Sinyal datangnya penyakit bisa beragam. Mulai kesemutan hingga munculnya rasa nyeri dan ngilu. Kelihatannya ringan. Tapi percayalah, jika dianggap enteng, sinyal tadi bisa berubah menjadi monster menakutkan. Nyeri pinggang sampai tumit dan ngilu dari leher hingga jari tangan, misalnya, mungkin pertanda saraf Anda "terjepit".
Suatu hari, seorang pasien, sebut saja namanya Badu, datang ke sebuah rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Selatan. Rasa sakit yang dia derita tampaknya sudah lumayan parah. Sejak turun dari mobil, ia dipapah beberapa anggota keluarganya, sebelum dinaikkan ke kursi roda. Sesekali wajahnya terlihat meringis menahan sakit.
Menurut cerita si pasien, sebenarnya sudah lama ia merasakan sakit di punggung. Namun, rasa sakit itu ditahannya untuk konsumsi sendiri. Alhasil, sekitar sebulan lalu rasa sakitnya makin menjadi-jadi, menyebabkan ia nyaris tidak bisa berjalan dan tidak bisa duduk. "Rasanya, kalau pas bergerak, jadi serba salah," Badu menggambarkan penderitaannya.
Dokter menyarankan Badu diopname untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selama dua minggu ia menjalani fisioterapi sehari dua kali, tapi belum juga ada kemajuan. Berdasarkan serangkaian pemeriksaan, akhirnya diketahui Badu menderita HNP (hernia nucleus pulposus). Orang awam sering menyebutnya, saraf kejepit.
Bukan sakit pinggang biasa
Mendengar kata saraf terjepit, mungkin orang akan bergidik, syerem. Padahal, itu cuma sekadar istilah, yang terkadang malah bisa mengaburkan keadaan sebenarnya di dalam sono. Gampangnya, HNP bisa diartikan pergeseran nucleus pulposus yang terletak di pengganjal (annulus fibrosus) antara dua ruas tulang belakang. Nukleus (nucleus) yang bergeser dari tempat semestinya itu lalu menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri.
Letak nukleus tepat di tengah pengganjal antara dua ruas tulang belakang dan dibungkus oleh discus intervertebralis (diskus). Fungsi mekanik diskus ini mirip balon berisi air yang diletakkan di antara dua telapak tangan. Bila ada tekanan (kompresi) ke tulang belakang, karena misalnya melakukan suatu gerakan, tekanan itu akan disalurkan merata ke seluruh diskus. Gaya pada diskus akan semakin bertambah jika kita membungkuk.
Kadar cairan dan elastisitas diskus bisa menurun dan rapuh antara lain karena penuaan. Tapi pada usia muda bisa juga terjadi karena dasarnya memang sudah lemah atau seseorang pernah mengalami trauma (kecelakaan). Gerakan yang berulang pada satu sisi diskus bisa menimbulkan sobekan pada masa fibroelastis yang membungkus diskus yang sekaligus akan menjadi titik lemahnya (locus minoris resistensi). Sampai di sini belum timbul nyeri.
Kalau sudah ada titik lemah, tinggal tunggu "tanggal mainnya". Sebuah gerakan kecil saja, seperti membungkuk memungut koran pagi di teras, bisa menyebabkan pergeseran diskus. Yihuuu, sakitnya baru mulai terasa.
HNP umumnya terjadi di dua lokasi pengganjal tulang belakang yang mobilitasnya tinggi. Pada daerah leher, yaitu pengganjal cervical vertebra (ruas tulang leher) 5 - 6 serta cervical vertebra 6 - 7. HNP pada bagian ini disebut HNP cervical. Sedangkan pada daerah pinggang, yaitu pengganjal lumbar vertebra (ruas tulang pinggang) 4 - 5 dan lumbar vertebra 5 � sacrum (tulang kelangkang) 1, disebut HNP lumbar.
Pada pengganjal tulang lain bisa juga terjadi, tapi kemungkinannya kecil. Sejauh ini di Indonesia baru ditemukan satu kasus HNP thoracal.
HNP di dua lokasi berbeda mempunyai lokasi serangan nyeri yang berbeda pula. Pada HNP lumbar, rasa nyeri menjalar dari pinggang menuju tumit mengikuti alur saraf. Gejala ini disebut sciatica. Rasa nyerinya begitu spesifik, bahkan bisa dipetakan. "Rasa ngilu ini bukan seperti sakit pinggang, loro boyok atau low back pain. Dari lokasi ngilunya saja saya sudah bisa menduga HNP atau bukan," kata dr. Eka J. Wahjoepramono, spesialis bedah saraf RS Siloam Gleneagles.
Guna memastikan HNP, dokter biasanya melakukan pemotretan dengan MRI (magnetic resonance image) yang hasilnya akan dicocokkan dengan peta "rasa ngilu". Pada pasien berusia 20 - 40 tahun dan pernah mempunyai riwayat trauma, hampir dipastikan 95% karena HNP.
Selain gara-gara HNP, sakit yang mirip-mirip sciatica bisa juga terjadi karena sebab lain. Misalnya, adanya tumor atau kelainan bentuk tulang belakang. Tulang belakang meleset atau disebut juga osteofit, yaitu adanya tulang tumbuh pada usia tertentu dan menjepit saraf spinalis, bisa juga menyebabkan nyeri semacam ini.
Jadi, rasa sakit yang dikeluhkan pasien bisa karena HNP, tapi bisa juga disebabkan atau ditambah dengan penyebab lain. Makanya, sebelum memutuskan operasi, dokter harus mengetahui betul penyebab rasa sakit yang diderita pasien. Dr. Eka bahkan pernah tidak berani mengoperasi seorang pasiennya karena tidak berhasil menemukan penyebabnya. Padahal, pemeriksaan sudah dilakukan secermat mungkin.
"Karena itu penyebab rasa sakitnya harus dipastikan betul, HNP atau bukan. (Tidak bisa langsung dioperasi). Karena tindakan operasi yang akan dilakukan bersifat function. Keluhan pasien harus hilang setelah operasi. Jika tidak, pasti ada kesalahan atau penyebab lain," tutur dr. Eka menjelaskan tahap tersulit penyembuhan HNP ini. Dengan kata lain, "Operasi pun tidak menjamin seratus persen hilangnya nyeri. Tetap ada risiko kegagalannya."
Dari bahan titanium
Pada HNP servical, nukleus yang bergeser akan mengenai saraf perifer sehingga menimbulkan rasa sakit luar biasa. Pada tingkat yang parah bahkan pasien bisa lemas. Gejala ini disebut servicalgia. Rasanya bisa ngilu, seperti kesemutan (kebas) atau rasa penebalan yang menjalar dari leher menuju jari tangan.
Seperti pada HNP lumbar, gejala ini pun begitu spesifik dan bisa dipetakan. Misalnya, jika pergeseran pada pengganjal tulang leher 5 - 6 akan menjalar ke ibu jari. Pada tulang leher 6 - 7 ke jari tengah. Sedangkan pergeseran pada pengganjal tulang leher 7-thoracic vertebra (ruas tulang punggung) 1 akan lari ke jari kelingking.
Bila mengalami servicalgia, rasa sakitnya terkadang sampai tak tertahankan. Bahayanya, pada areal ini masih ada jalur saraf pusat. Jika saraf pusat itu sampai tersenggol nukleus, seseorang dapat mengalami kelumpuhan pada tangan maupun kaki. Selang waktu sejak positif menderita HNP hingga terkena saraf pusat tidak bisa dipastikan. Seseorang bisa saja lumpuh seketika saat mengalami trauma (kecelakaan) dan kebetulan nukleusnya mengenai saraf pusat.
Walau bukan karena HNP, kasus kelumpuhan seperti ini mirip seperti yang menimpa aktor pemeran Superman, Christopher Reeves. Aktor yang semula tegap dan gagah kini harus berkursi roda gara-gara terjatuh dari kuda. "Seorang pasien saya dari Medan tiba-tiba lumpuh tangan dan kakinya sekaligus, akibat kecelakaan sepeda motor," jelas Eka mencontohkan kasus HNP servical yang terlambat ditangani.
Terhadap penderita HNP dengan keluhan sakit luar biasa, dokter akan melakukan operasi diskektomi, atau pengambilan diskus. Pada HNP lumbar, operasi dilakukan dari belakang tubuh dan diskus tidak diganti. Sedangkan pada HNP servical, operasi harus dilakukan dari depan leher, karena pada tulang belakang masih ada saraf pusat. Diskus akan diganti dengan cage berbentuk seperti mur kecil berlubang, terbuat dari bahan titanium.
Pemakaian bahan titanium tergolong teknologi baru. Keuntungannya, sangat kuat, ringan, dan tahan cuaca. Jika dilakukan pemotretan MRI dan CT Scan pascaoperasi untuk memantau perkembangan pasien, titanium tidak merusak gambar sehingga memudahkan dokter. Tapi harganya masih mahal. Konon, di luar negeri sana mencapai AS $ 800, belum termasuk biaya pemasangan.
Sebelumnya, pengganti diskus pernah diambil dari tulang panggul atau menggunakan bahan baja antikarat. Namun, menggunakan bagian tulang panggul menimbulkan keluhan baru, yaitu nyeri pada bagian panggul yang diambil. "Secara teknis juga lebih sering meleset, karena seperti pasak yang dimasukkan. Beda dengan titanium yang memakai alur sehingga jarang meleset," kata dr. Eka.
Sementara pemakaian baja antikarat ditinggalkan, karena bisa bereaksi dengan jaringan tubuh. Pemakaian bahan ini lazim dilakukan pada kasus bedah tulang, orang biasa menyebutnya "pen". Namun kendalanya, pen ini masih tetap harus dikeluarkan beberapa waktu kemudian. Selain itu, baja antikarat juga mengacaukan hasil pemotretan MRI dan CT Scan, sehingga hasilnya bias dan akurasinya terganggu.
Eka mencoba meluruskan, tingkat keberhasilan operasi bukan ditentukan oleh pemakaian bahan titanium. Melainkan oleh pemeriksaan penyebab rasa sakit, temuan radiologi, kesimpulan dari dokter, dan tindakan yang kemudian dilakukan. Operasi tidak akan menjamin berkurangnya keluhan pasien jika rangkaian proses tadi tidak dilakukan dengan tepat. Pasien bisa mengalami feel back syndrom, lantaran keluhannya tidak berkurang setelah operasi atau bahkan malah bertambah.
"Rasa sakit itu 'kan simtom, sifatnya subjektif sekali," jelas pengajar di Universitas Pelita Harapan ini. Tapi keluhan yang dirasakan berbeda dengan keluhan karena faktor psikologis. Dengan kata lain, rasa sakit pada HNP memang sangat spesifik. Sekarang persoalannya, sebaik apa Anda mencoba mengenalinya, untuk kemudian mencegahnya.
Seperti kata pepatah "tak kenal maka tak sayang". Makin kenal, makin mudah HNP dihadang.
Semua jenis aktivitas bisa menyebabkan HNP dan mereka yang berusia dewasa (di atas 20 tahun) bisa terkena. Namun, menurut dr. Eka, profesi penerjun payung mempunyai kasus HNP terbanyak. Seorang rekannya dari sebuah rumah sakit militer di Bandung membenarkan hal itu. Sebabnya? Bisa jadi karena aktivitas mereka yang ditarik payung dan harus menahan beban tubuh saat mendarat.
Ketika Anda membungkuk tanpa fleksi lutut, gerakannya "dihasilkan" oleh fleksi dari lumbar dibantu dengan rotasi dari tulang panggul (pelvis) dan sendi koksae. Dalam keadaan normal, sudut antara permukaan sacrum dengan garis horisontal (sudut lumbosakral) adalah 30o. Saat membungkuk (rotasi pelvis ke bawah), sudut lumbosakral akan semakin besar.
Membungkuk tanpa fleksi lutut juga dapat memperbesar gaya pada discus intervebralis. Seperti telah diulas, gerakan yang berulang-ulang setiap hari pada satu sisi diskus dapat menimbulkan sobekan kecil pada annulus fibrosus (locus minoris resistensi).
Bila seseorang sudah mempunyai locus minoris resistensi, atau sudah berpontesi HNP, sebuah gerakan membungkuk dapat memperbesar sobekan. Sewaktu membungkuk nukleus juga dapat terdorong ke luar.
Dimuat di: Majalah INTISARI, September 2004
Catatan Penulis:
He-he-he, sejak menulis tulisan ini, saya selalu berusaha berhati-hati jika mengangkat benda berat dalam posisi membungkuk. Padahal kejadiannya tidak selalu begitu. Membungkuk mengambil koran di halaman rumah saja, bisa jadi pencetusnya. Saya juga ditelepon pembaca yang bercerita bahwa salah satu saudaranya yang perawat, terkena HNP saat menolong pasien di rumah sakit.
Ketika mencari data untuk tulisan ini, saya sempat dimarahi seorang penderita HNP yang tidak ingin ditulis jatidirinya. Kebetulan dia seorang dokter. Dia mengingatkan, riwayat kesehatan seseorang tidak boleh diungkap kepada umum dan media cetak yang bersangkutan bisa saja dituntut karenanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar