksikannya pada sebuah foto. Kamera pertamanya, Asahi Pentax K1000, kamera milik keluarga yang dipakai bergantian dengan saudara-saudaranya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya pada dunia fotografi rupanya tertanam kuat. Ini terbukti, meski ia terus meniti karir sebagai bankir, hobi itu tetap mendapat tempat dalam kehidupannya. Memotret menjadi bagian penting dari setiap perjalanannya ke berbagai tempat. Termasuk ketika pekerjaan membawa Sigit ke berbagai belahan dunia. Beberapa karya semasa perjalanan dinas, termuat dalam Viewpoints dan Bisikan Alam, dua buku tentang perjalanan fotografinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan jika saat ini minat Sigit mengendap pada fotografi lansekap. Menurut dia, foto pemandangan alam, apalagi jika tersaji dalam format panorama, akan terlihat lebih megah. Foto-foto semacam ini bukan hanya dinikmati pada keindahan objeknya. Detail gambar sebagai hasil dari lukisan cahaya di lensa, bisa menjadi sumber imajinasi tersendiri. Tak heran jika orang yang memandangnya akan berkhayal seandainya berada di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Sigit menggarap karya-karyanya dengan penuh dedikasi. Demi kualitas yang tidak bisa dikompromikan, ia banyak menggunakan kamera khusus panorama dengan film negatif ukuran 6 x 17 cm. Proses filmnya juga dilakukan di Singapura. Dengan modal yang meyakinkan itu, wajar jika foto-foto yang dihasilkan mencerminkan keseriusan yang maksimal dari seorang fotografer amatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu belakangan, karya-karyanya mulai diarahkan untuk pembuatan buku berisi fotografi lansekap alam Indonesia. Sebuah proyek yang dikatakannya sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat, mengingat buku semacam ini sangatlah jarang. Pilihan objeknya jatuh pada Bromo, yang menurut dia menyimpan kemegahan dan daya mistik luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang profesional sekalipun, mungkin akan sulit menandingi ketekunan Sigit saat menggarap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromo The Majestic Mystical Mountain&lt;/span&gt;, yang akhirnya terbit tahun 2008 itu. Selama dua tahun (2006-2007) setiap akhir pekan ia selalu menyambangi gunung dengan sejuta misteri itu. Kameranya seolah dapat menangkap setiap denyut nadi Bromo sepanjang tahun. Termasuk momen-momen yang hanya didapat melalui sebuah perencanaan, ditambah sesekali faktor keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada foto berjudul Sand Pattern misalnya, tergambarkan lautan pasir yang membentuk pola mirip ombak akibat tertiup angin. Pemandangan semacam itu hanya tercipta pada awal musim penghujan - sekitar bulan Oktober - saat angin meniup pasir hingga membentuk polanya, lalu pasir dipadatkan oleh turunnya hujan pertama. Dalam hitungan hari atau bahkan jam saja, pemandangan cantik itu akan segera hilang dihantam hujan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengasah kepekaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi fotografer dengan semangat seperti Sigit, memotret memang bukan lagi soal menekan tombol pembuka rana. Setiap citra diambil dengan "rasa". Dua fotografer dengan peralatan, waktu, bahkan titik lokasi pengambilan gambar yang sama, belum tentu menghasilkan foto yang sama. Karena sifatnya yang sangat subjektif, memotret menjadi mirip seperti sebuah perenungan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontemplasi dengan alam melalui medium kamera itu ternyata bisa menumbuhkan kepekaan tersendiri. Segala hal yang bersifat teknis dalam pemotretan, seperti pengukuran cahaya, framing, bahkan timing-nya, tidak lagi menjadi masalah yang berarti. Kepekaan itu bahkan kemudian ikut menjalar kepada hal-hal di balik pemotretan, seperti kondisi manusia atau alam di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukan pemotretan bertema human interest di salah satu kawasan kumuh di Jakarta, Sigit begitu tersentuh menyaksikan realitas kehidupan di tempat itu. Hatinya lalu tergerak untuk berbuat sesuatu dengan bantuan rekan-rekannya. Bersama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Corporate Social Responsibility&lt;/span&gt; (CSR) BNI, ia juga tergerak untuk berbuat sesuatu terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar Bromo, yang menurut dia tak luput dari ancaman kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit berpendapat, sebuah foto hendaknya juga bisa mengangkat persoalan, sehingga dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat luas yang melihatnya. Demikian halnya foto-foto lanskap yang dapat dilekatkan dengan isu-isu lingkungan. Dalam sejarahnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ansel Adams&lt;/span&gt; (1902-1984) fotografer lanskap kenamaan Amerika juga pernah berhasil menggerakkan masyarakat Amerika untuk peduli kepada lingkungan yang kala itu terancam industrialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotografi lanskap Indonesia, menurut Sigit, juga bisa mengarah kepada kepedulian terhadap konservasi alam. Namun konservasi dalam angan-angannya adalah sebuah upaya pelestarian yang sejalan dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. "Bukan cuma melarang masyarakat untuk menebang pohon, tapi juga mencarikan solusi untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka," tutur fotografer yang pernah menyumbangkan hasil lelang fotonya - senilai Rp 4,4 miliar - untuk dana pendidikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dunia fotografi, Sigit Pramono memang masih menyimpan sejuta mimpi. Beruntung sang istri, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Rahayu Kusindini&lt;/span&gt;, memaklumi kecintaannya yang kadang menyita banyak waktu dan energi itu. Malah kini kecintaannya itu sudah ditularkan pula kepada empat anak lelakinya yang tampak mulai senang memotret. Dari bagian terpenting dalam kehidupan pribadi, fotografi menjadi bagian penting dari keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-4569760898855877629?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/4569760898855877629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=4569760898855877629' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/4569760898855877629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/4569760898855877629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/02/sigit-pramono-perenungan-dari-balik.html' title='Sigit Pramono: Perenungan dari Balik Jendela Rana'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-1618186183116280774</id><published>2009-01-27T22:13:00.004+07:00</published><updated>2009-01-27T22:21:10.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Donita "Suster Ngesot": Indera Keenamnya Sering Bikin Repot</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dikaruniai kelebihan punya indera keenam, malah membuat aktris cantik pendatang baru ini sering kerepotan, merasa bingung, kesal, terus ujung-ujungnya jadi bete. Begitu sering ia melihat sosok-sosok dari dunia gaib dan sebangsanya. Di setiap tempat, setiap saat. Kalau memang bisa memilih, ia ingin jadi orang yang normal saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Noni Anissa Ramadhani&lt;/span&gt;. Tetapi cukup panggil dia, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Donita&lt;/span&gt;. Dara kelahiran Bandung yang kini berusia 18 tahun ini pelahan namanya mulai menanjak di jagat pertelevisian Indonesia. Berawal dari modeling, merambah ke model iklan, bermain sinetron, dan terakhir membintangi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suster Ngesot&lt;/span&gt;, sebuah film horor layar lebar yang kini masih beredar. Cerita film yang dibintanginya itu benar-benar bersentuhan dengan kemampuan inderawinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mungkin tidak akan menyangka jika gadis kinyis-kinyis berkulit putih ini seringkali harus berurusan dengan makhluk-makhluk dari dunia lain yang sosok dan bentuknya saja tidak terbayangkan oleh orang biasa. Ada yang seperti manusia biasa, tapi banyak pula yang aneh, mengerikan, atau menjijikkan. Kemampuan indera keenam Donita membuat mereka, para makhluk gaib itu, bisa dilihatnya di mana saja, dan kapan saja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Trauma ambulans&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Donita sudah merasakan kelebihan ini sejak kecil. Ketika itu, ia sering berkata kepada orangtuanya sambil menunjuk-nunjuk sesuatu yang terlihat ganjil. "Apa itu Ma?" tanya Donita. Tapi papa-mamanya tidak menanggapi. Kadang mereka malah berkata, "Ah, kamu enggak usah main-main."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hal seperti itu sering terjadi, tidak ada yang mau memberi penjelasan. Kebetulan orangtuanya tidak percaya pada hal-hal yang tidak kasat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa yang paling diingat Donita, saat ia kelas 2 SD dan berkunjung ke sebuah museum di Bandung bersama teman-teman sekolah. Kebetulan di museum yang bertema perjuangan itu ada sebuah mobil ambulans tua yang dipamerkan. Di dalam mobil ambulans, Donita seperti melihat banyak orang yang terluka berdarah-darah dan meminta tolong. Kontan ia menjerit-jerit ketakutan, menyebabkan semua temannya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya sungguh mencemaskan. Donita sakit panas selama tiga hari. Malah sampai sekarang, ia masih trauma dan takut melihat mobil ambulans. Setiap kali melihat ambulans, kejadian itu masih sering membayangi. Pengalaman buruk itu ditambah lagi, saat ayahnya meninggal, ia melihat sesosok bayangan perempuan yang jongkok di dalam mobil ambulans. "Aku juga pernah hampir menabrak, waktu belajar nyetir mobil, gara-gara ngeliat ambulans yang lewat," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indera keenam itu sempat "tertutup" ketika Donita beranjak remaja. "Tahu-tahu ketutup aja. Tidak ditutup sama orang pintar atau gimana gitu," tuturnya. Ia yang dulu sering sakit sehabis melihat makhluk-makhluk halus, bisa merasa lega. Akhirnya bisa merasakan juga sebagai orang normal, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi rupanya kesenangan itu tidak berlangsung lama. Semasa SMA, di tengah berlangsungnya pelajaran sekolah, tiba-tiba ia melihat sesosok anak kecil berlari-lari di dalam kelas. Ah! Donita terkejut bukan main. Siapa anak itu? Dan mengapa tidak ada teman-temannya yang melihatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, teman semejanya, yang juga dikaruniai indera keenam, ikut melihat. Keduanya sama-sama saling mencocokkan penglihatan mereka, bahwa anak kecil itu tidak memakai baju, hanya bercelana selutut, sedang bermain-main sendirian di dalam kelas yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, penglihatan gaib Donita muncul lagi. Dan rupanya berlangsung sampai sekarang. Ia menjadi semakin sering melihat sosok-sosok tertentu. Bentuknya bermacam-macam, dan ternyata tidak selalu menyeramkan. Malah kadang kelihatan aneh. Hanya saja, ia tidak mau menjelaskan detilnya, karena memang tidak selalu ingin memperhatikan mereka. "Suka males aja. Ngapain juga dilihat-lihatin terus," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teman kesurupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini Donita bersyukur, makhluk-makhluk itu tidak sampai mengusik. Di rumah orangtuanya di Bandung ia pernah melihat sesosok orang yang sudah tua. Atau, bayangan perempuan yang sedang duduk di meja rias kamarnya. Kini di rumah yang ditinggalinya di kawasan Bintaro, ada juga perempuan berbaju putih yang sering melintas. Tapi mereka seolah tidak mempedulikan Donita. Lagi pula si gadis sudah terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kemampuan itu bukan tidak ada yang memperhatikan. Suatu sore, sepulang sekolah di SMA, seorang lelaki tua mendatanginya dan bertanya-tanya soal kelebihannya itu. Donita yang pada dasarnya adalah pribadi yang ramah, menanggapinya dengan sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada obrolan singkat itu, Donita sempat membenarkan kemampuan indera penglihatannya. Tapi karena saat itu mobil kakak ipar yang menjemputnya sudah datang, penjelasan itu tidak dia lanjutkan. Ia langsung pamit pulang. Saat mobil meninggalkan area sekolah, ia sempat melirik ke arah lelaki tua tadi. Ternyata dia sudah tidak ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Donita, sejauh ini kemampuannya itu tidak ada gunanya sama sekali. Malah kadang terasa mengganggu. Seringkali, ia sering merasa melihat sesuatu, padahal orang lain tidak. Ia bisa secara tiba-tiba berkomentar sesuatu yang terdengar aneh di telinga orang lain. Misalnya, suatu hari ia berteriak, "Awas, jangan ditabrak!" karena merasa ada "orang" yang melintas di depan mobil yang ditumpanginya. Si pengemudi kaget, padahal ia tidak melihat apa-apa. Begitu juga orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada yang menyarankan agar Donita sekalian saja memperdalam kemampuan itu. Jadi paranormal atau tukang ramal. Siapa tahu, hasilnya bisa positif, untuk mengobati orang lain atau mengusir setan. Tapi ia tidak tertarik sama sekali. Kalau menurut cerita orangtuanya, memang nenek buyutnya punya kemampuan mengobati orang, tapi Donita tidak mau mengikuti jejak sang nenek buyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau soal ramal-meramal, kebetulan aktris yang kini sedang membintangi sinetron &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta Fitri &lt;/span&gt;ini tidak terlalu menyukainya. "Ngeramal itu artinya mendahului Tuhan. Kalau nanti Tuhan ternyata berkehendak lain, gimana?" tuturnya. Donita sesekali memang punya feeling terhadap sesuatu peristiwa yang akan terjadi, tapi tidak mau membuktikan apakah itu benar atau salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, kalau bertemu orang yang punya kepekaan indera seperti dirinya, Donita merasa senang. Ia seperti punya teman. Rasanya sedikit aman karena ada orang yang juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Biasanya dengan orang seperti itu, ia akan mencocokkan penglihatannya sekadar membuktikan keberadaan para makhluk halus itu. Selebihnya, "Dicuekin aja. Biarlah, mereka punya dunia sendiri, kok," begitu prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kadang terasa mengganggu, belakangan Donita mengaku sudah mulai terbiasa. Pekerjaan sebagai aktris sinetron yang harus selalu berpindah-pindah lokasi syuting juga membuatnya banyak menemui hal-hal baru. Pada saat Kisah mewawancarainya di lokasi syuting, di sebuah area perkantoran di Jakarta Timur, ia juga bisa melihat sesosok perempuan berbaju putih yang ada di sekitar tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Donita bermanfaat untuk mengingatkan para kru pembuat film atau sinetron, agar jangan mengusik tempat-tempat tertentu di lokasi syuting. Termasuk ketika syuting film Suster Ngesot, ia sempat mengingatkan teman-temannya untuk tidak bersikap sembarangan di sejumlah tempat. Tapi, meski mereka sudah berhati-hati di tempat itu, gangguan itu ternyata masih datang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya, ketika syuting di daerah Bogor, Donita sudah merasa ada bagian tertentu di lokasi itu yang tidak begitu ramah. Itu terbukti ketika salah seorang teman mainnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lia Waode,&lt;/span&gt; yang mencoba menelepon lewat ponsel, tidak mendapat nada sambung. "Tapi malah kedengeran ketawa perempuan cekikian," bisik Lia ke Donita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu pula, keduanya melihat ada sesosok perempuan berbaju putih berambut panjang di dekat mereka. Sosok itu menatap tajam ke arah mereka dan sepertinya marah. Lia yang ketakutan, sempat meminta tolong ke Donita, sebelum akhirnya malah kesurupan. "Waktu itu aku cuma bisa bantu doa aja," kata Donita yang akhirnya harus menemani Lia selama tiga jam kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Donita, anugerah Tuhan yang sangat istimewa ini sebenarnya tidak disesalinya. Hanya saja, karena di keluarga besarnya tidak ada yang punya kemampuan itu, jadi rasanya sedikit aneh. "Habis mau bagaimana lagi?" katanya pasrah. Tapi kalau seandainya boleh memilih, ia lebih suka menjadi orang normal yang tak bisa melihat arwah dan makhluk gaib di "dunia lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di : Majalah KISAH, Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-1618186183116280774?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/1618186183116280774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=1618186183116280774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/1618186183116280774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/1618186183116280774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/01/donita-suster-ngesot-indera-keenamnya.html' title='Donita &quot;Suster Ngesot&quot;: Indera Keenamnya Sering Bikin Repot'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-4932924358019071124</id><published>2009-01-27T21:52:00.004+07:00</published><updated>2009-01-27T22:11:05.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olahraga'/><title type='text'>Parkour, Lompat Yang Bukan Nekat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bak seekor kucing, sekelompok anak muda 20 tahunan berlari gesit di atap gedung tinggi. Gerakannya begitu lincah, seolah tak ada rintangan yang bisa menghalangi aksi mereka. Terjun dari ketinggian tiga meter, melompati pagar, merayap ke atas bangunan, atau melantingkan badan pun bakal dilakoni agar tetap bergerak dan berpindah tempat secara efisien. Inilah parkour, olahraga penuh aksi asal Prancis yang mulai diminati kaum muda di dunia. Anda boleh kagum dan merinding saat menyaksikannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sulit membayangkan seperti apa gerakan parkour, mungkin Anda bisa mengingat-ingat kembali aksi bintang film Hongkong, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jackie Chan&lt;/span&gt;. Bukan aksi pukul-pukulannya, tapi kegesitannya menggerakkan tubuh dan berakrobat. Biasanya itu dilakukan saat harus menangkis dan menghindar serangan penjahat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film, gerakan Jackie begitu gesit namun tetap lentur. Tubuhnya ringan seperti tak bertulang. Atau kalaupun harus jatuh, seperti punya nyawa cadangan. Aksi yang tingkat kesulitannya tinggi misalnya saat menaiki tembok dengan hanya bertumpu pada pijakan-pijakan kaki. Atau ketika terdesak, ia melompat dari gedung ke gedung tanpa memakai pengaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi dari aktor bernama asli &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kong San Chan&lt;/span&gt; itu contoh sebagian kecil dari parkour. Masih banyak atraksi mengagumkan lain yang bisa dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt;, begitu sebutan untuk praktisi parkour, yang intinya adalah cara bergerak seefisien mungkin. Bukan sekadar bergerak secepat-cepatnya, tapi juga dengan tenaga minimal dan langsung ke tujuan. Hasilnya sebuah seni bergerak yang efisien, gesit, dan indah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuh pemuda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah parkour, kita bisa melafalkannya "parkur" saja, itu sendiri juga lahir dari filosofi efisien tadi. Diambil dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parcours du combattant&lt;/span&gt;, suatu jenis latihan halang rintang dalam pendidikan militer di Prancis. Oleh pelopor olahraga ini, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;David Belle&lt;/span&gt;, lalu dimodifikasi dengan mengganti huruf "c" dengan "k" agar terkesan agresif dan menghilangkan huruf "s" agar efisien. Sesederhana itu memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, David, kelahiran Fecamp Prancis 29 April 1973, memang sangat tertarik pada latihan fisik ala militer yang terinspirasikan pengalaman &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Georges Herbet&lt;/span&gt;, seorang perwira angkatan laut Prancis ini. Bukan saja karena aksinya yang dinamis, namun menggunakan metode yang natural serta menyatu dengan lingkungan sekitar. Dari pengalamannya menolong ratusan orang di daerah bencana pada tahun 1902, Herbert berkesimpulan bahwa olahtubuh saja tidak akan cukup tanpa keberanian dan kepedulian pada sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David yang sejak kecil senang berolahraga ini mengenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parcours&lt;/span&gt; dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Raymond Belle&lt;/span&gt;, ayahnya yang bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Ia pun sebenarnya ingin bekerja seperti ayahnya itu, namun gagal gara-gara cedera. Sempat masuk sekolah militer, tapi kemudian keluar karena tidak cocok. Akhirnya dengan dukungan ayahnya, pada usia 16 tahun David meninggalkan sekolah untuk mengembangkan diri dan berkreasi. Lahirlah parkour yang antara lain dikembangkan bersama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebastien Foucan&lt;/span&gt;, teman masa kecil David.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parkour mulai mendunia setelah David bersama sejumlah rekannya membintangi film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yamakasi&lt;/span&gt;, tahun 2001. Film yang menampilkan aksi tujuh pemuda yang boleh dikatakan sebagai tim pelopor parkour ini rupanya begitu menginspirasi anak-anak muda. Kini komunitas parkour sudah tersebar merata di seluruh kota besar dunia. Aksi-aksi akrobatiknya juga sudah tampil di film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;James Bond: Casino Royale&lt;/span&gt;, video klip penyanyi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madonna&lt;/span&gt;, serta sejumlah iklan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkembangan yang pesat ini, David sebenarnya sudah layak dimasukkan dalam daftar selebritis dunia. Namun sikap rendah hati dan idealismenya ternyata begitu kuat. Ia misalnya memilih untuk tidak banyak tampil di muka publik dan banyak menghabiskan waktu untuk mengembangkan olahraga ini atau mendampingi para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt; pemula. Di pentas komersial, orang justru lebih mengenal aksi Sebastien Foucan, baik di film maupun iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi David, parkour bukan sekadar olahraga, tapi juga sebuah seni dari kehidupan masyarakat urban itu sendiri. Tak dipungkiri, ia bangga hasil kreasinya mulai mendunia, tapi tidak antusias terhadap berbagai bentuk komersialisasi terhadap parkour. Menanggapi video musik Madonna berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jump&lt;/span&gt; yang menampilkan aksi melompat ala parkour misalnya, David berkomentar singkat, "Dia cuma menggunakan parkour untuk menjual musiknya, bukan untuk mempromosikan parkour!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diri sendiri pelatih terbaik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari menonton Yamakasi pula, sejumlah anak muda Indonesia juga terinspirasi untuk ikut berjumpalitan menekuni parkour. Dari situs internet Komunitas Parkour Indonesia, diketahui setidaknya sudah ada lima kota yang mengadakan latihan rutin, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Umumnya usia mereka 17 - 25 tahunan yang dipertemukan dari forum di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta misalnya, komunitas ini rutin berlatih setiap Minggu di Gelanggangan Olahraga Sumantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan. Jumlah anggota komunitas memang belum begitu banyak, sekitar 20 orang, namun mereka tekun berlatih dengan segala keterbatasan. Untuk gerakan-gerakan dasar mereka pelajari dari video-video yang diunduh dari internet. Lalu di tempat latihan setiap anggota komunitas akan saling bertukar kemampuan. Yang senior membimbing juniornya, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan pembimbing khusus ini tidak menjadi masalah besar. Dalam keyakinan mereka, seni ini sesungguhnya muncul dari diri sendiri, sehingga pelatih terbaik adalah diri sendiri juga. Setiap orang sesungguhnya mampu bermain parkour karena memiliki potensinya masing-masing. "Yang badannya kecil, mungkin dia lincah. Kalau dia tinggi besar, mungkin dia kuat bergantungan. Potensi ini yang terus digali dan dilatih lagi," tutur &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhamad Fadli&lt;/span&gt; (26 tahun) praktisi parkour dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda memang ingin mulai berlatih, sebaiknya segera buang jauh-jauh pikiran untuk langsung bisa beraksi gagah-gagahan seperti di film. Fadli selalu menekankan pentingnya penguasaan tiga gerakan dasar pada tahap awal yaitu mendarat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;landing&lt;/span&gt;), keseimbangan berdiri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;balance&lt;/span&gt;) dan keseimbangan ala kucing (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cat balance&lt;/span&gt;). Tahap dasar ini pun sebenarnya tidak akan pernah "lulus", karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt; senior sekalipun masih harus terus menyempurnakan gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beraksi melewati sebuah rintangan, gerakan-gerakan dasar tadi akan digabungkan dengan gerakan lain yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Misalnya jika ingin menuruni sebuah tangga tanpa mau menapaki anak tangganya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; traceur&lt;/span&gt; cukup mengambil jalan pintas dengan cara melompat sambil berbalik 180&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;, bergelantungan di pegangan tangga, lalu mendarat di lantai bawah. Jika sudah terlatih, gerakan sederhana ini saja akan terlihat indah dan sangat efiesien karena lebih cepat sampai ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak teknik dan istilah di dalam parkour. Walau begitu, sebenarnya tidak ada satu teknik baku untuk melewati suatu rintangan tertentu. Bagi traceur, setiap rintangan menawarkan tantangan yang unik dan persoalan mereka adalah bagaimana menyelesaikannya secara efektif. Maka penyelesaian tantangan itu pun mungkin sifatnya akan sangat individual, tergantung orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut teorinya, teknik yang efektif kadang tergantung kepada kecepatan mengalihkan berat tubuh, memanfaatkan momentum gerakan tertentu atau kecepatan bermanuver. Tindakan itu kadang disertai juga dengan pengalihan energi, seperti misalnya saat kita mendarat dari lompatan yang tinggi, tubuh bisa melakukan roll untuk mengurangi beban pada kaki dan tulang belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semua teknik yang matang itu tidak akan berguna tanpa melibatkan unsur pikiran kita sendiri. Karena itu ada pula yang menyebut parkour bukan cuma mengelola fisik, melainkan pikiran. Setiap rintangan harus dilewati dengan yakin dan senyaman mungkin. "Bukan berarti lompat karena nekat, tapi karena kita sudah yakin bisa melakukannya," Fadli menekankan. Jurus percaya diri inilah yang menjadi alat pengaman bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt; saat beraksi. Maklum saja, meski melakukan gerakan-gerakan yang berisiko tinggi (tapi tidak mau disebut olahraga ekstrem!) parkour rupanya tidak mengenal alat pengaman sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lebih percaya diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keseriusan dan konsistensi dalam berlatih, mungkin saja akan semakin mematangkan teknik seseorang. Namun dalam parkour, pemahaman filosofi juga mendapat porsi yang tak kalah penting. Aksi dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt; yang sudah ahli mungkin saja akan mengundang decak kagum penonton. Namun yang utama sebenarnya bukan soal kehebatan atraksi dalam mengatasi rintangan, tapi bagaimana dapat melewatinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aktivitas berparkournya selama dua tahun ini, Fadli mengaku semakin bisa mengatasi persoalan hidupnya secara lebih baik. "Karena saya sekarang tidak fokus pada masalahnya, tapi bagaimana menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya dan efektif. Ini 'kan sebenarnya filosofinya parkour," tuturnya bersaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traceur&lt;/span&gt; lain menurut Fadli juga mengaku memetik manfaat tak terduga dari olahraga yang mungkin bagi orang lain terlihat cuma sekadar melompat-lompat saja. "Ada yang menjadi semakin percaya diri, karena gerakan parkour ternyata bisa mengalahkan rasa takutnya. Ada yang jadi lebih kreatif karena untuk melewati suatu rintangan, kita harus menggabung-gabungkan beberapa gerakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, dengan alasan menjaga esensi dari filosofi ini pula, komunitas parkour di dunia bersepakat untuk tidak menghalalkan persaingan di antara mereka. Di dalam parkour tidak ada pertandingan dan pemenang. Diyakini, kompetisi hanya akan memaksa setiap orang untuk melawan satu sama lain dan semua itu hanya akan mengubah mindset mereka tentang olahraga ini. Dan jika itu sudah terjadi, parkour akan kehilangan esensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di : Majalah INTISARI, Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;spesial thanx buat temen2 parkour jakarta: fadli, bhakti (sorry bro, nama elo gak ketulis), dll.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-4932924358019071124?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/4932924358019071124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=4932924358019071124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/4932924358019071124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/4932924358019071124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2009/01/parkour-lompat-yang-bukan-nekat.html' title='Parkour, Lompat Yang Bukan Nekat'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-78020884623773876</id><published>2008-12-27T02:27:00.004+07:00</published><updated>2008-12-28T01:36:28.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sex Toys Bukan Pengganti Pasangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nama kerennya sex toys. Namun, awas! Mainan yang satu ini bukan untuk anak-anak di bawah umur. Dalam kondisi tertentu bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan kepuasan bersama pasangan. Syaratnya, jangan kebablasan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan wartawan yang biasa malang melintang di dunia malam, mengibaratkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sex toys&lt;/span&gt; atau alat bantu seks bagai salep obat jerawat. Tidak pernah dipakai secara terang-terangan, tetapi banyak peminatnya. Di kalangan tertentu alat itu sudah banyak dipakai, meski sembunyi-sembunyi. Entah oleh pasangan yang sudah menikah maupun lajang. Entah heteroseksual ataupun homoseksual. "Kalangan orang terkenal, selebritis, atau artis juga ada," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena rasa malu atau alasan lain, pengguna alat bantu seks rata-rata tidak pernah mau membicarakannya secara terbuka. Mereka memandangnya sebagai urusan pribadi. Belum lagi, banyak yang tidak paham apakah benda-benda semacam itu dianggap barang legal atau ilegal. Sampai saat ini aturan hukum di negeri kita menyangkut keberadaan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sex toys&lt;/span&gt; belum jelas. Yang terang, beberapa kali terbetik berita, aparat Bea dan Cukai menggagalkan penyelundupan alat bantu seks di bandara maupun pelabuhan laut. Jadilah keberadaan alat ini seperti barang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kondisi seperti itu, jika ada yang ingin memilikinya, mereka membawanya dari luar negeri sebagai barang tentengan. Di negeri-negeri jiran macam Thailand atau Singapura benda-benda itu dijual bebas di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sex shop&lt;/span&gt;. Namun, sesampai di bandara kita, pasti akan langsung disita jika ketahuan oleh aparat Bea dan Cukai. Seperti ditulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, 19 Mei April 2005, dalam setahun belakangan, aparat Bea dan Cukai telah menyita 575 buah alat bantu seks yang dibawa secara perorangan maupun lewat kiriman paket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sepertinya tabu dan terlarang, ternyata untuk mendapatkan alat bantu seks di negeri sendiri tidak sulit. Simak saja iklan-iklannya yang terpampang bebas di media-media cetak tertentu. Alat-alat itu ditawarkan di tengah kerumunan iklan obat-obat keperkasaan. Ada "penis elektrik getar goyang", "penis elektrik maju mundur", "vagina getar goyang", atau "boneka full body 165 cm". Nama-nama imajinatif yang merupakan ciptaan penjualnya belaka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain alamat, pada iklan-iklan itu juga tertera nomor telepon. Dengan hanya berhalo-halo via telepon, pembeli bisa bertanya soal jenis barang, ketersediaan, sampai harganya.&lt;br /&gt;Ketika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Intisari&lt;/span&gt; mengecek lewat telepon, si penjual tak segan menjelaskan seluk beluk dagangannya seperti layaknya seorang telemarketer. Dalam kamus penjual, tersedia dua jenis barang yaitu vibrator untuk perempuan dan vaginator untuk lelaki. Harganya berkisar Rp 300.000. "Bahannya dari silikon. Bagus Pak, barang impor. Ada pelicinnya juga," kata penjual yang punya sebuah gerai di kawasan Kota, Jakarta, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika membeli lewat telepon, pembeli tidak bisa menilai barangnya lebih jauh dan harus percaya penuh pada penjelasan si penjual. "Lebih baik datang langsung saja, Pak. Harganya mungkin malah bisa kurang," saran penjual itu. Nanti sekiranya sudah melihat barangnya dan cocok, bisa pesan lagi lewat telepon. "Barang diantar ke rumah (pembeli) pakai ojek," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di internet, alat bantu seks juga ditawarkan lewat situs-situs web tertentu dari luar negeri. Setiap situs perdagangan online ini menawarkannya komplet dengan gambar, fungsi, dan harganya. Cukup menuliskan nomor kartu kredit, barang akan dikirim ke rumah melalui jasa antaran internasional. Namun, kalau pemesannya berada di Indonesia jangan harap pesanan sampai di rumah. Soalnya, barang sudah dicegat terlebih dahulu oleh Bea dan Cukai untuk disita tanpa pemberitahuan pada si pemesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, situs-situs web dalam negeri juga ikut menyemarakkan bisnis piranti pemuas syahwat ini secara terang-terangan. Kiriman memang sampai di alamat pemesan sesuai transaksi yang dilakukan secara online. Namun, setelah pihak kepolisian menggulung "HW", pengelola salah satu situs di Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa pedagang sejenis langsung tiarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelusuran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Intisari&lt;/span&gt; di kawasan Jakarta, sejak era Reformasi, alat bantu seks juga mulai ditawarkan secara terang-terangan di toko-toko obat khusus pengatrol keperkasaan pria. Untuk mengetahuinya mudah saja. Biasanya, toko yang menyediakannya akan mencantumkan kata "accessories" (atau kata-kata salah eja lain yang maksudnya 'aksesoris') di depan toko mereka. Alat yang rata-rata berupa dildo itu dipajang bersama obat-obatan lain seperti viagra, cialis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jenis alat ditawarkan mulai dari harga Rp 150.000,-, tapi masih bisa ditawar. "Semua impor, Pak! Dijamin asli," kata penjual di sebuah kios obat kuat di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika datang untuk pertama kali, pembeli biasanya akan bingung bercampur risih begitu melihat replika kelamin pria itu dipajang berjajar menantang, sehingga pembeli akan sedikit sulit menentukan pilihan. Apalagi situasi di sekitar toko belum tentu sepi. Namun, di depan toko biasanya tertera nomor telepon penjual yang bisa dihubungi. Dengan cara itu pembeli akan dilayani secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya di toko kecil, di toko-toko obat yang lebih besar dan di sejumlah pasar atau mal, juga tersedia. Cuma, pemilik toko tidak berani memajang terang-terangan sehingga pengunjung umum tidak menyadarinya. Misalnya, itu terjadi di toko-toko obat di kawasan Glodok, Jakarta Barat, atau sejumlah toko di mal yang menjual obat-obat tradisional impor dari Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak dipajang secara terbuka, jika ada peminat serius, biasanya pelayan toko akan meminta calon pembeli masuk ke areal penjual untuk bertemu langsung dengan pemilik toko. Lewat transaksi pribadi itulah di depan pembeli akan digelar berbagai jenis alat bantu seks. Namun, karena dilakukan sembunyi-sembunyi, pembeli mungkin tidak mendapat informasi memadai. Penjual juga tidak dapat menjelaskan lebih jauh tentang dagangannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pembeli benar-benar jeli, sebenarnya ada perbedaan antara alat bantu seks yang dijual di toko obat besar dengan di toko-toko pinggir jalan. Di toko obat besar biasanya tersedia banyak pilihan dan tampaknya lebih baik kualitasnya. Paling tidak itu terlihat dari kualitas kemasannya.&lt;br /&gt;Namun, jangan percaya 100% kalau dikatakan barang-barang dagangan itu barang impor. Terutama kalau kemasannya tampak kurang meyakinkan. Apalagi terbetik kabar bahwa alat-alat semacam itu konon sudah diproduksi di Jakarta dan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alat khusus dengan cara khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, tak salah jika keberadaan alat bantu seks selalu dikait-kaitkan dengan kebutuhan perempuan. Dilihat dari ragam bentuk yang umum ditawarkan di pasaran, dapat dipastikan penggunanya kebanyakan kaum hawa. Meskipun alat-alat berbentuk kelamin pria juga banyak digunakan di kalangan kaum gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beralasan jika perempuan banyak menggunakannya, karena lelaki lebih mudah terangsang dan gampang disalurkan. Waktu yang digunakan untuk mencapai orgasme pada lelaki, meski relatif, kebanyakan lebih cepat," jelas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Ryan Thamrin&lt;/span&gt;, dokter muda yang belakangan menggeluti permasalahan seks terutama pada kalangan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk sebuah survei di Amerika Serikat pada dekade 1990-an, Ryan mengungkapkan, hampir 70% wanita yang telah menikah ternyata mengaku tidak pernah orgasme. "Mereka sendiri yang tahu pasti bagaimana mendapatkan kepuasan. Karena itu alat bantu seks kadang mereka butuhkan," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokter yang pernah menjadi "cowok sampul" sebuah majalah remaja ini, bukan berarti lelaki tidak membutuhkan alat-alat bantu macam itu. Karena mudah mendapatkan orgasme, kebutuhan lelaki pada alat bantu seks itu menjadi tidak mendesak. Berbeda dengan perempuan tertentu yang kadang membutuhkan alat khusus melalui cara yang khusus pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski diyakini sudah banyak penggunanya, terutama di kota-kota besar, untuk mendapatkan pengakuan dari pasangan pengguna alat bantu seks bukan perkara gampang. Mereka memilih bungkam kalau ditanya. "Jangankan kepada majalah, sama dokter saja mereka enggak mau terus terang kalau mereka punya problem seks," kata Ryan yang pernah memandu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talkshow&lt;/span&gt; tentang seks di sebuah stasiun televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puluhan, bahkan mungkin ratusan ragam alat bantu seks, secara umum Ryan membaginya menjadi dua kelompok. Alat yang "aktif" dan yang "pasif". Di kalangan industri, yang "aktif" disebut vibrator (bergetar) dan yang "pasif" dinamai dildo (tanpa getar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vibrator digerakkan dengan tenaga listrik dari baterai atau aliran listrik rumah. Bentuknya beragam. Untuk perempuan mulai dari replika penis, batangan lonjong, bulat telur, atau seperti bentuk hewan tertentu. Dengan getaran lembutnya, alat-alat jenis vibrator biasanya digunakan untuk merangsang bagian-bagian tubuh tertentu sesuai dengan sensitivitas masing-masing pemakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena biasanya dipakai sendiri, vibrator lebih baik dalam menstimulasi bagian-bagian sensitif tubuh dibandingkan dengan tangan manusia. Dalam penawarannya, alat ini juga disarankan untuk perempuan yang ingin belajar mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dildo yang penggunaannya terutama dimasukkan ke dalam vagina atau anus bisa digunakan sendiri maupun dengan bantuan pasangan. Kebanyakan berbentuk replika penis atau bulatan lonjong. Vibrator berbentuk replika penis yang sedang tidak dinyalakan juga dapat digunakan sebagai dildo. Karena sama-sama alat bantu seks, sering orang salah mengartikan vibrator sebagai dildo atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria juga mengenal alat bantu seks berbentuk&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sex dolls&lt;/span&gt;, boneka seks. Alat ini bisa berupa boneka utuh seperti dakocan, boneka potongan pinggul wanita, atau bentuk potongan vagina. Tersedia untuk heteroseksual maupun homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dildo, mengamati ragam boneka seks juga tak kalah risih. Bentuknya amat variatif. Seperti bentuk pria-wanita dari pelbagai ras, berwajah bintang film, atau bahkan boneka binatang. Beberapa boneka dilengkapi fungsi getar untuk menambah sensasi si pemakai yang dikategorikan sebagai vibrator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian jenis dan peruntukan alat bantu seks sebenarnya sangat fleksibel. Ada pria tertentu yang memakai vibrator perempuan untuk merangsang daerah sekitar penis, anus, testis dan kerangkang (perineum). Pada kaum gay, dildo juga sering digunakan sebagai variasi saat berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi gangguan saraf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dildo atau semacam replika alat kelamin pria konon sudah ada sejak abad ketiga sebelum masehi dan menjadi lambang erotisme masa itu. Bangsa Yunani menyebutnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;olisboi&lt;/span&gt;, sebuah replika alat kelamin pria terbuat dari batu, kayu, atau kulit. Alat ini bahkan sempat berkembang menjadi bagian dari acara melukai vagina pada zaman jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Renaisans, orang Italia menyebut dildo sebagai dilletos dan sudah menggunakan minyak olive sebagai pelumasnya. Dildo mirip seperti yang ada sekarang dibuat pada masa Victoria di Inggris, yang terbuat dari karet. Kala itu dokter menggunakannya antara lain untuk menyembuhkan gangguan saraf pada perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini alat bantu seks mencatat perkembangan dahsyat, terutama setelah memasuki era vibrator yang mulai diperkenalkan pada dekade 1960-an. Tidak hanya bentuknya yang kian beragam, namun juga cara kerjanya yang spesifik dan canggih. Vibrator mulai dibedakan menurut tempatnya, apakah stimulasi payudara atau kemaluan. Perkembangan terbaru, alat ini juga sudah memasuki era cyber, di mana orang dapat saling merangsang ketika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt; di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bersifat pasif, dildo pun tak mau kalah. Bentuknya dibuat tidak melulu seperti alat vital pria, tapi juga didesain bermacam-macam, seperti ulat, lumba-lumba, atau lembu. Bahkan bahannya sudah terbuat dari cyberskin, ultraskin, eroskin atau softskin, campuran plastik, PVC, dan silikon. Teknologi yang dikembangkan NASA itu membuat dildo semakin halus, selembut kulit manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pasangan dicuekin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah "mulai diterima" masyarakat dan beredar lewat bermacam cara, dr. Ryan Thamrin tidak menyarankan penggunaan alat bantu seks. "Sebaiknya jangan, karena efeknya jangka panjang, yaitu bisa menggantikan pasangan yang sesungguhnya," demikian alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya vibrator atau dildo, kata Ryan, alat bantu jenis apa pun sesungguhnya dapat berakibat buruk. Misalkan, seperti seseorang yang memanfaatkan film porno sebagai pembangkit gairah sebelum berhubungan dengan pasangan. "Kalau suatu saat filmnya tidak ada, maka dia akan sulit terangsang. Malah, suatu saat mungkin pasangan menjadi tidak penting lagi ketimbang filmnya sendiri," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan alat bantu seks. Bila pernah menggunakan dan kemudian malah jadi kebiasaan, alat-alat itu bukan tidak mungkin perlahan-lahan akan menggeser posisi pasangan, bahkan menjadi objek utama. Pasangan lama-kelamaan bisa dicuekin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan alat bantu juga tidak dianjurkan meski dengan alasan-alasan tertentu yang sepintas masuk akal. Seperti salah satu pasangan sedang tidak bisa melakukan hubungan seksual, sedang berada di luar kota, sakit sementara, dan sebagainya. "Jika mencoba sendiri tanpa pasangan, lama-lama akan terbiasa, lalu pemakai itu mencapai titik di mana tidak membutuhkan pasangannya lagi," kata dokter berusia 28 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada orang-orang yang belum menikah atau lajang, sebaiknya juga dihindari. Tindakan itu berarti masturbasi dan dikhawatirkan dapat menyebabkan ketergantungan. Menurut Ryan, menggunakan dildo atau boneka seks memiliki perbedaan kenikmatan yang tipis dibandingkan dengan berhubungan seksual dengan pasangan. Meski tidak harus menjaga perasaan pasangan, kebiasaan bermasturbasi (apalagi dengan alat bantu) dan ketergantungan, dia tidak akan bisa menikmati hubungan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengukur tingkat ketergantungan itu mudah. Jika seseorang sudah mulai gelisah, tidak tahan, atau harus langsung disalurkan ketika ia melihat suatu yang syuur. "Kuncinya kejujuran si pemakai. Jika suatu saat merasakan sendiri ada pergeseran fungsi dari sekadar alat bantu menjadi alat utama, harus segera dihentikan!" papar dokter yang masih lajang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perbaiki komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan alat bantu seks dibolehkan bila pasangan mempunyai penyebab yang menghalangi dalam jangka panjang. Misalnya, ada gangguan penyakit atau penyebab lain yang tidak bisa diatasi segera, seperti penyakit yang harus dioperasi, kanker, depresi, dan lainnya. Gangguan ini harus benar-benar dipastikan dokter melalui pemeriksaan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab yang menghalangi itu bukan hanya dalam masalah dalam hubungan seksual biasa. Di tempat praktiknya, Ryan sering menemukan masalah seksual yang disebabkan faktor psikologis dan cukup membutuhkan penyelesaian tertentu seperti obat plasebo, atau malah memperbaiki komunikasi di antara pasangan. Masalah seperti ini tidak boleh diatasi dengan alat bantu seks.&lt;br /&gt;Namun, penggunaan itu pun ada syaratnya, yaitu mendapat persetujuan dari pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetujuan ini penting, karena banyak orang takut memprotes tindakan pasangannya, hanya karena merasa dirinya tidak berdaya. "Apalagi sifat perempuan Timur biasanya pasrah saja terhadap perlakuan suami," kata Ryan. Saat melakukannya, juga harus menjaga perasaan pasangan dan harus dilibatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat bantu seks dapat digunakan secara masturbasi mutualisma, yaitu tindakan memuaskan diri dengan dibantu pasangan. Misalnya, jika istri berhalangan, suami bisa melakukannya kepada boneka seks dibantu istrinya. "Jadi, ini sebenarnya masturbasi juga, tapi istri tetap bersikap erotis terhadap suaminya. Ini pun harus dilakukan dengan persetujuan pasangan. Sehingga tidak ada pemaksaan," pesan Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat bantu seks tidak dijadikan objek utama selama hubungan. Tandanya adalah pada frekuensi pemakaian. "Kalau dua bulan sekali, itu masih dalam batas wajar sebagai variasi dalam berhubungan," kata Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski belum mendengar pengakuan secara langsung, Ryan merasa yakin pemakai alat bantu seks punya perasaan bersalah. Ini juga termasuk perasaan bersalah pada masing-masing pasangan saat memakainya pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begini, apa enaknya menikmati seks dengan rasa waswas?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pastikan Keamanan dan Kebersihannya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana pun alat bantu seks bukan organ tubuh asli manusia. Karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaannya. Soal pelumasan, tetap harus diperhatikan keselarasannya dengan tubuh dan bahan pembuat alat itu sendiri, meski ada yang tersedia bersama alatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling aman adalah pelumas berbahan dasar air yang cocok untuk semua bahan pembuat alat bantu seks. Pelumas berbahan dasar minyak untuk dildo dari karet atau lateks. Jangan pula menggunakan pelumas berbahan dasar silikon untuk alat yang terbuat dari silikon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aman, pada orang tertentu dilaporkan terjadi infeksi vagina atau iritasi bila menggunakan pelumas berbahan dasar air yang mengandung gliserin atau silikon. Maka lakukan pengetesan dulu di kulit siku atau paha bagian dalam. Jika baik-baik saja, penggunaan bisa dilanjutkan.&lt;br /&gt;Alat bantu seks harus dijaga kebersihannya. Pada penggunaan pribadi (sendiri) aman-aman saja. Namun jika digunakan bergantian dengan orang lain, lapisi alat itu dengan kondom. Gantilah kondom begitu dipindahtangankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika alat bantu seks digunakan pada vagina dan anus secara bergantian, gantilah kondom pada masing-masing pemakaian. Bila perlu, basuhlah alat yang sudah dipakai pada anus, memakai sabun antibakteria dan air hangat atau pembersih khusus. Penggunaan alat pada anus sangat rawan terkena bakteri atau mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan infeksi pada vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di Majalah INTISARI edisi Healthy Sexual Life, Agustus 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-78020884623773876?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/78020884623773876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=78020884623773876' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/78020884623773876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/78020884623773876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/12/sex-toys-bukan-pengganti-pasangan.html' title='Sex Toys Bukan Pengganti Pasangan'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-2138544447014717675</id><published>2008-12-27T02:12:00.002+07:00</published><updated>2008-12-27T02:18:05.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Cermat Menyiagakan Dana Darurat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidup tidaklah selalu semulus jalan tol. Benar. Selalu ada kejadian di luar keinginan. Mendadak pula. Termasuk dalam perencanaan keuangan keluarga. Di sinilah pentingnya menyiapkan dana cadangan agar arus kas anggaran keluarga tak terganggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana anggaran dan belanja keluarga yang sudah tersusun rapi jali, bisa saja terganggu oleh hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Tiba-tiba kerabat menelepon minta bantuan biaya rumah sakit dan tiada yang bisa membantu selain kita. Kendaraan mendadak masuk bengkel karena rusak berat padahal sehari-hari sangat diperlukan. Uang pendidikan anak melonjak drastis dari perkiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dari mana sebaiknya kita mengambil uangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya orang mencukupi kebutuhan seperti ini dari uang tabungan atau harta lain yang cepat bisa dicairkan. Boleh-boleh saja. Apalagi kalau jumlahnya kebetulan tak seberapa dan ada jaminan uang itu bisa kembali pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perencana keuangan berpendapat, akan jauh lebih baik jika memang tersedia anggaran khusus untuk jaga-jaga menghadapi hal-hal macam ini. Jadi, neraca keuangan bulanan yang sudah direncanakan dan disepakati bersama pasangan, tak terganggu. Bolehlah pos anggaran semacam ini kita sebut "dana darurat".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga Sampai Sepuluh Kali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam rencana anggaran kepanitiaan suatu kegiatan, biasa tertera "biaya tak terduga" yang jumlahnya 10% dari seluruh rencana anggaran. Nah, dalam perencanaan keuangan keluarga, berapa persen dari penghasilan yang harus disisihkan untuk dana darurat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bicara tentang perencanaan keuangan, kita bisa serba salah. Jumlah penghasilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;take home pay &lt;/span&gt;yang terasa sudah sangat pas-pasan itu, harus diatur sedemikian rupa. Terutama harus cukup untuk kebutuhan hidup selama sebulan, plus membayar utang (jika ada), menabung, merencanakan investasi, dan membayar asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dari mana sumber untuk dana darurat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diketahui, pos untuk dana tak terduga ini tidaklah sama dengan pos-pos pengeluaran rutin setiap bulan. Perencana keuangan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhamad Ichsan CFP&lt;/span&gt;, di Jakarta, mengatakan, dana ini seharusnya sudah ada di tempat tersendiri yang terpisah dari arus kas kita setiap bulan. Sifatnya hanya cadangan. Digunakan kalau memang benar-benar diperlukan dan tidak boleh diutak-atik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya dana darurat tak tergantung pada penghasilan, tapi berpatok pada pengeluaran bulanan kita. Siapkan saja 3-10 kali pengeluaran bulanan. Tentu pengeluaran yang sudah diatur lewat sebuah perencanaan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah dana darurat bergantung juga pada kepastian penghasilan yang bisa didapat setiap bulan. Pada orang-orang berpenghasilan teratur, misalnya karyawan bergaji tetap, jumlah cadangan boleh sekitar tiga kali pengeluaran. Sedangkan untuk pekerjaan bersifat profesi atau temporer dengan penghasilan tak pasti seperti wirausaha, perancang busana, arsitek, pemborong, seniman, atau artis, sebaiknya mencapai 6-10 kali pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada pekerjaan berpenghasilan tak tetap, tidak bisa diperkirakan jumlah yang diterima setiap bulan. Kadang bisa besar kalau dapat proyek. Tapi saat tiada penghasilan, tetap ada kebutuhan yang harus dipenuhi kan?" tutur pria yang menyelesaikan studi pascasarjana di American University, Washington, D.C., ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dana ini ditempatkan dalam bentuk uang atau harta yang sifatnya cair sehingga bisa diuangkan segera. Tapi sebaiknya bukan uang yang disimpan di bawah bantal, karena ada risiko kehilangan. Pilihannya bisa dalam bentuk tabungan, deposito berjangka pendek atau reksadana pasar uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menaruh uang di tempat yang tak mudah dijangkau ini penting. Karena kalau begitu mudah diambil, bukan tak mungkin kita mudah tergoda "meminjamnya" untuk kebutuhan yang bersifat bukan darurat. Maunya buat darurat, malah bisa jadi gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal penggunaannya, Ichsan menyarankan, pastikan bahwa penggunaannya memang benar untuk hal mendesak yang harus dipenuhi saat itu juga. Sebab jika masih bisa ditunda, akan lebih baik jika dimasukkan dalam pengeluaran bulan berikutnya. Lebih baik dana darurat ini tetap utuh untuk jaga-jaga akan hal tak terduga lain yang mungkin lebih mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalam Waktu Sesingkat-singkatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, soal mengatur dan mengelola dana darurat semacam ini kedengarannya mudah dipahami. Tapi kalau giliran harus dipraktikkan "percayalah" sama sama sekali tidak mudah. Dibutuhkan suatu perencanaan matang, pengawasan ketat dan kedisiplinan melaksanakannya. Sayangnya, kata Ichsan, orang Indonesia tidak terbiasa menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ichsan mengamati, kelemahan sebagian masyarakat kita adalah merasa berhak menggunakan seluruh penghasilannya untuk dikonsumsi. Dari seluruh penghasilan take home pay, semua bebas dikonsumsi. Bahkan kalau perlu boleh habis dalam tempo sesingkat-singkatnya di awal bulan. Kalau kurang? Ya ngutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang mungkin merasa sudah bekerja keras, jadi merasa berhak menikmati jerih payahnya," kata Ichsan tentang kecenderungan konsumtif kebanyakan orang, termasuk sejumlah client-nya. "Kalau sudah begitu, jangankan dana darurat, untuk tabungan atau asuransi saja akan sangat berat. Umumnya orang seperti itu tidak punya bayangan apa yang akan dilakukan 10 atau 15 tahun ke depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang juga sering salah mengartikan dana darurat sebagai sumber dana dari mana saja yang bisa didapat sewaktu-waktu. Misalnya dana dari utangan kartu kredit, atau malah pinjaman dari rentenir si pembiak uang. Oke, kalau yang lebih lunak, bisa juga mengandalkan bantuan langsung tunai dari orangtua atau saudara. Apakah ini termasuk dana darurat juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ichsan, dana semacam ini sifatnya memang cair karena bisa diperoleh kapan saja. Tapi kalau judulnya saja sudah utang, tetap harus dibayar. Lagi-lagi, akibatnya bisa membebani arus kas pada bulan berikutnya. Apalagi biasanya utang selalu dikenai bunga tinggi, malah kadang bunga-berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan keuangan dari pihak keluarga, seperti orangtua atau kakak, juga mempunyai kelemahan yaitu menyebabkan ketergantungan. Uang hibah ini juga membuat seseorang berada di posisi nyaman di luar dari kemampuannya sendiri. Aslinya dia tidak mampu, tapi selalu merasa sanggup karena selalu disumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengalaman Ichsan, saat ini tak sedikit orang yang hidupnya masih mengandalkan bantuan orangtua. Padahal secara keuangan sebenarnya mandiri untuk mencukupi kebutuhannya. Tapi akibat adanya bantuan, ia bisa bergaya hidup melebihi penghasilannya. Celakanya, orang itu kadang tak menyadari bahwa dalam segala pemenuhan kebutuhannya, ada faktor orang lain di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ada sebuah keluarga yang selalu merencanakan untuk liburan ke luar negeri setiap tahun. Padahal kalau dilihat dari jumlah penghasilannya, paling hebat bisa membayar ongkos pesawat saja. Untuk penginapan dan sebagainya, berasal dari kocek orangtua. Atau ketika sang cucu ingin didaftarkan ke sekolah biasa, kakek-neneknya ikut campur dengan membayari uang pendaftaran ke sekolah yang favorit dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja si pemberi bantuan memang mampu, bahkan kemampuannya bisa saja berlebih. Tapi menurut Ichsan, tetap saja sifatnya tidak pasti. Yang lebih penting lagi, jika terus menerus memperoleh bantuan, orang itu tidak dapat merencanakan pengaturan keuangannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Darurat Berarti Reguler&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya bantuan yang harus diberikan untuk orang lain, sifatnya bukan cuma sewaktu-waktu, melainkan rutin setiap bulan. Jumlahnya juga cukup besar dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena menjadi kebutuhan bagi yang bersangkutan. Seperti bantuan kepada orangtua yang hanya mengandalkan penghasilan dari pensiun. Atau memberi dana khusus untuk perawatan kesehatan bagi keluarga yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang reguler, bantuan semacam ini tidak termasuk dalam pos dana darurat, tapi sudah masuk dalam pos pengeluaran rutin setiap bulan. Karena itu Ichsan menyarankan untuk memasukkannya ke dalam rencana keuangan bulanan. Artinya juga, jumlah dan peruntukannya harus dibicarakan serta mendapat persetujuan dari pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang mengeluarkan dana semacam ini, acapkali sulit untuk menolaknya. Apalagi jika bantuan yang diberikan merupakan pemenuhan kebutuhan orang yang dibantu. Tidak ada kiriman, berarti tidak makan. Terhadap hal ini Ichsan hanya menyarankan agar diprioritaskan pemenuhan kebutuhan sendiri terlebih dahulu, baru untuk membantu orang lain. "Untuk itu perlu dikomunikasikan antara suami dan istri," Ichsan mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak mengganggu rencana keuangan keluarga, cara terbaik menghadapi kebutuhan semacam ini, saran Ichsan, potonglah terlebih dahulu dari penghasilan kita. Jika sudah teranggarkan rutin, gaya hidup kita sudah menyesuaikan diri dengan jumlah penghasilan yang sudah terpotong tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Dapat Diambil dari Dana Darurat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Keluarga yang membutuhkan bantuan keuangan sewaktu-waktu (tak rutin).&lt;br /&gt;- Kerusakan kendaraan, rumah, atau barang bersifat vital dan diperlukan sehari-hari.&lt;br /&gt;- Menalangi pembayaran biaya rumah sakit sebelum ditebus ke asuransi.&lt;br /&gt;- Adanya tagihan tertentu atau kelebihan tagihan yang tak diperkirakan pada bulan sebelumnya, misalnya biaya telepon membengkak, pajak yang harus segera dibayar, dsb.&lt;br /&gt;- Perhitungan yang meleset dari estimasi pengeluaran yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya kenaikan harga BBM yang mendadak di tengah bulan, yang memicu kenaikan harga lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di Majalah INTISARI, Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-2138544447014717675?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/2138544447014717675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=2138544447014717675' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2138544447014717675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/2138544447014717675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/12/cermat-menyiagakan-dana-darurat.html' title='Cermat Menyiagakan Dana Darurat'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5462985124414308756</id><published>2008-12-03T00:33:00.006+07:00</published><updated>2008-12-17T14:45:55.251+07:00</updated><title type='text'>Terlahir Kembali Dengan Pensiun Dini</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berhenti bekerja pada usia produktif bisa menjadi peristiwa menakutkan dalam hidup seseorang. Tapi dengan modal persiapan dan bekal yang cukup, justru banyak hal yang bisa dilakukan pada masa pensiun dini. Bagaimana kita menyiasati hari-hari panjang itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mak nyuss!" Begitu kata yang sering terucap dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bondan Winarno&lt;/span&gt;. Kata yang aslinya ia kutip dari tulisan-tulisannya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umar Kayam&lt;/span&gt; itu, dipopulerkannya lewat sebuah acara wisata kuliner di sebuah stasiun televisi swasta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pokoke&lt;/span&gt; mak nyuss, pokoknya enak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;banget&lt;/span&gt;, begitu kira-kira artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma lantaran Bondan begitu fasih berbicara soal cita rasa, pemirsa televisi mungkin juga merasa iri dengan pekerjaannya sebagai seorang pembawa acara, tukang icip-icip makanan, sekaligus bisa jalan-jalan - bahkan sampai ke luar negeri. Pemirsa mungkin akan lebih iri lagi, jika mengetahui sebenarnya Bondan tidak bekerja, tapi hanya menjalankan hobi. Sebenarnya ia sudah pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2003, Bondan memutuskan berhenti total dari segala rutinitas kerja kantoran pada usia 53 tahun. Usia yang tergolong muda di tengah kariernya yang tengah menanjak. Jabatan terakhirnya, Pemimpin Redaksi di sebuah surat kabar sore. Kesibukannya kini hanyalah berolahraga pagi, menjelajah internet untuk buka e-mail atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt;, lalu sisa waktunya untuk menulis. "Sekarang saya merasa tenang dan lebih sehat," katanya sembari menatap kehijauan lapangan golf di samping rumahnya, di kawasan Sentul Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutuskan berhenti bekerja di usia yang masih terhitung produktif, menurut pria kelahiran Surabaya yang besar di Semarang ini, sungguh sulit. Ada saja penghalangnya. Terutama dari teman-teman yang mengajak mengurusi berbagai bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Bondan terlanjur bertekad ingin menikmati hidup, terutama setelah semua anaknya menikah dan meninggalkan rumah. "Selama bekerja kantoran dulu, waktu untuk keluarga rasanya kurang. Sekaranglah kesempatannya," jelas kakek enam cucu ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Guncangan emosional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita tentang hidup seorang pensiunan, sepintas memang terasa asyik. Sehari-hari hidup mereka tampak begitu tenang. Cerita-cerita indah selalu bertaburan. Namun, situasi itu ternyata tidak berlaku bagi semua orang. Mereka yang terbiasa aktif, masa pensiun bisa menjadi hal paling menakutkan. Irama kerja, status, bahkan pemasukan yang sebelumnya serba pasti, mendadak berubah. Hidup seolah jadi sesuatu yang berbeda dari sediakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak terbayangkan jika kata "pensiun" tadi harus dihadapkan kepada pekerja berusia muda dan produktif. Dunia seperti dijungkirbalikkan, berubah 180 derajat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meta Trisasanti&lt;/span&gt;, konsultan sumber daya manusia dari DBM Indonesia, membenarkan bahwa akan timbul guncangan emosional dari seseorang yang mengalami perubahan dalam hidupnya. Apalagi jika masa pensiun dipercepat dari usia kelaziman di sekitarnya, atau biasa disebut sebagai pensiun dini. "Karena itu mental harus disiapkan," jelas Meta tentang kiat menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Meta, pensiun dini bisa terjadi karena dua hal, yaitu atas kehendak sendiri atau karena tuntutan keadaan. Seseorang yang mengajukan pensiun secara sukarela tentu secara mental lebih siap, karena tindakan itu merupakan pilihan hidupnya. Namun, bagi mereka yang berhenti bekerja karena terpaksa, akan timbul rasa terkejut, kecewa, atau bahkan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang harus disadari para pekerja saat ini, pensiun dini terkadang menjadi hal yang tidak terhindarkan. Berbagai situasi bisa terjadi di luar perkiraan, hingga berakibat pada dunia usaha. Misalnya, kondisi perekonomian yang tidak menentu, perbedaan kurs mata uang yang tajam, kenaikan harga bahan bakar, atau persaingan usaha. Ujung-ujungnya, perusahaan tempat seseorang bekerja akan ikut terkena dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan di dalam diri karyawan itu sendiri, akibatnya juga tak kalah dahsyat. Pada suatu masa tertentu, seseorang bisa saja merasa lelah dan jenuh menghadapi pekerjaan sehari-hari. Pekerja seperti ini seolah telah kehilangan motivasi. Celakanya, untuk menghadapi pensiun dini, dia tidak berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan yang kehilangan motivasi, menurut Meta, terlihat dari kinerjanya. Paling sederhana adalah soal presensi. Dia akan sering mangkir kerja dengan alasan sakit atau sering tidak terlihat ada di kantor. "Situasi ini harus diselesaikan, karena merugikan perusahaan dan sesungguhnya juga pekerja itu sendiri," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pensiun jangan dijadikan cara untuk menyelesaikan persoalan sesaat. Misalnya, mengajukan pensiun dini karena emosi atau tidak cocok dengan atasan. Atau karena berharap mendapat pesangon dan akan digunakan untuk membayar utang. Terhadap segala macam persoalan karyawan, perusahaan yang jeli biasanya akan melibatkan seorang konsultan SDM untuk menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ubah persepsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang menghadapi pensiun dini karena penyebab apa pun harus mempersiapkan diri. Persiapan tidak melulu soal menghadapi hari-hari berakhirnya pekerjaan, namun termasuk juga cara mengisi hari-hari mendatang atau bahkan kemungkinan melanjutkan karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang harus diubah adalah persepsi pensiun itu sendiri. Pensiun dini bukanlah akhir, tapi lebih tepat seperti 'terlahir kembali'. Kita hanya berhenti bekerja di satu perusahaan, tapi tidak berhenti beraktivitas. Modalnya, kemampuan dan pengalaman yang telah didapat di pekerjaan terdahulu," jelas Meta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini seseorang calon pensiunan akan bisa melanjutkan hidupnya dengan mengenali potensi diri. Perusahaan yang peduli pada karyawannya biasanya akan melibatkan konsultan SDM untuk menggali potensi karyawannya yang akan pensiun. Lewat pelatihan, seorang calon pensiunan diajak melihat hal-hal positif yang akan dihadapinya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang sebenarnya bisa mengetahui potensi dirinya dengan cara mudah, yaitu berdasarkan minat yang dirasakannya selama ini. Misalnya, apakah seseorang menulis, memasak, pekerjaan bengkel, mengajar, dsb. Semua dapat dijadikan modal untuk memulai sebuah pekerjaan baru tanpa harus terikat pada orang lain atau organisasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari pensiunnya, Bondan Winarno mengaku dapat lebih berkonsentrasi menulis. Kini ia lebih banyak menulis buku, bahkan dengan kualitas yang menurut dia jauh lebih baik. Ia merasa lebih puas pada karya-karyanya sekarang karena dihasilkan dalam suasana yang lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensiun bagi Bondan hanyalah mengubah jalur pekerjaan dari "jalur cepat" ke "jalur lambat". Dengan berpensiun, ia juga bisa melakukan banyak hal yang dulu tidak sempat dilakukan, termasuk memberi perhatian kepada orang-orang di sekitar. Dikejar-kejar pekerjaan, menurut dia, menghilangkan kesempatan untuk bersosialisasi. Sesuatu yang menurutnya sangat berharga dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penghasilan saya sekarang malah justru lebih bagus dibanding masih aktif bekerja di kantor dulu, karena ternyata malah banyak yang bisa dikerjakan," aku penulis masalah-masalah manajemen ini tanpa bermaksud meninggikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peluang baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin dipandang optimistis, seorang pensiunan dini sebenarnya mempunyai peluang besar untuk mewujudkan keinginan terpendamnya. Masa pensiun juga dijadikan awal untuk mencoba hal baru yang mungkin lebih menggairahkan. Bahkan pengalaman baru ini bisa saja menghasilkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa cukup setelah meniti karier selama 13 tahun sebagai wartawan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jubing Kristanto&lt;/span&gt; akhirnya memutuskan untuk mewujudkan keinginan lama sebagai musisi gitar. Kini, hari-harinya kembali cerah. Kesibukannya sehari-hari tak jauh-jauh dari urusan musik. Mengajar, memberi seminar, menulis artikel, atau tampil dalam pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang dunia musik lebih bergairah dibanding beberapa tahun lalu. Les musik dibanjiri peminat. Orang menyadari manfaat musik," ungkap Jubing tentang keberaniannya memensiunkan diri dan banting setir ke bidang lain. "Kalau bekerja di bidang yang dulu, rasanya sudah tidak sanggup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenekatan Jubing bukan tanpa bekal. Semasa kecil di Semarang, ia sudah terpikat pada gitar, terutama gitar klasik. Empat kali ia juara pertama pada festival tingkat nasional dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;runner up&lt;/span&gt; tingkat ASEAN. Kuliahnya di Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia juga dibiayai dari memberi les privat gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang masa pensiun, Jubing mempersiapkan diri dengan mengambil ijazah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grade&lt;/span&gt; tiga. Ijazah langka yang memberinya bekal untuk mengajar para guru gitar dan memberikan seminar. "Di Indonesia cuma ada empat orang yang punya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula Jubing sadar bahwa pilihannya pensiun dini mempunyai konsekuensi terhadap penghasilan. "Jumlahnya memang turun," akunya. Namun, atas izin istri, juga orangtua, hal itu tidak menjadi masalah besar. "Asalkan masih bisa hidup layak. Selain itu pekerjaan baru ini juga bisa dilakukan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fun&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pengalamannya, Meta mengungkapkan, beralih profesi kadang malah tidak bisa dihindari di saat seseorang terkena pensiun dini. Terutama jika saat seseorang harus keluar dari pekerjaannya, tapi tidak mudah mendapatkan pekerjaan baru. Sebab, tenaga-tenaga muda yang lebih dinamis dan memiliki kemampuan lebih telah menguasai bursa kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengamatan Meta di DBM, kalangan pekerja kelas bawah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blue collar&lt;/span&gt;) justru lebih siap menghadapi perubahan profesi. Pekerja berpenghasilan setara UMR umumnya memiliki usaha sampingan yang memberi sumbangan pemasukan tidak sedikit. Ketika harus terkena rasionalisasi, bermodalkan pesangon, mereka tinggal mengembangkan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbeda dengan pekerja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;white collar&lt;/span&gt; yang sangat tergantung pada penghasilan rutin. Selain gaya hidupnya juga lebih tinggi, mereka juga tidak berani mencoba berusaha," jelas Meta.&lt;br /&gt;Pada pelatihan-pelatihan persiapan pensiun oleh konsultan SDM, peserta biasanya diajak untuk mengembangkan diri dengan cara berwirausaha. Di pelatihan juga ditekankan bahwa wirausaha tidak harus selalu dikerjakan sendiri. Pensiunan bisa menanamkan modal dalam bentuk usaha franchise yang kini banyak ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti, sesungguhnya banyak hal yang bisa dikerjakan pada masa pensiun. Hilangkan kekhawatiran, dan mulailah berkarya (lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;stok tulisan yg belum diterbitkan. dilarang mengcopy/mengutip tanpa izin penulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5462985124414308756?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5462985124414308756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5462985124414308756' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5462985124414308756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5462985124414308756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/12/terlahir-kembali-dengan-pensiun-dini.html' title='Terlahir Kembali Dengan Pensiun Dini'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5379342176684985970</id><published>2008-11-29T00:08:00.005+07:00</published><updated>2008-11-29T00:17:04.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dalam Ereksi Kuat Terdapat Tubuh Sehat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Walaupun kasus disfungsi ereksi (DE) banyak terjadi di kalangan pria, tak banyak di antara mereka yang mau mengakuinya, atau mencari pengobatan. Akibatnya, DE bukan saja menjadi masalah kronis yang diderita pria, tapi juga membuat wanita nelangsa. Karenanya, jangan sepelekan DE, karena ereksi merupakan indikator kesehatan secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang profesional yang tinggal di Jakarta, sebut saja namanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bram&lt;/span&gt;, setengah tahun belakangan menghadapi masalah besar. Di usianya yang telah menginjak 40 tahun, ia merasa mulai tidak mampu membahagiakan pasangan hidupnya. Bukan persoalan materi - karena untuk soal yang satu ini, justru terus meningkat seiring kariernya yang melesat - tapi masalah kemampuan organ "vital"-nya dalam menjalankan kewajiban di atas ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah dirasakan saat ia dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewi&lt;/span&gt;, istrinya, ingin berhubungan intim. Ketika Bram akan melakukan penetrasi, perlahan "senjata"-nya seperti kehilangan tenaga. Diusahakan sedemikian rupa, tapi hasilnya nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, kejadiannya lain. Di saat sudah dalam status "siaga", ternyata penisnya tidak cukup punya tenaga untuk melakukan penetrasi. Bram agak panik dan tertekan, dan biasanya lalu memilih untuk membatalkan acara malam itu. Lewat senyuman kecilnya, Dewi memaklumi keadaan itu dan berusaha menenangkan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian lama berkubang dalam masalah, Bram merasa tidak tenang. Ia dilanda ketakutan tidak bakal mampu membahagiakan istrinya lagi. Di hati kecilnya, terbersit pula kekhawatiran istrinya akan mencari kepuasan alternatif di luar dirinya. Serba salah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Organik makin tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bram memang termasuk menderita disfungsi ereksi (DE) yang dulu populer dengan istilah impotensi. Ini keadaan ketika penis tidak bisa berfungsi normal untuk melakukan penetrasi atau malah tidak ereksi sama sekali. Tentu ini menjadi masalah besar dalam hubungan suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, derita itu sebaiknya tak perlu ditanggapi begitu rupa hingga menimbulkan stres. Kondisi stres justru bisa mempersulit pemulihan. Bram pasti tidak tidak sendirian. Sebagai gambaran, dalam American Journal of Epidemiology, jurnal kesehatan di Amerika Serikat (AS, 2002), terungkap sekitar 20 - 46% lelaki (sekitar 5 - 30 juta orang) berusia 40 - 69 tahun di AS mengalami DE moderat (terjadi kadang-kadang) atau DE komplet (tidak mau ereksi sama sekali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab gangguan khusus pada pria ini bisa karena dua faktor, yaitu fisik dan psikologis. Secara fisik, bisa karena faktor hormonal, gangguan persarafan, gangguan aliran darah, atau karena pemakaian zat kimia tertentu. Sedangkan secara psikologis, disebabkan oleh depresi, stres, kecemasan, atau malah adanya pemahaman yang keliru tentang arti "kejantanan" itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah jika DE lalu dicap sebagai penyakit kaum manula, atau mereka yang telah berusia 41 tahun ke atas. Umumnya disebabkan faktor fisik yang biasa disebut gangguan organik. Sedangkan pada penderita yang berusia lebih muda umumnya lebih banyak disebabkan faktor psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menengok data dari On Clinic, sebuah klinik khusus DE di Jakarta, kebanyakan pasien diketahui mengalami juga penyakit seperti kencing manis, hipertensi, atau hiperkolesterol. "Makin ke sini, penyebab organik terus meningkat dibandingkan dengan penyebab psikis," ungkap &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Soeryo Winahyoe&lt;/span&gt;, salah satu dokter di klinik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sederet gangguan kesehatan, diabetes melitus atau biasa disebut kencing manis diketahui paling banyak berhubungan dengan DE. Faktanya pun cukup menyeramkan, yaitu penderita diabetes (diabetesi) berisiko 2 - 5 kali menderita DE dibandingkan dengan pria sehat. Mereka pun lebih cepat 10 - 15 tahun terkena DE. Bahkan sebelum mencapai usia 70 tahun, sekitar 95% diabetesi melemah kemampuan ereksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, papar dr. Soeryo, tidak semua orang menyadari dirinya sakit diabetes. "Malah ada pasien yang baru tahu dirinya menderita diabetes, setelah memeriksakan keluhan DE-nya ke dokter," jelasnya. "Ini umumnya juga terjadi pada penyakit-penyakit lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DE yang timbul akibat gangguan organik, pangkal persoalannya berkisar pada pembuluh darah atau aliran darah yang diperlukan penis untuk berereksi. Seperti diketahui, kemampuan ereksi berasal dari sinyal otak yang melepaskan zat kimia nitrogen oksida dan menyebabkan kadar siklik guanosin monofosfat (cGMP) meningkat. cGMP tak lain senyawa pembuka pembuluh darah pada penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu membuat pembuluh darah di sekitar penis jadi terbuka dan melemaskan otot-otot polos di jaringan korpora kavernosa. Darah yang terus masuk dan tertahan menyebabkan penis mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus diabetes, misalnya, terjadi gangguan pada saraf neuropati akibat gangguan nutrisi dari pembuluh darah. Akibatnya, suplai pengisian darah pada jaringan penis tidak pernah cukup. Selain itu, pembuluh darah juga ikut terganggu, sehingga jalan darah semakin terhalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada hipertensi terjadi penebalan di pembuluh darah hingga menghambat aliran darah. Ditambah lagi, obat antihipertensi ternyata ikut berpengaruh, karena obat bekerja dengan cara mengurangi volume darah, memperlambat kerja jantung, dan mengecilkan pembuluh darah tepi. "Logikanya, kalau pembuluh darah mengecil, maka akan sulit terjadi ereksi," jelas dr. Soeryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malu mengakui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi pria dewasa yang sudah berumah tangga seperti Bram, divonis menderita DE memang terdengar seperti kiamat. Selain takut kebahagiaan rumah tangga terancam, bagi pria tertentu untuk mencari pertolongan dokter merupakan soal besar. Pria di Indonesia umumnya malu mengakui kalau "senjata"-nya sudah tidak ampuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu, di seputar klinik kesehatan seksual muncul kejadian "lucu" yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Ada pasien yang sebenarnya mengidap DE, tapi datang ke klinik dengan keluhan batuk-pilek. Ada juga yang berterus terang kepada dokter, tapi mengatakannya dengan cara berbisik, "Burung saya tidak mau bangun, Dok," seolah takut keluhannya didengar oleh orang di seluruh dunia. Tapi yang paling sering terjadi, pasien tidak mau mengakui punya masalah pada organ seksualnya, bahkan ketika sudah di depan dokter sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Budaya malu" yang tidak pada tempatnya ini sebenarnya akan menjadi hambatan serius bagi proses terapi DE itu sendiri. "Bagaimana mau berobat kalau mengakui saja tidak mau," kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Naek L. Tobing&lt;/span&gt;, salah satu seksolog terkemuka yang berpraktik di Jakarta. "Padahal persoalan DE itu sesuatu yang biasa, apalagi bagi mereka yang tinggal di perkotaan yang sibuk. Banyak kok pria yang mengalaminya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terasa ada gangguan, sebaiknya tidak buang-buang waktu dan segera meminta pertolongan dokter. Sebab, jika gangguan itu berlangsung lama, akan butuh waktu lama pula untuk menyembuhkannya. Kapan sebenarnya pertolongan medis benar-benar dibutuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpegang pada definisi DE yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pertolongan medis diperlukan jika seseorang tidak bisa mencapai ereksi pada permulaan atau mempertahankannya, dan kondisi itu berlangsung selama tiga bulan. Tapi dr. Naek L. Tobing malah cuma memberi waktu lebih singkat, yakni dua minggu! "Biasanya, dalam dua minggu pria atau pasangannya sudah mulai risih dengan kondisi itu," alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, buat apa buang waktu. Penderita DE zaman sekarang lebih beruntung karena tingkat kesembuhan penyakit ini sudah tinggi. Metode pengobatan sudah tersedia dan harapan akan kesembuhannya dapat diperkirakan. Klinik-klinik dengan dokter yang ahli dalam bidang ini juga semakin mudah ditemui, terutama di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan DE, dr. Naek berpendapat, memang harus ditangani secara medis. "Karena umumnya ada masalah dengan pembuluh darah," tandasnya. Termasuk pada kasus-kasus psikogenik seperti stres, ketegangan, atau persoalan rumah tangga, yang dampaknya dapat merembet ke pengecilan pembuluh darah. Pengobatan non-medis atau biasa disebut "alternatif", kata dr. Naek, sejauh ini malah tidak memberi hasil yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberi kenyamanan pada pasien, klinik-klinik terapi DE umumnya menjaga privasi pasien. Klinik terapi seksual pria On Clinic, misalnya, membuat ruang tunggu pribadi pasien berupa kamar-kamar kecil berukuran 1,5 x 2 m. "Dengan jadwal sesuai perjanjian, pasien dijamin tidak akan tahu satu sama lain," jelas Rahmat, marketing klinik yang tersebar di lima kota besar itu. Jadi, tak perlu malu lagi 'kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tetap butuh hasrat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terapi DE diawali dengan mengungkap riwayat penyakit pasien. Terutama tentang sudah berapa lama keluhan itu disandang, dihitung sejak hubungan seksual terakhir kali. Jika bukan sebuah hubungan intim, aktivitas seksual bisa juga berupa masturbasi. Gaya hidup pasien juga ditelusuri, apakah merokok, mengonsumsi alkohol atau narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien juga diminta melakukan pengecekan laboratorium menyangkut kadar gula darah, kolesterol, trigliserida, tes fungsi hati (SGOT atau SGPT), dan beberapa pemeriksaan hormon seperti testosteron, prolaktin, atau tiroid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan laboratorium klinik, akan diketahui kemungkinan adanya kelainan fisik yang mendasari timbulnya DE seperti diabetes melitus, jantung koroner, hiperkolesterol, atau gangguan hormonal. "Sampai di sini, sebenarnya dokter sudah punya gambaran tentang penyebab DE dan berat-ringannya," jelas dr. Naek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter lalu akan membuat program pengobatan dengan menentukan jenis obat dan dosis yang tepat. Obat yang akan dikonsumsi tentu disesuaikan dengan obat yang mungkin sudah rutin dikonsumsi oleh pasien sebelumnya. Gaya hidup yang merugikan seperti merokok atau minum alkohol biasanya diminta untuk dihentikan. Jika semua berjalan sesuai rencana, DE dipastikan bakal hilang dalam tiga bulan sampai satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada DE yang disebabkan faktor-faktor psikogenik, terutama pada pria muda, terkadang terapi juga dilakukan lewat konseling yang melibatkan psikolog. Jika diperlukan, pasangan atau istrinya juga akan dilibatkan. Terutama jika masalahnya terkait dengan kebuntuan komunikasi dalam kehidupan berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengobatan tahap awal biasanya dokter akan menggunakan obat-obatan oral yang berfungsi memicu ereksi (erektogenik). Saat ini tersedia tiga jenis, yaitu sildenafil sitrat (dijual dengan merek Viagra), vardanavil (Levitra), dan tadalafil (Cialis). Secara farmakologis, ketiganya masih satu keluarga. Cara kerjanya pun sama, yakni menghambat enzim fosfodiensterase tipe 5 (PDE-5) yang tugasnya menghentikan ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah dijelaskan, penis akan dapat berereksi jika kadar cGMP meningkat dan membuka pembuluh darah. Sedangkan untuk menghentikan ereksi, diperlukan enzim PDE-5 yang fungsinya mengubah cGMP menjadi GMP tidak aktif sehingga darah yang tertahan di jaringan penis bisa mengalir kembali. Nah, obat-obat erektogenik itu berfungsi menghambat kerja PDE-5 agar ereksi bisa dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan obat erektogenik ini sebuah kabar gembira bagi penderita DE, karena dapat membantu kesembuhan hingga mencapai 70 - 80%. Tentu agar dapat "on" kembali, tetap dibutuhkan rangsangan terlebih dahulu. "Karena itu diperlukan kerja sama dengan pasangan. Meski sudah minum obat, tetap diperlukan hasrat," tegas dr. Naek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan, sampai detik ini obat-obat erektogenik masih masuk kategori obat etikal yang dibeli dengan resep dokter. Jadi, jangan terkecoh dengan obat-obat "Viagra Asli USA" yang sekarang banyak dijual bebas di toko-toko obat atau bahkan di kaki lima. Selain berbahaya jika dikonsumsi secara sembarangan (tanpa resep), obat-obatan yang dijual bebas itu ternyata banyak yang palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi tidak semua orang aman mengonsumsi obat erektogenik, terutama mereka yang punya masalah dengan jantung. Penderita jantung koroner yang sedang menjalani terapi dengan trigliserin atau obat golongan nitrat lain, sebaiknya tidak mengonsumsinya. Begitu pula dengan penderita pembesaran prostat atau tekanan darah tinggi yang meminum obat jenis alpha-blocker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nekat meminum tanpa pengawasan dokter, tekanan darah tubuh bisa tiba-tiba turun drastis dan pingsan. Bila terapi obat oral tidak menunjukkan hasil memuaskan, masih ada sejumlah alternatif lain. Salah satunya dengan suntikan. Cuma cara ini mungkin menimbulkan rasa ngeri. Pasalnya, penderita harus selalu menyuntik sendiri "jagoan"-nya sebelum berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mungkin sulit dan bisa bikin stres, karena sebelum bercinta, penderita harus repot menyiapkan jarum suntik lalu menyuntikkan obatnya. Tapi kalau sudah terbiasa, mungkin biasa saja. Ada dua jenis obat yang dipakai, yaitu prostaglandin dan phentolamine. Khasiat keduanya sama dengan obat erektogenik, yaitu melebarkan pembuluh darah dan melemaskan otot-otot polos di korpus kavernosa. Bedanya, obat ini bekerja langsung pada penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sepintas mengerikan, penggunaan terapi suntik di Amerika Serikat mencatat keberhasilan 80%. Situs kesehatan di internet Mayo Clinic mengungkap, para penggunanya mengaku serasa berereksi secara alami. Suntikan pun tidak terasa menyakitkan dan hanya dalam 5 - 15 menit kemudian penis langsung ereksi. Cuma, pasien tidak bisa sering-sering menyuntik (baca: berhubungan intim) karena penyuntikan dengan obat hanya boleh dilakukan sekali dalam 4 - 7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan DE juga bisa diatasi dengan pompa vakum. Caranya, penis dimasukkan ke dalam lubang di sebuah alat vakum, dan sebuah pompa akan mengosongkan udara di dalamnya. Akibat perbedaan tekanan udara, darah akan mengalir menuju ke penis. Setelah sekitar tiga menit, penis pun berereksi. Untuk mempertahankannya, dipasang cincin karet pada pangkal penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cincin ini darah di dalam penis ditahan dan baru bisa dilepas 30 menit kemudian.&lt;br /&gt;Karena memakai tekanan udara dan cincin karet, wajar jika muncul keluhan penis terasa seperti kebas. Ada kemungkinan, setelah cincin dilepaskan, si "jagoan" juga akan lemas kembali dan perlu dipompa lagi. Sayangnya, pompa vakum yang sebenarnya cukup praktis dan aman dipakai di rumah ini belum begitu populer di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif terakhir yang mulai dikembangkan di negara-negara maju yaitu pembedahan. Salah satunya dengan menanamkan implan di jalur korpus kavernosa. Implan itu berisi cairan dan dihubungkan dengan pompa yang tertanam di bawah kulit kantung testis. Saat dibutuhkan, tinggal pencet tombol, cairan pun masuk ke dalam implan, dan penis akan "berereksi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wanita Barat lebih "nrimo"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah banyak cara untuk mengatasinya, hingga sekarang masih banyak penderita DE yang mencari penyelesaian sendiri yang kadang tidak masuk akal. Salah satunya, dengan mengonsumsi afrodisiak atau obat yang fungsinya meningkatkan gairah seksual. Afrodisiak umumnya mengandung ginseng, pasak bumi, ekstasi, dsb. yang akan menstimulasi saraf di otak, sehingga membangkitkan gairah si pemakai dan dengan demikian diharapkan bisa berereksi. Bahkan tak sedikit yang percaya dengan keampuhan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebenarnya sasaran tembak afrodisiak itu berbeda. "Afrodisiak menciptakan stimulasi otak atau di pinggang ke atas. Padahal persoalan DE ada di pinggang ke bawah," jelas dr. Naek yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi ahli masalah seksual. "Pada pria muda, mungkin stimulasi otak masih bisa mempengaruhi penis berereksi. Tapi kalau yang sudah tua, percuma saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan lain, ungkap dr. Naek, adalah sifat pria pada umumnya di Asia yang ingin selalu tampil macho. Mereka punya keinginan kuat untuk memuaskan pasangannya, padahal kemampuan tidak selalu mengizinkan. Akibatnya, ketika gagal, mereka malu dan tertekan. Celakanya, mereka enggan mengakuinya kepada pasangan dan juga tidak mengupayakan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbeda dengan sebagian besar pria di Eropa atau Amerika, yang jika punya masalah kesehatan seksual, umumnya menyadari batas kemampuannya. Pasangannya pun lebih nrimo. Artinya, jika pasangannya tidak mampu, mereka menerima dan bersama-sama mencari solusi terapinya secara benar," jelas dr. Naek tentang sifat pasrah tapi positif dari kaum wanita Barat. Karena itu, tak heran jika tingkat kesehatan seksual pria di negara-negara maju (termasuk Jepang) sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ereksi, menurut dr. Naek, boleh dibilang susah-susah gampang. Namun, kunci sebenarnya terletak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. "Ereksi adalah salah satu indikator kesehatan. Jika ereksi bermasalah, maka hampir dipastikan tubuh juga sedang bermasalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita bisa membuat semboyan baru: di dalam ereksi yang kuat terdapat tubuh dan jiwa yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI edisi Healthy Sexual Life, Juli 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5379342176684985970?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5379342176684985970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5379342176684985970' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5379342176684985970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5379342176684985970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/11/dalam-ereksi-kuat-terdapat-tubuh-sehat.html' title='Dalam Ereksi Kuat Terdapat Tubuh Sehat'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5838786238549373373</id><published>2008-11-25T09:50:00.004+07:00</published><updated>2008-11-25T09:56:47.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Antiseptik Tak Selalu Menang Melawan Kuman</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kecenderungan manusia sekarang untuk hidup terlalu bersih dan steril, membuat produk-produk antiseptik kian marak di pasaran. Dari ujung rambut sampai ujung kaki maunya bebas bakteri. Tapi dari hasil pengujian di sejumlah laboratorium, efektivitas barang-barang ini ternyata juga patut dipertanyakan. Bakteri belum tentu mati, malah semakin kuat. Kapan sebenarnya kita memerlukan produk-produk antikuman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula banyak orang mengira memakai sarung tangan putih adalah bagian dari gaya berpakaian penyanyi pop &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Michael Jackson&lt;/span&gt;. Pada masanya, tahun 80-an, sarung tangan yang sering dipakai petugas upacara bendera itu mungkin bisa membuat seseorang lebih keren. Tapi alis bakal langsung berkenyit manakala tahu kalau Jacko - begitu panggilan penyanyi berkulit hitam, eh berkulit putih - memakainya untuk menangkal bakteri, virus, parasit, dan makhluk-makhluk imut lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup sampai di situ. Di samping kelakuannya yang memang sering nyeleneh itu, sehari-hari Jacko juga sering memakai masker dan menyemprot-nyemprotkan cairan antikuman. Biar tidak ketularan penyakit, mungkin. Sarung tangannya juga tetap dipakai ketika ia bersalaman dengan presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ronald Reagan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jacko sekarang tidak sendiri. Banyak orang yang saat ini semakin parno, istilah anak muda untuk paranoia, terhadap mikroorganisme yang semuanya kemudian dipukul rata sebagai kuman merugikan. Seolah-olah di zaman sekarang ini penyakit akibat infeksi semakin mengganas, dan semua itu cukup diatasi dengan mensterilkan lingkungan sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah tengok pasar swalayan. Di sana kita akan melihat label "antiseptik" ditambahkan pada sabun mandi, sampo, deodoran, sabun pencuci tangan, sabun pencuci baju, atau sabun pencuci piring. Produsen barang-barang itu seolah ingin memberi pesan: "Sekarang sudah zamannya memakai yang antikuman agar keluarga selalu terlindungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menyesatkan, sebuah iklan cairan pembersih di televisi menggambarkan seseorang yang nyaris pingsan ketika menyadari barang-barang yang disentuhnya ternyata belum bebas dari bakteri. Wah, jika mikroorganisme terus digambarkan bak monster mengerikan, lama kelamaan semakin banyak orang yang takut secara berlebihan. Akan semakin banyak lahir generasi Jacko baru, yang maunya serbasteril itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awalnya di rumah sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kelakuan Jacko, juga ketakutan sebagian besar masyarakat, rasanya memang menggelikan. Masalahnya keberadaan mikroorganisme dalam kehidupan kita sehari-hari sesungguhnya tak terhindarkan. Mereka ada di mana-mana di sekitar kita. Di setiap benda, di makanan dan minuman, di kulit kita, bahkan di udara yang kita hirup setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kita yang selalu kita rawat dan sayangi ini juga merupakan sarang miliaran mikroorganisme. Salah satunya bakteri, yang berfungsi membantu tubuh bekerja normal. Ada sekawanan bakteri "baik" dan bakteri "jahat", yang keduanya selalu bertempur untuk mencapai keseimbangan. Dalam kondisi seimbang itulah justru tubuh kita akan disebut sehat walafiat tak kurang suatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau suatu saat tubuh kita sakit, ada kemungkinan penyebabnya bakteri jahat yang menang perang. Sebagai obat, dokter biasanya akan memberi antibiotik yang digunakan untuk membabat bakteri. Tapi harus diingat, antibiotik tidak pandang bulu ketika bekerja, sehingga kadang bakteri baik ikut terbabat juga. Karena itu pemakaian antibiotik harus benar-benar tepat ketika diperlukan dan harus dalam pengawasan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antibakteri yang bekerja di luar tubuh manusia sering diistilahkan sebagai antiseptik (untuk membedakannya dengan antibiotik). Biasanya dipakai untuk membersihkan permukaan suatu benda dengan menghilangkan bakteri yang berpotensi membahayakan. Awalnya barang-barang semacam ini hanya dipakai terbatas di institusi kesehatan seperti rumah sakit untuk tindakan medis. Tapi karena muncul generasi Jacko tadi, pemakaiannya meluas ke produk-produk konsumer di rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah barang-barang pensteril itu di negeri kita, belumlah seberapa. Di Amerika Serikat sepuluh tahun lalu jumlahnya baru belasan produk, tapi kini ada lebih dari 700 jenis barang. Penggunaannya juga semakin meluas ke barang-barang yang berhubungan dengan aktivitas kebersihan manusia sehari-hari seperti sikat gigi, sumpit, sendok, kemasan makanan, jasa pencucian, termasuk barang-barang di kamar tidur seperti bantal, sprei, handuk, bahkan sandal. Janjinya, dengan antikuman, tidak akan ada bakteri yang berani berleha-leha lagi di sekitar Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini lembaga pengawasan obat dan makanan AS (FDA) mengenal dua jenis antimikroorganisme yang dianggap aman dan efektif, yakni alkohol berkadar 60 - 95% serta povidone-iodine 5 - 10%. Keduanya biasa dipakai untuk antiseptik pencuci tangan dan beberapa perawatan kesehatan lain. Sementara bahan-bahan lain sifatnya masih dalam pengaturan khusus seperti benzalkonium klorida, benzethonium klorida, parakloro-meta-xylenol, triklokarban, triklosan, dan beberapa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hampir sia-sia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di antara sederet nama-nama rumit tadi, yang mungkin sudah akrab dengan telinga Anda adalah triklosan. Zat kimia yang juga dikenal sebagai irgasan DP 300 ini sering disebut-sebut dalam iklan dan seolah sudah menjadi kandungan wajib untuk produk-produk pasta gigi, berbagai jenis sabun, atau kosmetika. Berdasarkan survei di AS, 75% sabun pencuci tangan dan 30% sabun batangan mengandung antibakteri ini. Total lebih dari separuh produk sabun-sabunan di negara maju mengandung triklosan atau saudara terdekatnya triklokarban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sayangnya, khasiat dari bahan antikuman ini ternyata tidak selalu seindah janjinya. Seperti dimuat di situs internet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Centers for Desease Control and Prevention&lt;/span&gt;,&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Stuart B. Levy&lt;/span&gt;, mikrobriologis dari Tufts University School of Medicine, AS, pernah melakukan riset soal ini sepanjang tahun 2005. Levy beserta tim meneliti 224 produk rumah tangga yang dibagi dalam dua kategori, yaitu yang diberi antibakteri dan yang tidak. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan antara bakteri yang terbunuh oleh sabun antibakteri dengan sabun batangan biasa. Nah lo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian penelitian diulang, hasilnya tetap sama. Jadi, untuk sementara, bisa disimpulkan penambahan antibakteri pada sabun hampir sia-sia saja. Karena sebenarnya mencuci tangan dengan sabun biasa - asal dilakukan secara benar! - juga dapat membunuh bakteri sama banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi ketidakefektifan itu bergantung kepada kadar antibakteri dalam setiap produk. Di situs internet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antimicrobial Agents and Chemoterapy&lt;/span&gt;, Allison E. Aiello, peneliti dari University of Michigan School of Public Health, AS, menekankan bahwa kandungan triklosan antara barang yang dipakai di rumah sakit serta produk untuk umum sebenarnya berbeda. Kandungan triklosan di produk konsumer yang berkisar 0,1 - 0,45% sebenarnya tidak cukup tinggi untuk membunuh sejumlah bakteri, misalnya seperti E-coli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan para ahli bukan cuma soal bakteri yang bertahan hidup tapi juga kepada bakteri yang menjadi kebal (resisten). Bakteri bandel itu justru malah menjadi semakin kuat. Gara-gara pemakaian antibakteri ini, efektivitas beberapa jenis antibiotik juga semakin berkurang, seperti jenis amoksisilin, klorampenikol, ampisilin, tetrasiklin, dan siproflosaksin. Anda mungkin pernah diresepkan salah satu antibiotik ini ketika sakit flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triklosan rupanya membuat bakteri bereaksi mempertahankan keutuhan dinding selnya. Proses mutasi itu akhirnya membuat antibakteri membutuhkan waktu lama untuk mencapai lokasi target. Demikian pula yang dialami antibiotik yang sama-sama menyasar keluarga besar bakteri di dalam tubuh. Tapi sebaiknya jangan keburu panik, sebab kesimpulan ini baru didapat sebatas uji coba di laboratorium, belum di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menghebohkan lain dilakukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peter Vikesland&lt;/span&gt;, peneliti bidang teknik sipil dan lingkungan Virginia Tech University, AS, yang mencurigai triklosan justru dapat menyebabkan kanker. Triklosan dalam produk-produk konsumer dapat bereaksi dengan klorin dari air keran sehingga menghasilkan kloroform. Dari proses itu muncul pula senyawa karsinogen, yang sejauh ini dituding menjadi salah satu biang keladi kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi-lagi kita tidak usah senewen, karena hal itu sudah dibantah sejumlah ahli lain yang meneliti untuk asosiasi kosmetik dan parfum di Inggris. Menurut mereka, reaksinya tidak segampang itu. Kalau pun benar terjadi, karsinogen yang dihasilkan jumlahnya sangat rendah. Karsinogen sendiri memang bisa dihasilkan dari air dengan ambang kloroform tinggi, yaitu 600 part per billion (ppb). Standar dari lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA) triklosan boleh dipakai pada air berkandungan kloroform sampai 300 ppb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang perlu kita cermati, triklosan sudah begitu menyebar di sekeliling kita. Ada yang ditemukan dalam air minum, limbah sungai, empedu ikan, bahkan ASI. Cuma dampak negatifnya bagi kehidupan kita sejauh ini belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih respons imun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang yang kita pakai sehari-hari boleh saja mengandung antibakteri pada kadar tertentu, namun yang paling utama tetaplah menjalankan pola hidup sehat. Para ahli kesehatan mengkhwatirkan, pemakaian produk-produk semacam ini justru akan menimbulkan rasa aman yang semu. Karena orang merasa sudah bersih dan bebas dari kuman, ia bisa saja mengendorkan kebiasaan-kebiasaan baik menyangkut kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sampai mentang-mentang sudah memakai cairan antiseptik, terus jadi lupa mencuci tangan," tutur &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Erdina HD. Pusponegoro, Sp.KK&lt;/span&gt;, spesialis kulit dan kelamin dari RSUPN Cipto Mangunkusumo. "Menjalankan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan diri tetap manjadi yang paling utama. Semua itu tidak cukup digantikan dengan memakai antiseptik saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh memakai antiseptik, kata Erdina, sejauh memang diperlukan. Misalnya antiseptik untuk mandi, digunakan ketika muncul penyakit kulit karena faktor luar dan menular seperti scabies. Atau ketika kebetulan kondisi air yang digunakan tidak baik. Cairan pencuci tangan dipakai jika kebetulan tidak ada air untuk membasuh tangan. "Di luar itu, sebaiknya tidak perlu dipakai," menurut pengajar di Universitas Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitiannya, Stuart B. Levy juga melempar isu lain yang tak kalah menarik. Kalau antibakteri dipakai terus menerus, maka bakteri "baik" yang fungsinya mengimbangi ulah bakteri "jahat", justru akan terganggu. Akibatnya bakteri patogen merajalela yang ujung-ujungnya merugikan kesehatan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola hidup steril banget ini juga bisa merugikan, terutama bagi bayi dan anak-anak. Seharusnya tubuh anak semenjak bayi sudah dilatih untuk menghadapi mikroba yang merugikan agar respons imunitasnya ikut terbentuk. Kalau sedikit-sedikit dicegah dengan antibakteri, bagaimana sistem imun tubuh dapat mematangkan diri? "Respons imun seperti apa yang mereka bisa bangun?" Levy bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem imun tubuh kita memang mirip serdadu. Jika tidak pernah dilatih berperang, maka daya tempurnya juga akan lemah. Kata orang, ada baiknya hidup jangan terlalu steril dari kuman, tapi juga tidak lantas bebas berbuat jorok. Yang sedang-sedang sajalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI edisi November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5838786238549373373?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5838786238549373373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5838786238549373373' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5838786238549373373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5838786238549373373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/11/antiseptik-tak-selalu-menang-melawan.html' title='Antiseptik Tak Selalu Menang Melawan Kuman'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-953638562131792775</id><published>2008-11-20T15:04:00.003+07:00</published><updated>2008-11-20T15:14:09.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Ketika Perkawinan Diuji Oleh Waktu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seiring berlalunya waktu, cinta dalam perkawinan bisa tak lagi semanis madu. Rutinitas pekerjaan, urusan rumah tangga, atau karier yang tengah menanjak, bisa merusak pelangi kebahagiaan yang dulu senantiasa dirasakan. Bagaimana agar hubungan suami-istri tak menjadi menjemukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nuri &lt;/span&gt;(bukan nama sebenarnya) perempuan 37 tahun, eksekutif di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, mengeluhkan kehidupan perkawinannya yang telah memasuki tahun ke-8 kepada seorang konsultan perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setahun belakangan ini perkawinan kami terasa hambar. Suami saya sering tugas ke luar kota, atau kadang ke luar negeri, sampai berhari-hari. Saya kadang juga harus kerja sampai larut malam. Tapi kami tidak pernah bertengkar hebat. Walau jarang bertemu, kami masih sering berkomunikasi lewat telepon atau SMS, terutama untuk urusan anak-anak. Sayangnya, kami belum pernah punya waktu khusus untuk membicarakan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dulu berpacaran tiga tahun, dan rasanya cukup untuk mengenalnya secara dekat. Kehidupan seksual kami pun awalnya sangat menggebu. Tapi beberapa tahun belakangan, berangsur menjarang. Bahkan kadang hanya dua atau tiga kali dalam sebulan. Entah, apakah ini pertanda kami mulai saling jenuh. Saya akui, saya sering tidak bisa melayaninya, karena kadang merasa lelah setelah seharian bekerja. Apa saya yang salah ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan Nuri sesungguhnya keluhan dari seseorang yang peduli kepada perkawinannya. Ia menyadari, masalah yang kini sedang dihadapinya berpotensi menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan memporak-porandakan keutuhan rumah tangganya. Namun, untuk menyelesaikan persoalan itu sungguh tidak mudah. Pola rutinitas sehari-hari seakan telah menjebaknya dan membuatnya tidak bisa keluar sejenak untuk memperbaikinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa rawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pasangan suami-istri mana pun pasti berharap perkawinannya langgeng dan diliputi kebahagiaan selamanya. Mirip ending dalam dongeng pada masa kecil dulu tentang bersatunya seorang pangeran dan putri. Namun, untuk membuat visi itu dapat terus bertahan, dibutuhkan upaya terus-menerus dan tak kenal lelah dari pasangan. Apalagi jika di kemudian hari perkawinan menemui masalah yang bahkan tak terbayangkan di saat pasangan memutuskan untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teori yang menyatakan, suatu perkawinan menghadapi masa rawan hingga usia sepuluh tahun. Entah, apa dasar teori itu. Bisa jadi, lantaran pada masa ini dua insan yang mempunyai perbedaan latar belakang tengah disatukan. Seandainya terjadi ketidakcocokan, bukan tidak mungkin tergelincir dalam perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, meski usia perkawinan telah melebihi batas sepuluh tahun, ancaman kerawanan tetap ada. Untuk mudahnya, ambil saja contoh dari kalangan selebritis. Pada 1994, pernikahan aktor Hollywood, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kevin Costner &lt;/span&gt;dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cindy Silva&lt;/span&gt; harus berakhir setelah berjalan 16 tahun. Bahkan pernikahan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Michael Douglas&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diandra Lurker&lt;/span&gt; yang dikaruniai satu anak, kandas setelah 23 tahun. Aktor gaek itu langsung menikahi aktris &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catherine Zeta Jones&lt;/span&gt; dan kini mempunyai dua anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nanna Machdi&lt;/span&gt;, psikolog dari Universitas Indonesia, tidak setuju pada teori masa rawan perkawinan. Menurut dia, "Masa rawan dalam perkawinan tidak bisa ditentukan. Tergantung bagaimana kita menghayati perkawinan itu sendiri. Kalau ada saling pengertian, saling mencintai, saling menerima pasangan, harusnya rasa jenuh dan ketidakcocokan bisa 'dialihkan' sehingga tidak akan muncul lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghayati perkawinan. Ungkapan itu terasa amat ideal. Mudah diucapkan, tapi bagi sebagian orang mungkin sulit untuk dijalankan. Nanna tak menampik kemungkinan adanya rasa jenuh dalam kehidupan berumah tangga. "Bahkan kejenuhan itu sangat manusiawi," katanya. Namun, pada saat perasaan itu muncul, hendaknya setiap pasangan mengingat kembali apa yang dulu telah membuat keduanya saling mengikatkan diri dalam sebuah perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan bisa muncul akibat berbagai hal, baik yang berasal dari dari pasangan itu sendiri maupun yang datang dari luar. Salah satu yang mengemuka di zaman ini (karena mulai berani dibicarakan) adalah problem seksual. Namun, jangan terlalu risau, problem ini belum menjadi penyebab utama perceraian di Indonesia. Menurut data dari Klinik Pasutri, sebuah klinik di Jakarta, yang dikelola pakar masalah seks&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; dr. Boyke Dian Nugraha&lt;/span&gt;, perceraian yang disebabkan oleh masalah seks tidak lebih dari 30%. Yang terbesar justru akibat masalah komunikasi antarsuami-istri (56%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan utama, bukan tidak mungkin problem seks menjadi ganjalan, terutama bagi pasangan usia produktif yang masih memiliki vitalitas tinggi. Apalagi dalam hubungan perkawinan, seks menempati dimensi relasi, yaitu seks berfungsi sebagai pengikat yang mempererat hubungan batin suami-istri. Frekuensi hubungan seksual yang baik akan berpengaruh terhadap keintiman pasangan dan keharmonisan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak semua pasangan dapat menjalankan tugas mulia itu secara sempurna. Terutama bagi pasangan yang tinggal di perkotaan. Pekerjaan atau aneka kegiatan lain telah banyak menyita waktu, energi, dan konsentrasi mereka. Senada seperti keluhan Ibu Nuri tadi, yang bahkan jarang punya waktu yang tepat bersama suami untuk sekadar berduaan tanpa dibebani kesibukan masing-masing. Belum lagi ritme hidup di kota besar yang ikut menyita energi secara psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lain yang tak terelakkan adalah masalah usia yang terus merambat. Tak dapat disangkal, seiring melajunya usia, kemampuan seksual seseorang menurun. Tim peneliti dari Texas Tech University (www.hs.ttu.edu) memaparkan, pria mengalami perubahan berupa penurunan respons organ seks dan waktu yang dibutuhkan untuk terangsang. Ada guyonan, pada masa seperti ini, pria telah memasuki masa "pegangan hidup" atau "perjuangan hidup", dan telah meninggalkan masa "pandangan hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perempuan, dampak seksual terutama disebabkan penurunan produksi hormon estrogen. Sejumlah pakar memang berpendapat, perubahan ini sebenarnya tidak mengurangi gairah seksual sama sekali. Namun, perempuan merasakan perubahan organ reproduksi, berkurangnya lubrikasi pada vagina, berbagai masalah fisik seperti cepat lelah, kesulitan tidur, atau banyak berkeringat, serta masalah emosi seperti terlalu sensitif dan menurunnya rasa percaya diri. Keluhan ini semakin menjadi manakala memasuki masa pascamenopause.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, problem seks yang juga mengancam kehidupan perkawinan justru dari derit ranjang sendiri, yaitu hubungan seksual yang monoton dan nyaris tanpa variasi. Hubungan yang pada awal perkawinan selalu difantasikan agung dan indah, bisa berubah menjadi sekadar rutinitas. Kegairahan yang spontan seolah menjadi kewajiban. Sementara untuk mencoba variasi baru, seperti saran para seksolog, sungguh tidak semudah menjentikkan jemari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuncinya pada komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seks yang bermasalah memang bisa mempengaruhi perkawinan. Begitu juga sebaliknya, perkawinan yang bermasalah bisa mempengaruhi kehidupan seksual. Maka sebenarnya yang perlu disadari, seks untuk keharmonisan harus dipelajari dan dibina oleh suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanna Machdi tidak setuju jika dikatakan hanya satu pihak saja yang berpotensi mengalami kejenuhan akibat adanya problem seks. Misalnya, istri dianggap tidak lebih berminat kepada seks karena sehari-hari sudah sibuk dengan urusan pekerjaan dan rumah tangga. Sementara lelaki yang dimitoskan dominan dalam sebuah hubungan seks, lebih membutuhkan penyaluran. "Semua membutuhkan, karena itu keduanya bisa juga mengalami kejenuhan," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menjadi kebutuhan dua pihak, persoalan seks menjadi sensitif manakala menyangkut frekuensi hubungan seksual. Berapa kali sebenarnya suami-istri harus melakukannya?&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar seksologi di Jakarta beberapa waktu lalu, dr. Boyke Dian Nugraha memberikan angka ideal hubungan seksual, yaitu satu sampai empat kali seminggu. Jelas, itu angka minimal, meski praktiknya tidak harus seperti itu. Masalahnya, tidak semua pasangan bisa memenuhi kuota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanna berharap, "angka ideal" itu tidak menjadi patokan baku, agar jangan malah menjadi beban. Jika bisa dijalankan, memang lebih baik. Hanya saja kalau salah satu tidak bisa memenuhi, pasangannya diharapkan membuka pengertian yang seluas-luasnya. Apalagi jika memang ada problem yang tak terhindarkan, terutama kesehatan. "Contohnya saja jika pasangan menderita suatu penyakit. Misalnya, penderita diabetes jelas mengalami penurunan minat seksual," tutur Nanna, konsultan perkawinan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seks ternyata memang dianggap bermasalah, hendaknya setiap pasangan bisa menelaah, apa yang menyebabkan salah satu atau mungkin keduanya tidak bisa menjalankan hubungan seksual secara baik. Pada istri yang bekerja untuk menopang ekonomi keluarga, misalnya, wajar jika terkadang mengalami kelelahan. Suami harus dapat mengerti. Begitu juga sebaliknya istri terhadap suami yang telah bekerja sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar didapat pengertian yang baik, perlu dibangun komunikasi. "Di sinilah yang justru rawan dalam rumah tangga," papar Nanna. "Komunikasi yang tidak efektif, atau malah tidak jalan sama sekali, bisa mengakibatkan keretakan dalam perkawinan. Di sini 'orang ketiga' justru bisa masuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nanna, komunikasi yang baik adalah bagaimana kita menyampaikan maksud hati dan dapat dimengerti pasangan. Namun yang terpenting, pasangan meresponsnya. Jika tidak ada kelanjutan, komunikasi hanyalah sekadar komunikasi, dan sebenarnya itu tidak berhasil. "Harus dicari apa penyebabnya," sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun terhadap masalah seks, termasuk rasa jenuh, tetap harus dikomunikasikan segamblang mungkin. Apalagi sekarang sudah bukan zamannya lagi main rahasia untuk urusan kebutuhan ranjang ini. Terhadap pasangan, satu pihak harus mengungkapkan problemnya jika sudah tidak nyaman dengan kehidupan seksual dengan pasangannya. Jika tidak terbuka, dikhawatirkan masalahnya tidak akan selesai dan timbul praduga yang justru bisa merugikan perkawinan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan berkomunikasi sangat tergantung pada komitmen bersama setiap pasangan. Jika salah satu harus mengalah terus, tentunya tidak adil. Semuanya harus terungkap dan jelas masalahnya. Seketika itu juga dicari jalan keluarnya, apakah perlu dilakukan langkah-langkah perombakan total atau cukup dilakukan bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlu 'orang ketiga'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demi keberhasilan komunikasi dalam kehidupan perkawinan, Nanna Machdi mengingatkan juga agar kedua pihak mengalahkan ego masing-masing. Jangan pernah ingin mengubah seseorang, walau kelihatannya ada "peluang" untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut psikolog yang juga berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan UI ini, pada hakikatnya perkawinan adalah penyatuan dua orang dengan kepribadian yang sama sekali berbeda. Perkawinan adalah penyesuaian terus-menerus selama hubungan itu masih terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepribadian merupakan satu hasil dari pengalaman masa lalu kita. Bagaimana pola asuh orangtua terhadap kita, bagaimana orangtua mendidik, pendidikan, dan bagaimana kita bergaul," papar Nanna. "Apakah itu akan bisa diubah dalam sekejap pada masa perkawinan? Tentu tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah komunikasi adakalanya salah satu pihak tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang kondusif terhadap perbaikan situasi. Misalnya, suami yang ingin menang sendiri, atau istri yang dirasakan terlalu banyak menuntut. Jika kebuntuan itu berlangsung terus-menerus, tidak ada salahnya meminta bantuan pihak ketiga, yaitu profesional konsultan perkawinan. Bukan sekadar "pihak ketiga" seperti teman dekat atau malah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan jasa konsultasi perkawinan bisa diibaratkan seperti hubungan pemain dan pelatih dalam permainan sepakbola. Saat berada di lapangan, pemain kadang tidak menyadari posisinya atau tindakannya yang salah, sehingga perlu diingatkan oleh pelatih. Seorang profesional yang ahli bisa melihat letak permasalahan dalam perkawinan, sehingga bisa memberi saran-saran untuk menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menghindari kejenuhan seksual, bagi pasangan yang telah menikah bertahun-tahun, sebenarnya dianjurkan untuk selalu memperbarui kemesraan. Mungkin bagi banyak orang, hal ini terasa aneh dan sulit. Dalih seperti, "Ah, sudah tua kok macem-macem, malu ah sama anak-anak!" masih saja terdengar. Itu karena pasangan terbawa pada pemikiran lama yang berpendapat bahwa kemesraan hanyalah milik kaum muda yang sedang dimabuk asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbarui kemesraan bukanlah sekadar lewat kata-kata verbal yang diucapkan tanpa makna. Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan, seperti perhatian yang tidak biasa dalam bentuk pujian, memberi bunga, memberi hadiah spesial pada saat ulang tahun perkawinan, atau sekadar menelepon atau mengirim SMS dengan kata-kata mesra di waktu-waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanna berkisah, salah seorang temannya yang bekerja sebagai dokter spesialis di Jakarta dan telah menikah 30 tahun, kadangkala mengajak istrinya ke luar rumah untuk sekadar jalan-jalan berdua atau makan sup kaki di warung kaki lima. "Waktu mereka pacaran, karena kantung pas-pasan, mereka sering makan sup di tempat itu. Hal itu mengingatkan masa-masa pacaran dan apa yang membuat mereka akhirnya menikah dulu," kata Nanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan selalu memperbarui kemesraan, problem dalam perkawinan memang tidak akan sirna begitu saja. Namun, dari tindakan-tindakan kecil penuh makna, pengertian dari masing-masing pasangan akan tumbuh. Cinta dalam perkawinan akan kembali semanis madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di majalalah INTISARI edisi Healthy Sexual Life Agustus 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-953638562131792775?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/953638562131792775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=953638562131792775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/953638562131792775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/953638562131792775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/11/ketika-perkawinan-diuji-waktu.html' title='Ketika Perkawinan Diuji Oleh Waktu'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3894915349961196043</id><published>2008-11-19T00:46:00.004+07:00</published><updated>2008-11-29T00:20:20.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tampang Penjahat Itu Seram, Euy!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Konon, umur kejahatan sama tuanya dengan peradaban manusia. Sepanjang waktu itu pula para pakar mencoba mencari musabab manusia terjerumus ke dalam jurang tindak kriminal. Beraneka teori muncul silih berganti. Adakah yang sanggup menjawab?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York City, 24 Mei 2000. Malam belum terlalu larut saat dua lelaki berjalan tenang menuju sebuah restoran cepat saji Wendy's di Kawasan Queens. Di tempat yang lumayan ramai pengunjung itu, tiba-tiba keduanya mencabut senjata genggam dan berteriak-teriak dengan maksud merampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mengancam para pekerja restoran. Tujuh pekerja digiring ke lantai bawah tanah, diikat, dan dibaringkan ke lantai. Peristiwa berikutnya sungguh tak terbayangkan! Satu per satu sandera tak berdaya itu dihabisi. Lima orang tewas, beberapa lainnya terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian polisi menahan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;John Taylor&lt;/span&gt; (32) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Craig Godineaux&lt;/span&gt; (36). Salah seorang tersangka diciduk saat bersembunyi di rumah neneknya, di mana ditemukan juga uang recehan lebih dari AS $ 2.000. Taylor mungkin akan menjadi orang pertama yang dihukum mati di Negara Bagian New York dalam 40 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika darah telah membanjir dan korban berjatuhan, orang baru akan bertanya: mengapa kejahatan ada?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berwajah seram&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hampir 2.000 tahun lalu, orang-orang Romawi telah mencurigai fase Bulan penuh sebagai faktor yang mempengaruhi manusia berbuat jahat. Dari sini muncul istilah lunatic atau kegilaan. Berasal dari bahasa Latin luna berarti Bulan, yang gaya tariknya dicurigai mempengaruhi dorongan manusia untuk berbuat kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori bulan menghilang. Pada abad ke-19 marak pelbagai teori mengaitkan sifat jahat dengan keadaan fisik seseorang. Seperti menilai seseorang berdasarkan wajah dan air mukanya. "Dia kelihatan baik kok", "Wajahnya serem, ah", "Kelihatannya dia berniat jahat", dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fisikawan Austria, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Franz Gall&lt;/span&gt; (1758 - 1828) yang memperkenalkan frenologi (phrenology) hingga menjadi teori paling masyhur dan ilmiah saat itu. Gall berpendapat, otak dan tengkorak dapat menggambarkan kepribadian seseorang dan perkembangan psikologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frenologi yang kemudian berkembang pesat, membagi otak dalam 27 - 38 bagian untuk dihubungkan dengan ciri kepribadian tertentu. Misalnya, sifat agresif, permusuhan, merusak, atau suka main rahasia (sekretif). Seseorang dengan bagian otak tertentu yang menonjol dibandingkan dengan ukuran "normal", diyakini mempunyai kepribadian tertentu sesuai skema frenologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk tubuh juga pernah menjadi penanda kejahatan. Dari pengamatan ratusan foto telanjang, seorang dokter Italia bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cesare Lombroso&lt;/span&gt; (1835 - 1909) menemukan, penjahat ternyata punya ciri fisik sama. Misalnya, batas rambut, kerutan dahi, wajah tidak rata, hidung lebar, bibir gemuk, garis bahu miring, atau lengan panjang. Karakteristik itu dikatakan mirip manusia primitif (atavisme) yang cenderung berbuat jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog Amerika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;William Sheldon&lt;/span&gt; (1898 - 1977) juga percaya bahwa bentuk tubuh seseorang mencerminkan perilakunya. Dari studi terhadap para pelaku kriminal di penjara Boston, Sheldon membagi manusia dalam tiga kategori: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mesomorphs&lt;/span&gt; (berbadan tegap dan kuat), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ectomorphs&lt;/span&gt; (tinggi dan kurus), serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;endomorphs&lt;/span&gt; (gemuk dan pendek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan skala kuantitatif Sheldon lalu menyusun kombinasi setiap individu. Mesomorph murni 7-1-1, ectomorph murni 1-7-1, atau kombinasi dua ciri menjadi 2-6-1. Angka itu dikombinasikan dengan tiga tipe kepribadian. Endotonia, menyukai kenyamanan fisik, suka makan dan bersosialisasi. Mesotonia, banyak tindakan fisik, tidak sensitif, dan berambisi. Sedang ectotonia, lebih sensitif, mudah tersinggung, dan tidak suka bersosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sheldon menemukan korelasi kuat antara mesotonia dan mesomorphs. Tipe kurus dan berotot serta berkepribadian agresif yang disebut mesotonic ini dianggap cenderung terlibat kriminalitas. Ciri lain, mereka tidur lebih sedikit, bertekanan darah tinggi, dan asertif terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Psikopat tak selalu jahat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah era teori biologis, muncul teori psikologis. Orang lalu sering mendengar istilah psikopat, sebagai bentuk gangguan jiwa, yang menimbulkan bayangan pembunuh kurang waras seperti di film. Orang akan terbayang sosok &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alan Bates&lt;/span&gt;, karakter pembunuh dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Psycho&lt;/span&gt; (1961) serta pembunuh pada puluhan film lain bertema serupa produksi Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robot Gedek&lt;/span&gt;? Julukan bagi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siswanto&lt;/span&gt;, pelaku penyimpangan seksual dan pembunuhan terhadap enam bocah, itu juga digolongkan dalam psikopat. Penyimpangan seksual dan sadisme merupakan kecenderungan perilaku dari gangguan kepribadian ini. Atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;O.J. Simpson&lt;/span&gt;, bintang olahraga Amerika, yang dituduh membunuh istrinya pada pertengahan 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kartini Kartono&lt;/span&gt; dalam&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Patologi Sosial &lt;/span&gt;(Mei, 2003) menjelaskan, psikopat adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderitanya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu berkonflik dengan norma sosial serta hukum dan biasanya bersifat immoral. Ciri khasnya, amat fanatik dan egoistik, menentang norma etis, dan lingkungan, aneh, sering kasar, kurang ajar, ganas dan buas tanpa sebab jelas, serta bertindak kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, tak semua psikopat bertingkah seperti Alan Bates, Siswanto, atau Simpson. Sedikit sekali yang terlibat dalam pembunuhan keji, bahkan mereka bertahan dalam kehidupan normal dan tidak berbuat jahat. Meski potensi untuk berbuat kekerasan tetap ada karena "standarnya" dalam melakukan sesuatu, berbeda dengan manusia normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan psikologis saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pre-menstrual syndrome&lt;/span&gt; (PMS) dan post-partum depression syndrome (PPDS) pada kaum perempuan juga ditengarai dapat memicu kejahatan. Adalah Cesare Lombroso yang memulai miskonsepsi tentang kriminalitas oleh perempuan yang dihubungkan dengan faktor hormonal dan ketidakseimbangan kimiawi dari pola menstruasi. "Tamu bulanan" disebutkan bisa mengakibatkan kecenderungan migren, epilepsi, kleptomania, pyromania, bunuh diri, dan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Lombroso pada 1945 menyebutkan, 84% kejahatan oleh perempuan dilakukan dalam masa pra-menstruasi dan awal menstruasi. Meski belakangan kesimpulannya kian diragukan, gangguan psikologis pascamelahirkan (PPDS) digunakan dalam pembelaan di pengadilan Amerika. Seperti pembelaan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andrea Yates&lt;/span&gt; yang didakwa membunuh lima anaknya di Houston, Texas, 1996, serta &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susan Mooney&lt;/span&gt; yang membunuh bayinya di New York 2001. Namun, keduanya tetap dinyatakan bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jumlah perempuan lebih dari 51% populasi umum, pembunuh berdarah dingin berjenis kelamin ini seseungguhnya tak sampai 10%. Studi terakhir menyebutkan, perempuan pembunuh ternyata berusia lebih tua dari pasangannya dan terlibat penyalahgunaan obat atau alkohol. Mereka mengalami gangguan psikologis berulang-ulang. Sementara pria cenderung lebih sosiopatik. Dalam beraksi, perempuan pembunuh biasanya meracun atau membekap korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjahat besar Amerika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori "lama" tentang kejahatan mulai runtuh saat sosiologi ikut mengurainya. Sosiologi meyakini, struktur sosial sebuah masyarakat dapat mempengaruhi perilaku manusia, seperti dikatakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Emile Durkheim &lt;/span&gt;(1858 - 1917). Kejahatan dirumuskannya sebagai perilaku alamiah yang tak lepas dari pelbagai dorongan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang populer sejak 1930-an itu kian berkembang saat dunia menghadapi depresi ekonomi yang menghasilkan pengangguran dan masalah sosial. Masyarakat dianggap embrio perbuatan kriminal. Bahkan masyarakat Amerika yang saat itu membenci simbol-simbol pemerintah dan pengusaha kuat, seolah "mengagumi" penjahat besar seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;John Dellinger&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bonnie&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Clyde&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pretty Boy Floyd&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan sosiologi semacam ini terus berkembang dan berlaku sampai sekarang. Kriminolog Universitas Indonesia, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adrianus Meliala&lt;/span&gt; meyakini, peran dan harapan seseorang serta masyarakat dapat mendorong seseorang menjadi jahat. Pelbagai faktor luar menyebabkan seseorang merasa tujuan-tujuan duniawinya dapat lebih mudah diperoleh melalui kejahatan.&lt;br /&gt;"Ibaratnya, seperti seseorang memilih permen. Saat ini bukan semata-mata karena keinginannya sendiri, tapi karena adanya dorongan dan persuasi luar. Misalnya, dari iklan," jelas Adrianus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori dengan pendekatan biologis, kata Adrianus, sebenarnya tetap berlaku untuk kasus-kasus kejahatan yang tidak terbayangkan. Misalnya, analisis terhadap kasus pembunuhan sadis dan berantai. Atau, terhadap kasus-kasus yang motifnya tak beralasan (motiveless), yaitu jika suatu saat ada seseorang tiba-tiba mengamuk dan membunuh orang tanpa sebab yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat lembek&lt;br /&gt;Adakah penjahat sadis tanpa motif di Indonesia? Adrianus menggeleng. Bahkan Robot Gedek, atau Sumanto sekalipun, tidak termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengamatan pengajar Pascasarjana FISIP UI itu, kasus kejahatan di negeri ini masih dalam batas wajar. "Kejahatan kekerasan biasa," katanya tanpa bermaksud mengecilkan arti. Suatu kali Adrianus pernah menantang mahasiswanya (beberapa adalah sipir lembaga pemasyarakatan) untuk mencari kasus kekerasan paling aneh dan ia akan memberi mereka nilai A+. "Hasilnya, enggak ada yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;motiveless.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu, menurut Adrianus, tak lepas dari teori &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gunnar Myrdal&lt;/span&gt;, pemikir ekonomi politik peraih Hadiah Nobel, yang menggolongkan masyarakat kita sebagai masyarakat lembek (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft society&lt;/span&gt;). Dalam bertindak, seseorang sangat memperhitungkan reaksi yang akan diterimanya dari orang lain. Kebaikannya, jika seseorang punya kecenderungan jahat, dia akan menekan dirinya demi mencegah omongan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi antitesanya, akan muncul kejahatan seperti membunuh karena alasan sepele. Mencuri biar kelihatan kaya, dan seterusnya. Kejahatan yang merupakan akibat dari lingkungan juga," papar peraih gelar doktor dari University Queensland yang pernah menjadi wartawan itu.&lt;br /&gt;Dari segi kejahatan sadistis, negeri kita memang relatif aman. Tapi soal kejahatan di jalan, tentu lain lagi ceritanya. Apakah dari sini bakal muncul teori baru lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tergantung Musim dan Bulan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejumlah riset terbaru soal kejahatan saat ini sampai pada penelitian hubungan antara tingkat kejahatan dan musim. Statistik dari Departemen Keadilan Amerika menyatakan, kejahatan properti seperti pencurian rumah atau tempat tinggal, banyak terjadi di musim panas. Kondisinya bisa jadi sama dengan di negeri kita yang angka kejahatannya meningkat menjelang Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi pada 1983 menemukan adanya hubungan antara fase bulan dan tingkat pembunuhan di Miami. Pola serupa juga ditemukan di Cleveland. Studi lain pada tahun yang sama juga mengungkap, orang yang masuk penjara meningkat saat bulan purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dimuat di:  Majalah INTISARI, Maret 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3894915349961196043?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3894915349961196043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3894915349961196043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3894915349961196043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3894915349961196043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/11/tampang-penjahat-itu-seram-euy.html' title='Tampang Penjahat Itu Seram, Euy!'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7035121145097629246</id><published>2008-11-18T10:15:00.005+07:00</published><updated>2008-11-19T00:57:29.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mari Dengarkan Dan Latih Intuisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiba-tiba saja, suatu saat kita bisa menerima "informasi" yang entah berasal dari mana. Semacam bisikan, petunjuk, dan sejenisnya. Mendadak, namun ternyata sesuai dengan kepentingan kita. Jangan abaikan hal-hal seperti ini, karena setiap manusia sesungguhnya punyai akses ke informasi paranormal (psi) atau orang biasa mengistilahkannya intuisi. Tak sedikit orang yang sukses, terselamatkan dari bencana, atau kualitas hidupnya membaik karena "informasi" semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Winston Churchill&lt;/span&gt;, Perdana Menteri Britania Raya di masa Perang Dunia II, suatu kali mengundang tiga menterinya makan malam. Ketika acara santap malam berlangsung, tiba-tiba Churchill bangkit dari kursi makan, lalu menuju dapur. Ia memerintahkan kepala pelayan dan anak buahnya yang sedang sibuk menyiapkan makanan, untuk berkemas dan mengosongkan dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski heran, anak buahnya tak berani membantah. Benar saja, kurang lima menit kemudian, sebuah bom jatuh dan meledak di belakang rumah. Dapur rusak berat. Tapi semua pelayan selamat karena sempat punya waktu berlindung. Tiba-tiba saja Churcill mendapat "perintah" mengosongkan dapur. Ia menurutinya, tanpa banyak tanya, dan hasilnya langsung bisa dibuktikan. Siapa yang mendorongnya melakukan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah nyata yang lain, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indra&lt;/span&gt;, pria berusia 26 tahun, suatu siang bermaksud berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan ia merasa sangat "tidak nyaman" yang susah untuk digambarkan. Seakan-akan ada bisikan untuk tidak usah pergi bekerja dan kembali saja ke rumah. Namun ia tak mengacuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hujan rintik-rintik. Jalanan licin. Lalu peristiwa itu terasa begitu cepat, saat sepeda motor Indra menabrak sebuah mobil yang mengerem mendadak karena menghindari seorang anak kecil menyeberang. Akibatnya, tangan Indra retak dan harus mendapat perawatan yang cukup serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra mengabaikan perasaannya. Akibatnya ia mengalami kecelakaan. Apakah semua itu karena ia mengabaikan informasi yang sudah berusaha disampaikan kepadanya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahu tanpa kutahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada bermacam istilah untuk informasi, bisikan, atau petunjuk diterima seseorang secara tiba-tiba, di saat ia tengah mengerjakan sesuatu atau di kala bergumul dalam suatu permasalahan. Ada yang menyebutnya intuisi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feeling&lt;/span&gt;, indera keenam, wangsit, dsb. Soal istilah, sampai hari ini memang belum ada kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari dua kisah tadi, tampak bahwa "intuisi" (kita sebut begitu saja dulu) bisa muncul pada setiap orang. Tak peduli dia orang terkenal, pandai, tua-muda, atau masyarakat biasa-biasa saja, termasuk Anda. Prosesnya, tiba-tiba saja datang sebuah pesan yang seolah menyuruh kita untuk melakukan langkah tertentu. Dikerjakan atau tidak, terserah kita. Namun pada akhirnya pesan itu terbukti sesuai kepentingan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terburu-buru menepis segala pembahasan tentang hal yang sepintas terdengar tidak masuk akal ini. Memang, di masyarakat kita yang masih tradisional, tidak banyak penjelasan rasional tentang peristiwa-peristiwa yang terkait dengan intuisi. Semua yang tidak bisa dijelaskan akal, bakal dianggap berbau asap kemenyan alias gaib. Padahal di Barat, banyak ahli yang justru mencoba menjelaskannya dalam ekperimentasi keilmiahan. Hasilnya malah sudah banyak dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, tak sedikit orang yang mengaku pernah (bahkan sering) mendapatkan intuisi, terutama ketika sedang melakukan suatu hal. Namun ketika pesan itu akan dituruti, ia ragu, apakah itu tidak mengingkari rasionalitasnya? Rasanya kok aneh ya, sekonyong-konyong berbuat suatu tindakan dan tanpa alasan, begitu batinnya berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat intuisi sedikit demi sedikit mulai didengarkan, biasanya barulah seseorang mulai paham. Sosoknya mulai bisa ditangkap, kehadirannya dirasakan. Di saat jeda waktu, nol koma nol nol sekian detik, dari perputaran aktivitas sehari-hari yang seakan tak pernah berhenti ini, tiba-tiba ia muncul begitu saja tanpa ada suatu peristiwa mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, suara intusisi juga semakin bisa dibedakan dari "suara-suara" lain seperti angan-angan, lamunan, rekaan, atau pikiran yang meracau asal-asalan. "Aku yakin, ini intuisi dan harus diikuti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi celakanya lagi, ketika orang lain kemudian mencecar dengan pertanyaan, "Kok kamu bisa tahu? Dari mana kamu tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu ya. Muncul begitu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak masuk akal itu! Kamu tahu, tapi tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, intuisi yang memang merupakan pengalaman sangat individual ini kadang disimpulkan dengan deretan kata-kata bernada kebingungan: aku tahu tanpa tahu mengapa kutahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa tahu, kalau di tengah perjalanan, tiba-tiba saja kita memilih belok kiri dari yang sehari-hari biasanya belok kanan. Telepon berdering, dan kita sudah tahu siapa yang menelepon. Melihat sebidang tanah kosong, kemudian merasa cocok mendirikan usaha bakso urat di tempat itu, dan ternyata memang sukses. Pernahkah Anda mengalaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, salah satu penyebab ketidakpopuleran intuisi di zaman modern ini, disebabkan pemunculannya yang tidak bisa diduga-duga. Orang zaman sekarang gitu loh, selalu butuh kepastian. Selalu memerlukan data dan analisis sebelum bertindak. Bertolak belakang dengan intuisi yang bisa muncul tanpa permisi. Sedang jalan-jalan, bangun tidur, menyetir mobil, atau ngobrol dengan teman, tiba-tiba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cling!&lt;/span&gt; Ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Ayo lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu "mendadak", itulah salah satu ciri intuisi. Munculnya memang tidak melalui kajian panca indera dan pemikiran kita terlebih dulu. Karenanya kadang kemampuan ini disebut juga&lt;span style="font-style: italic;"&gt; extra-sensory perception&lt;/span&gt; (ESP). Suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan seseorang mendapatkan informasi atau persepsi di luar panca inderanya. Disebut "extra", karena di luar kebiasaan, dan diperoleh langsung dari pikiran yang sifatnya universal. Atau biar jelas, ada yang menyebutnya indera keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amarullah Hamali&lt;/span&gt;, seorang praktisi ESP, menekankan benar soal di luar kajian indera kita itu. "Kalau sudah memakai rasio, berarti sudah diolah dalam pikiran kita. Intuisi sama sekali tidak dipikirkan. Tiba-tiba saja gambarannya muncul dalam pikiran. Atau kalau itu bentuknya kata-kata, maka akan langsung terucapkan begitu saja," tutur pria yang tinggal di Bandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh? Ya, begitulah adanya. Amar - demikian panggilan Amarullah - tidak kaget lagi kalau tiba-tiba ada suatu "bisikan" yang memberitahukan tentang suatu hal. Semua terjadi begitu saja, baik diminta maupun tidak. Ia menganggapnya sebagai sebuah pesan yang penting bagi dirinya atau orang lain yang mungkin membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta, Mei 2006, Amar kebetulan ada di kota itu. Sejak dinihari, ia mendengar ada bisikan yang menyuruhnya untuk berhati-hati, tapi tidak tahu apa yang akan terjadi. Selesai salat Subuh, ia mengemas semua barang di dalam tas, tapi tetap dalam posisi bersila di lantai, menenangkan diri, untuk mencari kejelasan atas petunjuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, bumi terasa berguncang hebat. Oh, ternyata bisikan itu pertanda akan ada gempa, Amar membatin. Memang di hotel tempatnya menginap akhirnya tidak ada korban. Cuma tembok retak-retak. Tapi saat guncangan, ia bisa begitu tenang membuka pintu kamar - di tengah orang-orang yang panik berlarian, sambil menenteng tas untuk menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban pertama banyak benarnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ESP memang sekadar istilah dalam kajian keilmuan. Kemampuan semacam itu sudah dipelajari dan dimanfaatkan seiring kemajuan peradaban manusia. Amar meyakini, setiap orang pasti pernah mengalami fenomena indera keenam ini lebih dari sekali dalam hidupnya. "Kalau merasa tidak mengalami, itu karena ia tidak memperhatikan atau mengenali saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kenal, dan sayang, ESP bisa dikenali cirinya. Misalnya, kita sudah dapat mengetahui sesuatu hal sebelum terjadi. Dapat memahami pemikiran atau perasaan seseorang tanpa orang itu harus mengungkapkannya. Sering mendapat pesan untuk berbuat sesuatu dan setelah dikerjakan ternyata membawa manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amar mengakui, tak sedikit orang yang mengerutkan kening atau mengatakan semua ini tidak nyata. Cuma khayalan. Atau yang lebih parah lagi dianggap klenik, gaib. Tegas Amar menolak, "Tidak ada gaib di sini!" Walau ia mengakui, dengan bantuan ilmu-ilmu hitam, fenomena yang terlihat seperti ESP bisa saja terjadi. "Tapi itu dengan bantuan jin. Makhluk halus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berasal dari Timur, saat ini kajian tentang ESP justru maju di negara-negara Barat, seperti di beberapa universitas di Amerika Serikat (AS), Inggris, atau Skotlandia. Kajian ilmiah tentang fenomena paranormal (parapsikologi) ini malah sudah dimulai 80 tahun lalu, diawali di Duke University, North Carolina, AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maaf, sebentar! Istilah paranormal di sini mohon diartikan secara keilmuan, yaitu semua fenomena psikis atau pengalaman yang memiliki hubungan dengan jiwa dan pikiran. Ada juga yang mengistilahkannya psi. Jadi bukan "paranormal" yang terkenal karena ramalannya, dan konon bisa menyantet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak fenomena paranormal yang bisa dirasakan manusia. Namun dalam parapsikologi, ESP sendiri dikategorikan menjadi telepati (menghubungkan pikiran), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;clairvoyance&lt;/span&gt; (informasi yang bisa diterima melampaui batas ruang dan waktu), prekognisi (tahu sebelum terjadi), dan psikokinesis (pikiran sebagai sumber kekuatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala pesan yang kita pahami sebagai "intuisi" tadi sesungguhnya adalah informasi paranormal. Pemahamannya, informasi yang terkait dengan jiwa dan pikiran, namun belum bisa diterangkan dalam nalar pengetahuan saat ini. Fenomena bisa meramalkan masa depan, bermimpi didatangi seseorang yang ternyata besoknya meninggal, atau mampu menangkap pesan dari seseorang yang jauh, semua itu memang belum bisa diterangkan secara keilmuan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli parapsikologi menduga, mungkin kita sebenarnya menerima banyak informasi paranormal selama hidup. Cuma kita tidak menyadarinya saja. Mirip fenomena gunung es. Informasi semacam ini sering kita dapatkan, tapi rasio kita menepisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, masih dalam dugaan para ahli, kita baru bisa menerima informasi semacam ini dengan baik jika kondisi tubuh dan pikiran kita dalam keadaan tidak sadar penuh atau rileks. Seperti pada saat kita bermimpi, relaksasi, meditasi, atau hipnosis. Dengan pengukuran gelombang otak (EEG), kondisi tersebut tercapai pada gelombang otak Theta 4-7 cps (cycle per second) atau Delta 0,5-3 cps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli mencoba membuktikan potensi ESP yang ada pada setiap manusia melalui penelitian "Gansfeld", seperti ditulis dalam situs &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wikipedia&lt;/span&gt;. Pelopornya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Charles Honorton&lt;/span&gt; (1946-1992) ahli parapsikologi AS, dan dilakukan di Maimonides Hospital and Psychophysical Research Laboratories di Princeton, Amerika Serikat. Hasilnya sendiri cukup menarik untuk disimak, meski masih mengundang perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian itu, peserta terbagi dua kelompok yang terpisah ruangan, yaitu kelompok pengirim pesan dan kelompok penerima pesan. Penerima pesan ditempatkan di kursi yang nyaman, mata ditutup setengah potongan bola ping pong, lalu sekeliling ruangan diberi cahaya merah. Telinga mereka juga dipasangi headphones yang memperdengarkan suara dengan spektrum frekuensi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam, di ruangan lain, pengirim pesan ditugasi untuk memilih acak satu dari empat gambar, sambil berusaha untuk mengirimkan pesan secara mental ke penerima pesan. Pada saat yang sama, penerima pesan diminta menyebutkan semua yang ada di pikiran dan bayangan di otaknya. Prosesnya mirip telepati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir penelitian, penerima pesan diminta untuk menebak satu dari empat gambar yang sebelumnya telah dipilih pengirim pesan. Syaratnya, penerima hanya boleh menyebut sekali dan secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya ternyata cukup baik. Penerima pesan umumnya mampu menebak gambar dengan benar. Deskripsi tentang pesan yang dikirimkan secara mental dari ruangan lain umumnya juga cukup akurat. Ini benar-benar mencengangkan para ahli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mungkin akan cepat mencibir hasil penelitian ini sekiranya tidak dilakukan dalam kurun waktu 20 tahun (1974-2004), sebanyak 88 kali penelitian, dan melibatkan tiga ribuan tes. Kesimpulan para ahli, potensi ESP sebenarnya ada pada setiap orang, tinggal apakah orang itu mau memaksimalkannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, berdasarkan catatan penelitian, jawaban yang benar adalah yang terucap spontan. Atau artinya tanpa melalui proses pemikiran atau panca indera terlebih dulu. Jawaban inilah yang diyakini merupakan hasil dari informasi paranormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih otak kiri dan otak kanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang boleh saja punya potensi ESP, tapi yang menjadi tantangan terbesar justru memaksimalkan potensi itu. Sejauh pengamatan Amar, bahkan banyak orang yang sudah tahu manfaatnya, tapi sayangnya hanya sedikit yang tertarik mengembangkannya. "Padahal ini karunia Tuhan dan terbukti bisa membawa kebaikan untuk manusia," Amar terheran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa latihan yang bisa dicoba untuk meningkatkan kemampuan ESP. Namun inti dari semua latihan itu, untuk menambah kepekaan kita terhadap informasi paranormal. Cara berlatih yang paling dasar adalah membawa tubuh dan pikiran ke dalam situasi tenang dan rileks, seperti melalui meditasi, yoga, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tempat penampung informasi, otak juga perlu dilatih. Antara lain dengan memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan, kemudian mensinkronkannya dengan saling berkomunikasi (lihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Melatih Otak Kiri Dan Kanan"&lt;/span&gt;)&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap lanjutan, latihan kepekaan terhadap informasi paranormal ini akan membuka pula kepekaan panca indera kita terhadap hal-hal lain. Misalnya dapat melihat hal-hal tak kasatmata, mendeteksi dan merasakah getaran aura, mendengar suara yang tidak ditangkap pendengaran normal, mengerti maksud tersembunyi di masa lampau atau menangkap informasi peristiwa di masa depan, kemampuan membaca informasi melalui sentuhan, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa mahasiswa, Amar sering heran melihat beberapa tulisan di bukunya seperti berpendar-pendar. Anehnya, beberapa waktu kemudian, tulisan itu yang ternyata jadi soal ujian. "Jadinya saya terus belajar mengikuti yang menyala saja. Kebanyakan betul, itu yang keluar di ujian," tutur dosen yang menyelesaikan studi S3 bidang Filsafat di Universitas Gadjah Mada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, ia yang kebetulan memiliki bakat kepekaan dari garis keluarga ayah, semakin mengasah potensi ESP-nya. Semua dilakukan sendiri, bermodal ketekunan. Menurutnya, semua informasi yang diterimanya jarang meleset, jika tidak bisa dikatakan selalu benar. Ia menganggapnya sebagai suatu karunia Tuhan yang kini dimanfaatkan untuk menolong orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segala pesan yang diterima nantinya akan terjadi seperti apa adanya," kata Amar yakin. Tentang karir, keuangan, kesuksesan, dan aspek-aspek kehidupan lain, bisa tergambarkan jika kita menghendakinya. Jika di kemudian hari ternyata terjadi perubahan, maka biasanya si penerima pesanlah yang "menggagalkannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang kita bisa menenangkan diri. Rileks. Apa pesan yang Anda terima hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fakta-fakta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Henry Mintzberg dari McGill University (tahun 1989) mendapati bahwa para pemimpin perusahaan yang unggul biasanya menggunakan belahan kanan otaknya, yaitu sisi intuisi, sebanyak 80%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang takut untuk bertindak sebelum menerima kepastian definitif bahwa tuntunan mereka benar. Keraguan semacam ini cenderung menghalangi aliran intuisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tidak merasakan kejelasan yang kuat dari intuisi, jangan memaksakan diri. Melangkahlah satu per satu. Jika langkah Anda pun tidak terasa benar, maka janganlah melangkah terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih Otak Kiri dan Otak Kanan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu cara untuk melatih ESP kita adalah dengan melatih penerima informasi, yaitu otak. Sayangnya selama ini orang tidak menggunakan otak kiri dan otak kanan, secara seimbang. Latihan ini bermanfaat untuk melatih komunikasi antara kedua otak dan membuatnya sinkron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tempatkan gambar di atas sekitar 1,5 meter di hadapan Anda&lt;br /&gt;2. Lihat titik hitam di antara dua lingkaran selama 30 detik atau lebih, dan amati titik-titik berwarna dengan pandangan sekeliling Anda&lt;br /&gt;3. Lawanlah godaan untuk melihat ke segala tempat lain, selain titik hitam&lt;br /&gt;4. Lakukan terus secara konsentrasi penuh selama 3-4 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan:&lt;br /&gt;Reaksi yang terjadi setelah 4 menit, maka salah satu lingkaran akan terlihat melayang. Kotak putih yang ada di masing-masing lingkaran akan membentuk sebuah palang (+).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Amarullah Hamali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latihan Telepati Kesadaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Latihan ini dilakukan 2 orang. Satu bertindak sebagai pengirim dan satu sebagai penerima&lt;br /&gt;2. Kemudian duduk berhadap-hadapan, lakukan meditasi&lt;br /&gt;3. Konsentrasi, fokuskan pikiran pada benda yang dijadikan sasaran (misalnya kartu atau bagian tubuh)&lt;br /&gt;4. Pengirim fokus pada salah satu benda yang dijadikan sasaran, yang akan dikirim kepada penerima, kemudian penerima menebak benda tadi&lt;br /&gt;5. Bandingkan hasil dari pengirim dan penerima&lt;br /&gt;6. Tes ini dapat dilakukan pada satu ruangan atau pada ruangan yang berbeda antara sender dan receiver&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Amarullah Hamali&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI edisi Mind Body Soul III, November 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7035121145097629246?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7035121145097629246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7035121145097629246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7035121145097629246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7035121145097629246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/11/mari-dengarkan-dan-latih-intuisi.html' title='Mari Dengarkan Dan Latih Intuisi'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3155773625645985622</id><published>2008-07-21T16:21:00.013+07:00</published><updated>2009-05-12T13:31:01.506+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Salah Bersama, Salah Siapa?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika awak media massa malas membuka kamus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, ide tulisan ini saya comot dari blog milik &lt;a href="http://mbot.multiply.com/journal/item/459/mas_agus_rajinlah_buka_kamus..."&gt;Agung Mbot&lt;/a&gt;. Tapi karena saya pikir bisa membuat kita.. (kita? mungkin saya persisnya) merasa harus lebih cermat dalam bekerja, terutama dalam menterjemahkan berita berbahasa Inggris, maka ada baiknya juga saya posting di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, ada sebuah berita yang muncul di kantor berita &lt;a href="http://www.ap.org/"&gt;Associated Press&lt;/a&gt;, 30 Mei 2008.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="javascript:void(0)" tabindex="10" onclick="return false;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: lucida grande; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Homeless woman lived in man's closet for year&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;TOKYO&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; - A homeless woman who sneaked into a man’s house and lived undetected in his closet for a year was arrested in &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Japan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; after he became suspicious when food mysteriously began disappearing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;Police found the 58-year-old woman Thursday hiding in the top compartment of the man’s closet and arrested her for trespassing, police spokesman Hiroki Itakura from southern Kasuya town said Friday.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;The resident of the home installed security cameras that transmitted images to his mobile phone after becoming puzzled by food disappearing from his kitchen over the past several months.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;One of the cameras captured someone moving inside his home Thursday after he had left, and he called police believing it was a burglar. However, when they arrived they found the door locked and all windows closed.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;“We searched the house ... checking everywhere someone could possibly hide,” Itakura said. “When we slid open the shelf closet, there she was, nervously curled up on her side."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;Woman found the home unlocked&lt;br /&gt;The woman told police she had no place to live and first sneaked into the man’s house about a year ago when he left it unlocked.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;The closet is part of a Japanese-style room, one of several rooms in his one-story house where the man lived alone — or so he had thought.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;Police were investigating how she managed to go in and out of the house unnoticed, as well as details of her life inside the closet, and if she had taken anything else besides food.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;She had moved a mattress into the small closet space and apparently even took showers, Itakura said, calling the woman "neat and clean".&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:lucida grande;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;em style="font-style: italic; font-family: courier new;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berita itu oleh &lt;a href="http://www.poskota.co.id/"&gt;Pos Kota&lt;/a&gt;, ditulis begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:lucida grande;" &gt;Cewek Ngumpet Setahun Di Toilet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Seorang cewek di Fukuoka, Jepang, ngumpet di toilet selama setahundi rumah seorang pria berumur 57 tahun. Dalam kurun waktu 12 bulan itu, dia menghidupi dirinya dengan mencuri makanan milik pria tersebut. Sydney Morning Herald mengemukakan wanita itu akhirnya tertangkap polisi (agus w)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada yang aneh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, kemampuan bahasa Inggris saya masih minim. Tapi, maaf, kalau boleh saya memberitahu, Closet di sini bukan berarti kakus, apalagi toilet, melainkan sebuah tempat penyimpanan pakaian. Mirip lemari, tetapi lebih besar, karena kadang dipakai juga untuk menyimpan barang-barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha ha ha ha, silakan Anda tertawa. Anda juga boleh menganggap koran "sekelas" Pos Kota telah mempekerjakan seorang penulis berita terjemahan yang malas buka kamus. Atau jangan-jangan, Anda termasuk yang baru hari ini tahu arti closet yang sebenarnya? hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebentar! Ternyata yang salah bukan cuma koran di bawah binaan Bung Harmoko itu. &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas&lt;/a&gt; menulis berita itu sebagai "&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/02/0011104/kilasan.kawat.sedunia"&gt;kamar kecil yang tak lagi dipakai&lt;/a&gt;". &lt;a href="http://www.korantempo.com/"&gt;Koran Tempo&lt;/a&gt; mengartikannya "kloset". Sedangkan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; menyebutnya: "Toilet". Semua intinya merujuk kepada kamar kecil tempat membuang hajat. Entah, koran-koran yang lain. Saya tidak sempat mengeceknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta itu membuat saya berjanji untuk semakin tidak malas membuka-buka kamus, jika memang ada yang kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3155773625645985622?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3155773625645985622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3155773625645985622' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3155773625645985622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3155773625645985622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/07/salah-berbarengan-salah-siapa.html' title='Salah Bersama, Salah Siapa?'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-7229571522969393421</id><published>2008-07-14T11:50:00.010+07:00</published><updated>2008-07-30T23:56:49.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Bertemu Pak Arief Rachman</title><content type='html'>Untuk ketiga kalinya, dalam pekerjaan saya sebagai &lt;a href="http://www.blogger.com/profile/07614332360112805845"&gt;pengetik ulung&lt;/a&gt;, saya mewawancarai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arief Rachman&lt;/span&gt;, orang yang sering disebut media massa sebagai pakar pendidikan itu. Pertama, sekitar 1992, untuk majalah kampus. Kedua, sekitar 1994, untuk sebuah majalah pendidikan di mana saya menjadi reporter &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelance&lt;/span&gt;. Ketiga, minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah tahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reputasi&lt;/span&gt; beliau, maka saya berusaha untuk tepat waktu. Ini karena pengalaman wawancara pertama dulu semasa mahasiswa. Sudah mati-matian saya bangun pagi, naik angkot, bus, dan disambung bus lagi, dari Cinere ke Sekolah Labschool di Rawamangun, untuk mengejar janjian jam 06.30. Hasilnya, saya terlambat 10 menit. Dan dengan santainya, Pak Arief meminta saya membuat janji wawancara lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekilas pengelihatan saya, sosok Pak Arief masih seperti dulu. Tapi bermenit-menit berbicara, saya baru menyadari beberapa perubahannya. Rambut putihnya sudah semakin merata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gestur&lt;/span&gt; senyumnya sudah terlihat seperti senyum para lansia (sulit ya dideskripsikan), serta cara berbicaranya terasa lebih akrab. Entah, karena memang Pak Arief begitu pembawaannya, atau sedang kebetulan saja hari itu sedang ceria.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai wawancara yang cukup bernas itu, kami sempat ngobrol akrab, sambil berkeliling Sekolah Perguruan Diponegoro, sekolah yang saat ini dibawah binaannya. “Orangtua di sini, umumnya penghasilannya di bawah satu setengah juta rupiah. Pekerjaannya serabutan. Ujian nasional SMA di sini tingkat kelulusannya cuma 58%, karena di sini tidak ada yang namanya tim sukses. Saya menekankan kejujuran, konsekuensinya banyak yang tidak lulus,” begitu antara lain kata-kata Pak Arief di sela sapaannya kepada sejumlah orangtua yang mengantar anaknya mendaftar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan itu seperti hendak menjawab kebingungan saya beberapa puluh menit sebelumnya, tentang mengapa orang sekelas beliau mau membantu sebuah sekolah yang tampak bersahaja itu.  “Di sini walau ya keadaannya begini, tapi rasanya lebih hidup,” kata Pak Arief yang sempat meminta agar saya tidak menyinggung-nyinggung soal sekolah yang pernah dibinanya dulu. "Labschool itu sudah meminta uang masuk 17 juta, wa ha ha ha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah saya yang ketinggalan informasi atau memang jarang terpublikasi, tapi beliau ternyata sudah 17 kali masuk penjara karena aktivitasnya menentang rezim Orba. Cerita itu diungkapnya untuk membingkai cerita tentang hubungannya dengan Probosutedjo. Beberapa waktu lalu, beliau membuatkan sebuah acara di sekolah untuk Probosutedjo, setelah pengusaha kerabat Soeharto itu bebas dari penjara. Probosutedjo lalu menyumbang 100 juta untuk perbaikan masjid sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah itu masih disambung tentang Pak Arief yang mendampingi Soeharto dari masa kritis, meninggal, sampai penguburan di Astana Giribangun. Ya, ya, sekelebat saya ingat menyaksikan  di televisi, beliau yang menyembahyangkan jenazah mantan diktator Orde Baru  itu. Sesuatu yang menurut beliau, adalah sebuah rangkaian kebetulan. Tapi, bagi saya adalah sebuah pertanyaan: bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya anti, anti sekali dengan orang itu. Tapi kita boleh berbeda secara struktural, tapi tidak secara kultural,” begitu Pak Arief menjelaskan posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktural dan kultural? Ah, sebuah penjelasan yang masih sulit saya mengerti. Mudah-mudahan tidak untuk seumur hidup saya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-7229571522969393421?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/7229571522969393421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=7229571522969393421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7229571522969393421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/7229571522969393421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/07/bertemu-pak-arief-rachman.html' title='Bertemu Pak Arief Rachman'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-969100195445773709</id><published>2008-05-26T16:43:00.003+07:00</published><updated>2008-05-26T17:29:23.264+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kajang, Badui Dari Sulawesi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sosok mereka akan mengingatkan kita pada keberadaan masyarakat Badui di Banten. Pakaian serba hitam, kaum lelaki berikat kepala, tak berkendaraan ke manapun hendak pergi,  serta lingkungan tempat tinggal yang terisolasi dari dunia modern. Di balik segala "keganjilan" itu, masyarakat Kajang di Sulawesi Selatan menyimpan kearifan menyangkut hubungannya dengan alam dan sesama manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rumah kayu beratap rumbia, dengan papan bertuliskan: "Selamat Datang Kawasan Adat Ammatoa", benar-benar melegakan hati saya. Bagaimana tidak. Dua jam saya harus berputar-putar di wilayah Kecamatan Kajang dengan mobil angkot tua carteran, hanya untuk menemukan tulisan itu. Apalagi sesekali jantung ini harus terpompa cepat saat mobil menelusuri jalan-jalan perbukitan yang curam dan basah oleh air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang juga merupakan pintu gerbang menuju kawasan adat itu sekaligus menjadi simbol pembatas dua komunitas suku Kajang, kita sebut saja Kajang "luar" dan "dalam". Ciri masyarakat Kajang dalam, dapat segera dikenali dari pakaian serba hitam, yang beberapa di antaranya sudah mulai terlihat di sepanjang perjalanan saya menuju Tana Toa ini. Dari sorot matanya, tampak mereka menerima kedatangan orang luar seperti saya dalam keramahan, meski tak terucap sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski seperti mengisolasi diri, warga suku Kajang sudah terbiasa menerima dan berinteraksi dengan orang luar. Hal ini segera bisa diketahui dari buku tamu di rumah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdul Salam Nur&lt;/span&gt;, kepala Desa Tana Toa. Sejumlah peneliti Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, wartawan, rombongan pelajar SMP-SMU, atau turis-turis perorangan dari Prancis, Amerika, dan Jepang. Semua tercatat lengkap, selain menjadi semacam tanda bukti penyampaian "ucapan terima kasih" karena telah  dibolehkan masuk ke kawasan cagar budaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Kajang Tana Toa sudah menjadi tempat wisata rupanya. Apakah sudah menjadi komersial? Pertanyaan itu benar-benar mengusik hati saya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa untuk anak cucu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suku Kajang menyebut tanah tempat mereka berdiam sebagai Tana Toa, "tanah tertua". Dalam kepercayaan mereka, tanah ini memang telah tua umurnya dan pernah menjadi tempat satu-satunya berpijak saat Bumi masih berupa lautan luas. Di tanah ini pula muncul sepasang manusia pertama ciptaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tu Rie' A'ra 'Na&lt;/span&gt; (Yang Maha Kuasa) yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amma&lt;/span&gt; (bapak) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Angrota&lt;/span&gt; (ibu). Mirip kisah Adam dan Hawa dalam ajaran agama samawi, pasangan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal seluruh umat manusia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang luar Kajang, mungkin kepercayaan itu terasa menggelikan. Namun, sebenarnya mitos tentang manusia pertama berkembang juga di daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan, yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tumanurung&lt;/span&gt;. Manusia yang dikisahkan turun dari langit itu menurunkan raja-raja Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Anda jangan bingung dengan Desa Tana Toa, yang secara kewilayahan masuk Kabupaten Bulukumba. "Tana Toa" merupakan bagian dari desa seluas 19,50 km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; dan dihuni sekitar 700 kepala keluarga ini. Desa Tana Toa terdiri atas tujuh dusun, lima di antaranya merupakan kawasan adat. Salah satunya Dusun Benteng, tempat tinggal Ammatoa, pemimpin adat suku Kajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di Dusun Benteng bisa dianggap mewakili keberadaan Suku Kajang umumnya. Begitu kita melangkah ke dalam, nuansa keaslian masa silam langsung terasa. Nyaris tidak ada sentuhan modern sama sekali. Rumah penduduk dibangun mirip bola, atau rumah tradisional Bugis atau Makassar. Bedanya, di Kajang semua dibangun menghadap Gunung Lompobatang di sebelah barat sesuai kepercayaan Patuntung yang dianut masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah panggung berbahan utama kayu bitih itu mempunyai ciri khas yang segera dapat dikenali, yakni penyangganya yang berupa 16 tiang dan tertanam langsung ke tanah. Maksudnya agar setiap orang selalu bersatu dengan 'ibu' mereka, yaitu tanah di Bumi," terang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thamrin Tawang&lt;/span&gt;, penduduk setempat yang menemani saya menjelajah tanah tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga suku Kajang seluruhnya bertani, menanam padi dan jagung. Hasil panen semua dikonsumsi sendiri. Jika ada kelebihan, baru dijual. Seolah tak ingin membuang waktu, Thamrin langsung mengajak kami menemui &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puto Palasa&lt;/span&gt;, Ammatoa Kajang saat ini. Rumahnya ternyata hanya berjarak sekitar 300 m dari pintu gerbang Dusun Benteng. Beruntung, saat itu Ammatoa bersedia menerima saya, karena konon tak semua tamu bisa diterima. Sebagai pemimpin adat sekaligus wakil Tu Rie' A'ra 'Na di Bumi, kesibukan utama Ammatoa adalah berdoa untuk keselamatan cucu-cucunya di seluruh muka Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Poster Leony di dinding&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajah Puto Palasa terlihat relatif muda di usianya yang sekitar 60 tahun. Mungkin karena kendala bahasa, selama diwawancarai, Ammatoa banyak tersenyum saja. Ia juga menolak untuk dipotret dengan alasan yang cukup unik: "Nanti orang tidak akan mau bertemu saya lagi, karena kalau dia rindu, maka cukup melihat foto saja dan tidak bertemu saya," tutur Ammatoa ke-12, yang memang dikenal humoris ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dijabat seumur hidup, Ammatoa bukanlah jabatan yang diwariskan seperti raja. Pemilihan Ammatoa dilaksanakan dalam sebuah pemilu dengan melibatkan seluruh warga yang memiliki hak pilih. Kendati dihadiri warga, Ammatoa sendiri terpilih lewat tanda-tanda gaib seperti asap dupa yang mengarah ke dirinya, ayam putih hinggap di bahunya, serta kerbau yang menghampiri kediamannya. Upacara ini bisa berlangsung berminggu-minggu dan tertutup di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Thamrin yang menerjemahkan segala perkataannya, Ammatoa antara lain menyatakan cukup senang jika anak cucunya datang berkunjung. Ia tidak pernah curiga akan adanya maksud tidak baik dari tamu-tamunya yang bermaksud mengganggu ketenangan warga suku Kajang. "Kami menganggap semua orang jujur dan datang dengan niat baik," tuturnya dalam bahasa Konjo yang digunakan suku Kajang. Konon, jika ada tamu berniat tidak baik sekalipun, Ammatoa akan mengetahui melalui mata batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keramahan itu, rasanya tak heran jika banyak orang luar yang pernah tinggal lama di dalam wilayah adat. Tak sedikit peneliti, bahkan warga negara asing, kerasan tinggal di Kajang bertahun-tahun sampai mahir berbahasa Konjo. Orang dari suku-suku lain juga memungkinkan untuk hidup bersama warga Kajang (bahkan berkeluarga), asal bersedia mengikuti aturan-aturan setempat. Salah satunya, harus berbaju hitam setiap hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal izin Ammatoa, saya bisa melongok isi beberapa rumah warga. Setiap rumah rupanya berarsitektur sama, dindingnya papan kayu dipasang vertikal dan berlantaikan jalinan bambu. Uniknya, rumah yang rata-rata mempunyai luas bangunan 70 - 100 m&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; ini tidak memiliki dinding penyekat antara tamu dan keluarga pemilik rumah. Rupanya, ini manifestasi falsafah keterbukaan warga Kajang, yang berprinsip "jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus ditutupi?" Keterbukaan ini juga bisa diartikan, isi rumah tidak didapat dari hasil tidak halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri lain yang juga mencolok adalah keberadaan dapur di sisi kiri pintu masuk rumah. Ini dimaksudkan agar tamu bisa melihat apa yang tengah dipersiapkan untuk menjamunya tanpa harus takut dicelakai. Namun, jika dapur sudah mulai berasap, para tamu pantang untuk menampik apa pun sajian tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah penduduk Kajang umumnya sangat sederhana, hingga akibatnya terkesan kurang memperhatikan kesehatan. Lumbung tempat menyimpan hasil panen dan alat pertanian ditempatkan di atas rumah. Di sisi dapur setiap rumah, terdapat tempat buang air kecil yang limbahnya langsung terbuang ke bawah tanpa sanitasi yang baik. Sementara di bawah rumah juga terdapat kandang ternak sapi, kuda, dan ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rumah, sama sekali tidak ada perabot modern karena memang diharamkan oleh adat mereka. Barang-barang buatan luar yang dipakai hanya sebatas piring-gelas atau botol untuk wadah minyak. Untuk membawa air dari sumur atau sungai mereka menggunakan bilah, sejenis labu sebesar bola plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak membantu di sawah, perempuan suku Kajang akan sibuk menenun tope, semacam sarung tradisional. Keahlian warisan turun-temurun ini biasanya dilakukan di bawah rumah panggung, sambil mengawasi anak-anak mereka yang bermain. Benang tenunan dibeli dari Pasar Kalimporo yang terletak 8 km dari wilayah adat. Agar berwarna hitam pekat, kain diberi tarung, pewarna alami yang diambil dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa sedang berada jauh dari peradaban modern, maka saya agak terperanjat menyaksikan poster artis Leony, Siti Nurhaliza, dan Christina Aguilera, tertempel di rumah keluarga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puto Laling&lt;/span&gt;. Bagaimana keluarga ini bisa memajangnya jika mereka tidak pernah menonton televisi? Menyadari keheranan dan pertanyaan saya, Thamrin buru-buru menjelaskan bahwa anak perempuan keluarga itu yang berusia belasan sekadar menempel poster itu saja tanpa tahu wajah siapa itu. "Pokoknya, asal kelihatan cantik, ya dipasang saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya. Saya mengerti kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanah, sang ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang dimaknai orang luar sebagai "keterbelakangan" suku Kajang, sesungguhnya bukan tidak disadari warga suku itu. Namun, mereka bergeming dalam situasi itu semata-mata karena telah lama terikat dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasang Ri Kajang&lt;/span&gt;, atau nilai-nilai tertinggi dalam kehidupan yang bersumber dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasang&lt;/span&gt; yang tidak disebut sebagai agama ini mengejawantah dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamase-mase&lt;/span&gt; yang menjadi landasan fisik warga suku Kajang selama hidup di dunia. Orang Kajang sendiri adalah pemeluk Islam Patuntung, suatu sinkretisme Islam dengan kepercayaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patuntung&lt;/span&gt; atau pengejawantahan nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasang&lt;/span&gt; melalui aspek rohani. Segala pola pikir dan tindak tanduk warga Kajang tak akan pernah lepas dari dua ajaran warisan nenek moyang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamase-mase &lt;/span&gt;itu pula warga suku Kajang hidup dalam harmonisasinya dengan alam. Misalnya, keberadaan hutan di sekitar Tana Toa tetap lestari karena mereka meyakini tanah adalah angrota atau "sang ibu", yang telah melahirkan mereka. Sebuah sikap yang secara tidak langsung telah menjaga lingkungan mereka dari kerusakan sumber air dan ekosistem. Sikap ini juga terlihat saat mereka menggarap sawah dan ladang yang dilakukan tanpa merusak tanahnya. Melipatgandakan panen dengan jalan menanam lebih dari sekali dalam setahun tidak dilarang. Namun, penggunaan pupuk dan pestisida tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem pemerintahan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kamase-mase&lt;/span&gt; juga memberi tuntunan tentang kearifan seorang pemimpin. Dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Potret Manusia Kajang&lt;/span&gt; terbitan Pustaka Refleksi (2003) tertulis antara lain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lambusu 'nuji nukaraeng, gattannuja nuada', sa' barunuja nu guru, apisonanuja nusanro&lt;/span&gt; (karena jujur engkau menjadi pemerintah, karena tegas engkau menjadi adat, karena sabar engkau menjadi "guru", karena "kepasrahan" engkau menjadi "dukun").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena nilai-nilai itulah, sebagai pemimpin, Ammatoa dan kabinetnya benar-benar harus mampu menjadi panutan masyarakat jika tidak ingin kualat terhadap Pasang.&lt;br /&gt;"Yang ada dalam pikiran Ammatoa adalah bagaimana memakmurkan rakyatnya. Jika semua orang sudah berkecukupan, maka dia yang terakhir berkecukupan. Tapi kalau orang semua miskin, dialah yang pertama menjadi miskin," jelas Puto Palasa dengan rendah hati. Ucapan itu pun dibuktikannya. Ammatoa rela meninggalkan segala bentuk keduniawian, meski pernah menjadi salah satu petani sukses yang memiliki berhektar-hektar sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dari waktu ke waktu perubahan zaman terus bergulir, warga suku Kajang tetap bertahan dalam kearifannya. Bukan karena keperkasaan, melainkan harmonisasinya dengan alam dan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI September 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Saya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak saya tulis tentang Kajang adalah kekuatan magis yang mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat suku ini. Sekadar tidak suka saja.  Selain karena saya takut, tulisan saya nantinya hanya akan penuh dengan sensasi belaka.  Tapi saya sempat tergelak-gelak, setelah diberitahu bahwa pemakai jasa dukun setempat (yang terkenal ampuh itu) ternyata bukan cuma warga sekitar. Seseorang yang saya tahu cukup intelektual, modern, pernah datang jauh-jauh ke Kajang hanya untuk meminta  jimat dalam rangka pengangkatannya menjadi direktur di sebuah perusahaan milik negara. Ah, kurang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pede&lt;/span&gt; ya Pak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-969100195445773709?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/969100195445773709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=969100195445773709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/969100195445773709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/969100195445773709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/05/kajangbadui-dari-sulawesi.html' title='Kajang, Badui Dari Sulawesi'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-3388135027756904534</id><published>2008-05-21T16:11:00.006+07:00</published><updated>2009-09-01T11:44:42.919+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mimpi Ribuan Kilometer Menuju Tanah Harapan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akibat perlakuan sewenang-wenang, setiap tahun ribuan orang terpaksa pergi ribuan kilometer meninggalkan tanah kelahirannya, sebagai pengungsi. Negeri kita jadi salah satu persinggahan sementara sebelum mereka melangkah ke tanah harapan. Di antara kekerasan dan luka yang mengoyak hidup mereka, masih adakah mimpi-mimpi tentang masa depan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipandang sekilas, wajah dan perawakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Qiu Bai&lt;/span&gt; tak berbeda dengan pria warga negara Indonesia keturunan Tionghoa umumnya. Bermata sipit, berkulit kuning, rambut lurus, dengan sedikit jenggot yang tumbuh di dagu. Tapi ketika diajak berbicara, maka pria berusia 31 tahun yang terlihat jauh lebih muda dari usianya ini, ternyata tidak bisa berbicara bahasa Indonesia sepatah kata pun. Ia memang baru baru tiga bulan di negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di suatu tempat di kawasan Pesing, Jakarta Barat, pria asal Shan Dong, Provinsi Jinan, Republik Rakyat Cina (RRC) ini juga cenderung berbicara perlahan, walau kalimat-kalimatnya tetap terdengar runtut. Sesekali pandangannya menerawang gundah, ketika harus mengingat berbagai kilasan peristiwa pahit dalam sejarah hidupnya. Sorot ketidakpastian juga terpancar di matanya, jika disinggung tentang rencana-rencana di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berstatus sebagai pengungsi di bawah perindungan Badan PBB untuk Masalah Pengungsi (UNHCR), Qiu Bai dan 62 pengungsi lain yang saat ini tinggal di Indonesia, memang hanya bisa bersabar menanti negara yang mau menerima mereka sebagai warganya. Mereka berharap satu dari negara-negara Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada akan bersedia menerima mereka sebagai warga negara. Namun penantian itu tidaklah pasti. Bisa dalam sebulan, setahun, atau bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya cuma bisa pasrah menunggu berapapun lamanya. Kalau pulang ke Cina, tidak mungkin. Bisa-bisa nanti saya akan mati dibunuh," tutur pria yang masih melajang ini dengan nada lirih.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sering teler&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Qiu Bai di masa lalu memang cukup memilukan. Kemerdekaan hidupnya berulangkali terampas karena tiga kali masuk penjara tanpa tuduhan yang jelas. Di luar penjara, aparat pemerintah juga mengawasi gerak-geriknya. Ia harus membuat laporan jadwal harian dan rutin melaporkannya kepada polisi. Siksaan batin terberat adalah bayang-bayang kematian, yang baginya terasa begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya, pria bertubuh sedikit gemuk ini tidak bisa menjelaskan tindakan yang telah membuat hidupnya begitu sengsara. Satu "kesalahan" yang pernah dibuat dalam hidup Qiu Bai adalah menjadi praktisi Falun Gong (baca: falun kung) sebuah kelompok aktivitas spiritual yang berakar dari Konfusianisme, Budhisme, dan Taoisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Pemerintah RRC menyatakan Falun Gong sebagai aliran sesat, Qiu Bai beserta jutaan praktisi lain harus hidup diburu rasa takut. Tak sedikit yang kemudian dipenjara karena nekat berteguh pada keyakinannya. Beberapa gelintir orang yang beruntung, berhasil melarikan diri ke luar negeri sebagai pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Qiu Bai tidak pernah berpikir, aktivitas Falun Gong yang diikutinya sejak 1996 bakal menjadi awal petaka. Yang diyakininya, Falun Gong telah mengembalikan hidupnya yang berantakan di masa muda. Pada usia belasan, ia sudah mencandu alkohol dan rokok. Pulang larut malam dari bar dalam keadaan teler jadi aktivitas hariannya. "Hidup saya kacau, malah jiwa saya terasa kosong," tutur pria yang berlatar pendidikan ilmu fotografi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berkat latihan pernapasan dan meditasi yang kemudian rutin dilakukannya melalui Falun Gong, berangsur-angsur Qiu Bai merasa lebih sehat. Pikiran juga terasa jernih, sehingga hubungan dengan orang lain, termasuk orangtuanya, dirasakan semakin baik. Ternyata kesaksian serupa juga diungkapkan teman-teman, tetangga, termasuk keluarganya. Kebetulan seluruh keluarganya juga ikut berlatih, bahkan rumah tempat tinggal mereka dijadikan tempat latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dekade 1990-an, pemunculan Falun Gong yang berfalsafahkan "Baik, Sejati, dan Sabar", memang seolah mengguncang negeri tirai bambu. Adalah Li Hongzi, seorang praktisi spiritual yang kemudian dijadikan guru besar Falun Gong, yang memperkenalkannya pada 1992 melalui qiqong. Sebuah seni latihan pernapasan yang berakar dari budaya China berabad-abad lalu.&lt;br /&gt;Latihan-latihan Falun Gong yang sederhana dan mudah dilakukan banyak orang, ternyata digemari dan meluas ke seluruh negeri. Hanya dalam lima tahun, praktisi Falun Gong di RRC diperkirakan mencapai 60 - 70 juta orang. Bahkan gerakan ini juga meluas hingga 70 negara, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masa-masa manis madu itu harus berakhir ketika tiba-tiba pemerintah RRC mengumumkan larangan terhadap aktivitas Falun Gong pada 20 Juli 1999. Bagi para praktisi, sikap pemerintah amat membingungkan, lantaran sebelumnya aktivitas mereka diterima terbuka, bahkan pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sendiri. Apalagi organisasi ini sama sekali tidak berpolitik, yang mungkin ditakutkan dapat mengancam keberadaan Partai Komunis Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bermacam publikasi yang dikeluarkan praktisi Falun Gong di luar RRC digambarkan, tak sedikit praktisi yang kemudian ditangkap dan dipenjarakan karena tetap teguh mempertahankan keyakinannya. Bahkan bukan hanya direnggut kebebasannya, mereka juga disiksa agar mau melepaskan keyakinannya pada Falun Gong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis siksaan yang ditimpakan kepada tahanan sungguh sulit dibayangkan orang yang berada di luar penjara. Yang keji, seperti disetrum pada bagian-bagian tubuh tertentu sampai pingsan, disiram air mendidih, kuku ditusuk tusukan sate agar terkelupas, ditampar beruntun terus menerus oleh empat orang, atau tahanan wanita yang ditelanjangi lalu dimasukkan ke ruang tahanan khusus pemerkosa dan pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiu Bai sendiri ditangkap setelah ketahuan saling bertukar kabar tentang kondisi Falun Gong di daerahnya lewat internet. Jalur internet di Cina memang tidak bebas. Selain diawasi, setiap data yang dibuka harus sepengetahuan aparat keamanan. Akibat tindakan nekatnya ini, Qiu Bai harus mendekam selama dua tahun penjara. Tuduhannya: merusak tatanan hukum dengan ajaran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melukiskan, tidak ada yang lebih buruk dibanding hidup di sebuah ruangan kecil berukuran tak lebih dari 30 m2 yang berisi 20 tahanan. Semua aktivitas hidup sehari-hari dilewatkan di ruang sempit dan pengap, termasuk buang air. "Tidur berdesak-desakan, di mana di atas kepala kami adalah WC," tuturnya tanpa memerinci lebih jauh. "Mengingatnya saja rasanya malas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pelarangan, hidup keluarganya menjadi tidak tenang. Rumah tempat tinggal Qiu Bai digeledah hingga enam kali. Barang-barang yang berkaitan dengan Falun Gong disita. Bahkan termasuk barang-barang pribadi seperti VCD, tape recorder, televisi, karena dianggap telah dipakai dalam latihan Falun Gong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari situasi yang tidak menentu, ibu dan saudara perempuan Qiu Bai memutuskan pindah ke Kanada. Untuk sementara ia tidak bisa ikut karena masih harus diawasi aparat pemerintah. Apalagi ayahnya juga harus berkali-kali masuk penjara dan diawasi ketat oleh polisi. "Buat saya, situasi saat itu begitu buruk," jelas Qiu Bai yang mengaku trauma dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dicuri lalu dikremasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan keji terhadap narapidana Falun Gong dibenarkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nie Ge&lt;/span&gt;, salah seorang praktisi Falun Gong yang kini juga berstatus pengungsi di Jakarta. Wanita berusia 51 tahun asal Kota Chang Chun di Provinsi Jilin ini menjadi saksi kekejaman saat tujuh kali ditahan polisi, dengan masa penahanan antara 2 - 3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ada pimpinan, perlakuan mereka akan lebih kejam. Karena siksaan itu seperti sebuah pertunjukan kepada pimpinan saja," tutur Nie Ge. Siksaan demi siksaan kadang membuat tahanan yang sedang diinterogasi nyaris meninggal. "Kalau sudah hampir mati, biasanya tahanan dikembalikan ke keluarga dalam keadaan tubuh hancur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata belakangan, nasib para narapidana praktisi Falun Gong dirasakan semakin buruk. Terutama setelah beredar kabar dugaan, organ tubuh para narapidana Falun Gong diambil untuk diperdagangkan atau transplantasi, seperti kornea mata, hati, dan ginjal. Dugaan ini memang sulit dibuktikan, karena arus informasi di negeri tirai bambu itu begitu tertutup. Bagi mereka yang terlibat atau mengetahui praktik keji ini, juga diancam untuk tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran sedikit terkuak dari hasil penyelidikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;David Matas&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;David Kilgour&lt;/span&gt;, dua pengacara HAM internasional dari Kanada, atas permintaan Koalisi Penyelidikan Penganiayaan Falun Gong di Cina (CIPFG) yang terdaftar di Washington DC. Keduanya melakukan penyelidikan lewat pengakuan beberapa orang yang tahu dan sudah berada di luar negeri, percakapan telepon ke sejumlah rumah sakit yang menawarkan organ, atau penelusuran data-data internet. Matas dan Kilgour tidak diizinkan masuk Cina oleh pemerintah RRC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Matas dan Kilgour antara lain memuat pernyataan seorang istri dokter yang mengaku bahwa suaminya telah mengambil 2.000 kornea mata narapidana praktisi Falun Gong. Tidak satu pun "pendonor" kornea mata itu yang hidup saat dioperasi, karena organ tubuh lainnya juga sudah lebih hilang. Setelah semua proses operasi selesai, mayat lalu dikremasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga korban penganiayaan juga bersaksi, kondisi mayat para narapidana yang dinyatakan mati di penjara umumnya sudah tidak utuh lagi. Organ-organ tubuh tertentu sudah dicuri. Di dalam penjara, narapidana juga mengaku harus menjalani tes kesehatan berupa foto rontgen dan tes darah. Diduga, tes ini dilakukan untuk mengecek kondisi kesehatan dan keperluan kecocokan donor organ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lain, ada fakta bahwa untuk mendapatkan organ tubuh untuk pencangkokan di Cina ternyata begitu gampang. Lewat situsnya di internet, sebuah institusi kesehatan bahkan pernah mengumumkan terang-terangan kalau pihaknya bisa mencarikan organ tubuh dalam waktu seminggu atau paling lama sebulan. Ajaibnya, ada semacam "garansi" jika seandainya terjadi ketidakcocokan organ, ditawarkan pilihan organ pengganti dengan operasi satu minggu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di luar Cina, mendapatkan organ tubuh bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sebagai perbandingan, ungkap Matas, di Kanada saja dibutuhkan paling tidak antara 30 - 50 bulan untuk setiap pasien. "Karena pendonor organ tubuh berasal dari pendonor biasa, orang yang dihukum mati, atau yang sudah dinyatakan mati otak," ujar Matas ketika berkunjung ke Jakarta, Oktober lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dihitung berdasarkan rata-rata operasi cangkok organ tubuh pertahun, antara tahun 2000 - 2005, atau setelah penindasan Falun Gong, di Cina terjadi peningkatan sebanyak 41.500. "Dari mana jumlah sebanyak itu?" Matas mempertanyakan. Ia yakin, gencarnya penawaran cangkok organ tubuh oleh sejumlah rumah sakit di Cina, bersumber dari narapidana Falun Gong. Konsumennya adalah pasien-pasien dari luar negeri, termasuk Indonesia, yang sebenarnya secara tidak sadar sudah memanfaatkan organ-organ tubuh curian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar adanya tindakan di luar batas kemanusiaan ini, jelas membuat kecut para praktisi Falun Gong yang bertahan di Cina. Mereka yang kebetulan memiliki paspor akhirnya mencoba lari ke luar negeri lewat berbagai cara, salah satunya menjadi turis. Qiu Bai dan Nie Ge, misalnya, memilih menuju ke Singapura dengan bantuan sanak saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah berada di luar Cina, nasib baik tak selalu berpihak ke mereka. Gara-gara getol berdemonstrasi di depan kedutaan Cina dan memberikan informasi ke khalayak tentang penindasan Falun Gong, Nie Ge harus berurusan dengan aparat keamanan Singapura. Ia sempat ditahan pihak imigrasi selama delapan jam dengan tuduhan tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penangkapan ini ternyata berakibat fatal bagi wanita yang hidup sebatang kara sejak suami, ibu, dan beberapa familinya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas ini. Izin kerjanya di sebuah hotel yang masih berlaku dua tahun dicabut, lalu diminta meninggalkan negeri itu hanya dalam tujuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang bisa saya lakukan lagi, kecuali mengajukan diri menjadi pengungsi. Walau masa depan, malah menjadi tidak jelas," kata Nie Ge yang meyakini adanya tekanan dari pemerintah RRC kepada Singapura atas peristiwa pengusiran dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dipenjara sebagai jaminan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut berbeda, cerita pilu akibat kekerasan juga dibawa para pengungsi asal Timur Tengah yang kini tinggal di kawasan Cisarua, Bogor. Di daerah berhawa sejuk pegunungan itu, mereka yang kebanyakan berasal dari Irak dan Afghanistan, seakan tengah menenangkan diri dari situasi peperangan yang telah memaksa mereka meninggalkan kampung halaman. Kekejaman, derita, desing peluru, dan tumpukan mayat, tinggal kenangan masa silam.&lt;br /&gt;Kini wajah-wajah dari tanah Arab mulai tampak ceria dalam tawa canda. Meski jauh di lubuk hati mereka, masih sulit melupakan semua yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ali Fleih&lt;/span&gt; (30) misalnya, masih begitu emosional kala bercerita tentang nasibnya yang terpuruk. Seiring berakhirnya Perang Teluk I, keluarganya yang kebetulan berseberangan secara politik dengan Presiden Saddam Husein, harus menanggung derita luar biasa. Empat dari delapan kakaknya telah dihukum mati tentara Saddam. Dalam kondisi perang, proses pengadilan dan cara-cara eksekusi hukuman mati, tentu saja diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia 14 tahun, Ali bahkan sudah mencicipi pengapnya penjara militer Irak. Meski ia tidak ikut-ikutan main politik, tapi tentara selalu menciduknya sebagai jaminan agar kakak-kakaknya menyerahkan diri atau jika sekadar ingin dikorek keterangannya. Keluar masuk penjara ini bisa berlangsung berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak penderitaannya, Ali harus merasakan dua setengah tahun meringkuk di balik jeruji besi sebagai jaminan atas penyerahan diri kakaknya. Di sanalah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri segala bentuk kekejaman di luar akal sehat manusia. "Sampai saya tidak punya rasa takut lagi," tutur pengungsi yang sudah tinggal di Indonesia selama tujuh tahun ini dengan enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring mundurnya Irak setelah gagal menginvasi Kuwait pada 1990, pemerintahan Saddam mengadakan pembersihan terhadap para pembangkang di seluruh negeri. Selama tiga minggu, terjadi pertempuran antara rakyat dan pasukan Saddam. Korban tewas tak terhitung lagi. Di kota Imarah, tempat kelahiran Ali yang waktu itu penduduknya 800.000 orang, dalam tiga hari ditemukan 11.000 korban pembantaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas luka akibat kekejaman militer Irak, yang hingga kini masih membekas pada tubuh Ali, berupa bekas luka tembakan di tangan, betis, dan pantat. "Saya sempat pingsan karena kehabisan darah waktu tertembak," kenangnya. Beruntung ada orang yang menolong dengan menyembunyikan tubuhnya di semak-semak kebun kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi penuh kekerasan ini yang mendorong sebagian besar rakyat Irak mengungsi ke negara-negara di sekitarnya dengan berjalan kaki. Para pengungsi ini harus benar-benar cermat rute perjalanan agar tidak menjadi sasaran tembak pasukan pemerintah. Atau sesekali harus menghindari dari incaran helikopter yang siap menjaring para pengungsi, mirip seperti menjaring ikan teri. Mayat-mayat korban kekerasan yang bergelimpangan di jalan tak menyurutkan langkah Ali dan 30.000 pengungsi lain menempuh 98 km menuju perbatasan Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan pengungsi Irak inilah yang sekarang hidup terlunta-lunta di beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. Beberapa di antara mereka, bergabung dengan pengungsi negara lainnya, mencoba peruntungannya menggunakan perahu menuju Australia atau negara-negara Eropa. Rute menuju Negeri Kangguru melalui perairan Indonesia, menjadi tujuan favorit pengungsi Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tak sedikit di antara manusia perahu itu yang mengalami nasib naas. Banyak yang menjadi korban keganasan gelombang laut, gara-gara perahu yang kondisinya tak layak tapi dimuati banyak orang. Atau tak jarang, justru mendapat perlakuan yang kasar dari aparat keamanan negara-negara setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perahu yang sial, batal dinaiki Ali, pada Oktober 2001. "Saya terlambat datang satu hari. Katanya kapal itu juga sebenarnya sudah rusak," jelasnya. Belakangan terdengar kabar, perahu itu tenggelam di perairan dekat Darwin Australia dan menewaskan 360 dewasa dan 160 anak. Dari korban-korban itu, 250 orang di antaranya adalah pengungsi Irak, sisanya dari Mesir dan Aljazair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ingin jadi WNI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pengungsi Timur Tengah, menunggu kepastian negara yang mau menampung mereka, sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Terutama untuk melawan kebosanan dan ketidakpastian. Sehari-hari, aktivitas mereka diisi dengan mempelajari berbagai hal, sesekali berolahraga, tapi yang paling sering diisi kongkow-kongkow dengan sesama pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengungsi, kegiatan mereka memang dibatasi peraturan resmi dari UNHCR maupun pemerintah Indonesia. Aturan utama dan yang dirasakan berat bagi pengungsi yaitu mereka tidak dapat bekerja secara resmi. Citra baik mereka di masayarakat juga harus dijaga dan tidak boleh berbuat kesalahan yang masuk kategori pelanggaran hukum. Jika ada secuil saja nilai buruk pada riwayat hidupnya, mereka akan semakin sulit mendapatkan negara yang mau menampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kata Ali dan sejumlah pengungsi lain, belakangan ini masa tunggu terasa semakin lama. Mereka menduga, penyebabnya adalah perubahan angin politik internasional, terutama setelah Amerika Serikay menyatakan perang terhadap terorisme. Negara-negara tertentu, seperti Australia, juga mulai menseleksi ketat calon warga negaranya. Australia misalnya, hanya menerima pengungsi yang mempunyai hubungan darah dengan pengungsi sebelumnya yang sudah diangkat menjadi warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasrah menunggu terus tak ada kepastian, kadang membuat kesal," aku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hassan Sami&lt;/span&gt; (35), pengungsi asal Irak yang telah memasuki tahun keenam penantiannya. Ia mungkin masih bisa bersabar, tapi istri dan kedua anak perempuannya yang berusia 14 dan delapan tahun, terus menanyakan tentang akhir dari penantian panjang ini. "Kasihan anak-anak, pendidikannya tidak jelas. Suatu saat mereka juga harus menikah, padahal statusnya tidak jelas," Hassan memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pengungsi lain yang tetap bersikukuh menuju ke negara-negara makmur, karena kejenuhannya, Hassan bahkan sudah pasrah dan berharap bisa menjadi warga negara Indonesia saja. "Saya sudah kirim fax ke pemerintah, tapi belum ada jawaban," tutur pria yang bersama keluarganya sudah berpindah-pindah dari Iran, Kuwait, Mesir, Turki, Suriah, dan Malaysia. Jika kepala sudah terasa penuh dengan aneka persoalan hidup, Hassan memilih mengurus ternak ayamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan jenuh terasa wajar mengingat para pengungsi umumnya berusia produktif dan punya kemampuan profesional untuk bekerja. Hassan misalnya, semasa di Iran pernah mengelola sebuah pabrik sepatu dan restoran dengan puluhan pekerja. Seluruh usaha itu akhirnya terpaksa harus dilego karena pemerintah Iran mengeluarkan larangan bagi orang asing untuk berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pengungsi lain juga memiliki beraneka keahlian seperti mekanik, komputer, bisnis, bahkan ada pula seorang dokter. Konon, ada beberapa perusahaan yang sebenarnya mau mempekerjakan mereka, tapi selalu mentok pada masalah identitas. Masalahnya, pengungsi tidak punya KTP, yang ada hanya surat pengungsi dari UNHCR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap segala persoalan pengungsi, UNHCR tidak menutup mata. Lembaga PBB yang berkedudukan di Jakarta itu meminta Yayasan Pulih, sebuah LSM di Jakarta, untuk mendampingi para pengungsi. Yayasan ini pula yang menyelenggarakan sebuah pusat aktivitas pengungsi di sebuah rumah di Megamendung, Cisarua, Bogor. Di rumah tua yang disewa pertahun itu, terlihat seperangkat komputer dan meja pingpong untuk mengisi kegiatan para pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat aktivitas pengungsi juga menjadi tempat berkumpulnya sesama pengungsi sehari-hari. Mereka bercengkerama, mengobrol, atau bermain tenis meja. Melalui petugas yang datang tiga kali seminggu, Yayasan Pulih juga menghidupkan berbagai kegiatan seperti kursus bahasa Inggris, kursus bahasa ibu para pengungsi, atau kursus komputer. Pengajarnya sesama rekan pengungsi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, UNHCR memberi tunjangan hidup untuk para pengungsi. Dana ini rutin diberikan perbulan yang jumlahnya menurut mereka, "Hanya cukup untuk 15 hari." Sebagai penambal kekurangan, mereka mengaku saling meminjam uang antar sesama pengungsi. "Siapa yang punya akan meminjami," jelas Hassan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula beberapa hal yang disyukuri pengungsi, seperti misalnya masalah kesehatan. UNHCR bermitra dengan Palang Merah Indonesia untuk mengurusi kesehatan mereka. Jika ada yang sakit, mereka tinggal mendatangi rumah sakit yang dirujuk PMI dan tidak perlu membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disangka orang kaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pengungsi Timur Tengah beberapa tahun lalu yang ditempatkan di sebuah penginapan khusus di sekitar Cisarua, kini para pengungsi lebih banyak tinggal membaur bersama masyarakat sekitar. Dengan uang bantuan UNHCR, mereka mengontrak rumah atau kos di bilik-bilik sederhana milik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaurnya pengungsi dengan masyarakat, memunculkan banyak cerita unik. Fisik mereka yang khas ras Arab dan sehari-hari selalu terlihat berpakaian necis, selalu menarik perhatian masyarakat di sekitar. Soal postur tubuh, mereka memang boleh bersaing dengan pria-pria lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma parahnya, menurut Ali, masyarakat di sekitar selalu memandang mereka sebagai orang kaya. Jika tidak cermat betul, pengungsi bisa saja dikerjain sewaktu belanja di warung. Atau kali lain, diminta bermacam sumbangan untuk desa. Padahal dompet benar-benar lagi bokek.&lt;br /&gt;Yayasan Pulih menyadari betul, kehadiran pengungsi bisa mengakibatkan benturan budaya dengan masyarakat. Karenanya, pengungsi juga dibekali pengetahuan budaya dan tata cara kehidupan masyarakat sekitar, agar tidak muncul konflik. "Walau setiap ada keperluan dengan pihak manapun, selalu berhubungannya lewat kami," tutur Suarni, petugas pendamping dari Yayasan Pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal baru yang didapat pengungsi di negeri ini, Misalnya, baru mengerti arti kerja bakti, yang sebelumnya tak ada dalam budaya mereka. Rasa kesetiakawanan antar pengungsi dan warga sekitar sekitar juga tumbuh karena hidup senasib sepenanggungan di tanah asing. Sehari sebelum Intisari berkunjung contohnya, para pengungsi sempat menjadi pelopor dalam memadamkan api di rumah seorang warga yang terkena musibah kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrabnya pergaulan dengan masyarakat, membuat pengungsi dapat memahami adat istiadat setempat yang ramah. Bahkan ada yang kemudian menjalin cinta dan menikahi warga sekitar, seperti Ali yang menikahi warga setempat dua tahun lalu. Tapi pasangan ini belum berencana untuk mempunyai anak. "Nanti saja kalau sudah ada negara yang mau menerima, baru punya anak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa penantian ini, selain dididik oleh sesama pengungsi, anak-anak juga dititipkan di sekolah-sekolah sekitar. Karena tumbuh sejak kecil, anak-anak bahkan cepat menyerap kata-kata dalam bahasa Indonesia, termasuk bahasa Sunda. Malah ada cerita, seorang anak pengungsi yang bersekolah SD, malah memperoleh nilai terbaik dibandingkan dengan teman-temannya sekelas dalam mata pelajaran Bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun di negeri asal mereka, perubahan politik telah terjadi menyusul jatuhnya pemerintahan Presiden Saddam Husein. Namun, kondisi ini ternyata tidak membuat mereka berniat kembali ke tanah kelahiran mereka. Beberapa waktu lalu, beberapa pengungsi sempat tergoda untuk kembali dan melepas status pengungsinya. "Belakangan saya dengar situasi malah menjadi kacau," kata Ali yang rajin mengikuti perkembangan negerinya melalui media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang kampung halaman juga didapat dari sesama pengungsi di luar negeri. Dari sanak saudaranya, Hassan mendengar, beberapa pengungsi yang dulu tinggal di Inggris dan pulang, ternyata sekarang kembali mengungsi. "Ayah saya langsung pulang begitu mendengar Saddam jatuh. Tapi setelah tiga tahun, dia mengungsi lagi," kata Hassan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tadi semakin membulatkan tekad para pengungsi Irak untuk melupakan negeri dongeng 1001 malam itu. Tekad mereka, biarlah mimpi-mimpi indah akan mereka wujudkan di tanah air baru. Namun entah kapan mimpi itu menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Saya banyak dibantu oleh teman2 dari Falun Gong Indonesia untuk mewawancarai 2 pengungsi asal China. Kisah rekan2 mereka di RRC sebenarnya lebih menyedihkan, tapi tidak bisa dimuat begitu saja di media saya. Dengan sikap serius, selesai wawancara saya sempat diwanti-wanti bahwa ada pihak2 tertentu yang tidak suka jika persoalan penindasan Falun Gong di China diangkat di media.  Konon, mereka bahkan tidak segan2 membungkam media dengan... uang. Ha! Silakan saja, kata saya. Tulisan ini saya jual kok. 10 miliar! hehehe. Tapi sampai akhirnya diterbitkan, mereka tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan pengungsi Irak, sedikit lebih santai. Selain karena sudah sedikit lancar berbahasa Indonesia, umumnya mereka juga lebih pasrah. Tidak tegang.  Saya ingat betul bagaimana mereka mengatakan, problem orang2 "arab" (mereka sebenarnya Parsi) adalah bagaimana menurunkan dan bukan menaikkan "si otong". Jadi bisa dibayangkan, bagaimana tersiksanya mereka di pengungsian, karena tidak ada lawan buat otongnya. Untuk dicoba, mereka pun memberi saya sebuah resep yg katanya bisa membuat stamina tahan lama. Hehehe, sudah dicatat, tapi belum dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-3388135027756904534?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/3388135027756904534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=3388135027756904534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3388135027756904534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/3388135027756904534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/05/mimpi-ribuan-kilometer-menuju-tanah.html' title='Mimpi Ribuan Kilometer Menuju Tanah Harapan'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-739161598995353649</id><published>2008-05-21T15:48:00.004+07:00</published><updated>2008-05-21T16:06:10.930+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berkelit Dari Saraf "Terjepit"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sinyal datangnya penyakit bisa beragam. Mulai kesemutan hingga munculnya rasa nyeri dan ngilu. Kelihatannya ringan. Tapi percayalah, jika dianggap enteng, sinyal tadi bisa berubah menjadi monster menakutkan. Nyeri pinggang sampai tumit dan ngilu dari leher hingga jari tangan, misalnya, mungkin pertanda saraf Anda "terjepit".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, seorang pasien, sebut saja namanya Badu, datang ke sebuah rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Selatan. Rasa sakit yang dia derita tampaknya sudah lumayan parah. Sejak turun dari mobil, ia dipapah beberapa anggota keluarganya, sebelum dinaikkan ke kursi roda. Sesekali wajahnya terlihat meringis menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita si pasien, sebenarnya sudah lama ia merasakan sakit di punggung. Namun, rasa sakit itu ditahannya untuk konsumsi sendiri. Alhasil, sekitar sebulan lalu rasa sakitnya makin menjadi-jadi, menyebabkan ia nyaris tidak bisa berjalan dan tidak bisa duduk. "Rasanya, kalau pas bergerak, jadi serba salah," Badu menggambarkan penderitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter menyarankan Badu diopname untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selama dua minggu ia menjalani fisioterapi sehari dua kali, tapi belum juga ada kemajuan. Berdasarkan serangkaian pemeriksaan, akhirnya diketahui Badu menderita HNP (&lt;i&gt;hernia nucleus pulposus&lt;/i&gt;). Orang awam sering menyebutnya, saraf &lt;i&gt;kejepit&lt;/i&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukan sakit pinggang biasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;   Mendengar kata saraf terjepit, mungkin orang akan bergidik, &lt;i&gt;syerem&lt;/i&gt;. Padahal, itu cuma sekadar istilah, yang terkadang malah bisa mengaburkan keadaan sebenarnya di dalam sono. Gampangnya, HNP bisa diartikan pergeseran &lt;i&gt;nucleus pulposus&lt;/i&gt; yang terletak di pengganjal (&lt;i&gt;annulus fibrosus&lt;/i&gt;) antara dua ruas tulang belakang.  Nukleus  (&lt;i&gt;nucleus&lt;/i&gt;) yang bergeser dari tempat semestinya itu lalu menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Letak nukleus tepat di tengah pengganjal antara dua ruas tulang belakang dan dibungkus oleh &lt;i&gt;discus intervertebralis&lt;/i&gt; (diskus). Fungsi mekanik diskus ini mirip balon berisi air yang diletakkan di antara dua telapak tangan. Bila ada tekanan (kompresi) ke tulang belakang, karena misalnya melakukan suatu gerakan, tekanan itu akan disalurkan merata ke seluruh diskus. Gaya pada diskus akan semakin bertambah jika kita membungkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar cairan dan elastisitas diskus bisa menurun dan rapuh antara lain karena penuaan. Tapi pada usia muda bisa juga terjadi karena dasarnya memang sudah lemah atau seseorang pernah mengalami trauma (kecelakaan). Gerakan yang berulang pada satu sisi diskus bisa menimbulkan sobekan pada masa fibroelastis yang membungkus diskus yang sekaligus akan menjadi titik lemahnya (&lt;i&gt;locus minoris resistensi&lt;/i&gt;). Sampai di sini belum timbul nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah ada titik lemah, tinggal tunggu "tanggal mainnya". Sebuah gerakan kecil saja, seperti membungkuk memungut koran pagi di teras, bisa menyebabkan pergeseran diskus. &lt;i&gt;Yihuuu&lt;/i&gt;, sakitnya baru mulai terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   HNP umumnya terjadi di dua lokasi pengganjal tulang belakang yang mobilitasnya tinggi. Pada daerah leher, yaitu pengganjal &lt;i&gt;cervical vertebra&lt;/i&gt; (ruas tulang leher) 5 - 6 serta &lt;i&gt;cervical vertebra&lt;/i&gt; 6 - 7. HNP pada bagian ini disebut HNP &lt;i&gt;cervical&lt;/i&gt;. Sedangkan pada daerah pinggang, yaitu pengganjal &lt;i&gt;lumbar vertebra&lt;/i&gt; (ruas tulang pinggang) 4 - 5 dan &lt;i&gt;lumbar vertebra&lt;/i&gt; 5 � &lt;i&gt;sacrum&lt;/i&gt; (tulang kelangkang) 1, disebut HNP &lt;i&gt;lumbar&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengganjal tulang lain bisa juga terjadi, tapi kemungkinannya kecil. Sejauh ini di Indonesia baru ditemukan satu kasus HNP &lt;i&gt;thoracal&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   HNP di dua lokasi berbeda mempunyai lokasi serangan nyeri yang berbeda pula. Pada HNP &lt;i&gt;lumbar&lt;/i&gt;, rasa nyeri menjalar dari pinggang menuju tumit mengikuti alur saraf. Gejala ini disebut &lt;i&gt;sciatica&lt;/i&gt;. Rasa nyerinya begitu spesifik, bahkan bisa dipetakan. "Rasa ngilu ini bukan seperti sakit pinggang, &lt;i&gt;loro boyok&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;low back pain&lt;/i&gt;. Dari lokasi ngilunya saja saya sudah bisa menduga HNP atau bukan," kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Eka J. Wahjoepramono&lt;/span&gt;, spesialis bedah saraf RS Siloam Gleneagles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Guna memastikan HNP, dokter biasanya melakukan pemotretan dengan MRI (&lt;i&gt;magnetic resonance image&lt;/i&gt;) yang hasilnya akan dicocokkan dengan peta "rasa ngilu". Pada pasien berusia 20 - 40 tahun dan pernah mempunyai riwayat trauma, hampir dipastikan 95% karena HNP.&lt;br /&gt;   Selain gara-gara HNP, sakit yang mirip-mirip &lt;i&gt;sciatica&lt;/i&gt; bisa juga terjadi karena sebab lain. Misalnya, adanya tumor atau kelainan bentuk tulang belakang. Tulang belakang meleset atau disebut juga &lt;i&gt;osteofit&lt;/i&gt;, yaitu adanya tulang tumbuh pada usia tertentu dan menjepit saraf spinalis, bisa juga menyebabkan nyeri semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, rasa sakit yang dikeluhkan pasien bisa karena HNP, tapi bisa juga disebabkan atau ditambah dengan penyebab lain. Makanya, sebelum memutuskan operasi, dokter harus mengetahui betul penyebab rasa sakit yang diderita pasien. Dr. Eka bahkan pernah tidak berani mengoperasi seorang pasiennya karena tidak berhasil menemukan penyebabnya. Padahal, pemeriksaan sudah dilakukan secermat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu penyebab rasa sakitnya harus dipastikan betul, HNP atau bukan. (Tidak bisa langsung dioperasi). Karena tindakan operasi yang akan dilakukan bersifat &lt;i&gt;function&lt;/i&gt;. Keluhan pasien harus hilang setelah operasi. Jika tidak, pasti ada kesalahan atau penyebab lain," tutur dr. Eka menjelaskan tahap tersulit penyembuhan HNP ini. Dengan kata lain, "Operasi pun tidak menjamin seratus persen hilangnya nyeri. Tetap ada risiko kegagalannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari bahan titanium&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;   Pada HNP &lt;i&gt;servical&lt;/i&gt;, nukleus yang bergeser akan mengenai saraf perifer sehingga menimbulkan rasa sakit luar biasa. Pada tingkat yang parah bahkan pasien bisa lemas. Gejala ini disebut &lt;i&gt;servicalgia&lt;/i&gt;. Rasanya bisa ngilu, seperti kesemutan (kebas) atau rasa penebalan yang menjalar dari leher menuju jari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Seperti pada HNP &lt;i&gt;lumbar&lt;/i&gt;, gejala ini pun begitu spesifik dan bisa dipetakan. Misalnya, jika pergeseran pada pengganjal tulang leher 5 - 6 akan menjalar ke ibu jari. Pada tulang leher 6 - 7 ke jari tengah. Sedangkan pergeseran pada pengganjal tulang leher 7-&lt;i&gt;thoracic vertebra&lt;i&gt; (ruas tulang punggung&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;) 1 akan lari ke jari kelingking.&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;     Bila mengalami servicalgia, rasa sakitnya terkadang sampai tak tertahankan. Bahayanya, pada areal ini masih ada jalur saraf pusat. Jika saraf pusat itu sampai tersenggol nukleus, seseorang dapat mengalami kelumpuhan pada tangan maupun kaki. Selang waktu sejak positif menderita HNP hingga terkena saraf pusat tidak bisa dipastikan. Seseorang bisa saja lumpuh seketika saat mengalami trauma (kecelakaan) dan kebetulan nukleusnya mengenai saraf pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bukan karena HNP, kasus kelumpuhan seperti ini mirip seperti yang menimpa aktor pemeran Superman, Christopher Reeves. Aktor yang semula tegap dan gagah kini harus berkursi roda gara-gara terjatuh dari kuda. "Seorang pasien saya dari Medan tiba-tiba lumpuh tangan dan kakinya sekaligus, akibat kecelakaan sepeda motor," jelas Eka mencontohkan kasus HNP servical yang terlambat ditangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap penderita HNP dengan keluhan sakit luar biasa, dokter akan melakukan operasi diskektomi, atau pengambilan diskus. Pada HNP lumbar, operasi dilakukan dari belakang tubuh dan diskus tidak diganti. Sedangkan pada HNP servical, operasi harus dilakukan dari depan leher, karena pada tulang belakang masih ada saraf pusat. Diskus akan diganti dengan cage berbentuk seperti mur kecil berlubang, terbuat dari bahan titanium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian bahan titanium tergolong teknologi baru. Keuntungannya, sangat kuat, ringan, dan tahan cuaca. Jika dilakukan pemotretan MRI dan CT Scan pascaoperasi untuk memantau perkembangan pasien, titanium tidak merusak gambar sehingga memudahkan dokter. Tapi harganya masih mahal. Konon, di luar negeri sana mencapai AS $ 800, belum termasuk biaya pemasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, pengganti diskus pernah diambil dari tulang panggul atau menggunakan bahan baja antikarat. Namun, menggunakan bagian tulang panggul menimbulkan keluhan baru, yaitu nyeri pada bagian panggul yang diambil. "Secara teknis juga lebih sering meleset, karena seperti pasak yang dimasukkan. Beda dengan titanium yang memakai alur sehingga jarang meleset," kata dr. Eka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pemakaian baja antikarat ditinggalkan, karena bisa bereaksi dengan jaringan tubuh. Pemakaian bahan ini lazim dilakukan pada kasus bedah tulang, orang biasa menyebutnya "pen". Namun kendalanya, pen ini masih tetap harus dikeluarkan beberapa waktu kemudian. Selain itu, baja antikarat juga mengacaukan hasil pemotretan MRI dan CT Scan, sehingga hasilnya bias dan akurasinya terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eka mencoba meluruskan, tingkat keberhasilan operasi bukan ditentukan oleh pemakaian bahan titanium. Melainkan oleh pemeriksaan penyebab rasa sakit, temuan radiologi, kesimpulan dari dokter, dan tindakan yang kemudian dilakukan. Operasi tidak akan menjamin berkurangnya keluhan pasien jika rangkaian proses tadi tidak dilakukan dengan tepat. Pasien bisa mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feel back syndrom&lt;/span&gt;, lantaran keluhannya tidak berkurang setelah operasi atau bahkan malah bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "Rasa sakit itu 'kan simtom, sifatnya subjektif sekali," jelas pengajar di Universitas Pelita Harapan ini. Tapi keluhan yang dirasakan berbeda dengan keluhan karena faktor psikologis. Dengan kata lain, rasa sakit pada HNP memang sangat spesifik. Sekarang persoalannya, sebaik apa Anda mencoba mengenalinya, untuk kemudian mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata pepatah "tak kenal maka tak sayang". Makin kenal, makin mudah HNP dihadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Penerjun Payung Paling Rentan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rasa sakit yang ditimbulkan HNP amat bervariasi dan bertingkat. Mulai dari sekadar nyeri radikuler saat berjalan sampai puncaknya tidak bisa berdiri dan harus memakai kursi roda. Pada fase awal, nyeri bisa hilang-timbul. Baru pada fase parah, nyeri akan permanen dan terus mengganggu si penderita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua jenis aktivitas bisa menyebabkan HNP dan mereka yang berusia dewasa (di atas 20 tahun) bisa terkena. Namun, menurut dr. Eka, profesi penerjun payung mempunyai kasus HNP terbanyak. Seorang rekannya dari sebuah rumah sakit militer di Bandung membenarkan hal itu. Sebabnya? Bisa jadi karena aktivitas mereka yang ditarik payung dan harus menahan beban tubuh saat mendarat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Membungkuk Dengan Lutut Menekuk&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedengarannya sepele, cuma soal membungkuk. Tapi kalau caranya salah, bisa-bisa jadi masalah. Bila Anda membungkuk untuk mengangkat beban seperti misalnya televisi, anak yang tertidur, atau bahkan memungut koran di depan rumah, disarankan untuk selalu membengkokkan (fleksi) lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda membungkuk tanpa fleksi lutut, gerakannya "dihasilkan" oleh fleksi dari lumbar dibantu dengan rotasi dari tulang panggul (pelvis) dan sendi koksae. Dalam keadaan normal, sudut antara permukaan sacrum dengan garis horisontal (sudut lumbosakral) adalah 30&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;. Saat membungkuk (rotasi pelvis ke bawah), sudut lumbosakral akan semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Membungkuk tanpa fleksi lutut juga dapat memperbesar gaya pada discus intervebralis. Seperti telah diulas, gerakan yang berulang-ulang setiap hari pada satu sisi diskus dapat menimbulkan sobekan kecil pada annulus fibrosus (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;locus minoris resistens&lt;/span&gt;i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bila seseorang sudah mempunyai locus minoris resistensi, atau sudah berpontesi HNP, sebuah gerakan membungkuk dapat memperbesar sobekan. Sewaktu membungkuk nukleus juga dapat terdorong ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI, September 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;He-he-he, sejak menulis tulisan ini, saya selalu berusaha berhati-hati jika mengangkat benda berat dalam posisi membungkuk.  Padahal kejadiannya tidak selalu begitu. Membungkuk mengambil koran di halaman rumah saja, bisa jadi pencetusnya. Saya juga ditelepon pembaca yang bercerita bahwa salah satu saudaranya yang perawat, terkena HNP saat menolong pasien di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mencari data untuk tulisan ini, saya sempat dimarahi seorang penderita HNP yang tidak ingin ditulis jatidirinya. Kebetulan dia seorang dokter. Dia mengingatkan, riwayat kesehatan seseorang tidak boleh diungkap kepada umum dan media cetak yang bersangkutan bisa saja dituntut karenanya.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-739161598995353649?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/739161598995353649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=739161598995353649' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/739161598995353649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/739161598995353649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/05/berkelit-dari-saraf-terjepit.html' title='Berkelit Dari Saraf &quot;Terjepit&quot;'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-5480213131467194186</id><published>2008-05-19T17:44:00.003+07:00</published><updated>2008-07-30T23:58:18.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sang Idola</title><content type='html'>Pemuda itu menangis tersedu. Butir-butir air mata membanjiri wajahnya yang terlihat kuyu. Langkahnya gontai tak bersemangat. "Aku serasa lumpuh kehilangan panutan," bisiknya lirih. Perjalanan jauh ditempuhnya dari rumah hanya untuk menjumpai seseorang yang selama ini dipanggilnya Bapak. Pemimpin, guru, tokoh idolanya itu telah memberi banyak inspirasi dalam kehidupannya selama ini. Kepergiannya untuk menggenapi kekaguman pada panutan hidupnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi apa yang disaksikannya? Beberapa hari &lt;i&gt;mondok&lt;/i&gt; dan berguru, ternyata Bapak tidak seperti yang diharapkan. Kehidupannya sama saja seperti semua manusia lain. Bahkan sebenarnya tak lebih dari manusia biasa yang penuh alpa. Semakin hari, semakin terlihat segala perbuatan yang tidak sesuai ajaran-ajarannya selama ini. Yang membuatnya semakin kecewa, Bapak telah menyelingkuhi Ibu, istri yang sekian lama mendampingi dalam susah dan senang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tua dan bijaksana yang ditemui dalam keputusasaannya, mengajaknya memetik hikmah: "Itulah jadinya jika kita mengidolakan �siapa� dan bukan �apa�-nya. Selama dia masih berwujud manusia, hendaknya kita bisa membedakan. Karena semakin kau merasa mengenalnya, maka dia akan semakin jauh dari citra yang sesungguhnya kau buat sendiri dalam pikiran-pikiranmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita juga pernah mempunyai perasaan serupa. Kekaguman kita pada pemimpin, guru, senior, sahabat - bahkan mungkin orangtua kita sendiri - yang semula terlihat begitu sempurna, pupus seketika karena sesuatu hal. Namun yang sebenarnya terjadi adalah: cinta kita yang buta tidak memberi ruang sedikitpun kepada sisi kemanusiaan mereka � yang mungkin tidak pernah lebih sempurna dari siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebentar, anak muda!" Orang tua bijaksana mencekal bahu pemuda itu sebelum melangkah pergi. "Hendaknya peristiwa ini menjadikanmu semakin dewasa. Dan hendaknya, segala hal-hal baik yang orang lihat pada dirimu, sesungguhnya seperti itulah adanya dirimu."&lt;br /&gt;   Pemuda tegar itu mengangguk mantap. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Tj)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di: Majalah INTISARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penulis:&lt;br /&gt;Tulisan pertama untuk rubrik Renungan di majalah INTISARI ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi mengagumi sejumlah tokoh yang kemudian saya jadikan idola. Namun dalam perjalanannya kemudian, saya selalu menemukan hal2 yang membuat rasa kagum saya runtuh. Tak ada manusia yang sempurna, apalagi yang mengetik naskah ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2590695390644511917-5480213131467194186?l=tjahjowidyasmoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/feeds/5480213131467194186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2590695390644511917&amp;postID=5480213131467194186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5480213131467194186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2590695390644511917/posts/default/5480213131467194186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tjahjowidyasmoro.blogspot.com/2008/05/sang-idola.html' title='Sang Idola'/><author><name>T. Tjahjo Widyasmoro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://img376.imageshack.us/img376/7629/tjbingkaifl8.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2590695390644511917.post-2188983866321907854</id><published>2008-05-19T17:16:00.005+07:00</published><updated>2008-05-20T22:47:30.947+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Ketika Bocah Autis Beranjak Remaja</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setiap orang berhak mempunyai masa depan lebih baik, tak terkecuali individu autistik. Sayangnya banyak orangtua tidak tahu cara mempersiapkan anak-anak berkebutuhan khusus ini, minimal agar mampu berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Anak autis bisa berkembang, bahkan sembuh. Hanya memang, butuh kesabaran tak terbatas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikhsan, kenapa terus menerus melihat Ibu? Ada yang salah?" Ibu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imah&lt;/span&gt;, guru di Sekolah Mandiga, sekolah khusus individu autistik menegur salah seorang muridnya. Karena Ikhsan tidak mungkin menjawab langsung - ia autistik non-verbal- Ibu Imah lalu memberikan beberapa pilihan jawaban, dan Ikhsan memilih jawaban: cantik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apanya yang menurut Ikhsan cantik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa memangnya mata Ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cokelat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Imah hanya bisa tersenyum simpul mendapat jawaban seperti itu. Ditatapnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikhsan Priatama&lt;/span&gt;, usia 12 tahun, yang baru saja 'mengungkapkan perasaannya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, Ikhsan berjumpa seorang anak perempuan berusia 7 tahun, teman sekolahnya. Rupanya di mata Ikhsan, gadis itu begitu mengesankan. Suatu hari, ia nekat mengajak berkenalan. "Nama?" ketik Ikhsan di organizer elektronik yang menjadi alat komunikasinya sehari-hari. Alat itu disodorkan ke teman barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yasmin," jawab si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat angin, Ikhsan terus mencecar dengan pertanyaan standar seorang cowok yang kesengsem pada cewek seperti alamat, nomor telepon, dan seterusnya. Kebetulan gayung bersambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu keduanya saling menunjukkan perhatian lebih. Jika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yasmin&lt;/span&gt; tidak muncul di sekolah, Ikhsan kebingungan dan mencari tahu. Yasmin pun menanggapi. Suatu kali ia pernah membuat kipas cantik dari kertas, yang dikatakannya, "Hadiah untuk Kakak Ikhsan."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak mengerti "daerah abu-abu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di alam pikiran orang dewasa, kejadian itu tidak aneh, walau mungkin agak menggelikan. Seorang anak belasan tahun mengungkapkan kekagumannya pada mata gurunya yang bulat cokelat, atau pertemanan spesialnya dengan seorang gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu terasa spesial jika kita menyadari Ikhsan adalah individu autistik yang tengah memasuki masa remaja. Kegenitan itu sendiri muncul dari masa pubertas yang sedang dialaminya, yang manifestasinya berupa ketertarikan pada lawan jenis. Ikhsan sudah mulai tertarik pada perempuan, meski itu gurunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi perkembangan fisik, memang tidak ada perbedaan antara anak autis dengan anak-anak "normal" lain. Keremajaan yang akhirnya mereka lalui juga ditandai dengan bekerjanya hormon-hormon tertentu di tubuh, pertumbuhan rambut di beberapa bagian tubuh, perubahan suara, atau pembesaran payudara pada anak gadis. Sebuah rangkaian perubahan yang memunculkan pula dorongan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari sisi perkembangan mental, kemampuan remaja autis sesungguhnya tidak pernah beranjak jauh dari masa kanak-kanaknya. Tetap terjadi gangguan interaksi sosial, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Secara sederhana autisme sendiri berarti gangguan perkembangan. Jadilah mereka manusia yang bersikap dan bertingkah seperti anak kecil tapi dalam wujud tubuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisik individu autistik pada umur belasan bisa saja menjulang di atas 170 cm, dengan berat di atas 70 kg. Namun dalam penjelasan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dyah Puspita&lt;/span&gt;, psikolog yang tinggal di Jakarta dan mendalami autisme, mereka sulit untuk mengerti adanya "daerah abu-abu" dalam kehidupan. "Hidup ini hitam-putih saja. Tidak tahu ada orang jahat. Tidak tahu konsep malu dan tanggung jawab. Tidak risih melompat-lompat di depan orang banyak," kata Ita, begitu ibu dari Ikhsan ini biasa dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, seiring pertumbuhannya, kehidupan remaja autis terus tertinggal dari teman-teman sebayanya. Mereka sering menjadi "korban" ketika harus berbaur dengan orang lain di masyarakat. Dampak masih banyaknya ketidaktahuan orang tentang autisme.&lt;br /&gt;Remaja autis y
